
Di masa lalu ada seorang anak-anak yang begitu di sayangi oleh kedua orang tuanya. Namun, sejak ia berusia 11 tahun kedua orang tuanya mulai sibuk bekerja dan kurang memberikan anak itu perhatian.
Pada suatu ketika ayah anak itu pulang dalam keadaan mabuk berat, si anak pun menyambut ayahnya yang pulang. Bukannya mendapat pelukan, si anak malah mendapat kan pukulan dari si ayah. "Dasar anak tak berguna!". Ujar si ayah dengan kasar anak itu pun menjadi shok akibat tindakan sang ayah.
Ia pun berlari dengan menangis menghampiri ibunya, hari demi hari anak itu selalu menjadi sasaran kekerasan ayahnya, tidak tau apa alasannya. Hingga pada umur ke 12 tahun anak itu, kedua orang tuanya tiba-tiba di pecat dari kantor mereka. Karena stress berlebihan kedua orang tua itu pun menyakiti anak itu.
Anak itu pun sudah muak dengan kejadian di rumahnya itu dan ia pun lari pergi meninggalkan rumah. Anak itu pergi ke taman yang sering ia kunjungi dan duduk di ayunan sendirian. Namun, tak ada tanda-tanda kedua orang tuanya mencari dirinya, ia terus menunggu di taman tersebut hingga berjam-jam, tapi tetap tak ada orang yang mencarinya. Anak itu pun memutuskan untuk kembali kerumahnya. Saat sampai di rumah, bukannya kawatir, orang tua anak itu malah sangat marah dan melakukan kekerasan yang lebih dan lebih lagi.
Anak itu pun sudah tak tahan lagi dengan kedua orang tuanya, saat berada di dapur si anak pun mengambil sebuah pisau. "Apa yang ingin kau lakukan dengan pisau itu?!". Ujar sang ayah.
"Aku... Aku sudah muak! Aku sudah tak tahan lagi! Apa salah ku? Kenapa kalian selalu menyalahkan kesalahan kalian padaku? Aku selalu menahan rasa sakit dari tindakan kekerasan kalian!". Teriak anak itu meluapkan emosinya.
"Ahaha... Aku mengerti, kalian berdua bukanlah orang tua ku. Kedua orang tua ku adalah orang yang baik dan penyayang. Hei! Katakan dimana mereka?!!!".
Kedua orang tua anak itu pun sontak terdiam karena mendengar ucapan anaknya. Mereka pun akhirnya sadar dengan semua tindakan mereka selama ini. "Nak maafkan kami, kami tak sadar melakukan semua itu". Ujar sang ibu. "Turunkan pisau itu secara perlahan".
Hati anak itu yang sudah hancur tak bisa di perbaiki lagi dengan ucapan yang sederhana. Sang ayah pun mencoba mendekati anak itu untuk mengambil pisau darinya. Namun, tanpa di sadari si anak sudah menusuk kan pisau itu ke perut sang ayah, ibunya yang melihat hal itu pun histeris berteriak dan panik.
Si anak itu pun menusuk kan terus menusuk sang ayah dengan pisau itu, setelah sang ayah tak bergerak lagi ia pun berjalan menghampiri ibunya yang terduduk shok. "Hei, dimana ibuku?". Tanya si anak.
"A~ Apa yang kau katakan?! Apa yang kau lakukan dasar pembunuh!". Ujar sang ibu.
Slaasshhh!!!
Si anak pun menebaskan pisaunya ke leher si ibu dan menusuk-nusuk pisaunya ke tubuh ibunya. Selang 3 hari kejadian itu baru di ketahui oleh polisi. Kedua orang tua anak itu pun di temukan mati akibat kehabisan darah dan terdapat banyak luka tusukan di sekujur tubuh mereka
Polisi itu pun menanyai si anak perihal kejadian itu. "Nak, apa yang sebenarnya terjadi?". Ujar polisi.
"Kau siapa?". Jawab si anak dengan mata yang tampak seperti ikan mati. Para polisi pun tak menanyai anak itu lagi, karena dilihat bagaimana pun anak itu adalah korban kekerasan dari orang tuanya.
__ADS_1
Kejadian itu pun di tutup tanpa adanya tindakan lanjut. Anak itu pun di benci oleh semua keluarganya dan kerabatnya yang lain. Padahal dia hanya membela dirinya, tak ada satu pun orang yang tau mengenai perasaan dan ala yang ia rasakan.
Di saat semua kerabatnya membencinya, hanya kakeknya seorang yang mau mengurusnya. Anak itu pun tinggal di rumah kakeknya yang sudah tinggal sendirian.
"Sebenarnya apa yang terjadi?". Tanya sang kakek dengan lembut sembari mengelus kepala si anak.
"...". Si anak hanya diam karena masih merasa syok dengan hal yang ia lakukan.
Kakeknya pun memeluknya dengan penuh kasih sayang. "Tak apa, kakek tak akan membenci mu atau apapun. Kamu hanya melakukan hal yang perlu di lakukan karena keadaan yang terdesak". Bisik kakek dengan lembut.
Secara perlahan air mata dari anak itu pun mulai mengalir keluar. "Huwaaa~ a~ aku tak bermaksud melakukannya ta~ tapi ha~hati ku rasany-". Tangis anak itu.
"Sudah lah tak apa, luap kan saja semuanya. Kau akan sakit jika hanya memendam semuanya". Ujar sang kakek.
Walau pun hati si kakek juga merasa sedih atas meninggal anaknya namun, ia tetap tegar dan menerima kematian tersebut. Sejak saat itu si anak pun tinggal bersama dengan kakeknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aryn pun hanya terdiam setelah mendengar cerita tersebut. "Yah di bandingkan dengan kisah tadi, kedua orang tua mu masih mengkhawatirkan mu dan menyuruh kedua kesatria tadi untuk mencarimu". Ujar Ferisu.
"Hu'um... etto... ini memang sedikit terlambat tapi terima kasih...". Ucap Aryn pelan.
"Yah sama-sama, apa kau perlu di temani untuk pulang kerumah?". Tanya Ferisu.
"Apa kau mau mengantar ku?". Ujar Aryn.
"Yah, jika kau tak keberatan". Ujar Ferisu dengan tersenyum simpul.
Mereka berdua pun berjalan menuju ke mansion wali kota di kota tersebut. Selama perjalanan Aryn menanyai tentang kisah yang di ceritakan Ferisu sebelumnya.
__ADS_1
"Hei, onii-san. Bagaimana perasaan anak itu?". Tanya Aryn.
"Hmmm? yah, pada awalnya dia merasa lega setelah membunuh kedua orang tuanya. Tetapi di balik rasa itu dia juga merasakan rasa yang amat pedih dan sedih karena kehilangan kedua orang tuanya". Ujar Ferisu.
"Bagaimana dengan onii-san?". Tanya Aryn.
"Maksudmu kedua orang tua ku?". Tanya balik Ferisu dengan heran.
"Iya". Ujar Aryn sambil mengangguk.
"Mereka berdua sudah meninggal saat aku masih kecil...". Ucap Ferisu dengan nada sedih.
"Ah, maaf aku tak bermaksud". Ujar Aryn dengan menyesal.
"Tak apa, lagi pula itu sudah lama sekali". Ucap Ferisu dengan senyum simpul.
Pada akhirnya mereka pun sampai di depan gerbang mansion wali kota. Di sana terlihat dua orang yang mondar mandir seperti menunggu seseorang.
"Ayah, ibu~". Ujar Aryn sembari berlari menghampiri 2 orang tersebut.
"A~ Aryn, dari mana saja kau". Ujar sang ibu memeluk putri nya tersebut dengan berlinang air mata.
"Maaf, aku hanya~". Ucap Aryn sembari menahan tangisnya.
Ferisu pun membalikkan badannya dan berjalan pergi kembali ke penginapan nya. Aryn pun memberi tahu soal Ferisu pada kedua orang tuanya namun, pada saat ia menunjuk ke arah luar gerbang. Ferisu sudah tak ada disana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TO BE CONTINUE