
"Jadi kalian sudah kontrak ulang ?" tanya mbak Kunti di belakang ku.
"Belum " jawabku singkat sembari merapikan pakaianku .
Setelah kami selesai bertarung dan aku menyembuhkan lengan dan kaki si Genderuwo yang buntung , aku kali ini harus memberinya sebuah kontrak dan memberikannya nama . Hanya saja memberikan nama baru untuk pengontrak baru itu membutuhkan energi dan eksistensi yang lumayan banyak . Seperti halnya aku memberikan nama kepada Sofia .
"Baiklah mari kita buat kontrak . Hmmm, apa yang harus ku lakukan?" aku berharap semoga caranya tidak seperti caraku kontrak dengan Sofia .
"Tuliskan inisial mu ke dadaku, atau sesuatu yang bisa di sebut adalah tanda pengenal mu . Setelah itu aku akan memberikan cincin batu akik dan kita akan saling kontrak".
Wah , ini lumayan berbeda .
"Ok , sini biar aku ukir. Cepat lah , kita tak punya banyak waktu" aku tarik tuas jarum jam dan mencuatlah pedang Gekiryu. Aku mengalirkan energi Demigod ku untuk melapisi mata pedang Gekiryu. Setelah mata pedang itu di lapisi full oleh energi Demigod ku, aku mulai mengarahkan ujung mata pedang ke arah dada si Genderuwo.
"Sebentar , aku bingung seperti apa bentuk inisialku ."
"Pernyataan macam apa itu?" komentar yang jitu dari seorang mbak Kunti wibu.
"Paling tidak dia berfikir, bukan asal bertindak seperti lembu" balasan yang epic dari seekor buaya betina .
"Cepat lah! waktu kita tidak banyak! "
Apakah taring hiu itu bagus? atau kah aku memakai sirip hiu? ekor buaya ,? apa yang identik dengan laut ? .
"Hei, Poseidon lambangnya seperti apa?" tanyaku kepada mereka bertiga .
"Kuda !" pekik Kunti wibu .
"Trisula dengan lingkaran emas . Kenapa?" berkat pernyataan dari si buaya betina , akhirnya aku tau lambang yang pas untukku .
__ADS_1
Dengan semangat yang berkobar aku mengukir sebuah lambang trisula , namun alih alih memberi lingkaran pada trisula itu , aku mencoret datar trisula tersebut.
"Selesai, ok kalau begitu mari kita join waaaar" aku melompat dengan semangat empat lima ke atas pundak Genderuwo.
"Aku ikut tuan " si buaya betina melompat juga .
"Aku juga " yang di susul oleh Kunti wibu .
"Dalam sekali lompatan, aku akan sampai ke sana , berpegangan dengan erat! "
Si Genderuwo memperingatkan .
Getaran dari punggung si Genderuwo ini sangat terasa akibat guncangan hebat ketika ia melompat . Dan benar saja dalam sekali lompatan ia berhasil melambung tinggi di angkasa . Aku sengaja tidak memberikannya nama terlebih dahulu , sebab aku takut jika aku memberikannya nama tenaga dan eksistensi ku terserap banyak sehingga aku tidak dapat ikut pertarungan . Selagi melambung tinggi, aku kembali memakai jubah air laut yang tadi sempat aku pakai untuk mengalahkan sang Genderuwo. Jujur saja ini terlihat keren (kecuali mahkotanya) di lengkapi dengan kerah jubahnya dan aku mendapatkan trisula tiruan yang keren .
"Setelah tuan menyatukan dua sumber air yang berbeda , tuan akan mendapatkan trisula dengan mengambil tahta selatan " si buaya betina tiba tiba saja berkata seperti itu.
"Bagaimana caranya ? bukannya ibuku yang mendudukinya?"
"Lalu , apa aku harus merampasnya?" jujur saja , bagiku tidak enak jika aku harus merampas kebahagiaan orang lain demi keinginan ambisiku diri sendiri . "Apa gak bisa di bicarakan baik baik?" .
"Takdir Dewata dan Demigod itu tidak jauh beda , kalian harus saling menjatuhkan jika ingin berdiri di atas yang lain . Dan tuan sudah seharusnya bisa mengambil alih tahta yang sudah sepatutnya menjadi milik tuan ." kata buaya betina .
"Tapi jika ingin menurunkan tahta yang sudah berdaulat selama puluhan bahkan ratusan tahun, berarti aku harus memliki paling berpuluh puluh armada dan tentGekiryara untuk menggulingkan kekuasaan?"
"Tenang saja tuanku, aku akan setia menjadi anak buahmu, dan jika engkau mengizinkan aku bisa saja mengajak kekawanan Genderuwo untuk membantu tuan menggulingkan tahta kedaulatan selatan ." sahut Genderuwo.
Aku benar benar salut dengan kesetiaan ketiga kontrak ku ini . Sofia , Michel dan Genderuwo. Mereka benar benar menghormatiku tanpa harus tau ukuran perbedaan kekuatan kami . Aku masih bertanya tanya , jika yang di katakan Michel ini benar adanya , mengapa aku harus berada di atas puncak?. Apa yang mereka maksud takdir ? apa aku ini memang seharusnya menindas mahluk sampingan dan memanjat tinggi tahta yang harus ku gapai ? .
"Tuan, aku akan mendaratkan tubuhku dengan cepat , pegangan ! "
__ADS_1
Aku spontan menancapkan ujung bawah trisula tiruan ku ke punuk Genderuwo. Ia sama sekali tidak meringis kesakitan , dan kami tetap meluncur bebas menuju gereja yang sudah berada tepat di bawah kami . Dari balik punuk ini, pandangan mataku berhasil menangkap fenomena langka. Yaitu segerombolan kalong gua raksasa mengelilingi sebuah menara gereja yang ada di sampingnya .
Kami melesat ke bawah dengan kecepatan yang lebih cepat di bandingkan pesawat jatuh. Dan dengan bobot yang amat berat seperti ini , kaki Genderuwo sukses menghantam ke dataran bumi di depan gereja ini . Entah bagaimana keadaan mereka yang berada di bawah , yang pasti guncangan dahsyat dari pendaratan kami mampu membuat getaran hebat hingga menara gereja remuk dan ambruk ke tanah . Para khalayak manusia fana panik dan berbondong bondong melarikan diri dari ambruknya menara gereja .
"Tuan , perintahkan kami semua !" si Michel bertekuk lutut dan kepalanya tunduk di hadapanku .
"Katakan lah tuan " Si Genderuwo juga menunggu perintahku.
"Baiklah kalau begitu , teman besar , kau serang dan hancurkan kalong gua raksasa . Lalu Michele , bantu lah temanku yang bernama Ricky yang sedang memakai costum parody Thor untuk mengalahkan monster monster jahat dari black Bible. Aku akan duel dengan pendeta itu."
"Siap! laksanakan tuan !"
"Siap! laksanakan tuan! " Jawab mereka semua dengan serempak .
Aku pun mengangguk dan terjun ke bawah . Ketika aku mendarat , aku melihat si Sofia sedang kesulitan dalam pertarungan satu versus empat . Dan keempat lawannya itu adalah dark Elf. Sisi gelap dari bangsa Elf .
Dark Elf memang counter alami dari seorang pure spirit seperti Sofia . Cukup mencengangkan mengingat Sofia yang seharusnya berada di posisi sangat di rugikan itu sanggup bertahan hingga aku tiba di sini .
Aku mengangkat trisula ku dan menghentakkan ya ke tanah hingga tertancap dan menyatu dengan tanah . Dalam konsentrasi ku aku mengalirkan seluruh tenaga dan energi Demigod ku ke dalam trisula, membuat trisula itu nampak bersinar terang dan kini sedang menyerap seluruh aliran air yang ada di tanah bahkan akar akar pohon .
"Tembak!" teriakku .
Langsung saja sebuah tembakan air dari trisula itu menembus khalayak monster sampingan dan berhasil mengenai dua dari empat dark Elf yang membuat mereka berdua lenyap menjadi abu .
Sofia menoleh ke arahku dan tersenyum hangat kepadaku.
"Terima kasih sudah datang " katanya.
"Aku bukan tipe bos yang meninggalkan anak buahnya "
__ADS_1
***