Rio Ferdinand : Perang Internal

Rio Ferdinand : Perang Internal
Berlatih Tanding .


__ADS_3

Anak anak Demigod yang masih belum diketahui dari mana keturunannya , ditetapkan di dalam asrama Ebisu. Yaitu Dewa penyayang dan pelindung anak anak terbuang . Yah kesannya seperti aku.


Setelah sekian lama kejadian, aku di tempatkan di tempat situ dan di beri waktu beristirahat selama sejam. Clarissa juga memberikanku sebuah kertas atau brosur tentang pelatihan dan hukum yang ada di pondok ini.


Setelah ku baca semua , ada beberapa yang membuatku heran. Ternyata wilayah pondok ini sangat luas. Ya, karna wilayah ini sepenuhnya berada di alam yang berbeda. Jadi jika aku berjalan lurus ke arah barat aku bisa menemukan duplikat Balikpapan barat. Namun di sebut dengan kota Balivkan barat. Intinya aku berada di dimensi yang berbeda walaupun masih di naungan langit yang sama.


Di tengah-tengah pondok ada pancuran yang berpatung Dewa Poseidon. Dan di arah yang berlawanan, tepatnya di tengah lapang hutan. Ada sebuah tungku perapian yang berpatung Dewi Hestia . Mayoritas petinggi di sini adalah darah Demigod Yunani.


Adapula jika kita berjalan lurus menuju barat daya, kita menemukan perkemahan atau asrama khusus untuk para manusia indigo seperti Berista. Di seberangnya terdapat asrama penyihir, ini biasanya dari kalangan mytologi Messir. Karna mereka mewariskan tekat dan kekuatan mereka kepada penyihir mereka. Namun ada juga beberapa penyihir sekte sihir dari orang barat.


Di dekat hutan, agaknya terletak di daerah timur hutan, kita dapat menemukan asrama half Elf. Seperti David. Ia merupakan darah campuran antara manusia dan Elf. Ada pula perkemahan khusus untuk mereka yang mengabdi kepada kebangsaan Nusantara .


Namun dalam keadaan yang sekrang ini , para Dewa Dewi hendak berperang untuk memperebutkan Monas. Karna pusat kekuatan tungku perapian Hestia telah dicuri .


Entah apa peranku selanjutnya aku tak tau. Karna kata David , jika emng itu terjadi aku harus menjadi peran yang penting .


Namun apa yang membuatku begitu penting dalam peran itu? dan lagi, maksudnya peran apa?.


Aku menghirup udara yang agak bersih, aku mendengar dari luar asrama bahwa ada anak anak yg ingin berangkat mengerjakan misi agar dapat menuai hadiahnya . Kulihat di sekeliling kamarku , tak ada satu pun manusia di sini. Hanya ada aku.


"Oi Sofia . Kamu emang gak bisa keluar ?"


"Bisa , coba aja ." sahutnya .


"Sofia .!" teriak ku.


Dan betul saja ia keluar dari tanda di leherku.


"Tuh kan bisa .."


"Iya sih.." aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku.


"Harta rampasan mu mana ?" tanya Sofia dengan wajah bingungnya yang manis .


"Maksudnya ? " tanyaku


"Harta rampasan. Kita kan sudah mengalahkan Minotaurus, dan itu harusnya ada barang atau harta rampasan. Berupa tanduknya atau ekornya. Jadi dimana itu? apa mereka mencurinya darimu?" Sofia mulai ngoceh seperti emakku.


"Oh tanduk itu, kalo gak salah ada di tasku."


Sebelum aku benar benar berpisah dengan Clarissa, ia memberikan tas petualang untukku. Mirip tas ransel tapi ada tempat dimana kita bisa menaruh senjata seperti senapan atau pedang .


"Ini" kuberikan tanduk Mino itu kepada Sofia ketika aku sudah mengambilnya dari tasku.


"Hmm... iya ini asli" setelah dengan teliti ia memeriksa itu , ia pun mengembalikannya kepadaku.


"Memangnya ada yanng palsu ? kaya Made in China gitu di produknya ?" tanyaku penasaran .


"Bukan begitu bocah, is untung aku sayang sama ni bocah . Terkadang mereka yang ingin benda itu bisa di tukar dengan tanduk lembu biasa . Karna tanduk Mino itu berbeda, itu bisa diolah menjadi senjata bagus kuat dan tajam. Dan Mino itu muncul 150 tahun sekali. Jadi itu termasuk barang langka" paparnya panjang kali lebar.


"Kok kamu tau ? emang pernah jadi Demigod ?" tanyaku.


"Kamu pikir aku bertahun tahun di dunia gaib gak tau hal kayak beginian .? hufft.." ia memasang muka cemberut dengan menggembungkan pipinya . Mungkin ia merajuk karna aku meremehkannya.


"Iya iya deh maaf.." ku elus kepalanya .


"Bagus bagus .. kalo kamu mulai ngerti apa yang di mau cewek " ia tersenyum semringah sekarang.


"Yo.. anak baru.., baru datang tadi malam ya?" seseorang menepuk pundakku dari samping yg membuatku terkejut.


Ku lihat ia memiliki tubuh yang bagus terlatih walaupun tak memiliki perut bidang seperti Clarissa . Tubuhnya dikotori tanah dan beberapa cipratan lumpur. Ada beberapa juga yang lecet .


"Ah iya , aku di sini karna belum tau siapa dan dari Dewa mana asal usul ku" jelasku padanya .


"Haha iya iya.. memang begitulah. Oh iya namaku Steven Adi Pratama . aku putra Dewa perang Guan yu" ia memperkenalkan dirinya .


"Ahh.. aku Rio Ferdinand Sinaga. masih belum tau asal usulku" aku pun memperkenalkan diri.


"Hahaha.. ya ya gakpapa, tadi aku membawa salah satu putra Dewa Ebisu yang asli. Dia tadi kecapekan dan hampir tak bisa berdiri akibat latihan.." ia menunjuk salah seorang Demigod yang tertidur di atas kasur .


"Oh benar kah? sekeras itukah latihannya ?"


"Gak juga sih, kita di latih agar bisa bertahan hidup di dunia yang penuh akan liarnya monster dan ras lain. Lagi pula, dia yang memilih latihan overdosis tadi." ia menoleh ke Sofia .


"Dia pacarmu ?" tanya nya sembari menunjuk Sofia dengan jempolnya .


"Bukan . Dia spirit yang kontrak denganku." jelasku. Ku lirik wajah Sofia yang memerah dan tertunduk malu.

__ADS_1


"Oalah begitu, jadi kamu lajang? "


"Gak.. pacarku masih di dunia fana ."


"Hahaha..boleh juga kalian mengandalkan kesetiaan. Jadi, mau berlatih bersamaku?"tawarnya .


"Boleh ... sekalian mau tau apa sistem latihannya ." Aku berdiri dan menyuruh Sofia balik ke tubuhku dari dalam hati. Ia pun mengangguk dan masuk kedalam tubuhku.


"Di pondok ini, ada beragam yang bisa kau ambil. Mulai dari berdagang , berternak atau bahkan bertani. Tapi kebanyakan demigod menuangkan kehidupannya pada guild." jelasnya sambil kami berjalan menuju camp latihan .


"Guild? " tanyaku.


"Ya, guild. Namun guild dalam sistem Demigod tidak seperti yang ada di dalam game fantasy . Di sini kelompok akan di tunjuk sesuai dengan misi yang akan di berikan oleh manager Untung Suropati atau direktur pondok , Dewa Sun wukong"


Berarti guild yang aku bayangkan tidak seperti game ya ..


"Ah, mari kita ke gedung guild dulu. Untuk mencantumkan namamu di sana ." ia berbelok di jalan setapak menuju gedung besar yang terbuat dari kayu ulin dan pohon ek. Besarnya tidak terlalu besar, namun ketinggian nya mencapai 14 meter, bahkan lebih tinggi di banding asrama Dewa sejati.


Ketika ia membuka pintu , awalnya aku pikir guild ini menyediakan seperti minuman atau tempat makan makan. Ternyata tidak.


Di dalam guild sepi . Sunyi, bahkan hanya ada dua penjaga dan satu pelayan. Dua penjaga itu berbeda jenis namun satu ras.


Yang satunya memiliki empat tangan dengan empat mata dan empat telinga . Yang satunya memiki banyak sekali jantung , karna aku bisa mendengar detakan jantung itu bergantian .


Si pelayan agak sibuk dengan bersih bersih seperti mengelap meja .


"Apa hari ini buka buku?" tanya Steven.


"Ya , buka buku. Ada nama yang ingin di daftar ?" tanya si pelayan .


Pelayan itu seorang wanita berambut pirang dan bermata biru. Jelas sekali bahwa ia seorang bule .


"Ah, sebutkan nama mu Rio." Steven menyuruhku untuk maju .


"Anak baru ya ? " tanya gadis itu.


"Ah iya, namaku Rio Ferdinand Sinaga. Belum di tentukan aku keturunan siapa " jelasku.


"Ok , tak apa. Jadi dari mana asalnya ?"


"Oh penduduk setempat. Kalau begitu salah satu orang tua yang tinggal siapa?"


"Aku tinggal sendirian. Ibuku tak tau kemana , dan ayahku sering bepergian ke luar kota" jelasku


"Umur?"


"16. Bulan lahir 3 zodiak Aries."


"Oh.. cepat tanggap ya.. kalau begitu.., sudah menikah atau masih lajang?"


"Tidak lajang dan belum menikah " jawabku cepat.


"Sip sudah terdaftar. Jika kamu sudah diklaim, lapor lagi ya siapa orang tua mu." katanya dan di akhiri dengan menutup buku.


###


Kami berjalan menyusuri jalan setapak lagi , dan tak lama kemudian tiba di camp latihan .


Ada banyak sekali yang sedang berlatih dan wahana latihannya cukup menarik .


Ada yang sedang latihan memanah, ada pula yang sedang lagi adu tanding sesama kawanan. Melatih formasi tempur, melatih rapalan ilmu sihir dan masih banyak lagi kegiatan gila yang belum kuliat . Contohnya latihan terbang yang berkali kali orangnya terjatuh dalam keadaan kaki patah dan team medis menyembuhkannya dengan cepat.


"Baru pertama kali ?" tanya Steven.


"Iyalah, yang kulakukan cuman berkelahi, belajar dan bolos karna materi yang di ajarkan sudah bosan."


mendengar perkataan ku Steven tertawa.


"Benar benar anak umur 16 tahun ya, ya sudah kalau begitu. Mari ku ajari cara berpedang" ia berjalan menuju rak persenjataan yang ada di pinggir camp. Di sanalah aku melihat ada seorang gadis cantik yang memiliki rambut di kuncir dan berwarna coklat. Matanya berwarna merah semerah nyala api membuat ku terpana. Tapi entahlah, walaupun aku terpana dengan kecantikannya yang menawan, hatiku tak benar benar tergerak untuk menginginkannya .


Steven agak lama mengambil pedang di sana , karna kulihat mereka sepertinya sangat senang bercengkrama tanpa perduli bahwa aku sang 'orang baru' menunggu nya .


Agak lama aku menunggu, bisa di bilang bahwa aku bisa saja merebus mi instan dan memakannya .


"Maaf lama , tadi ada hal penting yang ku bicarakan." ujar Steven setalah akhirnya memberikan sebilah pedang kepadaku.


"Ya tak apa, harusnya di selesaikan aja dulu biar tuntas." sindirku

__ADS_1


"Alah lah.. coba tau gitu. Mending aku tadi selesaikan ya. Lain kali lha ya. Ok mari ku ajari kau cara ..."


Dasar gak tau diri. Di sindir malah benran mau lama lama ? pacaran aja sudah sana , dunia ini milik kalian kok kami cuman ngontrak!.


"Begini , kau harus mempersiapkan kuda kuda seperti ini . Ok , jadi di lanjutkan dengan menghunuskannya kedepan. Nah ini namanya cara berpedang gaya Inggris atau bisa di bilang anggar" katanya .


"Lalu jika begini ," ia mengubah gaya kuda kedua nya dan mengacungkan pedangnya agak ke samping ."Ini namanya berpedang seperti Yunani"


Kemudian ia merapatkan kakinya dan mengacungkan pedangnya "Ini gaya berpedang Prancis." ia kembali ke normal. "Jadi , yang mana kau pilih ?" tanya nya .


"Yang mana simple tapi kuat ?" tanyaku.


"Kalau begitu , Yunani." ia kembali memakai kuda kuda yang kedua .


Aku mempraktekkan cara berpedangnya. Seperti langkah mundur dan majunya memang tidak sembarangan. Langkah mundurnya itu membawa musuh maju agar dapat di jangkau ke dalam jarak jangkauan kita. Dan ketika musuh sudah maju ke dalam jangkauan kita, kita hanya perlu menghindar dan menyeret kaki sedikit, lalu menyayat lehernya. Jika ingin mengincar bagian jantung , hendaknya berputar sedikit dan menyabet pinggang agar keseimbangan tubuh atas dan bawah berantakan, berikutnya dengan mudah kita menusuk jantungnya .


"Gerakan Yunani memang efektif untuk monster. Tapi tidak bisa melawan kecepatan gerakan anggar" katanya .


"Sebaliknya , gaya anggar sama sekali tidak efektif melukai monster karna walaupun cepat, kedalamannya tidak bisa membunuh monster. Karna yang di pakai dalam membunuh monster itu kekuatan pedang , bukan kecepatan pedang itu." itulah yang aku simpulkan pada pemahaman ini.


Ia menepuk tangannya .


"Nice Rio... kau sangat tajam dalam menilai suatu pelajaran. Jadi , bagaimana ? mau latih tanding ?" ajaknya .


Mungkin suaranya tepuk tangannya agak keras , jadi mengundang perhatian banyak demigod di sana. Dan yang lain pun mulai mendekat untuk menonton.


"Mana mungkin bocah itu mengalahkan pangeran pedang kita." ujar salah satu demigod .


"Jangan salah paham, dia tidak akan latih tanding dengan ku." ujar Steven.


Lalu ia berbalik dan mendatangi orang yang menghinaku.


"Tapi denganmu aja deh, kan dia anak baru. Harusnya kau bisa menang dong." Steven memberikan pedang yang tadi ia gunakan kepada orang itu, lalu menyeretnya kedepanku.


"Ok, kalau aku menang traktir aku ya bos.." ucapnya dengan penuh percaya diri dan berdiri di depanku dengan membusungkan dadanya .


"Sebelum mengalami kekalahanmu yang pertama dalam berpedang , kuberi tahu namaku dulu ye kan." ia memasang kuda kuda dan mengacungkan pedangnya ke arahku.


"Maquel, Maquel Cimon. Panggil aja Quelo. Putra Hermes, salam kenal."


"Aku Rio Ferdinand Sinaga, belum tau siapa ortuku tapi.."


"Anak buangan hahaha..." teriak salah satunya .


Dan mereka pun tertawa .


"Ya , terserah. Bisa di mulai ?" jujur aku sudah mulai emosi.


"Ok , ayo !" teriaknya .


Belum sempat aku berkuda kuda, ia sudah dengan cepat tiba di depan wajahku.


"Anji-" ia menyabet wajahku. tidak, ia bahkan ingin menyabet leherku. Namun karna aku tak kalah cepat bereaksi, akhirnya yang ia dapat hanya pipiku..


"Heran cepat?" tanya nya . Lalu mulai menyerang lagi.


Aku menghindar dan menghindar. Sungguh kecepatan yang hampir belum bisa ku lihat .


Ada banyak sabetan yang kudapat , padahal belum ada lima menit aku latih tanding .


Ketika aku terlalu mundur untuk menghindar, seseorang mendorongku kedepan membuat bahuku tertusuk telak oleh pedang Maquel.


"Anjing !" teriakku, lalu ku tendang perutnya dan berpisah lah kami beserta pedangnya yang tercabut dengan paksa dari bahuku, membuat daging di bahuku terkoyak karenanya .


"Bajingan.." umpatku


"Hahaha, apa apaan ini.." ejeknya .


Darah berceceran di sekitar rerumputan . Itu adalah darahku .


"Bangsat." umpatku lagi.


"Apanya yang bangsat ? baru gitu doang , udah mau mati hah?" ahahaha.." Mereke kembali menertawakanku. Dan aku sama sekali tidak bisa memikirkan cara yang tepat untuk mengalahkannya .


Benar benar jalan buntu.


***

__ADS_1


__ADS_2