
Kami turun menuruni perbukitan kecil yang menjadi jalur pintasan antara dunia fana dan pondok Demigod . Ketika aku melewati pepohonan, aku teringat setiap peristiwa ketika aku bertarung dengan sang Mino . Aku jadi tak enak kepada gua yang waktu itu aku kunjungi, karna tanduk penghuninya sudah aku miliki dan sekarang aku bawa di dalam tas kemah ku.
"Yo, kamu bisa setopkan angkutan umum?" tanya Ricky .
"Hah? pertanyaan macam apa itu? ya kan tinggal lambaikan tangan , ezzi banget lah" balasku dengan mengacungkan jempol kebawah .
"Aku bukan orang Balikpapan, aku dan Zahra berasal dari Banjarmasin ." jelas Ricky .
"Oh.. seperti itu ."
Kami pun menumpang ke atas kendaraan pick up yang hendak menuju kota Samarinda . Untung saja orangnya sangat baik dan rendah hati. Ada sekitar dua kali kami berhenti di tengah jalan hanya sekedar mengisi perut karna lapar, dan orang itu mentraktir semua makanan kami .
"Aku senang sekali bertemu dengan kalian , aku punya dua orang cucu laki laki dan perempuan . Mereka seusia kalian , tapi mereka menghilang di kota sebelah ." kakek itu tak menunjuknya , tetapi dari arahan matanya kami tau bahwa yang ia tujukan adalah tujuan kami nantinya .
Aku penasaran , apakah itu berarti bahwa kasus demi kasus berhubungan dengan misi yang kami tangani? . Apa jangan jangan , mereka melakukan ritual kontrak dengan satu mahluk yang memiliki kekuatan daya tarik dahsyat?. Entahlah .
"Anak anak, " kami menoleh ke arah nenek nenek yang punya warung dan yang membuatkan kami olahan makanan tadi . Sejujurnya kami sama sekali tidak memperhatikan bahwa yang membuatnya nenek-nenek , jujur aku pikir tadi yang membuatnya adalah ibuk ibuk kisaran usia dua puluh sampai tiga puluhan .
"Nenek akan memberi saran sebagai warga asli yang baik hati . Tolong jangan ikut campuri urusan di sini , apapun itu jangan !. Karna nenek sudah merasakan sakitnya menderita penyakit ini sampai dua puluh tahun trakhir ." sang nenek mengangkat tangannya dan terlihat lah daerah telapak tangannya yang berlubang lubang dan di penuhi ulat ulat yang menggeliat geliut hendak mencari makanan .
Sontak Zahra dan Rista memekik ketakutan dan terloncat mundur untuk memastikan agar diri mereka tidak di hinggapi ulat .
"Nek? nenek gakpapa?" Ricky agak khawatir dengan kondisi sang nenek , dan ia pun mencondongkan tubuhnya agak maju ke depan nenek . Tepat ketika wajah mereka saling berhadapan , sang nenek membuka mulutnya lebar-lebar . Saking lebarnya, kulit pipinya sampah robek hingga ujung leher .
"Rickyyyyyyyyyyyyyyy!!!!" pekik Rista sangat memekakkan telingaku, aku spontan melompat sembari menarik pin jarum jam ku , dan keluarlah bilah pedang Gekiryu yang berpendar hijau keemasan . Aku tebas leher nenek itu yang berhasil membuat sang nenek meledak menjadi butiran debu .
Ricky masih tertegun dan tak bergerak sama sekali dari tempatnya .
"Ricky! sadarlah ! Woi !" aku menggoyang goyangkan tubuh Ricky, namun aku paham kenapa ia tak merespon. Kesadarannya belum sepenuhnya stabil , karna ketika aku melirik ke bawah, lengannya sudah buntung entah terpotong oleh apa .
"Rickyyyy...." Rista menangis dan memeluk tubuh Ricky erat .
"Guys, kayaknya kita harus cepat deh " Zahra menegur ku dengan menepuk pundak ku.
Aku menoleh ke arah yang ia pandangi, tepat di belakang warung . Padahal awalnya kami yakin bahwa di belakang warung itu adalah hutan belantara , namun anehnya yang kami lihat adalah dataran pegunungan yang di huni oleh ular raksasa sebesar truk molen . Kepalanya saja sudah berada tepat di atas kepala kami dan lidahnya sudah melata ke atas atap warung .
"Ayo nak! aku tak tau apa yang terjadi , tapi cepatlah pick up ku gak bisa menandingi kecepatan merayapnya ular raksasa!" sang kakek segera menaiki pick up dan kami pun segera mengikuti instruksi sang kakek.
Para ular raksasa tersebut tidak mengejar kami, akan tetapi ia melibas habis warung tersebut. Untung saja mereka tidak mengejar , kalau saja mereka mengejar pasti kami kewalahan di kejar berbagai macam mahluk .
__ADS_1
Ya berbagai macam mahluk hidup. Contohnya adalah sebelah kanan dan kiri jalan yang kami lewati, ada puluhan monyet hitam liar yang memliki taring sepanjang buah tarung. Lidah mereka terjulur ke tanah bahkan terseret seret di tanah . Mata mereka besar dan merah menyala, ekor mereka panjang dan melingkar . Mereka bergerak beramai ramai dan sangat cepat , sehingga secepat apapun mobil pick up kami kami pun pasti terkejar .
Aku yang masih memliki stamina dan tak terpengaruh oleh rasa takut pun bersalto dan menepis monyet monyet yang ingin menyergap kami yang berada di bak pick up belakang . Aku meminta Zahra untuk membantu Rista pindah ke samping jok kemudi agar ia bisa melacak tempat atau jalur aman untuk di lewati . Sembari mereka berusaha untuk berpindah tempat dalam lajunya kecepatan pick up, aku berusaha dengan menyabet, memenggal , menebas , menepis dan memukul kawanan monyet monyet hitam ini .
Ada yang tidak beres , kecepatan mobil pick up paling tidak 84 km/ jam . Dan kota yang kami tuju berjarak sekitar Empat puluh kilometer . Sedangkan kami sedari tadi sudah sekitar hampir sejam kejar kejaran dengan para monyet?
"Sudah kah?" tanyaku
"Sedikit lagi!" aku melihat Rista sangat kesulitan untuk masuk melalui jendela pintu mobil.
Karna aku sudah tak sanggup lagi , aku mencoba memperkuat lututku dengan konsentrasi seluruh energiku , dan ku tubruk lah lututku ke kaca belakang mobil . Alhasil membuat kaca pecah terberai.
"Lewat sini saja !" aku melanjutkan aktifitas ku dalam membantai para monyet .
"Mau ku bantu?" Sofia menawarkan .
"Sekarang!" teriakku .
Dalam sekejap kekuatanku pulih hingga tiga ratus persen dan aku bisa merasakan seluruh otot dan udara di sekeliling ku memperkuat pergerakan ku. Aku memukul asal para monyet yang datang , satu persatu kepala mereka berkelontangan di jalanan. Para monyet masih banyak sekali , walaupun aku berhasil membunuh puluhan monyet, selalu saja ada pasukan tambahan yang datang dari pegunungan kanan dan kiri jalan . Aku benar benar tak tau lagi harus berbuat apa kalau seperti ini .
"Sofia ! Ultimate!" teriakku.
Ketika sudah cukup buat ultimate , aku berhenti sejenak . Lalu aku buat titik pusat kerusakannya . Aku sengaja menunggu pick up mereka menjauh dari kumpulan dan kejaran para monyet , karna beberapa monyet kini pandangan mereka teralihkan ke arahku. Tepat ketika pick up mereka sudah melewati tikungan , aku memantapkan nafas dan pusat tenagaku, kemudian dengan ekstrim aku menukik ke bawah dalam keadaan pedangku terhunus ke bawah dan meluncur dengan kecepatan seratus dua puluh kilometer perjam .
"Rio! lepaskan!" Sofia berteriak sedemikian rupa dan aku pun mengikuti perintahnya . Aku melepaskan pedangku dan mendarat ke daerah semak belukar yang ada di samping kanan jalan .
**Syuuuuuiiittt... Jdum!!
...
Duuuaaaaarrrrr**!!!
Ledakan yang lumayan memliki jeda itu membuahkan hasil. Aku berjalan ke arah pedangku dan tanpa kusadari ternyata pedangku sudah kembali ke telapak tanganku .
Aku baru ingat kalau ibuku pernah berkata bahwa pedangku aman kembali ke tanganku secara alami jika terpisah dari jangkauan tanganku.
Aku melihat banyak mayat bergelimpangan di sekeliling lubang yang ku buat dengan pedangku di aspal tadi . Bahkan masih banyak yang berjatuhan dari langit akibat ledakan yang di ciptakan pedangku tadi . Aku berlari untuk mengejar pick up kakek kakek tadi , semoga saja mereka tidak meninggalkanku dan semoga saja mereka baik baik saja . Namun siapa sangka, tak semua doa kau akan di kabulkan tuhan .
Tepat di belokan jalan , aku melihat sebuah mobil pick up penyok rata dengan aspal, aku melihat tubuh Ricky tercerai berai, kepalanya bahkan tersangkut di rambu rambu lalu lintas dan meneteskan darah segar dari otaknya yang hancur tak karuan . Sedangkan Zahra , aku melihat tubuhnya utuh namun tubuhnya tidak sinkron. Dari kepala sampai pinggang menghadap ke atas, dan dari pinggang ke bawah menghadap aspal. Aku juga melihat tubuh sang kakek terpotong menjadi dua , dari pinggang ke bawah terselip di sela sela mayat pick up, dan dari kepala hingga pinggang masih berusaha merayap .
__ADS_1
Yang membuat aku tertegun dan sangat mati kutu adalah seekor kadal berukuran Dinosaurus yang memiliki sayap lebar dan yang lebih tidak masuk akal lagi di pinggang kadal itu terdapat sebuah ikat pinggang yang menyandang sebuah pedang besar. Di tangan kadal hijau itu tertusuk lah tubuh Rista yang tergolek tak berdaya di ujung kuku sang kadal yang panjang lagi kotor itu.
"Anjing kalian ! bangsat kalian semuaaa !!!"
Aku yang sangat murka sambil berderai air mata berteriak dan berlari dengan menghunuskan pedang dan mengeluarkan perisaiku dengan cara berpusing di bagian arlogi ku.
"Kuat tapi telat! Tak berguna !" kalimat itu bergema seantero hutan dan membuat burung burung hutan berkepakan terbang ke segala arah .
Aku melompat tinggi dan mencoba menancapkan pedangku ke mata sang kadal, namun si kadal berhasil menghindari seranganku dan malah dia lah yang berhasil menancapkan kukunya yang panjang dan tajam itu ke perut ku. Aku muntah darah di buatnya. Sang kadal dengan gesit merobek perutku dan berhasil mengeluarkan jeroan ku hingga berceceran di atas kap mobil pick up. Setelahnya ia membuang ku ke sembarang jalan , membuatku tergeletak tak berdaya.
"Akhir cerita yang menyedihkan..."
sang kadal berjalan ke arahku, pandangan trakhir yang ku lihat adalah ...
###
"Haaaaaarrggghhhh!!!!" Aku berteriak keras, tak hanya aku . Ricky, Zahra , Rista pun juga berteriak bersamaan dengan ku.
"Apa itu tadi bangsat!" aku berkeringat dingin . Sekujur tubuhku bergetar .
Apakah tadi hanyalah mimpi? tidak ! Aku masih merasakan betapa sakitnya perutku di cerai beraikan layaknya adonan perkedel yang di campur aduk dengan tahu.
"Apa kalian bermimpi yang sama?" tanya Rista .
"Sebutkan hasil akhirnya!" Kata Ricky .
"Kita di habisi oleh kadal" Rista berteriak. Setelahnya, ia muntah .
Reaksi yang lumrah .
Secara garis besar , semua pendapat tertuju pada tiga peristiwa . Warung , monyet , dan kadal. Kami terbangun di atas pickup yang masih sama.
"Sofia , ini apa ?" tanyaku ke Sofia .
"Jujur , aku juga mengalami hal yang sama " kata Sofia , sepertinya ia masih bergetar .
"Anak anak , kita sebentar lagi singgah ya untuk makan malam" kata kakek.
Dan benar saja , dari jauh kami melihat warung di sebelah kiri jalan itu sama dengan yang ada di dalam mimpi yang kamu berempat alami tadi .
__ADS_1
***