
Di pagi hari yang cerah semua pasukan sudah siap berbaris di sebuah lapangan yang luas. Dengan di pimpin oleh 6 orang jendral mereka akan pergi menuju ke kerajaan Rigle untuk melancarkan serangan balasan. Tetapi mereka yak akan berjalan kaki, melainkan menggunakan sihir teleportasi milik Ferisu.
Karena saat itu Ferisu pernah berada di Rigle walau hanya sebentar, ia masih bisa membayangkan tempat lapangan latihan kesatria Rigle yang pernah ia lihat. Tempat itu cukup luas untuk melakukan area teleportasi.
"Apa kalian semua siap?!". Teriak seorang jendral.
"Yaaa!!!". Teriak semua pasukan dengan penuh semangat yang membara.
"Kita akan melakukan serangan balasan pada mereka yang menyerang kita! lakukan lah yang terbaik!".
"Yaaaa!!!".
Para jendral memotivasi para pasukannya agar menjadi lebih semangat sekaligus memperkuat mental mereka untuk bertarung. Setelah semua persiapan selesai Ferisu pun melakukan sihir area teleportasi dan memindah kan semua pasukan ke sebuah lapangan pelatihan kerajaan Rigle yang cukup luas.
Pada saat itu lapangan kosong tanpa ada satupun prajurit dari Rigle dan suasana di sana begitu hening tanpa adanya suara. Para pasukan Triberus pun menjadi siaga karena hal itu.
"Semuanya tingkat kan kewaspadaan kalian, situasi ini sangat aneh". Ujar para jendral.
Ferisu yang menyadari hal itu juga menggunakan sihir deteksi untuk mencari orang Rigle. Tapi anehnya ia merasakan jika ada banyak hawa kehadiran orang di area tersebut. Karena menyadari hal itu Ferisu pun mengunakan Dispell Magic.
Pada saat itu suasana yang hening tiba-tiba berubah dan terlihat dari semua arah pasukan Rigle sudah mengepung mereka. Semua pasukan pun mengangkat senjata mereka dan siap untuk bertarung.
"Apa yang terjadi? apa rencana kami bocor?"
Ferisu yang melihat situasi itu cukup kebingungan, bagaimana bisa rencananya bocor. Sedangkan semua pasukan Rigle yang ada di Triberus sudah di tahan dan tak mungkin sebuah renaca yang dibuat pagi tadi bisa langsung bocor.
"Apa ada seorang penghianat?". Gumam Ferisu dalam hatinya.
Pertarungan itu tak bisa di hindari lagi, semua pasukan saling beradu pedang dan sihir. Para pahlawan juga berada di pihak Triberus dan membantu melawan Rigle, walaupun mereka tak membunuh para pasukan Rigle. Tetapi secara tiba-tiba Jack menyerang para jendral pasukan Triberus.
"Apa yang kau lakukan Jack!!?". Teriak pahlawan yang lain saat melihat Jack menyerang para jendral beastman.
__ADS_1
Tetapi Jack tak menanggapi ucapan mereka dan terus menyerang secara membabi buta dengan tatapan kosong.
"Sepertinya dia sudah di cuci otak". Ujar Ferisu yang melihat hal itu.
"Cu~ cuci otak kau bilang?!". Ujar para pahlawan terkejut.
"Yah, seperti nya ada orang yang merencanakan hal ini". Ucap Ferisu sembari melihat sekitarnya sembari mencari seseorang.
"Kalian hentikanlah pahlawan itu, kalian temannya bukan?". Ujar Ferisu menunjuk ke arah Jack yang mengamuk.
Semua pahlawan pun mengangguk pelan dan pergi menuju ke arah Jack yang yak terkendali. Setelah itu Ferisu pun pergi dari lokasi itu dan masuk menerobos ke dalam istana kerajaan Rigle.
Semua prajurit yang menghalangi di tebas olehnya seperti kertas dan terus berjalan masuk hingga sampai di ruangan tahta. Di sana ia melihat raja dan putri pertama dari kerajaan Rigle sedang duduk santai sembari melihat pertarungan dengan layar sihir yang di lancarkan oleh sebuah bola.
"Hoo.. selagi pasukan mu berperang, kau hanya duduk santai sembari menonton mereka yah?". Ujar Ferisu setelah masuk ke ruangan itu.
"Apa?! sejak kapan kau ada disini?!". Teriak raja itu dengan panik.
"Semua pasukan bunuh dia!". Ujar putri pertama.
"Heee... kukira kalian ada di luar bertarung melawan para beastman, ternyata ada disini yah". Ujar Ferisu melihat dua orang yang menyiksanya saat pertama kali sampai di dunia ini.
Dengan tatapan tajam dan mengeluarkan aura membunuh yang besar Ferisu menarik Kuro secara perlahan. Saat itu ia melancarkan sebuah tebasan kegelapan, bukan ke arah orang Rigle tetapi ke arah atas.
Serangan itu pun menghancurkan atap dan membuat sinar mentari masuk ke dalan ruangan. Sesosok pria berjubah hitam pun terlihat jatuh dari atas dan memasuki ruangan itu.
"Keluar juga". Ujar Ferisu dengan tersenyum kecil.
"Hee, ternyata kau menyadarinya yah". Ujar orang berjubah itu.
Sembari mengarahkan pedangnya pada sesosok berjubah itu. "Apa yang kau inginkan? menyulut perang kembali?". Ujar Ferisu dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Ops, santai dulu oke?. Aku bukan lah musuh mu, terlebih lagi aku mungkin berada di pihak mu". Ujar orang berjubah itu sembari mengangkat tangan ya.
"Apa yang kau katakan?". Tanya Ferisu yang heran dengan ucapan orang itu.
"Kau punya dendam dengan orang Rigle ini bukan? aku juga sama dengan mu". Ujar orang berjubah itu.
"Yah memang benar begitu, tapi aku akan menanyakan satu hal padamu. Kenapa kau perlu repot-repot membuat dua kerajaan ikut terlibat dalam balas dendam mu?". Tanya Ferisu dengan serius.
"Ku ku ku.. hahaha, tentu saja agar mereka menyimpan dendam dengan orang Rigle dan menghancurkan mereka!". Ujar orang berjubah itu dengan tertawa kencang.
"Kenapa? kau juga tak ada hubungannya dengan kedua kerajaan itu bukan?". Ujar orang berjubah itu.
"Yah... memang begitu seharusnya, tapi sekarang aku sudah punya hubungan dengan mereka. Dan hal yang kau lakukan sangat merepotkan ku kau tau?!". Balas Ferisu.
"Begitu kah? kalau begitu aku minta maaf karena sudah merepotkan mu". Ujar sosok itu.
Ferisu pun langsung bergerak cepat ke depan sosok itu dan ingin menangkapnya. Tetapi, sosok itu berhasil menghindari dan jubahnya pun akhirnya terlepas. Seorang pria dengan rambut abu-abu dengan mata berwarna merah adalah orang di balik jubah itu.
"Manusia? tidak aku juga merasakan aura iblis darinya". Gumam Ferisu setelah melihat pria itu.
Pada saat itu para jendral dan raja Rigle pun sontak diam melihat sosok pria berambut abu-abu itu. "Bunuh dia!". Teriak raja Rigle dengan ketus setelah melihat orang itu.
Tetapi gerakan para manusia itu tiba-tiba terhenti saat pria berambut abu-abu menatap pasukan Rigle itu dengan mata nya. Di bawah bayangan pasukan itu terlihat sebuah tangan dari sihir kegelapan yang secara perlahan naik dan mencoba menarik mereka ke bawah.
"Kukuku hahaha! akhirnya aku bisa membalas kalian!". Ujar pria berambut abu-abu itu sembari tertawa kencang.
Pada saat itu Ferisu hanya diam dan melihat situasinya, dia tak tau jika pria berambut abu-abu itu adalah musuh atau bukan. Karena memang tak ada permusuhan dengan nya, dan tampaknya pria itu juga memiliki sebuah dendam dengan orang Rigle.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TO BE CONTINUE