
MASA KINI..
Jadi gini...
Aku tak bersenjata , di belakang kami ada seekor Minotaurus. Benar benar sebesar truk DKPP.
WROAAAAARHH.. MOOOO
Ya seperti itulah bunyinya .
"David , kamu gak bawa senjata ,.?" tanyaku disela-sela ngos-ngosan ku ketika berlari.
"Kececer.."
Inilah mengapa , kalian diciptakan hati. Agar kalian bisa menerima kebodohan teman kalian dengan lapang dada dan hati yang tulus.
"Kamu tau anjing ?" tanyaku..
"Aku gak suka anjing " jawabnya ..
Aku benar benar capek berlari . Sudah tiga jam lebih kami berlari seperti ini ditengah malam jam setengah satu malam.
"Kita harus ngapain selain lari?" tanyaku dengan sangat ramah..
"Hanya bisa berlari terus ke gerbang pondok..." jawabnya yang tidak ada faedahnya ternyata .
"Kenapa bisa begitu?" tanyaku.
"Karna aku gak bisa upgrade kekuatan ku ketika malam hari..."
Wow... jadi ada istilah upgrade kekuatan ?
"Tapi jaraknya itu terlalu jauh bajingan.. " sungguh sial oh sial, kakiku tergelincir akibat licinnya tanah liat .
Sebenarnya , ketika aku sampai di terminal. Kami memang memakai bus. Namun entah kenapa , si David meminta kepada supir bus untuk menurunkan kami dipinggir hutan . Dan ia mengajakku melewati hutan yang ada sawah, lahan lahan, danau dan padang rumput. Namun ketika kami melewati hutan, nampaklah kaki bukit yang dilengkapi dengan jalan yang curam. Ketika kami mendaki, tiba tiba saja aku melihat sebuah gua yang kecil. Sangat kecil, karna penasaran , aku pun mengikuti naluriku untuk pergi memeriksanya. Dan inilah yang terjadi, aku tak sengaja menarik tanduk Minotaurus ini yang kupikir adalah ujung teko air.
Lanjut ketika aku terpeleset tanah liat.
Sang Minotaurus ikut berhenti di depanku. Tepat didepanku , nafasnya juga tersengal sengal, kami pikir memiliki ukuran tubuh segitu gak gampang capek.
"Capek ya om?" tanyaku. Semoga dia jinak.
"Mooooo Whuargg.." aku tak mengerti bahasa lembu.
"Minotaurus gak bisa di ajak kompromi anjing" David mengumpat.
"Teman teman... kesini...!!" aku bingung , itu bukan suaraku. Karna itu suara wanita. Tapi aku tau itu bukan suara kuntilanak .
"Hah? Rista ?" ujar David heran.
"Kesini..." senternya sungguh terang . Amat sangat terang . Kemungkinan besar itu adalah senter gunung , bukan senter mainan seperti kami ini.
"Moooooo..." om Taurus menggesek gesek kaki belakangnya.
"Awas Rio.. nanti kau diseruduk." informasi yang cukup buruk..
"Jangan di lawan Rio.. mending kabur.." saran yang bagus dari seorang Rista .!
Dan akhirnya mereka kabur deluan.
"Penjaga apaan.." aku berdiri dan memadatkan ototku.
"Mooooo.." ia juga berdiri seperti manusia. Tingginya sekitar dua meter setengah, dengan lebar bahu sekitar satu meter. Otot otot nya hampir seperti om Daddy Corbuzier. Rahangnya kuat seperti Abang Abang pemain smackdown. Namun bokongnya tak besar .
"Sini sini.." ajak ku. Ke om Taurus .
"Mooooo" lolongnya.
"Emang lembu melolong ya?" koreksi Sofia .
Bapak lembu menerjangku dengan tangan yg mengayun kan sebuah gada yg maha besar . Gada itu mungkin seukuran tubuhku.
Selain menerjang , ia juga menghajar pohon pohon besar di sampingku. Aku tau , tujuannya adalah untuk mempersempit pergerakan ku . Aku melompat ketika ia menghantamkan gadanya . Alhasil gada itu hanya membuat gempa kecil di tanah liat bukit ini.
Mungkin kalau kena kepalaku bisa retak,?
"Mooo..." bapak lembu kembali menerjang . Aku berkelit ke selangkangannya , dan aku dapati bahwa tepat di selangkangannya ada dua buah kelereng seukuran bola kasti. Karna aku cerdas, jadi aku coba ambil batu dan menghantamkannya ke dua buah kelereng yang matang itu.
"MOOOOOOOOOOOO....!!!" andai aku jadi dia, pasti artinya .. 'anjiiiiiiiing'.
__ADS_1
Aku kembali bangkit dan bersiaga . Ia membalikkan badan dengan tubuh yang bergetar.
"Bagaimana ?" ujarku.
"Moooo!!" mungkin artinya , KUBUNUH KAU.
Dengan keadaan pincang , bapak lembu kembali menerjangku. Namun kali ini dengan kondisi pincang .
Ku coba untuk membanting tubuhnya dengan gaya judo. Namun ketika aku mengalungkan lenganku ke lehernya untuk merubuhkannya , ia malah membanting ku ke pohon rotan.
Tau rasa sakitnya seperti apa?
"Uhukk!!" aku tak sengaja memuntahkan apa yg harusnya tidak dimuntahkan akibat terbantingnya tubuhku ke pohon rotan. Semua itu adalah apa yg aku makan hari ini.
Sang bapak lembu mendekatiku dan menjambak rambutku.Jambakannya benar benar sakit sehingga aku ingin berteriak. Setelahnya, di patahkannya sebuah gigi nya , lalu menancapkannya kearah atas bajuku ke pohon. Lalu diketok-ketok lah gigi itu dengan gada nya yang besar sampai tertancap. Aku tak mengerti, tapi aku mulai tercekik akibat gravitasi. Si bapak lembu mundur kebelakang dan membuang gada besar itu, lalu berkuda kuda seperti banteng yang ingin menerjang gladiator.
"Moooo". dengan cepat ia berlari ke arah ku yang sedang tertancap.
Dengan segenap jiwa dan pikiranku , aku menggenggam gigi itu dan membuat itu sebagai tumpuan tanganku agar aku menaikkan tubuhku ke atas. Dan hampir saja , salah satu tanduk nya tertancap persis dibawah biji ku . Dengan jarak sekitar setengah penggaris 30 cm.
Namun ada untungnya juga.
Tanduknya benar benar tertancap. Dan jika ia ingin melepaskan itu , maka ia harus mematahkan tanduknya . Ketika ia berhasil mematahkan tanduknya , bersamaan dengan itu gigi nya yg tertancap di kerah atas bajuku juga ikut melonggar akibat getaran yang ia sebabkan di pohon tadi.
Kalau begini , dengan mudah aku mengayunkan tubuhku ke atas dan mencabutnya . Ketika si Mino mundur ke belakang dan berbalik, ia tak sadar bahwa aku sudah terlepas dari pakuan giginya . Ku coba untuk menarik tanduknya yang tertancap. Walaupun keras, dan aku tau itu. Namun tetap saja aku lakukan agar aku menang .
Agak sial diriku disaat fase ini, karna bapak lembu berbalik dan melihatku. Matanya melotot dan terbakar amarah.
"Mooooo...." mungkin artinya punyaku...
Dengan ganas , kembali ia menerjang ke arahku. Aku berkelit kekiri dan membanting tubuhku ke bawah akar pohon.
"Rio.. aku yang cabut, kamu alihkan ." ucap Sofia.
Benar juga , aku tidak sendirian.
"Sofia !!" teriakku. Maka keluarlah Sofia dari tanda kissmark di leherku.
Seiring dengan munculnya Sofia , aku berlari mengitari pohon itu. Si Mino juga gak kalah. Ia juga dengan ganas mengejar ku. Aku berlari penuh gairah , namun tentu saja aku juga merasakan lelah. Lelah yang seolah olah membakar semua lemak ku , bahkan seluruh kalori yg ada di tubuh ku membakar. Aku tau , pasti dengan cepat aku terkejar. Namun dengan telaten aku membawanya agar pergi berkelok kelok dan mengitari beberapa pohon yang sama, membuat ia agak oleng di saat aku berbelok. Bahkan , sudah dua kali ia terjatuh karna belokan yg tajam dan beberapa pohon yg harus ia lewati .
Aku masih dalam keadaan sangat lelah dan aku paksa seluruh tubuhku untuk bergerak. Secara alami , aku melihat bahwa tubuhku berasap. Dan aku merasakan tubuhku agak ringan. Lemak dan kalori yang ada di tubuhku perlahan membakar dan sangat instan menjadi otot kaki. Otot lengan , dan beberapa di bagian paha atas.
Keringatku berjatuhan . Aku mulai mendengar sayup-sayup suara ayam berkokok, tanda bahwa sebentar lagi akan memasuki sepertiga malam. Dan di sini , aku mulai membuat keajaiban pertama kali yang aku alami pada tubuhku.
"Belum selesai! lari lagi"
"Dasar seenaknya saja menyuruh." keluhku.
Aku terpaksa kembali berlari dan berlari. Ku abaikan rasa nyeri di sekitar paha bawah akibat caraku berlari berkelok kelok. Butuh otot paha bawah untuk menjaga keseimbangan agar tidak mudah jatuh. Kembali aku bawa si Mino ke bawah bukit. Anehnya , ia malah berlari dengan keadaan pincang . Benar benar pincang. Ada banyak bekas pijakan ku pada bumi, dan di situ pula lah ada cipratan kecil air keluar dari bumi. Aku tidak tau apakah ini bencana atau anugrah, tapi yang pasti aku masih memikirkan cara untuk si Mino tidak bisa menangkapku dalam waktu dekat .
Ketika aku sudah sampai di kaki bukit, aku berhenti mendadak. Si Mino juga reflek berhenti mendadak , alhasil ia kehilangan keseimbangan akibat grafitasi dan bobot tubuhnya yang besar itu tidak biasa dengan massa dimana ia harus berhenti mendadak di kaki gunung. Ia pun jatuh tergelinding ke arahku. Di pandu dengan insting yg tak mau mati muda, aku melompat ke samping kanan yang ketika mendarat tak ada enak enaknya karna tubuhku membentur sebuah batu besar .
"SUDAH KAH ?!!" teriakku yang agak menandakan isyarat harus sudah !.
"Sedikit lagi, kamu tau kan aku wanita?" protesnya.
"Aku manusia kamu spirit. Kekuatan kita beda jauh.." bantahku.
"Kamu itu demigod, ! harusnya lebih kuat dua kali dari aku dong" protesnya lagi.
"Sudah lah cepat.." Aku berusaha bangkit karna rasa nyeri yang tak tertahankan bersarang di bahu ku. Hampir saja tulang sendinya ku pikir patah atau retak.
Sang mino ingin berdiri, namun akibat jatuhnya ia dari atas, ada kemungkinan bahwa kepalanya agak kehilangan keseimbangan .
Tepat ketika aku melewati beberapa jejakku, aku melihat lagi air yg memancur keluar dari situ. Percikannya sangat menyegarkan bagiku .
"Bisa diminum kah?" ku coba untuk mendekatkan tubuhku ke jejakku itu, dan lagi ku condongkan kepalaku agar bibirku bisa menyeruput airnya .
Ada dua hal yang membuatku kaget , pertama adalah air itu sangat segar ketika diminum. Kedua , ketika kulitku yang di dagu lecet akibat benturan batu tadi mengenai percikan air , luka itu perlahan menutup.
Karna penasaran, aku pun membasuh wajahku dan tangan ku disitu. Dan ajaib nya , segala lecet dan luka yang ada di tubuhku yang aku basuh dengan air itu perlahan mulai meregenerasi.
"Riooo! udah kecabuuut... adududuh.. jatuh!"
Ketika aku menoleh ke arah Sofia ,tanduk Mino itu tergelinding ke arahku.
Awalnya aku ingin mengguling gulingkan tubuhku di air, namun aku sadar ada getaran dari bawah . Ya , itu adalah getaran yang di akibatkan sang mino menghentak hentakkan kakinya ke bumi. Mengingat besarnya tubuhnya, pasti otot kakinya bisa di pertimbangkan .
"Sofia ... kalau ada apa apa denganku, bisa gak minta tolong ?" teriakku .
__ADS_1
"Gak usah teriak , aku udah ada di dalam kandang ." aku lumayan kaget karna ia sudah di dalam diriku.
"Aku minta tolong , misal aku gak selamat . Katakan ke David , terima kasih sudah mau jadi sahabat dari kecil ku, kasih tau juga ke Berista , kalau aku berterima kasih atas minumannya. Dan trakhir, bilang ke ibuku di mana pun dia terima kasih udah ngelahirin aku.."
"Sudah ku catat semua , nanti ku sampaikan. Jadi ? kapan mau pergi datangin kematian? . Udah di depan mata lho.. mubazir klo di buang kesempatannya ." dengan santuy dan benar benar lemah lembut ia menyampaikan hal hal yang gak mau ku dengar. Aku sering nonton film, tapi baru ini yang bener bener ada orang menyemangati temannya untuk menghadapi kematian .
"Ok aku berangkat dulu ."
Ini memang gila , terlebih lagi mengingat teman teman yang sudah pada kabur entah kemana , spirit ku yang sudah sembunyi ke tubuh ku, orang tuaku yang tak tau anaknya di mana dan bahkan, mereka pun tak tau bahwa anaknya berhadapan dengan seekor manusia banteng yg tingginya tiga kali lipat manusia dan memiliki lebar bahu dua kali lebar bahu atlit binaraga. Terlebih lagi pacarku yang tak tau pasti sangat sedih. (semoga sedih).
Dan mengingat semua hal gila itu , perlakuanku yang ingin menyerang mahluk bergigi tumpul namun bertanduk panjang itu dengan tanduknya sendiri, ini lebih gila .
"Baiklah kemari lembu... hus hus.." ku ambil sebatang tanduk itu dan ku genggam erat erat.
Sang mino tak mau memberiku kesempatan untuk mempersiapkan kuda kuda serangan. Dengan cepat ia menerjang ke arahku. Cepat dan sangat cepat . Bahkan saking cepatnya, pohon besar di kanan dan kirinya itu ambruk.
"HURAAAAAA..!!!" aku berteriak gila menerjang abang Mino ini sebelum akhirnya aku melihat tubuh ku terbang. Tidak , bukan begitu. Aku menyadari sedetik setelahnya bahwa aku terpental akibat benturan yang di berikan Abang Mino..
Aku terpental terlalu tinggi, seketika itu aku merasakan bahwa bagian dalam perutku terguncang. Dan secara ilmiah, aku memuntahkan darah yang bercipratan ke tanah. Beberapa detik setelahnya tubuhku menghantam dengan keras ke salah satu pohon besar. Kembali dadaku bergetar, membuat mulutku kembali memuntahkan darah .
Dua detik setelahnya aku terkapar dengan tidak baik baik saja ke tanah yang di atasnya tentu terdapat bebatuan kasar dan keras.
"Ohoook!!" untuk kesekian kalinya aku memuntahkan darah lagi.
"Ini kah rasanya mati?" dengan sekuat tenaga aku menopang tubuhku untuk bangkit dari tanah bebatuan ini .
"MOOOOOOOO.... HURRRR..." setelah melolong panjang ia pun mendengkur.
"Lembu melenguh, bukan melolong " ralat Sofia .
"Serah" aku duduk di sebuah akar besar.
Kulihat di depanku sang mino sudah kembali menggosok gosokkan kakinya ke tanah dan bersiap siap menusukku dengan tanduknya .
andai aku sehat lagi..
Tepat di saat aku menginginkan tubuh sehat, kembali air dari bumi itu memancurkan dirinya tepat di sekelilingku dan menyiram ku. Anehnya , aku yang tak ingin basah terkabul. Walaupun mereka menyemprotkan dirinya ke aku, aku sama sekali tidak basah. Kepulihan tubuhku pun juga total.
Aku kembali berdiri .
"Andai kalian bisa jadi senjata.." aku mengharapkan itu. Tepat setelahnya pancuran kecil air bumi itu berubah semakin deras, deras hingga akhirnya seperti air pancuran di monumen .
Sang mino kambali melolong
"Melenguh!"
Abaikan Sofia .
Abang Mino kembali menerjang .
"Seraaaaaaaang!" ntah aku sudah gila atau apa , tapi ketika aku berteriak seperti itu kepada pancuran air. Mereka segera menyemprotkan diri mereka ke Mino. Membuat tubuhnya terdorong .
"Hempaskan!" perintahku. Dan benar saja pancuran air itu menghempaskan tubuh sang mino ke pohon. Dengan segenap jiwa dan raga serta secuil tenaga ku , aku berlari sekencang kencangnya . Dan ketika tepat di depan Mino, aku menancapkan tanduk itu tepat di dadanya . Ia menjerit kesakitan , seraya mengeluarkan lidah lidah api dari matanya. Beberapa saat setelahnya tubuh besar Mino itu ambyar menjadi serpihan serpihan meninggalkan sebatang tanduk .
Karna terlalu lelah , pandanganku mulai buram dan aku mendengar sayup-sayup di akhir kesadaran ku ..
"Dia disini .. kemari semua !!" di ikuti suara kepakan sayap dan ringkikan kuda.
"Rio...Rio.."
Setelah itu semuanya menjadi gelap.
***
Sebenarnya aku bingung kenapa aku tidak mimpi aneh lagi , namun tak apalah aku nyenyak.
Ketika aku sadar , aku berada di ruangan yang agak banyak orang . Namun untungnya suasananya lumayan tenang. Ada beberapa wanita dan pria yang ke sana kemari memberi obat dan mengeluarkan semacam cahaya dari tangan ? entahlah.
Berhadapan dengan seekor Minotaurus saja sudah membuat akal sehat tidak berguna lagi.
Aku berusaha bangkit, namun seorang gadis mendatangi ku dan berkata ,
"Maaf dik, jangan bergerak dulu .. sebentar saya pulihkan tenaganya ."
Dik ya ?
Gadis itu lumayan bening Dengan rambut yang diikat kuncir. Matanya tajam dan berperilaku gesit. Ia mengeluarkan cahaya di telapak tangannya dan mengarahkannya ke perutku. Perlahan lahan tenagaku mulai pulih.
"Sudah sadar kah anak baru ?" aku kaget ketika ada suara wanita yg tegas dan agak berat menantang . Dan ketika aku melihat di depan pintu, seorang wanita dengan tubuhnya tinggi dan perut yang kotak-kotak, namun payudara tetap kencang. Ia membusungkan dadanya dan mengacak pinggang nya dengan tangan kirinya .
__ADS_1
"Selamat datang di pondok. Rio Ferdinand Sinaga.."
***