
Lumayan lama kami menunggu mereka keluar . Ku pikir kerjaan mereka, sat set sat set beres. Ternyata tidak selalu seperti itu. Aku bahkan nambah seporsi karna saking laparnya.
"Hei Yo , mereka melirikmu terus" Zahra menyenggol lenganku dan berusaha menunjukkan arah yang ia maksud dengan dagunya .
Aku menoleh sedikit dan ku dapati sekumpulan anak muda yang sedang makan di meja makan . Mereka tak hanya melihatku, mereka bahkan sambil mengunyah tulang ayam . Aku penasaran seberapa kuatkah gigi mereka ?
Aku merasakan sebuah sensasi aneh, aku seperti di perhatikan . Sensasi itu datang sedari tadi ketika aku meminum teh es manis. Jujur saja, aku bisa lahap makan karna memang perutku sudah terlalu lapar .
"Apa mereka kenalanmu Yo?" Zahra kembali berbisik. Sepertinya Zahra lah yang sangat terganggu dengan tatapan mereka , walaupun yang di tatap sebenarnya adalah aku .
"Entahlah , mending lanjut makan" persis ketika aku menyuapkan nasi goreng pada suapan trakhir, aku menangkap sebuah pergerakan yang ingin menyergap ku. Kecepatan gerakan itu benar benar cepat, namun aku yang sudah berkali kali di rasuki Sofia, mulai terbiasa dalam hal dimensi gerak cepat seperti itu. Aku pun menghindari pukulan itu yang nyaris saja mengenai kepalaku. Setelahnya, aku mencengkram pinggiran meja dan bersalto ke belakang . Aku mendarat persis di belakang sang pelaku, dengan kecepatan yang seimbang aku membelenggunya dengan cara menarik tangannya ke belakang punggungnya , menekan lengannya di punggungnya dan membuat ia membungkuk lalu mengunci lengannya di belakang .
"Jangan terlalu banyak bergerak, atau lengannya akan ku patahkan." seisi kedai menoleh ke arah kami .
Ke empat temannya lumayan kaget bahwa temannya berhasil aku kunci.
"Sial, ternyata memang kamu ya yang memperingatkan genderuwo itu untuk menghabisi anak anak pondok kami!" kata orang yang ku kunci .
Aku melihat ke sekeliling, ke empat temannya sedang mengepung ku dan Zahra hanya menikmati nasi goreng .
"Maksud kalian genderuwo yang di sekolah sana ? wait wait. Kalau itu aku tak tau , aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan mahluk itu." aku mengelak .
"Apanya yang tidak ada hubungannya? aroma mu sama dengan genderuwo itu! aroma pantai teropis yang di campur dengan angin laut jahat!" aku kaget kenapa temannya yang berada agak jauh denganku berkata demikian .
Biar ku perjelas ciri ciri mereka.
Anak muda yang aku kunci ini adalah anak muda yang agak tinggi dan memliki geraham yang bersiku. Kelihatan sekali kalau ia gemar berolah raga angkat beban karna giginya selalu menahan beban masa yang di angkat oleh tangannya .
Sedangkan orang yang asal menuduhku memiliki tubuh yang lebih besar di banding orang yang aku kunci, secara fakta juga lebih besar dari aku. Rambutnya botak dengan otot yang membengkak di setiap dagingnya . Aku jadi heran apakah ia bisa membanting tubuhku dengan mudah .
Di samping pria berotot, ada seorang anak muda juga yang memiliki tubuh normal. Tingginya sekitaran seratus lima puluhan dengan gaya rambut cepak tentara. Di sampingnya lagi , agak lebih jangkung namun kurus , dengan gaya rambut belah tengah dan memakai kaca mata . Aku salah menafsirkan bahwa mereka berlima . Sebenarnya mereka berempat, hanya saja yang satu lagi bukan lah manusia , tetapi spirit yang sedang memadat seperti Sofia yang saat ini berada di gereja .
"Jadi, kalian salah satu murid di pondok? kami juga sama, tapi kami sedang dalam misi ." aku melepaskan kuncianku kepada orang tadi .
__ADS_1
"Kami tidak semudah itu percaya , kalau kamu anak pondok , coba tunjukkan bet name ?" orang yang pakai kaca mata menunjuk ke arah dadanya yang sedang tertempel sebuah bet name di sana.
Aku mengernyit. "Aku tinggal di rumah , emangnya penting? ini kan di dalam misi?" aku mengangkat bahuku.
"Baiklah kalau begitu, dari divisi mana kamu ? peleton berapa? dan siapa yang mengirimmu ke misi?" orang si kaca mata menanyaiku secara beruntun .
Tunggu dulu, peleton? divisi? apa itu?.
"Aku tak tau, karna aku belum ada di bagian itu.. yang ku tau aku ini kelas A5 putra Kadita dan berhasil mendapat medali MvP di kegiatan robek bendera " kata ku dengan sombong .
"Tangkap bendera?" mereka menoleh satu sama lain .
Ada firasat yang buruk , sesuatu yang harus di hindari. Bulu kudukku berdiri lagi, barulah aku menyadari bahwa dari arah jauh di sana . Tepatnya di SMA negeri yang kami lewati tadi, memancarlah sinar hijau yang terang benderang sekaligus juga memancarkan sinar ketakutan dan hawa negatif yang sangat besar. Tak lama setelah itu , ada terdengar sebuah Auman yang sangat mengerikan . Auman itu seperti sebuah auman binatang yang buas dan kelaparan . Aku bersiaga dan hendak menarik pedangku, namun hal itu di cegah oleh Sofia dari dalam pikiranku.
"Jangan yo, kami sudah mulai mendapat petunjuk . Kali ini kami sedang bertarung dengan salah satu guardian ." ucap Sofia .
"Guardian? maksudmu?" tanyaku lagi.
Aku memicingkan mata ke arah sinar itu, dan aku bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang menarikku ke arah situ. Aku harus ke sana !.
"Zahra, dengar jangan gegabah . Aku akan memeriksa sekolah itu , kamu tunggu di sini bisa kan ?" tanyaku kepada Zahra .
Zahra menggeleng "Gak bisa Yo, aku bukan tipe petarung . Aku gak bisa sekuat kalian yang bisa satu lawan banyak .. please..." Zahra menggenggam tanganku dengan gemetar .
Aku melirik orang orang tadi , mereka sedang berkumpul dan membahas masalah raungan mengerikan tadi .
"Hei, kayaknya kalian beda dengan kami , " ujarku " Siapa direktur pondok kalian ?" tanyaku lagi kepada mereka .
Mereka menoleh dan mengernyit.
"Maksudmu yang mengkomandoi pasukan ? Ya jelas jendral besar!" ucap si rambut cepak .
Sudah ku duga , mereka sepertinya entah Demigod atau hanya manusia yang di sebut indigo . Hakikatnya sama dengan kami, hanya saja kami berbeda . Dari penampilan dan potongan mereka, serta apa pun yang mereka bicarakan selalu saja mengarah ke arah pembicaraan militer .
__ADS_1
"Kita beda pondok! Aku berasal dari pondok Demigod yang direktur pondoknya adalah Untung Suropati. Maaf, aku ingin memeriksa pancaran dari sinar hijau itu. Jadi , bisa kah kalian tidak menghalangi?" aku mengeluarkan pedang ku dari jam . Ku putar kerangka atas arloginya, dan berdesing keluarlah perisai perakku.
"Kau siap bertempur dengan kami? satu lawan lima?" tanya si berotot. Ia maju dengan percaya diri lengkap dengan gaya tentara yang tegap.
"Zahra , kamu lari dulu ke belakangku."
Zahra mengangguk dan mengambil semua nasi goreng yang sudah terbungkus rapi di atas meja tadi , ia berlindung ke belakangku.
"Dengar , aku tak ingin membunuhmu dalam satu kali cekikan , jadi jangan bertindak macam macam ." pria berotot itu secara perlahan semakin membesar dan kulitnya semakin keras membatu. Semakin ia melangkah , semakin bertambah ukuran tinggi dan bobot tubuhnya , hingga akhirnya ia berdiri di depanku dengan tinggi sekitar tiga meter dan lebar badan satu meter. Aku melihat ada retakan di bawak kakinya yang tercetak jelas di aspal.
"Masih mau bertarung ? " tanya nya kepadaku .
Aku mengedikkan bahu "Kau pikir tubuh besar begitu aku takut?" aku menghunuskan pedang .
Orang itu menggeram dan menggerakkan giginya saking marahnya . Ia meraung sebentar kemudian memukul tubuhku. Aku yang belum sempat menghindar terpukul dan terlempar agak jauh dari Zahra . Namun karna lumayan mendapat pengalaman yang sudah sudah , aku mendarat dari jatuh dalam keadaan siaga . Aku menghela nafas sebentar lalu kemudian berdiri tegak dan kembali berkuda kuda . Zahra datang menghampiriku dengan kresek hitam nasi gorengnya.
"Yo , kita pergi aja gak usah di ladeni ." katanya.
"Nggak, aku mau membebaskan genderuwo itu " kataku ke Zahra .
"Kamu gula Yo?" aku mendengar teriakan Sofia dari dalam pikiranku .
"Iya , aku memang semanis gula" jawabku.
"Eh nggak , mulutku tipo. Ralat! Kamu gila Yo?" sambung Sofia .
"Aku punya firasat kalau aku membebaskan mahluk buas itu kita bisa memenangkan semua pertandingan ." aku menjelaskan maksud dari pembebasan sang genderuwo . Jujur , aku memliki firasat bahwa jika aku membebaskan dia aku memliki hak paten atasnya .
"Apa kau pikir bisa lari dariku Demigod ?" orang itu kemudian berlari ke arahku dan hendak memukul ku lagi. Dengan cermat aku bersalto dan membelah diriku menjadi empat. Lebih tepatnya aku memanggil beberapa mineral air dari bawah tanah dan membuat tiruanku dengan air tersebut.
Kali ini , aku harus tetap percaya pada firasat dan instingku. Belenggu yang ku lihat di genderuwo bukan lah perbuatan dia . Aku yakin itu.
***
__ADS_1