Rio Ferdinand : Perang Internal

Rio Ferdinand : Perang Internal
Teriakan Sang Kunti


__ADS_3

Rio POV


Sepuluh menit sebelum aliansi.


Setelah mendapatkan apa yang aku mau, semua air tawar di sungai itu meliuk liuk. Arusnya masih deras namun tak seperti sebelumnya , aku kali ini bisa mengendalikannya . Ku coba konsentrasi dengan damai dan memfokuskan satu titik. Setelahnya aku membuat pusaran air di bawah kakiku dan memerintahkan pusaran itu agar mendorongku ke atas . Dan akhirnya apa yang aku lakukan di pondok berhasil di sini .


Aku sempat berfikir , air di sungai pondok juga tawar, tapi mengapa menurut kepadaku? apakah karna di area pondok itu adalah area gak paten Dewata ? ntahlah.


Pusaran air terus mendorongku ke atas hingga keluar dari dasar sungai, aku terus di bawa setinggi tingginya oleh pusaran air tersebut . Dari atas sini , aku melihat Zahra sedang di pojokan oleh empat orang lainnya sedangkan yang besar bertubuh sekeras batu itu sedang tertidur pulas di pinggir jalan .


"Cukup! jangan ada pertumpahan darah, aku akan menjelaskan tujuan kami datang ke wilayah ini " ucapku dengan tegas .


Mereka menoleh kepadaku dan mereka sama sekali tidak tercengang dengan penampakan ku yang sedang berdiri di atas pusaran air . Dari ekspresi datar tersebut aku bisa mengklaim bahwa mereka pasti sudah mendapat banyak pengalaman dalam hal hal ghaib .


"Ternyata kau pengendali air , anak siapa ? Poseidon ? Neptunus? Njord? Susanoo?" Si kaca mata menanyakan .


"Itu tak penting , yang penting sekarang kita harus membentuk aliansi terlebih dahulu . Karna pendeta ini benar benar adalah pendeta pemegang black Bible ." jelasku.


Mereka saling pandang .


"Pendeta apa? " tanya yang agak pendek .


"Jangan mau di tipu, dia akan menyerang kita ketika lemah" si tubuh gempal bersiaga hendak melawanku .


"Tidak brader , kalau dia mau menyerang kita seharusnya sudah dari tadi. Dia bisa saja mengundang seluruh air sungai untuk menyeret kita ke hulu ." kata si kaca mata .


"Baiklah , kami akan mendengarkan ." kata si pendek .


"Ok aku turun ." aku pun melompat ke jalan jembatan dan berjalan ke arah mereka .


"Kami sebenarnya dari pondok yang lain , kami memiliki misi untuk ke wilayah perbatasan antara Balikpapan dan Samarinda. Tujuan kami adalah samboja . Di sana ada kasus tentang sebuah tempat rumah makan yang mengambil jiwa kehidupan, sebagi gantinya mereka mendapatkan banyak uang dari pelanggan. " jelasku dengan detail.


"Lalu? apa hubungannya dengan pendeta black Bible ini?" tanya si kaca mata .

__ADS_1


"Kami tidak bisa melewati jalan menuju ke sana, setiap kami ingin melewati jalan di wilayah kilometer dua puluh empat, kami selalu saja masuk ke dalam dunia ilusi deluksi dan berakhir dengan kekalahan . Kami pun selalu kembali di awal kami memulai perjalanan." jelasku lagi .


Mereka saling memandang .


"Benar saja , sebenarnya yang kami incar itu adalah arwah yang melanggar aturan alam bawah dan kembali ke dunia ini . Ia mendapatkan keabadian dengan syarat harus mengabdi kepada black Bible dan terus menerus memberikan jiwa kepada black Bible. Jadi, apakah kita akan membentuk aliansi untuk sesaat?" si kaca mata mendekat ke arahku dan menjulurkan tangannya .


"Aku percaya dengan anak ini , karna di matanya tak ada sebuah kebohongan "


Aku membalas jabatan tangannya .


"Zahra, bisakah kamu menunjukkan ke mereka ? aku ingin pergi ke suatu tempat . " kataku ke Zahra .


"Siap! tentu aku bisa , ayo teman teman baru ! kita bersatu!" Zahra berteriak sambil melompat kegirangan .


"Kau ikut kami kan? " tanya si cebol.


"Nggak , ada tempat yang harus aku kunjungi . Sepertinya ada beberapa mahluk yang harus di hancurkan dengan mahluk yang terkurung di SMA sana " aku menunjuk arah SMA yang telah membelenggu sang Genderuwo.


"Baiklah , dari sini kita akan berpisah . Zahra , aku percayakan team dengan kecerdasan mu" setelah mengucap itu aku pergi meninggalkan mereka .


Aku merasa gelisah , hawa keberadaan Genderuwo semakin jelas seiring berpendeknya jarak ku dengan tempat itu . Aku berlari dengan kedua kaki yang masih bersemangat . Setelah lumayan lama aku berlari baru lah aku teringat dengan Sofia .


Ketika aku menyalakan telepati, aku sempat mendengar bahwa ia berteriak "Siapa kalian?"


Aku cekikikan , terkadang aku suka sekali melihat dia panik .


Tenang Sof, mereka sekutu . ujarku.


Kenapa lama sekali lost kontak? tanya Sofia


Maaf aku tak bisa ke sana , ada sesuatu yang harus ku lakukan .


Apa itu? tanya Sofia lagi

__ADS_1


Aku harus membebaskan Genderuwo itu, dia sedang menunggu orang yang bisa menyelamatkannya dari belenggu . Tunggu ya , tenang aja aku gak sendirian kok . Ada siluman buaya yang bersama ku . Bye spirit cantikku. setelahnya aku menutup sambungan yg telepati.u


Aku berlari dengan sangat kencang ke arah sekolah itu sampai sampai aku hampir saja terjatuh. Semakin dekat , semakin kerasa. Hingga akhirnya aku berada tepat di depan sekolah itu . Aku berhenti sejenak dan merasakan hawa keberadaan Genderuwo itu . Agak aneh , bahwa terdapat fakta kalau sekolah ini yang seharusnya menjadi tempat pendidikan malah menjadi tepat terbelenggunya sesosok mahluk Genderuwo. Siapakah yang tega membelenggu Genderuwo itu ?.


"Di sini kah tuan?" aku terhenyak dari lamunanku setelah mendengar pertanyaan dari pendampingku .


"Aku baru sadar kalau kau mengikuti ku ke sini dalam wujud buaya ?" aku melirik seekor buaya yang sedang merayap mendekatiku.


"Tidak juga, aku akan berubah "


Buaya itu perlahan lahan mulai berubah menjadi seorang gadis SMA yang memiliki tubuh padat sintal dengan rambut yang terurai.


"Chelly, kau siap?" tanyaku kepada Chelly .


Ia mengangguk sembari mengikat rambutnya.


Kami berjalan memasuki gerbang yang tak terkunci sama sekali . Ada banyak dedemit di sela sela pintu dan jendela. Ada juga dedemit yang sedang mengais-ngais tembok dan tanah , ada pula yang sedang teriak teriak karena kesakitan entah kenapa . Bahkan , ada dedemit yang mencakar cakar wajahnya sendiri .


Dari semua dedemit, aku terpaku dengan satu dedemit yang berada di dalam kelas . Dedemit itu seperti kuntil anak , hanya saja ia memakai pakaian kuning alih alih putih. Di dalam kelas , ia hanya tertunduk dan duduk tanpa bergerak sedikit pun . Rambutnya di biarkan terurai panjang menutupi seluruh wajahnya , benar benar khas kuntil anak .


UNTUK APA KALIAN KE SINI? sang kuntil anak berteriak dengan sangat keras dan melengking , membuat telingaku hampir bocor berdarah jika tidak dengan cepat aku menutup telingaku .


"Aku siluman buaya, penghuni sungai" Chelly mencoba menenangkan si Genderuwo.


JANGAN SENTUH DIA!!!


Sekali lagi ia berteriak dan gelombang suaranya kini bisa membuat kaca sekolah retak dan bahkan membuat kakiku lemas .


"Kita serang saja tuan?" tanya Chelly


"Tidak, kita akan bicara baik baik "


***

__ADS_1


__ADS_2