Rio Ferdinand : Perang Internal

Rio Ferdinand : Perang Internal
Latihan Robek Bendera Mingguan .


__ADS_3

Sudah sekitar tiga hari aku di sini. Hari hari ku isi dengan belajar pedang dengan si Pangeran pedang. Namun baru di hari ke 4 ini lah aku di beri mimpi aneh lagi.


Di dalam mimpi itu , aku melihat seseorang sedang bertarung dengan seekor ular hitam. Entah apa yg di buatnya sehingga ular hitam raksasa itu ingin mengincarnya .


Ketika ia menghindar dan berbalik kebelakang. Barulah aku sadar kalau itu adalah si bertopeng. Rambut panjang lurusnya terurai kesana kemari berantakan. Kekuatan si bertopeng bukan main main. Ia sanggup menendang batu besar dan menghancurkannya, membuat debu debu beterbangan di sekitar. Sehingga ular hitam itu sedikit tidak mampu melihat. Tanpa berfikir panjang , dengan cermat ia manfaatkan celah ini dan menusuk pucuk kepala sang ular hitam dan membelahnya dari situ hingga daerah lehernya. Dan ambyar lah ular itu.


Ketika ular itu ambyar , ia meninggalkan harta peninggalan berupa tongkat kecil seukuran 1 meter panjangnya . Tongkat itu ia bawa pergi berjalan agak menjauh dari TKP.


Ku ikuti kemana ia pergi , namun aku herannya. Ia pergi ke rumah ku . Ya ! kerumahku! aku benar benar tidak sadar bahwa itu adalah kawasan rumahku.


"Apa yang kau incar dari dia ? cepat keluar dan bicarakan!" bentaknya ke sebrang jalan setapak. Suara palsunya masih ia pasang di leher .


Tiba tiba dari balik pohon sawo , muncullah seorang pria dengan setelan serba hitam lengkap dengan sarung tangan dan kaca mata hitam. Dan tentu, dengan Harley hitam. Ia bertepuk tangan sambil keluar dari tempat persembunyiannya .


"Hormat, saya utusan dari dewa Ganesha ." ia menunduk hormat .


"Lalu ? apa maumu dengan orang yang memiliki rumah ini dan mengapa kau mengirimi ular hitam?" si bertopeng menggenggam erat tongkat itu.


"Oh , saya hanya ingin mengincar penghuninya, karna penghuninya itulah kunci dari permasalahan yang sedang pelik ini. Bagaimana jika kita berdamai dan saling barter informasi ?" si pria berpakaian hitam itu mengangkat kedua tangannya, seolah olah dia menyerah dan ingin berdamai.


"Baiklah. Ku berikan kau wewenang bicara Krissh." perintah si bertopeng .


"Baiklah . Aku ingin kita menggagalkan...."


Tiba tiba mimpi berganti dan aku sudah berada di tempat yang berbeda .


Tempat ini tepat berada di depan Monas . Aku melihat banyak turis dan wisatawan dalam negeri berkumpul di sini . Namun banyaknya jumlah mereka, mereka tidak tau bahwa di tengah tengah khalayak ada dua sosok Dewata yang sedang berhadapan .


Gatot kaca Dan Zeus .


"Anak itu , pasti tidak tau apa apa . Lihat kan? dia bahkan tidak sehebat pendekar yang akan berkhianat.." sang Gatot memakai celana Levis dan jaket bomber. Sementara sang Zeus, memakai pakaian formal kantoran . Lengkap dengan tongkat hitam dan topi berkelepai kulit berwarna hitam .


"Apa kau sama sekali tak takut bahwa akan ada terjadi perang saudara antar sesama Dewata ? " si Zeus memperingatkan Gatot .


"Itu semua urusan dan tanggung jawab Garuda . Aku sama sekali tak ada hubungannya .." Gatot mengangkat bahu acuh tak acuh .


"Kalau begitu ." Zeus mendongak ke langit dan langit pun menjadi mendung .


Beberapa detik setelahnya , mata Zeus menyala terang. Dan ia berkata dalam gemaan langit .


"Untuk seluruh Dewata di kahyangan ... silahkan pihak dua kubu. Kubu Monas atau tungku api Hestia. Tepat di titik balik musim panas ke hujan. Aku akan memulai perang besar di dua kubu!" seketika aku terbangun karna suara petir menggelegar di pondok kami.


Jdug..


"Aduh!" aku meng-aduh karna ketika aku bangun, kepalaku terhantup triplek kasur bagian atas milik Demigod lain. Karna di asrama , kasur Demigod dua tingkat . Aku tidur di bawah Zacky.


Aku beringsut keluar dari kasur . Ada suara kegaduhan dari luar asrama, ku tengok jam di dinding . Ini menunjukkan pukul 2 siang .


Langit sangat mendung dan petir menyambar nyambar dimana-mana. Ada banyak ku lihat kereta kereta kuda terbang melintasi awan .


"Ada apa ? " aku bertanya kepada salah seorang Demigod di dekat ku.


"Oh, ini bukan cuaca hujan. Kan ini musim panas, belum lagi kayaknya bakalan ada badai petir ." terangnya .


Apa jangan jangan , yang tadi ku lihat di mimpi beneran ?


Setelah iring iringan kereta kuda yang melintasi awan selesai. Kini turun lagi kereta kuda maha terang dan maha dahsyat sinarnya. Saking silaunya , seseorang senior di anggota kami menyuruh kami agar menutup mata ketika kereta itu mendarat . Saat mendarat, kereta itu berubah menjadi mobil Mercedes.


Dari mobil , keluarlah seseorang yang tampan dan menawan . Tubuhnya sempurna dengan otot yang kuat namun luwes. Tubuhnya bersinar layaknya perunggu yang di bakar . Rambut ikalnya terbentang panjang hingga punggung .


"Wahai para Demigod . Panggil kan aku Sun wukooooong!" orang ini bersuara dan berkata seperti bersenandung . Bahkan hampir mirip menyairkan suatu puisi.


"Hmm... jika tidak , aku akan meledakkan tempat ini dengan sinar matahari kuuuuu..." lagi lagi ,ia berbicara dengan nada bersenandung .


"Tak usah . Aku datang sendiri..."


jawaban itu di gunakan dalam nada malas . Dan .. ia menguap .


Pria ini tidak lebih tinggi dari pria yang di depanku. Ia memakai baju distro kick denim dan memakai celana Levis pendek selutut. Ia juga hanya memakai sendal jepit pantai dan ada beberapa gelang rock di pergelangan tangannya. Di lehernya menggelayut lah kalung perak yang berliontin tengkorak Avenged seven fold. Dan ia berjalan santuy sambil kedua tangannya di lipat ke belakang kepalanya. Dan tentu , sambil nguap.


"Afaan? sok dramatis ke sini ...pake Mercedez segala lagi. " ujar Sun wukong.

__ADS_1


"Kau belum tau perintahnya,? aku di suruh untuk mendaftar Dewata yang memihak dua kubu ." kata pria bercahaya .


"Bukannya tugas sang Dewa Apollo itu pergi ke atas membawa matahari? kok malah catat mencatat kaya Hermes ?" kembali , Sun wukong menguap.


Aku terkejut , bahwa orang yg di depanku ini adalah Apollo .


"Wukong , jangan meledek. Aku di suruh ayah Karena Hermes sedang bepergian ke suatu negri di daerah Nordik." ucap Apollo.


"Kebanyakan ngeles ." Sun wukong kembali nguap .


"Jadi, kau di pihak mana ? kubu Monas atau kubu tungku perapian Hestia?" tanya Apollo lagi.


"Yang mana yang banyak ?" Sun wukong mengorek ngorek telinga dengan jari kelingkingnya .


"Pihak tungku perapian Hestia ." jawab Apollo.


"Oh , berarti aku di Monas . Aku tau , pasti Pandora dan Kadita juga milih itu." Sun wukong mengeluarkan jarinya dan meniup kotoran yang ada di ujung kuku kelingking nya .


"Jadi perang kali ini kau anggap seru seruan lagi?" Apollo mengambil catatan dari dalam mobil dan menuliskan sesuatu ke dalamnya .


"Dari pada gak ada hiburan?" kali ini , ia mengupil .


"Dari semua Dewata . Tugasmu yang paling enak." Sang Dewa Apollo hendak masuk kembali ke mobil.


"Biar ku tebak Pol. Kamu pasti mihak Monas kan?" tanya Sun dengan wajah mals ..


"Liat saja di akhir..." ketika mobilnya di hidupkan, mobil itu pun bersinar terang lagi.


"Mustahil kau memihak ayahmu.." teriak Sun sembari melangkah pergi meninggalkan sang Dewa yang sedang memanasi mobil Mercedes.


"Sun! apa anak Kadita sudah ada di sini?" teriak Apollo di jendela kaca mobil.


"Belum... tapi malam ini pasti muncul.." jawabnya santuy dan pergi begitu saja meninggalkan TKP .


"Ok waktunya menyalakan matahari.." mobil itu kembali menyala terang sekali, sampai sampai aku harus menutup mataku jika tak ingin di butakan oleh cahaya itu. Dan akhirnya mobil itu terbang meninggalkan kami .


Perlahan aku membuka mataku. Bekas Kilauan cahaya mobil tadi masih terasa di pondok kami. Sangat terang , hingga pohon Pinus dan pohon pisang berubah menjadi pirang .


Untuk menghilangkan kebosanan ku , aku pergi ke camp latihan .


Sesudah perkara Mino Taurus, aku sama sekali belum bertemu dengan Rista. Sebenarnya pagi ini aku ingin mengunjunginya , tapi aku tak tau pasti apakah dia ada di asramanya atau tidak . Lagi pula , sewaktu saat pasti ketemu .


Itu pun jika ketemu sih , karna jumlah manusia (atau mahluk) yang ada di sini ada ratusan . Bahkan bisa di bilang mendekati seribu .


Aku mengambil pedang yang ada di camp latihan . Aku berfikiran bahwa kapan kiranya aku bisa menggunakan jurus ku sendiri dan terdaftar di sana?


Terlebih lagi, aku belum sama sekali memberitahu satu pun mahluk selain Sofia ,(itu pun berkat dia aku tahu caranya ) yang mengetahui bahwa kekuatan ku itu air. Aku tidak tau , air laut ? danau? atau air Aqua?.


Aku menggenggam gagang pedang ini, lalu aku hunuskan kedepan. Mula mula aku tebas ke kiri, kekanan, lalu ke depan. Menyabet atas , melakukan gerakan anggar sesekali dengan menusuk angin dengan akurat ,lurus dan jitu.


"Agak susah memang kalau pake anggar .." tiba tiba saja aku di kejutkan oleh seorang pria berkaca mata dan memiliki anting tanda tambah. Itu pun hanya di kanan, kekurangan uang kah untuk beli sepasang ?


"Emang kenapa agak susah ?" tanyaku kepadanya.


"Aku bukan pengguna pedang sih, tapi... jarang orang yang bisa main anggar. Kecuali keturunan asli dari Lancelot." ia membuka tutup botol sprite dan meneguknya .


"Apa ada saran ?" tanyaku lagi .


"Hmm.. mending kamu buat gaya berpedangmu sendiri. Tak apa campuran , yang penting nyaman di pakai bagimu. Dan tidak memberatkan otot otot lenganmu. Karna kalau kau memaksakan, bisa bisa di saat pertarungan nyata.. ototnya membengkak tidak stabil." ia duduk di dekat pohon kelapa.


Ada benar nya juga . Selama ini aku belum tau seperti apa pertempuran nyata bagi seorang Demigod. Namun kalaupun memang sesulit itu sampai membahayakan otot, sepertinya aku harus berlatih dari terbiasa mengayunkan pedangnya dulu .


"Oh ya , namaku Arthur. Arthur aja . aku bukan Demigod. Tapi hanya orang yang bisa mengintip alam gaib dan memiliki pengetahuan paling luas di antara Demigod di sini .." ada kesan kesombongan mendalam di balik kata katanya .


"Namaku Rio Ferdinand Sinaga. Aku orang yang mungkin bakalan jadi lebih kuat di banding Zeus." seketika ada petir menyambar di langit kejauhan .


"Oops.. hati hati kawan. Nama mengandung kekuatan .. ingat itu" ia menunjukku dan kembali menenggak sprite .


"Ya , akan ku ingat." aku kembali memfokuskan diri ke pedang .


Aku tarik nafas , dan mula mula aku tajamkan Indra pendengaran ku . Aku mulai mendengar sayup sayup bisikan . Lebih tepatnya suara orang orang dari kejauhan sehingga terdengar seperti berbisik . Lalu semilir angin yang ku dengar saling berbenturan . Perlahan lahan, aku tajamkan Indra perasaku. Aku rasakan ada mahluk selain aku dan Arthur ... mahluk itu ...

__ADS_1


"Di atas !" teriak ku sambil menghunuskan pedang ke atas yang mana aku di kejutkan lagi karna pedangku terpental akibat menghantam tongkat yang panjang dan kuat.


Mahluk itu turun dan menghantamkan tongkat itu ke dadaku, membuat aku terjengkang ke belakang.


"Bagus... ku lihat lihat, kamu punya perkembangan yang pesat." aku kenal orang ini . Sun wukong!


"Oh , kepala suku monyet di sini .. saya memberi hormat!" hanya kata kata nya saja yang memberi hormat . Tubuhnya tetap santuy duduk di bawah pohon kelapa sambil meminum sprite .


"Kepala suku monyet? aku raja nya .! bahkan mungkin aku lebih kuat dari Zeus .." Lagi lagi, suara Sambaran petir terdengar di langit nan jauh ...


"Hei pak.. aku tadi mengajari anak ini supaya tidak sembarangan menyebut nama. Malah direkturnya yang memberi kesan tidak baik" Arthur melempar krikil ke Sun wukong .


"Oh iya , Rio. Malam ini ada kegiatan mingguan. Sepertinya kamu harus ku masukkan ke kubu Steven dulu ya.." sang direktur memperbaiki bajunya yg agak kesana kemari .


"Kegiatan apa itu pak?" tanyaku antusias.


"Pelatihan tempur. Di negri Nusantara ini kan terkenal dengan sejarahnya yang merobek bendera Belanda dan menjadikanya bendera Indonesia. Kami mahluk Dewata melihat itu kok.." ia berjalan ke depanku dan menepuk bahuku .


"Jadi , latihan ini namanya robek bendera . Ini latihan mingguan" Ia mengacungkan tongkatnya ke arahku .


"Coba kau rubuhkan golden stuff ku ini ." Ia menancapkan tongkat itu di tanah.


"Rubuhkan?" tanyaku ulang untuk sekedar mengkoreksi.


"Ya , rubuhkan. Jika bisa , kamu bakalan ku angkat jadi panglima di sini ." Aku melirik Arthur dan ia cekikikan .


"Sudah ratusan tahun, bahkan Zeus dengan petirnya pun tak sanggup merubuhkan. " Ucap Arthur .


Aku meneguk liur .


"Apa ini wajib?" tanyaku lagi .


"Hmm... aku melihat kamu seperti nya bisa berkembang karna rasa keingintahuanmu itu tinggi. Dan juga , kamu itu orangnya nekatan. Terlalu nekat untuk seukuran Demigod ." Ia kembali mengambil golden stuff nya .


"Kalau kamu ingin menjadi panglima sewaktu saat. Datang ke aku dan rubuhkan golden stuff nya ." Ia berjalan sambil bersenandung ria , golden stuff nya ia pikul.


"Anu.. pak" aku ingin bertanya lagi.


"Anu apa? panggil saja dia topeng monyet hahahaha.." ledek Arthur .


"Afaan Yo? panggil aja aku Wukong, " ia berbalik .


"Anu, pak Wukong"


"Gak usah pake pak.! aku terlihat tua kah?" mungkin ia tersinggung .


"Ialah, usia ribuan tahun masa gak di panggil pak?" Arthur kembali tertawa.


"Untung kau orang tercerdas thur.." Wukong melangkah maju mendatangiku lagi.


"Kenapa?"


"Anu, caranya aku supaya tau ortu Dewata ku bagaimana ?"


Ia menggaruk kepala.


"Nanti malam kayaknya sudah tau. tapi , Arthur. Coba kamu pilih lagi regu berjaga malam ini. Aku merasakan firasat yang aneh ..." ia kembali pergi. Kali ini , sebuah awan kuning menjemputnya .


"Hah,? emang gak ada yang milih?" Arthur bangkit dengan saltonya .


"Gak ada. Oh iya , malam ini agak beda . Jadi pilihkan yang bagus bagus untuk berjaga . Aku mau pergi ke Tiongkok sebentar ." Ia melompat ke atas awannya .


"Jadi, malam ini siapa saja yang datang nonton kegiatan robek bendera?" Arthur menendang botol sprite .


"Yang pasti, Zeus dan Gatot gak datang . Tolong ya, penjaganya di atur kan ." Setelah itu ia pergi meninggalkan kami dan terbang melintasi langit dengan awan nya .


"Bersiap lah Rio.. tunggu aja sejam lagi di aula taman . Semua orang berkumpul di sana untuk membagi dua kubu ." Ia menepuk bahuku dan meninggalkan ku pergi juga .


"Huh... masih ada sejam. Harus ku asah lagi cara berpedang ku."


***

__ADS_1


__ADS_2