
"Maksud anda pensiun?" tanyaku selagi aku kebingungan.
"Aku di tugaskan selama ratusan tahun hanya untuk tetap hidup dan menunggu kedatangan sang penerus kekuasaan mutlak perairan bumi . Dan di ramalan yang di bawa oleh Kadita sudah ada di depan mata! bagaimana aku tidak senang karena masa pensiunan ku nan indah nian sedang menanti.. hohohoho.." si kakek patin menggoyangkan siripnya untuk berenang mendekatiku.
"Kau , putra Kadita kan?" tanya sang kakek patin .
"Ya, tentu . Memangnya apa isi ramalannya?" tanyaku mencoba mengetahui isi ramalan itu.
"Ah, ramalannya begitu buruk di mata manusia fana . Tetapi tidak ada urusan bagiku, sebab aku akan bebas dari belenggu kontrak yang membuatku tak bisa menikmati hari tua di masa pensiun ku menjadi Dewa minor . Sebelumnya perkenalkan diriku nak, namaku adalah Zoriath , Dewa anak sungai dan leluhur Buaya yang tidak terkenal amat. Tetapi aku juga bisa di bilang Dewa penyampai pesan cinta . Aku tumbuh dari kepercayaan orang orang sini . Yah sudah lama sebenarnya maka dari itu aku ingin pensiun menjadi dedemit nan ramah dan baik hati. Apakah punya waktu luang? kalau iya aku ingin mengajak minum kopi barang sebentar ." sang kakek patin menarik tanganku untuk masuk ke dalam , namun aku menarik tanganku kembali .
"Maaf aku harus cepat. Bisa kah anda memberikan itu kepadaku? aku ingin menyembuhkan tanganku yang putus " kataku kepada si kakek patin .
"Untuk masalah lenganmu tak masalah . Aku akan memanggil buaya yang memakan tangan kananmu untuk mengembalikan tanganmu kembali ." Zoriath berjalan ke belakang dan membuka pintu gerbang . Awalnya aku pikir itu hanyalah pintu pemisah dunia fana dan dunia sebelah , namun ternyata di dalamnya terdapat sebuah kastil kecil yang di jepit oleh dua kepiting raksasa. Entah ini di dimensi apa , intinya kastil ini berukuran seperti rumah makan nasi Padang pada umumnya dan kepiting itu lebih besar.
Kastil ini memliki tiang marmer dan beberapa hiasan yang terbuat dari mutiara laut. Ada juga fondasi fondasi yang terbuat dari batu sungai dan batu laut , katanya batu laut bisa menangkal santet dan apapun yang berbau ilmu mematikan jarak jauh . Di atas kastil terdapat atap yang terbuat dari cangkang kerang dan beberapa hiasan dari cangkang kepiting. Aku bertanya tanya , bagaimana kah rasanya menjadi mereka ketika mereka tau bahwa atap itu terbuat dari kulit mereka? .
"Dari zaman sebelum munculnya Zeus di pantai selatan sana , aku sudah menjadi penasehat raja buaya ini . Awal mulanya ketika raja buaya bertarung dengan kaisar hiu yang bertahtakan Sura itu, semua eksistensi air asin dan tawar menjadi kacau . Kami terus berperang melawan para kawanan hiu itu yang sangat keras kepala akan wilayah makanan kami, setelah perjanjian damai baik di lakukan kami pun genjatan senjata sementara waktu." Zoriath menghentakkan Sula itu di depan pintu kastil dan terbukalah kedua pintu itu dengan perlahan .
"Oh iya, aku ingin menjamu mu sebentar untuk menikmati perpaduan sup rumput laut dan kerang air tawar. Sesudah itu barulah kau akan mewarisi perairan tawar, tetapi ada yang perlu kau ketahui lagi putra Kadita ." aku menunggu kalimat pentingnya di sini , dan aku benar-benar ingin mendengarkannya dengan teliti dan seksama . Aku harus jadi kuat dalam waktu dekat !.
"Ada waktunya tiba di mana saat kau akan mewarisi semua kesaktian Kadita , tetapi untuk dirimu yang ini belum lah bisa . Kau tahu? berapa banyak penderitaan hati dan fisik yang telah dilalui oleh Kadita , kau harus lebih kuat dan tegar dari ibumu . Ramalan yang ku lihat bukan lah ramalan bagus , semua Dewata tau ramalan itu . Sebuah ramalan di mana takdir Dewata ada di tangan kalian berdua ." Zoriath mengajak ku ke tempat hidangan , di sana sudah tersaji sangat banyak hidangan yang mantap mantap .
__ADS_1
Di paling pinggir meja ada sederetan cumi panggang dengan saos barbeque, di depannya terdapat sederet tumis rumput laut saus tiram lengkap dengan irisan bawang bombay merahnya . Di tengah meja terdapat piringan besar yang di atasnya tersaji kan lopster raksasa seukuran sapi jantan yang telah di panggang dengan matang sempurna , aroma butter dan irisan bawangnya masih tercium sedap memenuhi ruangan .
Jujur, aku ingin sekali menghabiskan seluruhnya . Hanya saja aku ingat bahwa semua teman temanku sedang bertarung mempertaruhkan nyawanya demi melanjutkan misi kami, dan aku tidak boleh seenak jidat menikmati hidangan super sedap ini .
"Maaf pak tua, aku harus kembali ke daratan untuk membantu temanku, apakah aku boleh kembali ke pembahasan awal?" tanya ku dengan sopan.
Zoriath memandangiku dengan tatapan heran "Hei anak muda, ayahmu adalah agen berdarah dingin . Siapapun yang menjadi hambatan misinya akan di singkirkan sekalipun itu temannya. Ibumu itu adalah Dewi yang perkasa lagi tirani , tak ada satu dedemit pun yang berani menentang perintahnya . Bahkan , ia pernah sekali kali mengancam Apolo menenggelamkan matahari ketika ia berduaan dengan ayahmu. Lalu, mengapa kamu memiliki hati yang lembut nian terhadap teman temanmu sedangkan mereka menjadi hambatanmu kelak di masa mendatang?" kata kata Zoriath membuat aku tertegun . Pantas saja kemanapun aku pergi , jika orang tau bahwa orang tuaku adalah agen Odin dan aku anaknya Kadita , mereka selalu menghindari diriku kecuali teman satu circle ku dan David .
"Aku tidak pernah merasa bahwa mereka adalah hambatan bagi jalanku.. dari mana kamu mengetahui hal yang bahkan itu tidak benar ?" aku berjalan ke depan Zoriath dan menatap lekat matanya .
"Jika tidak sekarang , maka aku akan mengambil dengan cara paksa !" ancam ku kepada Zoriath.
Zoriath menghela nafas dan menjentikkan jari, kemudian datang lah tiga ekor buaya dari luar kastil. Yang ditengah adalah buaya yang memakan lenganku.
Lenganku kembali, bahkan ada rasa energi yang lumayan bisa membuat aku lebih kuat dari sebelumnya. Aku juga bahkan bisa merasakan denyut nadi yang sangat-sangat kuat.
"Ninung, menyatulah dengan kulitnya " buaya yang satu lagi melahap pinggang ku dan ia melebur bersamaan dengan gigitannya. Awalnya kulitku terasa gatal, namun tak lama berikutnya tak ada hal-hal aneh yang ku rasakan .
"Michelle, Jadilah pendampingnya . Ingat, jangan membantah apapun kata kata dari Rio !" ujar Zoriath .
"Baik" aku terloncat kaget bahwa buaya itu bisa berbicara . Aku menoleh ke arah buaya yang satunya dan ia kini telah berwujud gadis yang masih ABG (anak baru gede) bahkan ia memakai pakaian sekolah SMA lengkap dengan tasnya .
__ADS_1
"Hallo tuan baruku, aku Michelle. Panggil saja Chelly atau Michel. Aku memberi hormat kepada tuanku" gadis itu membungkuk membuat belahan dadanya nampak jelas dari sela kerah baju seragamnya yang sengaja tidak di kancing .
"Ah, anu. Aku sudah punya spirit yang menemani saya , jadi.." aku sebenarnya ingin menolak , namun sang Zoriath menutup mulutku dengan tangannya .
"Kau butuh pengawal sekaligus stigma yang bagus . Jangan sampai kau mati di tengah perjalanan nanti, ingat itu baik baik!." sang Zoriath memberikan sula itu kepadaku dan ia mengangkat tangannya tinggi tinggi.
"Akhirnya aku pensiun !!! hahahaha..." tak lama setelahnya , ia berubah menjadi manusia biasa , namun masih memliki insang di lehernya . Kakinya mengayuh-ngayuh air seperti perenang handal .
"Coba lah kau pakai " katanya .
"Bagaimana ? aku tak tau" aku memutar-mutar sula ini sangat teliti , tetapi tak ada tanda tanda bahwa sula ini memliki tombol apapun untuk bisa ku kendalikan .
"Kau hanya perlu mencium pucuknya , lalu kau gosok gosok kan tanganmu ke gagangnya, maka ia akan menjadi manik mutiara air tawar. Tanda bahwa kau sudah mendapat pengakuan air dari air tawar." Zoriath pergi ke meja makan dan segera ia memakan apa yang ada di meja hidangan .
Aku pun melakukan apa yang ia suruh , dan akhirnya sula itu mengeluarkan cahaya yang sangat silau , bahkan seluruh kastil di sinari cahayanya . Sedetik setelahnya sinar itu mulai menyusut dan meredup menjadi cahaya remang remang di telapak tanganku. Dan sumber cahaya remang remang itu bukan lagi dari sula , tetapi dari sebuah manik mutiara yang berwarna biru ke abu abuan.
"Warna lautan , hijau kebiruan. Warna perairan tawar biru ke abu abuan . Ketika kau akan menyatukan dua kekuatan yang bertolak belakang , yaitu perairan tawar dan asin . Maka di situlah kau akan menemukan kekuatan sejatimu, bisa di bilang jika kau memang pantas untuk mendapatkan lebih dari apa yang seharusnya, kau akan sederajat dengan Dewata . Tetapi jika kau memang pantas ." si Zoriath kembali menyuap makanan yang ia santap tadi .
"Baiklah Zoriath, aku pergi . Oh iya boleh minta satu lagi ?"
Pertanyaanku sukses membuat Zoriath menengok ke arahku. "Apa itu?"
__ADS_1
Aku melirik hidangan yang ada di meja "Aku mau bungkus hidangannya" aku mengulas senyum yang sangat lebar .
***