
Aku berakhir di ruang guru . Ada sekitar enam guru yang sedang duduk di meja bundar , dan aku berada di hadapan mereka . Salah satunya adalah Wukong .
"Nak Rio , ada apa gerangan engkau melawan gurumu?" tanya seorang guru tua yang aku tak tau namanya .
"Maaf, sebelumnya bisakah saya mengenali kalian satu per satu?" balasku.
"Baiklah kalau begitu , nama saya Han . Saya adalah wakil kepala sekolah , dan ibu itu bernama Ji-Sung , di sebelahnya ada Wukong , sebelahnya lagi ada K-Chaata , yang sedang membenarkan dasi itu namanya Chui ni Hao, dan yang sedang makan coklat itu Bu Derik."
Aku melihat semua guru , hanya pak Han yang terlalu menganggap serius kasusku. Yang lainnya ku lihat hanya berleha-leha dan bersantai, terutama Wukong . Sedari tadi ia hanya memainkan pena dan menguap.
"Apa kasusku ini berat ?" tanyaku kepada sang wakil kepala sekolah .
Mata para guru termasuk Wukong , melotot kepadaku . Apakah aku melakukan hal yang tak seharusnya?.
Wukong memberikan kode mata kepadaku , tetapi aku ini bukan satu circle pertemanan dengan dia. Jadi aku tidak tau apa yang di maksud dengan kode mata itu .
"Wahai nak Rio , apakah menurutmu mempermainkan guru itu tindakan terpuji? " wakil kepsek bangkit dari duduknya dan berjalan ke arahku .
"Maksud saya , kalau memang itu salah tinggal di hukum kan bisa ? tanpa perlu repot repot di sidang begini ." tinggal hukum kan beres ? .
"Memang beres, tetapi kau tidak tau apa dan di mana kesalahan mu. Nanti akan kau ulangi jika tidak begini caranya ." jelasnya.
"Walaupun di sidang depan Zeus pun aku tetap seperti itu pak" sahutku lantang .
Kembali , para guru melotot kepadaku dan menghembuskan nafas pasrah.
"Jangan mentang-mentang kau anak Kadita jadi seenak jidat di sekolah ini !" wakil kepsek hendak mencengkram bajuku , namun aku yang sudah berpengalaman menghadapi guru seperti ini langsung menghindar dan berputar tubuh menjauh darinya .
"Kalau begitu, begini saja . Ku tantang sekolah ini ?" setelah aku melontarkan tantangan tersebut, yang paling kaget adalah Wukong . Ia sampai-sampai tidak jadi menguap.
"Kau baru saja masuk sekolah ini !" Guru Choi kali ini angkat bicara .
"Choi, memangnya kenapa ? ada masalah? dia kan mau menantang , bukan berarti dia mau so pintar ." sahut Bu Ji-Sung.
"Ok , apa tantangannya? " Wukong mengangkat suara kali ini .
"Di sini ada sistem ranking atau prestasi?" tanyaku , yang di balas dengan anggukan oleh mereka .
"Baiklah, kalau begitu. Apa dan bagaimana sistemnya?"
"Sistem prestasi, di sini ada namnya exp dan gold. Setiap prestasi akan meningkatkan kedua hal tersebut. Exp untuk menambah level up, di sini juga ada yang namanya level . Level di sini untuk mengetahui seberapa pengaruhnya dirimu di campus, adapula yang namanya prestasi tier . Tier ini di dapt dari misi dan perolehannya adalah Gold box dan premium box . Untuk gold dan EXP yang di dapat dari misi itu agak berbeda dari yang di campus. " Jelas Bu Derik .
"Dengan kata lain , semakin banyak prestasimu semakin banyak gold mu. Itulah kenapa di butuhkan tablet. Tetapi membeli tablet pun butuh prestasi, dan prestasi itu di ambil dari tangkap bendera, karna di sana semua prestasi adalah umum. Tidak membedakan mana yang prestasi kelas tinggi, menengah dan bawah. " sambung pak K-Chaata.
"Kalau begitu, tantangan apa yang kau berikan kepada campus?" tanya sang wakil kepsek.
"Hmm ... agak rumit. Ok aku putuskan ." Aku berjalan dan melompat ke salah satu meja guru dan berjongkok di pinggir meja itu. Sang wakil kepsek agak naik pitam sepertinya , terlihat dari wajah dan dadanya yang naik turun menahan amarah.
"Kalau aku dalam seminggu bisa meningkatkan lima level ku, aku minta di bebaskan dari hukuman apapun dalam sebulan , plus aku ingin gold box." setelah aku mengatakan demikian , Wukong tertawa.
__ADS_1
"Itu mah gampang dalam satu Minggu, ku tantang balik . Sepuluh level?" ucapnya .
"Sepuluh ? tapi di kali dua rewardsnya? deal?" tantangku lagi ke dia .
"Tidak , dua puluh level dalam satu minggu dan aku akan memberikanmu rewards tiga kali ? dan jika kamu tidak mampu, hukumanmu akan di lipat gandakan sebanyak lima kali?" kali ini Bu Ji-Sung yang berdiri dan membusungkan dadanya . Pamer payudara kah?.
Aku berpikir sejenak, dan akhirnya aku memutuskan untuk mengambil semua tantangan itu.
"Ok deal, dua puluh level up dan rewardsnya tiga kali lipat . Tiga gold box dan bebas hukuman apapun dalam tiga bulan ." aku mengulurkan tangan . "Deal kah pak?".
Pak wakil kepsek menengok ke semua guru dan semua guru mengangguk.
"Ok deal." ia menjabat tanganku.
Kena mereka , sampai bertemu di seminggu kedepan ya kakek tua bangka!.
###
"Jadi , kamu mau ngejar prestasi ? sampai dua puluh level up hanya dalam waktu seminggu?" Rista menyimak kata kata ku tadi dan menanyakan ulang akan keyakinan ku sembari mengiris daging steaknya.
"Jujur, ku pikir sih agak mustahil, tapi di liat dari kekuatanmu yang sudah pernah mengalahkan guru Coco , mungkin ada tujuh puluh persen berhasil." Aku tak tau itu adalah semangat atau pujian yang terlontar dari mulut Ricky, tetapi aku ambil positifnya saja . Toh kami sudah menjadi satu circle.
"Mau ku bantu? aku banyak menciptakan alat. Sampai-,sampai aku membuat sesuatu untuk berubah , semacam alat berubahnya Kamen rider atau Ultraman begitu." Justin masih sambil memainkan pvp yang ia buat sendiri , di mulutnya masih terkulum sebuah permen .
"Benarkah? kamu bisa menciptakan alat henshin?" aku lumayan agak heboh, ya bagaimana tidak? tiba tiba saja aku yang penggemar Tokusatsu bisa bertemu dengan orang yang bisa menciptakan alat untuk berubah.
"Ya , dia bisa membuatnya. Kemarin aku mencobanya , hanya saja masih dalam tahap uji coba. Jadi hanya berubah menjadi kostumnya , belum ada kekuatannya sama sekali." Ricky meyakinkanku.
"Hei, dia itu orang yang banyak prestasi akademik dan mempunyai banyak gold. Tapi dia itu bukan tipe boros uang , jadi dia selalu mikir kalau mau membeli ini itu. " Rista memberi informasi.
"Bahkan dia pernah menghitung kandungan dalam burger ." yang kemudian di sambung oleh Ricky .
Setelah jam pelajaran tadi selesai, kami memutuskan untuk bersantai dulu di salah satu restoran daging . Di sini bukan hanya steak house, tetapi juga ada beragam menu olahan daging . Seperti burger, hotdog, kebab, dan daging barbeque. Menurut Rista , di sinilah tempat paling enak di seluruh resto yang ada. Aku yang belum tau apa apa tentang seluruh resto yang ada di pondok ini, hanya bisa mengikuti mereka saja .
"Maaf lama" suara sopan Zahra membuatku menoleh .
"Di sampingku kosong Sarah " Justin membenarkan kursi kosong di sampingnya .
"Terima kasih.." Zahra yang awalnya hendak duduk di sampingku tapi kemudian pergi ke samping Justin.
"Oh iya , si chindo kemana ?" tanyaku lagi.
"Ah, dia di panggil tadi sama kakak kelasnya . Chindo emng masih populer di sini, entah di panggil kenapa, mungkin dia mau di tembak kali?" Ricky memberitahuku sambil menyeruput es cappucino nya.
"Hei kak Rio , kakak gak mesan apa-apa ? cuman minum es teh oolong doang?" suara sopan Zahra kembali masuk ke telingaku .
Aku menoleh ke arahnya "Ya , begitulah . Masih kere belum ada prestasi dan gold, tapi aku yakin dalam seminggu lagi aku pasti bakalan banyak dapat gold . Hahaha..." aku memaksa tertawa walaupun tak ada yang tertawa.
"Kak Rio , tawamu itu terlalu jahat di dengar ." Rista mengekspresikan wajah yang ketakutan .
__ADS_1
"Semacam villain di film film." celetuk Justin .
"Ya sudah , kalau begitu aku belikan kakak dulu ya, mau daging ? kaya si Rista ? ya udah pesan aja nanti bill nya aku yang bayar ." Zahra menawarkan traktir gratis kepadaku.
Aku mengerjapkan mata "Beneran ?"
Zahra mengangguk.
"Ok, sudah di putuskan . Awal dari sang nomer satu Demigod akan di mulai ! Hahahaha!!" aku berdiri dari kursi dan pergi menuju meja pesanan.
Tempat ini lumayan rame tapi tidak terlalu pengap. Mungkin karna tempat ini sudah di berikan full AC dan pembersih udara. Semua fasilitas di sini terlihat rapi , bersih dan bermerk. Aku saja harus kembali mengantre hanya untuk memesan sebuah steak daging medium rare. Aku berada di antrian ke enam , gak terlalu panjang juga . Yang jadi lumayan masalah adalah , antrian di sebelahku , yaitu antrian untuk memesan kebab . Terdapat sesosok wanita yang sangat ku kenal dan dia pasti kenal aku.
Siapa lagi kalau bukan Coco .
"Wah , ada buk Coco. Hallooo.." aku menyentil bahunya.
Ia menoleh dengan wajah kusut "Wah, ada ikan asin ke restoran. Bukannya lagi bokek? kok bisa pesan?" dia mengolokku rupanya .
"Wah , aku yang bokek aja bisa mesan daging steak, apalagi aku kaya raya ? mungkin resto ini ku beli beserta sahamnya " aku kembali menepuk bahu Coco dengan remeh , membuat ia kesal dan menepis tanganku.
"Dengar , beruntung saja ini sebuah resto, kalau ini hanya sebuah grobak crepes, mungkin udah ku sayat telingamu!" ia berkata demikian dengan mata yang melotot merah .
"Wow, guru kok ganas sama muridnya?" ledek ku.
"Murid kok gak tau sopan santun sama gurunya !" balasnya .
"Gurunya aja begini , bagaimana mau sopan dan santun?" balasku lagi.
"Masnya mesan apa?" tanpa kusadari, aku sudah berada di depan meja pesanan .
"Oh ya, saya mau steak medium rare. Extra batter dan minta tambahan paprica ya"
"Ok silahkan di tunggu, di meja nomer berapa ?"
"Nomer tujuh belas ."
"Baik, silahkan di tunggu "
Setelah memesan , aku berbalik dan memeletkan lidahku ke arah Coco, dan dia kembali kian meledak amarahnya, hal itu sangat nampak dari sorotan tatapan matanya .
Aku pun tertawa melihat Coco yang kuat tapi sensian begitu .
Ketika aku sampai di meja makan , semua teman temanku menoleh ke arahku.
"Kayaknya kamu punya kehokian besar deh, baru aja Rista di kirim pesan lewat email dari tabletnya , katanya ada misi yang harus di ambil. " Ricky menerangkan kepadaku.
"Wow, misi apa itu? berpaa orang? siapa yang mengetuai?" tanyaku .
"Ah, untuk itu belum tau. Nanti setelah kau makan , kita bersama-sama ke gedung guild." balas Ricky.
__ADS_1
Aku tersenyum puas , akhirnya langkah awal aku mendapatkan prestasi sudah di depan mata.
***