Rio Ferdinand : Perang Internal

Rio Ferdinand : Perang Internal
Kejadian Lagi


__ADS_3

Kami turun dari pick up dan berjalan menuju warung . Aku menelaah ulang suasana di sekitar warung ini .


Di sebrang jalan hanya ada hutan dan bukit kecil , ada kemungkinan bahwa di bawah lereng bukit agak jauh dari sini terbentang anak sungai yang entah mengalir kemana. Aku tau karna aku bisa mendengar aliran air tersebut. Di belakang warung , agak berbeda dari kejadian sebelumnya . Sebut saja kejadian pertama . Kali ini , di belakang warung seperti sebuah lereng dari jurang yang curam. Dan kita berada di dasar jurang tersebut. Mengingat bahwa kami menuju bagian Utara , jadi matahari akan terbenam ke arah belakang jurang tersebut.


"Wah menu hari ini apa ya buk?" tanya sang kakek pick up sembari menarik sebuah kursi duduk untuk merapat ke meja makan .


"Tumis kangkung , dengan irisan bawang putih yang banyak dan beberapa irisan bakso . Bawa rombongan lagi? ayo silahkan duduk manis , pasti kakek baik hati ini yang traktir kalian kan?" usai berkata demikian, sang nenek berbalik dan segera menyiapkan menu makanan yang lengkap .


Bukan hanya aku yang waspada , tetapi Rista, Zahra , dan Ricky juga . Pandangan mereka tak lepas dari gerak gerak sang nenek . Aku sih tak terlalu memperhatikan sang nenek, karna menurut intuisiku dari kejadian pertama , sang nenek tidak sekuat para monyet . Yang aku lebih waspada dan bersiap adalah , dari mana asal dan datangnya para monyet itu . Aku tak mengerti mengapa ada banyak sekali monyet di wilayah Utara Balikpapan ini . Setauku, para monyet sudah di amankan di daerah kilang minyak dan daerah marga satwa . Yah, itu sih memang monyet normal. Kalau begitu, monyet apakah gerangan ?.


Karna terlalu antusias, aku sampai sampai lupa bahwa tujuan kami ke sini adalah makan .


"Hei Rio ! sini makan cepat !" teriak Rista .


"Ok " sahutku.


Tetapi sebelum aku benar benar sampai di warung , aku melihat sebuah bayangan yang menyelinap di antara semak semak. Aku segera menajamkan Indra penglihatan ku ke arah objek tersebut. Aku semakin menduga duga , sudah waktunya kah kembali ke permainan ? . Tak lama selang beberapa detik, aku melihat lagi sebuah bayangan yang gesit dari arah berlawanan . Lalu lagi, lagi, lagi , lagi dan lagi. Kemudian lagi. Aku sampai sampai lupa ada berapa bayangan yang muncul .


STARTED BY.


Aku menoleh, itu adalah suara Drive belt dari Ricky .


"Brengsek kau nek !" umpat Ricky .


Karna penasaran , aku jadi menoleh ke arah sumber suara. Ternyata kali ini yang terkena serangan oleh sang nenek adalah Zahra . Bagian kiri lengannya hampir meleleh dikarenakan terkena semburan cairan seperti asam .


Karna marah, Ricky pun menggesek kartunya .

__ADS_1


"Transform!"


Transform sir!


Iron fist! Badang !


Seketika keluarlah kostum berwarna hitam kemerahan dan menyatukan Ricky dengan costum nya.


"Ku buat kau mati nenek tua!"


Setelah itu , aku tak tau lagi apa yang terjadi. Karna yang ku hadapi di sini adalah kawanan para monyet monyet yang siap keluar . Bayangan mereka terlalu gelap, itu berarti hampir separuh hutan di seberang sana sudah di penuhi para monyet hitam .


"Hei tunggu apa lagi? ayo!" Zahra berteriak untuk menyadarkan ku dari lamunan ku tentang cara bagaimana mengalahkan para monyet .


Kuat tapi telat, tidak berguna !


Suara itu masih terngiang di kepalaku.


"Gak ada deluan deluan! cepatlah Rio !!" Rista mengulurkan tangannya ke arahku.


Tepat setelah sang kakek menyalakan mesin mobil, aku melihat satu persatu para monyet hitam berlarian menyebrangi jalan . Sudah bisa di pastikan bahwa tujuan mereka adalah mobil pickup. Sang kakek mengangguk ke arahku lewat kaca spion, tanda bahwa sang kakek mengerti arti dari pengorbananku. Ia tak menyia-nyiakan waktu yang aku berikan , dengan cepat ia tancap gas dan pergi melesat dengan asap knalpot yang mengepul tebal di udara .


"Oi! brengsek!" aku mencoba menahan mereka . Kini dengan serius aku membantai mereka semua , tak lagi satu persatu aku tebas mereka. Kali ini, setiap aku menebas dengan pedang di tangan kananku, aku juga memukul kepala mereka dengan perisai di tangan kiriku. Mereka ambyar menjadi abu di karenakan bahan yang di gunakan oleh perisaiku ini adalah perunggu langit. Bahan dasar yang memang khusus untuk membinasakan mahluk ghoib seperti ini .


Awalnya , untuk beberapa menit pertama mereka tidak mengindahkan ku. Tetapi setelah aku berhasil mengurangi jumlah populasi mereka , akhirnya mereka berhenti mengejar mobil pick up sang kakek dan kini sedang mengepung ku. Aku bisa bernafas lega dan lebih bisa fokus untuk menghabisi mereka semua dengan cepat . Jika sedari awal, bukan kah akan lebih cepat dari sebelumnya ?.


Aku menarik nafas dan mulai memasang kuda kuda, setelahnya aku menerjang ke arah khalayak monyet . Para monyet berteriak ramai dan menyerbu ku juga . Kecepatan mereka memang di luar nalar, aku harus bersatu dengan Sofia baru bisa melihat kecepatan mereka. Belum lagi warna mereka yang gelap dan memang hari sudah mulai gelap. Aku mulai agak kesusahan menebas di karenakan bayangan mereka terlalu samar buatku . Karna aku takut bahwa kejadian sebelumnya terulang lagi, jadi aku melakukan ultimate lebih awal. Aku melompat dan menjunjung tinggi pedangku ke atas, derasnya aliran sungai di bawah kini naik merayap menghampiriku dan membawaku terbang ke atas . Sekiranya sudah cukup, aku menghunuskan pedang ke bawah. Targetnya adalah tepat di tengah tengah kumpulan para monyet .

__ADS_1


Ada sesuatu yang membuatku bingung . Sedetik sebelum aku melepas pedangku, aku melihat beberapa monyet berderai air mata , bahkan aku merasa bahwa air matanya tumpah ruah ke pipi ku. Aku tak tau apa itu, yang jelas aku sudah berhasil meledakkan mereka semua menjadi abu.


Aku berlari menelusuri jalanan , aku takut bahwa kejadian yang pertama terulang lagi. Dan alangkah kagetnya aku ketika aku berada di tikungan, ternyata seluruh dataran dan hutan menjadi lautan api. Kembali aku lihat jasad sang kakek terbelah menjadi dua , kali ini bukan tubuh yang terpisah antara atas dan bawah, tetapi samping kanan dan kiri. Membuat semua jeroan dan otaknya berhamburan di aspal. Ricky yang masih berdiri tegak dalam costum henshinnya hanya bisa terdiam . Aku melihat tubuh Zahra yang sedang di kunyah kunyah oleh sang kadal hijau dan kepalanya di bakar bersamaan dengan kepala Rista yang sama sama tertancap di tengah tengah kukunya .


"Hoi! Ricky .. apa yang kau lakukan !? Ayo kita serang !" aku berteriak sembari berlari ke arah Ricky yang masih mematung . Namun alangkah ironisnya ketika aku menabrak bahunya, ternyata itu hanyalah tubuh luarnya saja . Bagian tengah tubuhnya telah di robek dan di tarik keluar seluruh isi tubuhnya hingga berceceran di aspal , dari jejak darahnya kemungkinan isi dalam tubuhnya sudah di makan habis oleh sang kadal.


"Lagi lagi terlambat menyadari ya, hahahaha... beginilah jadinya . Kuat tapi telat, gak ada gunanya !"


Kembali suara itu bergema. Aku sangat muak dengan semua permainan ini . Aku berteriak dan menerobos masuk ke dalam kobaran api .


"Rio! Stop!" Sofia mencoba untuk menghentikan ku , namun amarah ini sangat bergelora . Amarah yang tak dapat aku bendung , amarah yang tak bisa aku uraikan hanya dengan satu kalimat. Kenapa harus dia kali? apa yang salah ? di mana skenario yang berbeda ? apa yang aku lewatkan? apa? apa? apa?.


Di saat aku terbang tinggi dan berada tepat di depan wajah sang kadal, sang kadal membuka mulutnya dan menyemburkan api ke kakiku. Aku berteriak kesakitan, tanpa sadar aku menangis . Menjerit dan meronta . Aku terjatuh ke udara lepas menuju kebawah. Aku yakin bahwa aku mati di sini .


###


"Haaaarggghhh!!" Aku terbangun dan terhuyung tak karuan sebelum akhirnya tubuhku di tangkap oleh Sofia .


"Gakpapa Yo? ayo minum dulu.. teman temanmu juga baru sadar dari kejadian tadi ." Sofia mencoba menenangkan ku.


Aku mengambil botol air Aqua yang di berikan Sofia , lalu menenggak nya hingga habis .


"Kayaknya kamu bakalan kencing seliter banyaknya nanti " Sofia membawa tubuhku ke pohon untuk bersandar .


Aku menelaah di sekitar ku dan aku melihat yang lain juga masih dalam keadaan setengah sadar.


"Ada yang janggal Sof.. huh.." ucapku di sela sela nafasku yang ngos ngosan.

__ADS_1


"Iya aku tau, nanti kita bahas dengan yang lain ya . Sekarang istirahat dulu." Sofia ikut bersandar ke sampingku dan merebahkan kepalaku ke atas pundaknya lalu membelai rambutku pelan dan lembut, membuat aku terbuai akan kenyamanan ini . Mengingat lagi bahwa hari ini adalah hari yang melelahkan, paling tidak perlakuan Sofia menyadarkan ku bahwa aku masih layak untuk menikmati hidup walaupun hanya sebentar .


***


__ADS_2