Rio Ferdinand : Perang Internal

Rio Ferdinand : Perang Internal
Lapar? Nasi Goreng Solusinya.


__ADS_3

Aku bernafas sebentar setelah bangun dari tidur . Kulihat Sofia dan yang lainnya sedang berbincang tentang masalah yang kami alami. Sebelum tidur , aku benar benar sudah bertanya kepada mereka. Apakah dalam dunia ini ada yang namanya halusinasi nyata semacam genjutsu atau sebagainnya? Mereka menggeleng dan mengatakan bahwa aku terlalu lelah sehingga berkhayal yang tidak tidak .


Aku berusaha bangkit dari duduk ku dan berjalan sempoyongan ke arah mereka . Matahari sudah berada di ufuk barat, aku yakin ini sekitar jam empat sore atau setengah lima. Tetapi kami sama sekali tidak mendapatkan tumpangan .


"Aku pernah mendengar kekuatan Al kitab yang mana ketika pendeta menuliskan suatu kisah kedalam lembaran Alkitab yang kosong , maka kejadian itu akan terjadi. Tetapi itu adalah pendeta yang sesat dari gerejanya dan mendapatkan petuah dari Alkitab hitam yang sesat. " Jelas Sofia kepada mereka . Aku benar benar tidak tau apa saja pengalaman Sofia ketika ia masih menjadi roh gentayangan , kendati demikian semua pengalamannya sepertinya membawa manfaat betul dalam kasus ini .


"Benarkah? kalau tidak salah, di sekitar daerah kilometer lima belas ada sebuah gereja ?" kata Ricky .


"Bagaimana kalau kita bertanya tentang Alkitab sesat itu?" Zahra berfikir sampai sana rupanya .


"Ah , ada baiknya juga . Kamu gak terkena pensucian dari radiasi gereja kan? konon katanya roh roh jahat atau penasaran bakalan kena radiasi dari gereja ." Rista menyipitkan mata ke arah Sofia , entah kenapa dia begitu .


"Gak , Soalnya aku sudah terikat oleh Rio . Jadi aku statusnya adalah seorang spirit yang bertuan legal. Bukan bertuan kepada dukun dan berteman dengan dedemit ." ada sedikit nada tersinggung dari tutur kata Sofia , mungkin ia baper akibat pertanyaan frontal dari si Rista .


"Baiklah kita tanyakan dulu, jika memang musuh kita adalah pendeta yang sesat, kita akan menghancurkannya sampai ke akarnya" Ricky dengan sangat antusias ingin pergi ke gereja . Bagaimana tidak?, di kejadian pertama lengannya putus dan di kejadian kedua ia tewas dengan mengenaskan.


"Maaf, aku orangnya beragama dan taat beribadah. Aku muslim. Dan kami sebagai orang muslim tidak boleh menginjakkan kaki kami ke gereja , jadi aku tidak masuk ." aku mengangkat tangan .


"Benar kah begitu? aku juga muslim" Zahra malah nyempil ke sampingku.


"Aku ikut Rio , gak masuk ke gereja ."


"Baiklah kita bertiga saja ." ujar Rista .


"Awas kau mendua Yo !" Sofia menunjuk wajahku dengan lurus .

__ADS_1


"Maksud?"


Kami pun memutuskan berjalan kaki ke arah gereja . Perjalanan membutuhkan paling tidak sekitar tiga kilometer dan ada kemungkinan bahwa perjalanan kami tidak akan mulus. Itu prediksiku.


Tetapi kali ini prediksiku salah, kami benar benar tenang dalam hal berjalan kaki. Paling tidak kami tidak di suguhkan dengan pertempuran klassik antara Demigod dan monster . Kami hanya berjalan dan melihat beberapa dedemit yang menempel atau tidur tiduran di pohon pohon besar di pinggir jalan . Entah kenapa penduduk Indonesia bahkan sampai ke dedemit seperti mereka selalu uring uringan dan pengangguran . Apakah orang orang kilo di sini sudah kebal terhadap pesona malam hantu gentayangan? sampai sampai aku melihat ada beberapa pocong yang main kejar kejaran dengan sesama pocong dan beberapa dedemit yang tidak aku ketahui namanya .


Sekitar tiga kilo kami berjalan , aku melihat ke arah kiri jalan dan menemukan sebuah tanjakan jalan menuju gerbang pondok kami .


"Tunggu dulu! bukannya kita harusnya startnya di sini ya? kok bisa kita sehabis kejadian kedua berada di kilometer dua puluh?" kata kata ku sukses membuat mereka berhenti sejenak .


"Benar ! Bukanya kita harusnya berada di sini ya? sekitar kilometer delapan belas atau tujuh belas?" sahut Rista .


Aku akan menjelaskan secara detail mengapa kami kaget, mungkin dari kalian ada yang tidak tinggal di Balikpapan .


Jadi, Balikpapan wilayah di bagian Utara itu tidak seperti wilayah lainnya . Jika di Balikpapan daerah barat, tentu ada yang namanya daerah kampung baru, Margo Mulyo, Sidomulyo, dan lain sebagainya .


"Sudahi acara berpikir seperti itu, sebentar lagi kita sampai ke gereja ." Sofia menengahi kami. Aku curiga bahwa Sofia sepertinya mengetahui garis besar permasalahan dari dua kejadian tadi . Ya, aku tau Sofia bukan mengkhianati kami, hanya saja ada kemungkinan ia miliki intuisi di luar nalar detective.


Setelah kami berbelok di sudut jalan , kami melihat sebuah SMA negri yang sangat besar namun memiliki daya tarik yang sangat negatif . Ada banyak hawa negatif yang kami rasakan sehingga ketika kami berjalan di depan gerbangnya , bulu kuduk Roma kami berdiri . Aku yang merasa di perhatikan, mencari sumber mata yang memperhatikanku itu. Alangkah menyesalnya aku ketika aku mencari sepasang mata yang memperhatikanku itu , mata itu melotot tepat ke arahku dengan mata yang besar . Mahluk itu seperti genderuwo namun tidak hijau . Yah siapa saja yang memang belum pernah melihat dedemit pasti mengira genderuwo itu adalah mahluk hijau seperti Hulk namun bertaring . Tidak , mahluk itu sangat gelap dan besar . Tubuh besarnya itu sebesar sekolah , aku juga melihat bahwa tubuhnya bungkuk entah menopang sesuatu yang tak kasat mata. Taringnya panjang dan besar, saking panjangnya sampai sampai ujung taringnya yang di bawa naik hingga di bawah pelopak mata. Sedangkan taring yang di atas turun hingga jakun . Hidungnya mancung seperti kurcaci barat (yah , aku pernah melihatnya di pondok ) dengan telinga panjang lancip juga dan rambut yang gondrong dan terurai ke bawah persis seperti master limbat . Kulihat ke bawah , aku melihat bahwa jari jemarinya keriput dan memliki kuku sapanjang setengah tubuh manusia dewasa . Yang membuatku penasaran, mengapa kakinya di rantai dan punggungnya bungkuk ? persis seperti seolah olah ia di paksa memikul gunung.


"Dia di aniaya, tapi jangan kau hiraukan Yo . Tujuan utama kita adalah gereja di depan ." tegur Sofia . Sepertinya ia tau betul bahwa aku memliki rasa tertarik dan penasaran kepada genderuwo itu.


Kami tetap berjalan , ketika di tikungan kedua setelah melewati hawa mencekam dari sekolah itu, akhirnya kami bisa melihat jalan besar yang normal lagi . Sekitar lima belas menit kami berhasil sampai di depan gereja .


Sewaktu aku masih kerja paruh waktu di rumah makan Coto Makassar, aku masih ingat ketika kami di suruh mengantarkan katering Coto Makassar prasmanan ke gereja itu. Tetapi tetap saja aku di luar , karna aku adalah salah satu pria dengan taat aturan agama .

__ADS_1


Kembali kami merasakan hawa mencekam, kali ini tak terasa negatif kasar seperti tadi . Hawa mencekam ini lebih mengintimidasi . Seolah-olah kalian tidak akan di terima dan akan di usir dengan sangat tidak ramah jika kalian tetap menerobos masuk . Sofia menengok ke Ricky dan Rista , setelah mereka mengangguk bersamaan barulah mereka melangkah bersama masuk ke dalam gerbang gereja . Aku yang melihatnya meneguk liur.


"Yo , kamu masih punya uang anggaran misi kan?" tanya Zahra .


"Harusnya ada, jika tidak tercecer saat mati di kejadian-kejadian sebelumnya." jawabku setengah bercanda.


"Iiih... aku serius, kalau masih punya , aku mau mengajak kamu makan nasi goreng di situ. Sekalian kita pesankan nasi goreng untuk mereka . Gimana ?" Zahra menunjuk kedai nasi goreng yang ada di dekat situ. Ada banyak sekali pengunjungnya dan sangat ramai sekali . Karna haus dan lapar akibat kejadian kejadian yang hampir tidak bisa di terima akal sehat (akal sehat Demigod maksudnya ) aku mengangguk dan mengikuti ajakan Zahra .


Zahra menarik tanganku untuk menyeberang. Sejujurnya aku kurang suka kalau di tarik begitu , entah aku juga gak tau kenapa aku tak suka. Kecuali pacarku .


Aku duduk di bangku kedai yang panjang , dan Zahra duduk di sampingku . Kalau di lihat lihat, Zahra lumayan manis kalau lagi diam dan tersenyum tipis . Aku tak tau kenapa , yang jelas senyumnya agak laen. Kendati ini adalah misi pertamanya, tetapi ia tetap tenang dan tidak terlalu panik ketika berada di lapangan . Padahal Rista yang merupakan ketua masih mengalami efek shock otak ketika tangan Ricky di potong di kejadian pertama .


"Pesan apa mas ? " seorang wanita yang merupakan pelayan kedai menghampiri kami membawa sebuah papan scanner .


"Anu, aku ..." aku kehilangan fokus karna ketika ia menanyakan hal itu, posisinya agak merendah sedikit . Sehingga belahan *********** nampak jelas di mataku .


"Nasi goreng dua porsi makan di sini, tiga porsi lainnya di bungkus. " Zahra dengan cekatan menjawab pertanyaan si pelayan belah dada itu.


"Baiklah , adalagi ?" tanya nya lagi.


"Ok , kalau begitu minum . Minumnya..." aku meneguk liur karna melihat belahannya itu.


"Minumnya?" tanya pelayan.


"Minumnya es teh aja , lima limanya." lagi lagi , Zahra lah yang menggantikan ku untuk menjawab pertanyaan sang pelayan.

__ADS_1


"Ok, di tunggu kak ya" ia akhirnya bangkit dan berbalik meninggalkan kami untuk melayani pelanggan pelanggan yang lain .


Haduuuh.. perkara nasi goreng .


__ADS_2