Rio Ferdinand : Perang Internal

Rio Ferdinand : Perang Internal
Lord Kaio.


__ADS_3

Author POV.


Beberapa jam sebelum ultimatum Aden.


Wukong mematikan telpon yang ia sambungkan ke Brian tadi.


Sebenarnya , dia memang sudah mengetahui kejadian dan pangkal utamanya permasalahan yang sedang dialami oleh pondoknya .


Hanya saja ia harus melakukan sesuatu yang lebih penting .


Ketika ia sampai di Tiongkok tadi, ia memulai dengan pencaharian para Shifu kungfu yang bergelarkan Kaio.


Gelar Kaio adalah gelar tertinggi untuk para master kungfu dan telah jauh di atas tingkatan para Shifu di negri ini.


Sekitar sebulan yang lalu, ia sudah menjalani tahap pencarian buronan yang sulit dilakukan oleh para agen. Bahkan, seorang Brain (yang notabene nya adalah agen tercerdas) meminta tolong kepadanya agar mencarikan bukti valid mengenai kasus yang pelik ini.


Ya, kasus pelik ini adalah dicurinya tungku perapian Hestia.


Dahulu kala, Wukong memang salah satu mahluk yang keras kepala. Ia lahir dari sebuah zat yang terkumpul di atas permukaan tanah kosong . Tanah ini adalah tanah buangan dari bangsa Dewata . Tanah ini mengambang dan memiliki citra yang baik di antara dua sisi dunia , dunia fana dan dunia kekal.


Ia pun lahir dari batu itu dan dijuluki kera batu. Kekuatannya memang sudah kuat dari lahir, hanya saja ia tak memiliki akal untuk mengendalikannya pada waktu itu. Hingga akhirnya ia berguru ke sebuah padepokan di alam kahyangan .


Masa masa itu selalu ia kenang , dan dari masa lalunya itulah ia mendirikan sebuah padepokan nan kuat yang berpusat di Tiongkok. Lalu ia juga membuat sebuah kelompok persilatan yang bernama


Ikatan Kera Sakti.


Hari ini, ia mendatangi padepokannya dan mencari tau apakah sang calon Kaio sudah menjadi seorang Kaio.


Wukong mengetuk pintu padepokan.


"Assala... , ehem. Wahai para Shifu . Ini aku , Wukong !"


Segera setelahnya pintu terbuka .


"Wahai Wukong , ada apakah gerangan sampai anda ke sini ?" tanya salah seorang penjaga gerbang yang memang adalah mantan Shifu. Gelar Shifunya untuk saat ini telah dilepas untuk sementara karna sesuatu alasan dimasa lampau.


"Bagaimana proses jadinya si Shifu kaku itu? apakah ia sudah melewati tahap Kaio ?" tanya Wukong tanpa basa-basi sambil berjalan masuk kedalam perguruan .


"Sebenarnya , masih belum sempurna menurut peraturan dan ketentuan yang berlaku. Akan tetapi, Kaio Yaun Cha Ying menunggu anda agar menilai lebih teliti." jawab sang mantan Shifu dengan hati hati.


Wukong mengangguk.


"Cukup bijaksana juga dia akhir akhir ini . Baiklah apa dia ada di ruangan ?" tanya Wukong lagi.


"Mengapa anda bertanya seperti itu? bukankah Anda berhak atas apa semuanya di sini? waktu , tempat, hormat, dan perhatian semuanya adalah hak anda ." si mantan Shifu memberi hormat santun seraya membungkukkan badannya .


"Dengar Lao Chen . Aku ke sini untuk melihat perkembangan, bukan haus gelar hormat . Aku membangun tempat ini agar menjadikan tempat yang mampu memproduksi manusia manusia imperior nan sakti setelah pondok Demigod. Jadi , untuk masalah waktu dan tempat itu adalah hak mereka yang akan menjadi bibit unggul dimasa depan. Apa kau paham Lao Chen ?" Wukong mengetuk jidad plontos Lao Chen dengan jari telunjuknya.


"Maaf atas kelancangan saya Wukong , saya akan kembali memikirkan kesalahan saya " Lao Chen kembali memberi hormat seraya membungkuk .


"Bagus ! lagi pula, kau akan tau jika kau pernah tinggal di Indonesia yang mana rasa pertemanan yang sudah saling kenal akan membuat rasa hormat hilang . HAHAHAHA... hanya di Tiongkok saja aku masih merasakan rasa hormat yang pantas . Tapi aku tak butuh itu, toh aku ini salah satu mahluk ichor yang mempunyai selera kekinian dan tidak haus akan hormat." Wukong melompat ke atas atap asrama dan mulai memantau perkembangan para murid kungfu di sana.


Padepokan ini mempunyai luas sekitar dua hektar lebih. Satu hektarnya digunakan untuk tempat khusus kelanjutan dari Shifu menuju Kaio. Sedangkan yang satunya adalah tempat proses dimana para manusia awam berlatih kungfu sampai ke tingkat Shifu .


Untuk saat ini , ada empat padepokan di negri Tiongkok ini . Namun , Lord Kaio berada di tempat ini .


Lord Kaio adalah sebutan untuk yang lebih tinggi ketimbang Kaio . Raja dari para Kaio . Untuk mencapai ini , dibutuhkan waktu yang sangat lama (normalnya) dan sangat membutuhkan ketekunan dan kesabaran yang tinggi. Karna sesuai dengan gelarnya, Lord Kaio harus lebih unggul dari ratusan Kaio .


Wukong melihat jauh dari tempat ia berdiri. Awalnya , ia ingin mencari Kaio Yaun Cha Ying. Hanya saja yang ia temukan lain orang itu.


Ia melihat Lord Kaio sedang duduk di atas pucuk tongkat yang sedang berdiri tegak tanpa ada penyangga apapun. Tubuhnya tegap duduk bersila dengan tenang tanpa adanya gangguan. Kepalanya yang masih ada rambut hitamnya, dengan potongan mangkuk dan bahkan sama sekali tak memiliki kerutan di wajah, membuat ia terlihat sama sekali tidak bergelar Lord Kaio.


Memang benar seorang Lord Kaio ini harus memiliki kematangan yang sempurna dan jangka waktu yang panjang. Hanya saja untuk wanita satu ini berbeda.


Dia adalah merupakan wanita pertama yang dapat mencapai gelar Lord Kaio dalam waktu hanya dua puluh tahunan. Ia mengabdikan diri ke padepokan ini dimulai sejak usianya lima tahun . Dan yang memungut anak ini adalah salah satu Kaio terdahulu .


Wukong masih ingat kapan trakhir kali wanita ini pipis di celana ketika pertama kali Wukong menakut nakuti wanita itu.


"Kenapa dia tidak panjang saja rambutnya ? padahal tahun lalu dia lebih menawan ketika panjang rambutnya .." Wukong bergumam sendiri dan melakukan loncatan tinggi hingga akhirnya ia mendarat tepat didepan sang Lord Kaio.


Ia memperhatikan Lord Kaio dengan teliti , bahkan ia dekatkan wajahnya ke wajah Lord Kaio.


Ia memang sengaja seperti ini agar konsentrasi sang Lord Kaio terganggu. Hanya saja ketika ia semakin mendekatkan wajahnya lagi, ia dikejutkan dengan kecupan manis di pipinya oleh si Lord Kaio.


"Dasar monyet, selalu saja datang tanpa mengabari." sang Lord Kaio bersalto dan mendarat di samping Wukong .


"Ada apa ini? kangen ya sama aku ? dasar monyet!" dengan iseng ia mencabut sehelai rambut dari Wukong .

__ADS_1


"Apa wujudku seperti monyet?" Wukong menaikkan sebelah alisnya .


Sang Lord Kaio tertawa.


"Dasar monyet. Biarpun kamu menjadi manusia hip hop, kamu tetap monyet kan? hahaha" kembali sang Lord Kaio terbahak bahak.


Memang benar Wukong merubah penampilannya menjadi seorang remaja hip-hop. Dengan sebuah wireless headphone berkalung di lehernya dan tindik di telinganya . Ia juga memakai gelang rantai dan sepatu skateboard.


"Oh iya , bagiamana proses si calon Kaio ?" Wukong membuka topik deluan .


"Ho.. dia , dia sih.. bentar . Mau liat langsung ?" tanya sang Lord Kaio.


"Boleh .." Wukong mengikuti Lord Kaio.


###


Di suatu sudut tempat di padepokan ini , terdapat sebuah ruangan yang memang terpisah dari bangunan lainnya . Bangunan pada umumnya di padepokan ini terbuat dari kayu yang kuat . Namun untuk bangunan ini tidak hanya kayu, tetapi terbuat dari batu gunung.


Bangunan itu memiliki luas 16x16 persegi . Dengan tinggi sekitar enam meter . Atapnya pun juga terbuat dari batu dan bahkan , jendela dan korsen pintu juga terbuat dari batu.


Karna pelatihan tahap dari Shifu menuju Kaio itu sangat keras, jadi bangunan harus juga memadai agar mampu menahan damage dari latihan tersebut.


"Tenang , di dalam gak panas . Ada AC nya kok" ucap Lord Kaio.


"Bagus, akhir akhir ini aku tak tahan panas ." sahut Wukong .


Sesampainya di depan pintu gedung , Lord Kaio mengeluarkan kunci dari dalam belahan *********** dan memasukkannya kedalam rongga kunci. Setelah memutarnya , ia pun membuka pintu dengan mendorongnya kedalam.


Wukong meneguk liur.


"Apa kamu menyimpannya di dalam situ terus?" tanya Wukong agak gugup.


Lord Kaio yang melihat reaksi Wukong hanya bisa cekikikan.


"Ya, bahkan bukan hanya kunci kok." Lord Kaio mengedipkan matanya dan memasuki ruangan .


Di dalam tidak panas tidak juga dingin. Benar benar sejuk dan berada diatas pegunungan. Padahal, AC di ruangan tidak di nyalakan.


Di pojok ruangan , nampaklah sesosok pria yang sedang melakukan semedi. Pada tahap ini, memang tak bisa diganggu karna meditasi ini bukan meditasi biasa yang hanya menginginkan ketenangan dalam pikiran . Tetapi meditasi ini adalah salah satu tahap untuk membuktikan mutualisme diri agar bisa mengemban kekuatan besar dari gelar Kaio.


"Sudah berapa lama ?" tanya Wukong .


"Jadi, sebentar lagi ya ?" Wukong menyender ke dinding dan melipatkan kedua lengannya di depan dada.


"Wukong , aku mau ganti nama" tiba tiba Lord Kaio sudah berada di samping Wukong .


"Kenapa ? namamu kan bagus ? Wan Yuen Zhu" kata Wukong .


"Tapi aku mau ganti jadi Luan Yen Zhi " bantah Lord Kaio.


Wukong menggeleng "Gak usah !"


"Is , jahat!" Lord Kaio memanyunkan bibirnya dan melipat kedua lengannya di depan dadanya dengan kasar .


"Apalagi? untuk apa kamu berubah nama ?" dengan malas Wukong menatapnya .


"Tauk" Yuen masih tak mau menengok ke Wukong .


"Ya udah , nanti kalau kamu sudah menikah ya. Baru boleh ganti nama" Wukong menjewer kuping Yuen .


"Aw... sakit eh monyet! " Yuen marah .


"By the way , kenapa kamu potong rambutmu model mangkok? kok gak yang lebih bagus?" tanya Wukong penasaran .


"Nggak ah, malas panjang . Ribet soalnya ngurusnya , apalagi kalau mau latihan . Euuuh... ribet banget kesan kemari." keluh Yuen .


Wukong mencubit hidung Yuen dan membuat Yuen merintih kesakitan.


"Dasar, kamu ya.." ujar Wukong


"Is apasiiiiiiih...." Yuen mengibas ngibas tangannya seolah olah sedang mengusir seekor lalat.


"Maaf, apa saya mengganggu?" pria yang tadi sedang bersemedi kini telah berdiri dan membungkuk untuk memberi hormat kepada dua mahluk yang sedang bersenda gurau manja ini .


Yuen yang statusnya adalah seorang Lord Kaio seketika panik dan memperbaiki imagenya di depan sang calon Kaio.


"Ehem, tidak. Anda tidak mengganggu sama sekali Shifu Thao Lin." ujar Yuen seraya memperbaiki bajunya .

__ADS_1


"Oh iya , Thao . Bagaimana hasil meditasimu?" Wukong sama sekali tidak mempermasalahkan imagenya yang saat ini sedang tidak layak di sebut Dewata.


"Maaf , hamba sudah sampai ke kahyangan Budha lantai tiga . Namun untuk anugrah ilmu langit hamba masih belum menemukannya." jawab Thao dengan sangat santun .


"Tidak apa apa, bagaimana kalau dipercepat saja ? Karna aku ingin memberangkatkanmu ke Indonesia." Wukong berjalan ke samping Thao dan menepuk bahunya .


"Biar aku yang mengurus anugrah ilmu langitmu. Sekarang , bergegas lah. Persiapkan barang barangmu dan jangan lupa untuk mandi terlebih dahulu.." Wukong menjepit hidungnya dengan kedua jarinya. "Baumu seperti kerbau yang belum mandi dua hari.." sambungnya.


Thao yang menyadari sindiran telak itu, berbegas berlari keluar ruangan dan hilang lah sudah ia dari balik pintu.


"Hey monyet! Jangan seenaknya menghakimi orang !" Yuen menoyor jidad Wukong .


"Dasar kau ini , aku ini Dewata ! masa bodo dengan singgungan .. lagian kalau dia baperan , berarti dia bukan pria sejati.." Wukong mengedipkan mata kirinya ke Yuen .


Yuen merona .


"Cie salting berat sama monyet kece ini ya ?" Wukong bergaya dengan kaca matanya.


"Siapa yang salting ? aku ? sama anda? tidak akan pernah monyeeeet!!!" Yuen memeletkan lidahnya .


"Bagus kah begitu?" Wukong menangkap pipi Yuen .


Yuen memberontak . "Sudah ah! ayo keluar !"


Yuen pergi meninggalkan Wukong dengan gaya jalan yang dihentak-hentakkan ke lantai.


"Terkadang aku lupa kalau Lord Kaio saat ini adalah seorang gadis perawan ." Wukong mengekori gadis itu.


###


Tak terasa hari sudah gelap. Jam di Tiongkok menunjukkan pukul sembilan malam sedangkan waktu Indonesia bagian tengah menunjukan pukul tujuh .


Wukong yang melihat langit Tiongkok yang masih memiliki nuansa indah yang berpadu dengan bintang bintang di langit, membuat ia kembali mengingat masa lalu .


Masa ketika ia masih mengembara dengan biksu Tong Sam Cong. Pada zaman itu , hari hari ia lewati yang diselimuti malam nan terang berkat bantuan pendarnya cahaya rembulan dan gemerlap cahaya bintang .


"Hei! lagi ngelamun apa nyet,?" Yuen mengagetkan lamunan Wukong .


"Biasalah, lagi gamon masa lalu. Sewaktu aku masih bergelar Kera Sakti yang mengikuti biksu Tong Sam Cong." jawab Wukong sembari masih menatap bintang di langit.


"Hmm... , hei Wukong .. kira kira apa aku bisa menikah ?" tiba tiba pertanyaan itu membuat Wukong menoleh.


"Kenapa kamu bertanya begitu? semua mahluk hidup berhak mendapatkan jodohnya" Wukong mengorek telinganya .


"Tapi ada kok wanita yang menjadi perawan tua . Aku ini sedari dulu terlalu fokus ke bidang ini. Jadi aku gak tau masalah asmara ." Yuen menerawang jauh ke langit.


Kemudian tanpa sadar, ia menaruh telapak tangannya di dada dan bergumam. "Bagaimana rasanya jatuh cinta ? apa itu semacam jantung yang berdebar? atau melemahnya sifat keras orang itu? atau bahkan membuat orang itu tidak merasakan apa apa selain hanya ingin merasakan kehangatan dari orang yang di cintai?"


Wukong sebenarnya dalam beberapa mitologi, ada yang mengatakan bahwa dirinya mempunyai seorang kekasih. Dan ada pula yang tidak menceritakannya . Sebenarnya , ia sempat jatuh hati oleh Dewi Kwan im. Akan tetapi ia sadar bahwa Kwan im adalah seorang Dewi suci, dan termasuk dari beberapa Dewi yang perawan .


Untuk itu ia tidak pernah terbesit di hatinya untuk meminang atau menjalin kisah asmara ke semua mahluk. Baik itu Dewata maupun mahluk fana. Adapun yang menceritakan legenda bahwa ia mempunyai seorang crush atau kekasih?, itu hanya cerita rakyat semata. Tidak pada kenyataanya.


"Jujur, aku tak pernah merasakan hal seperti itu. Jadi jangan tanya aku.." Wukong kemudian melihat wajah mulus Yuen.


Yuen memiliki wajah yang mulus namun tegas. Rahangnya sangat nampak jika ia sedang kaku , akan tetapi untuk saat ini rahang itu melunak. Dagunya pun mulus , tidak runcing dan tidak pula belah dua. Ia mempunyai bulu mata nan lentik alami dan bahkan , matanya murni berwarna hijau sehijau batu giok.


Walaupun rambutnya potong mangkok, tetapi Wukong pernah melihat Yuen ketika rambutnya panjang hingga selutut . Pada saat itu, Wukong lebih yakin bahwa Yuen lebih cocok menjadi permaisuri kerajaan dibandingkan menjadi Lord Kaio.


"Yuen, malam ini mau menemaniku jalan ? aku ingin menghadiahi muridku di Indonesia berupa jajanan Tiongkok. Hitung hitung oleh oleh" Wukong berjalan di depan Yuen.


Yuen yang sedari tadi melamun kini merasa terkejut senang lantaran di ajak oleh Wukong .


"Hei monyet! tunggu akuuuuu!" Yuen berlari kecil mengekor di belakang Wukong .


"Kamu bisa terbang kan? dari pada jalan kaki mending terbang yok" Wukong melompat dan ia menginjak udara sambil menunggu Yuen terbang .


"Tapi capek... aku ingin istirahat malam ini." Yuen menguap manja .


"Ck... ya sudah , AWAN KINTOOON!" tepat setelah Wukong berteriak , muncul lah sebuah awan yang memiliki jiwa dan sudah lama sekali hidup bersama dengan Wukong .


"Tuh , cepat naik" perintah Wukong .


"Huh, padahl aku berharap di gendong ." keluh Yuen .


"Apa tadi kamu bilang ?" Wukong sebenarnya dengar , tetapi ia sengaja menjahili Yuen .


"Nggak! gak mungkin seorang Kera Sakti tak mendengar gerutuanku" dengan berat hati Yuen melompat dan duduk manis di atas awan kinton milik Wukong .

__ADS_1


***


__ADS_2