
Setelah mendengar laporan dari Nispati. Kadita memberanikan diri untuk mencari tau siapa sebenarnya pria itu. Karna penasaran, ia kemudian pergi ke permukaan dan menyamar lagi sebagai seorang gadis.
Kadita yang tadinya ingin mencarinya seharian walaupun sampai ke ujung kulon, tak di sangka-sangka malah bertemu lagi dengan si pria yang sedang meminum es kelapa langsung dari buahnya .
"Gak ku sangka , kamu mencariku lagi." pria itu berdiri dan melambaikan tangan .
"Sini , aku pesan dua kok" ia tersenyum.
Kadita agak was-was, tapi juga dia suka dengan sikap baik dari pria ini .
"Yakin?" Kadita duduk di samping pria itu dan langsung menyedot sedotan yang ada di kelapanya .
"Ngapain nanya kalo di seruput juga ?" pria itu kemudian duduk lagi dan kembali menghisap sedotan .
"Oh iya , boleh tau kenapa kamu penasaran sama aku?" pria itu tiba tiba bertanya dan membuat Kadita tersedak .
"Hah? nanya apa tadi,?" Kadita jadi linglung akibat salah tingkah.
"Lho, kurang jelas? ku bilang . Kamu buat apa penasaran sama aku? emang aku setampan itu ya ?" tanpa di sadari , saking salah tingkahnya Kadita membuat badai di tengah lautan sana . Dan membuat para nelayan kocar-kacir menaikkan jaring .
"Si... si.. siapa yang bilang kamu tampan hah?" nadanya agak teriak ,namun bersuara lembut .
"Aku lah . Kata ibuku , lelaki itu harus percaya diri ." pria itu menengok ke langit. "Walaupun dia sudah tidak ada." angin semilir membawa kesan yang kurang pas atas ucapan pria tersebut . Rambut pria itu terombang-ambing karna angin pantai .
Kadita tertegun karna melihat wajah asli dan tampan dari pria itu .
"Begitu kah? dari kapan?" Kadita menyedot sedotan dan menarik air kelapa ke mulutnya .
"Empat tahun yang lalu , ketika aku memulai misi pencarian buronan di wilayah Iran." pria itu menutup matanya.
"Ayahmu?" Kadita menyelidik .
"Kau mungkin tak akan percaya dengan yang ku katakan... tapi , tak apalah . Toh kita akan berpisah lagi"
Ada perasaan kecewa di dalam diri Kadita karna mendengar ucapan tersebut. Tetapi , sebagai seorang wanita ia sadar diri bahwa ia tidak berstatus apapun dengan pria ini .
"Lagi lagi di tinggal ya ..." bisik Kadita pelan.
"Apa tadi kamu bilang ?" pria itu mendekatkan wajahnya ke depan wajah Kadita .
Ketika Kadita mendongak, Wajah mereka hampir bersentuhan. Jarak hidung Kadita dengan hidung pria itu kurang dari satu senti, tatapan tajam mata pria itu menembus jauh ke dalam bola mata Kadita . Intens, dan mengintimidasi . Tetapi di samping itu , tatapan itu begitu hangat .
"Dekat banget ya .." Kadita tak sadar menggerakkan tangannya ke wajah pria itu dan mengelus pipinya .
"Iya , kamu tampan ." si pria yang baru pertama kali dapat perlakuan gitu , gelagapan dan hendak menarik wajahnya . Namun belum sempat ia tarik kembali wajah itu, wajahnya di tangkap Kadita .
Kadita mendekat ke sisi pria itu dan merapatkan tubuhnya .
"Boleh gak kamu tinggal sebentar ?" Kadita pun mencium bibir pria itu dengan lembut.
Ribuan tahun , bibir cerah itu berhasil di dapatkan oleh sang pria asing yang baru saja dia kenal . Ciuman pertama Kadita berhasil mendarat tepat di bibir tebal pria itu.
Karna tak tahu caranya , pria itu hanya diam dan merasakan gerakan bibir Kadita yang berkedut dan agak menyedot bibir bawahnya .
Kadita yang sadar telah di lihat banyak orang , segera setelahnya ia mengirim angin dan memasukkannya ke dalam otak mereka masing masing melalui telinga mereka dan membuat mereka tidak sadarkan diri .
Tangan kiri Kadita memeluk punggung keras pria itu . Tangan kanannya masih membelai pipi pria itu dengan lembut .
Kelembutan sikap Kadita membuat sang pria hanyut. Kali ini , muncul lah keberanian si pria itu untuk mendekap tubuh Kadita .
Kadita melepas bibirnya , benang air saliva mereka membentang di antara bibir mereka seolah olah itu adalah jembatan yang menghubungkan satu sama lain .
"Maaf , aku gak tau caranya memuaskan perempuan .." ada nada penyesalan dan merasa bersalah akibat fakumnya ciuman tadi .
"Tak apa , ini juga ciuman pertama ku kok dalam beberapa ribu tahun ." Kadita keceplosan.
"Jadi ... kamu.." pria itu agak kaget .
__ADS_1
Kadita sadar ,. bahwa ia saat ini adalah sang Dewi kehancuran dan kesengsaraan. Bahkan bisa dibilang , banyak yang menjauhi pantai karna adanya dirinya .
"Aku ... anu.." di saat ia ingin mencari alasan , pria itu menggenggam wajah Kadita dengan kedua tangannya dan menatapnya nanar.
"Jujur , kamu siapa ? jangan berbohong ," pria itu meyakinkan Kadita .
"Aku Kadita . Atau biasa di panggil NYI Roro kidul, Dewi kehancuran dan.." di saat ia ingin melanjutkan , pria itu mendekap erat tubuh Kadita .
"Maaf, namaku Brain Ferdinand Sinaga. Aku staf ahli penyelidikan PBB dan termasuk dalam anggota eksekutif di CIA. Juga termasuk agen dari Odin . Ayahku adalah Aeros."
Ketika mendengar penuturan itu , air mata Kadita turun dengan perlahan .
Ia bukannya terharu atau apa, tetapi ia sedih dan sangat terpukul karna seseorang yang di katakan oleh sang Sunan itu adalah anak dari seseorang yang dulu pernah ia cintai.
Ia membalas pelukan hangat Brain dengan tulus .
Benar kata Sunan. Akan ada orang yang datang dan menerimanya apa adanya tanpa memperdulikan status dan apa dirinya .
Badai yang tadi ia ciptakan secara tak sengaja di tengah lautan kini berhenti dan tergantikan dengan cuaca cerah hingga akhirnya para nelayan kembali melemparkan jaring mereka ke lautan .
Ikan-ikan di lautan turut bersenang atas nasib baik yang telah di temukan oleh Dewi mereka .
Langit, laut , angin dan pepohonan di tanah Jawa dan Bali sedang bersenang ria atas kebahagiaan pertama yang di dapatkan oleh sang Dewi yang telah lama mendambakan seorang pria yang tulus .
"Brain .. maukah kamu bertahan di sisiku walau sesaat?" bisik Kadita .
"Aneh ya, padahal baru kali ini aku bertemu denganmu. Tapi aku gak tau kenapa aku bisa jatuh hati . " balas brain .
Kadita tersenyum bahagia .
Ribuan tahun lamanya ia menahan siksaan batin . Mulai dari saat dia masih manusia fana , di khianati orang, saudara dan ibu tiri karna syirik akan kecantikannya. Peperangan yang melanda karna adanya dan kelahiran dirinya. Dia yang di khianati demi status , dia yang bertepuk sebelah tangan. Ketika mendapati pujaan hati, tapi orang itu tak menginginkan dirinya . Dirinya yang hanyut dalam kekuasaan namun tak ada kebahagiaan di dalam dirinya , selama ribuan tahun ia jalani dengan sabar . Dan sampai ia mendengar tutur kata sang Sunan, kini kembali ia menunggu, dan menunggu . Hingga akhirnya , di detik ini saat ini . Ia mendapatkan pria yang mencintainya dengan tulus. Namun tak ada kebahagiaan yang sempurna, karna di balik kebahagiaan pasti ada sisi pahitnya . Yaitu di mana ia jatuh hati kepada putra dari pria yang dulu telah ia cintai dan berakhir mengkhianati dirinya .
***
Hari hari sudah berlalu , Kadita tidak memerintah lautan . Tak ada badai atau pun iklim buruk di lautan . Karna ia kini melepaskan penat dan kesengsaraan yang ia alami selama ribuan tahun di permukaan bersama dengan pria yang kini di sampingnya . Mereka berjalan saling menggenggam tangan . Brain agak canggung , karna di umurnya yang keduapuluh satu tahun ini , dan sebelumnya ia baru pertama kali berjalan dengan seorang gadis tanpa dengan alasan misi . Hari demi hari , tiada yang ia kerjakan selain misi .
"Dek Brain belum punya pasangan .? cari pasangan gih... Kan ada banyak yang mau sama dek Brain?" begitulah ucapan tetangganya yang hampir setiap hari ia dengar .
Di zaman tahun 1990-an ini , sudah memang sewajarnya pria usia 18 tahun menikah . Tetapi , tidak untuk brain . Hari demi hari, ia mengerjakan misi dari CIA . Atau bahkan ada beberapa misi yang ia kerjakan dari sang Odin .
Ia juga pernah masuk kedalam pondok blasteran Demigod. Namun tepat di usianya yang ke enam belas, ia pergi keluar atas izin Odin . Karna otaknya yang encer , bahkan keahlian dan ketangkasannya yang hebat . Ia di beri penghargaan atas misi pertamanya dari Odin , yaitu sang penyintas dunia Dewata .
Karna ia adalah anak sang Dewa angin, tak heran kecepatannya selalu bersaing dengan anak anak Hermes yang adalah menjadi Dewa tercepat di Yunani . Bahkan , kecepatan pergerakannya sudah di atas angin untuk saat ini .
Pernah sekali kali , Thor ingin melihat aksinya dan mengintip ke dunia fana . Apa yang ia saksikan saat itu belum pernah ia lihat dalam ribuan tahun . Trakhir kali orang yang hebat memainkan pisau baru Jack the Ripper dan Professor Moriarty.
Pada saat itu, Thor menyaksikan sebuah adegan yang sulit untuk di lewatkan .
Brain , sedang di kepung oleh 5 orang . Di saat itu dia hanya punya Gunting kuku dan sebuah per tempat slot peluru . Ia buka bagian pisau buah yang ada di gunting kuku , sekali menghirup nafas, dan menghembuskannya . Dengan kecepatan di atas angin ia berhasil membunuh dua orang dengan pisau buah gunting kuku itu.
Ketiga orang yang panik menembakkan revolver mereka dengan membabi buta , hingga akhirnya peluru mereka habis . Brain membiarkan ketiga orang itu hidup dan kabur untuk melaporkan situasi.
Thor yang penasaran mengejar Brain dan bertanya .
"Brain , padahal hebat nian kamu memainkan pisau buah itu, mengapa kau biarkan mereka hidup?"
Brain hanya tersenyum
"Aku tidak membiarkan mereka hidup ." lalu berjalan dengan mengabaikan Thor yang masih plonga plongo.
Thor kemudian kembali ke TKP, dan ketika ia lihat, ketiga orang itu tak bernyawa akibat lubang di ulu hati mereka yang menganga dan menumpahkan banyak darah .
Mereka mati karna kehabisan darah .
"Brain , kamu mau buah delima ?" Kadita menawarkan .
"Hmm, mau kalo kamu yang ngasih .." Brain mencubit hidung Kadita .
__ADS_1
Kadita mendengus.
"Ngapain coba cubit hidung .? kan punyamu lebih mancung " Kadita menggigit mesra telinga kiri Brain .
"Adududuh.. emang gak boleh ya? " brain mendekatkan wajahnya ke wajah Kadita dan menatapnya .
"Kenapa? mau apa? " Kadita nyolot.
"Dasar, padahal Dewi samudra... masih aja kolot " karna malas berdebat, brain menoyor jidad Kadita .
"Paan sih? kenapa ? syirik? ya udah sini ikut aku jadi Dewa di laut" Kadita memeluk erat lengan brain .
"Wah wah, aku baru tau kalau Dewi yang berhasil seri adu kesaktian dengan Zeus malah jadi kaya anak anak gini?" tangan kanan Brain membelai ubun ubun Kadita .
"Biarin .. bwee, kan dia nyari gara gara" Kadita memeletkan lidah .
Pemandangan manis dan romantis ini , berlangsung hingga sekitar dua minggu. Sampai akhirnya , tiba waktunya untuk Brain melanjutkan misi .
Ketika di hari ia hendak bepergian ke kota Samarinda , Kadita datang dengan anggun dan membawa sebuah koper .
"Eits.. mau kemana ? aku ikut" Kadita memohon dengan wajah memelas .
"Lho , kan aku mau melanjutkan misi . Ini tentang ******* yang kabur dari Prancis dan bersembunyi di negeri ini . Aku mendapatkan kontak dari asistenku kalau dia berada di sana ." papar Brain .
"Hah? siapa ? asistenmu siapaa?" Kadita mulai melotot tajam.
"Namanya Shinta . dia agen berbakat dan .." sebelum Brain berhasil mengucapkan kalimat lanjutan , sebuah cuaca buruk dari pantai mulai menyebar ke bandara. Bahkan ada getaran gempa akibat guncangan lautan di dasar .
"Eh kenapa ini ...?" Brain melihat di sekelilingnya, seluruh manusia sedang panik .
Ketika ia melihat Kadita , ia baru sadar. Bahwa selama ini kekasihnya itu adalah seorang Dewi yang selalu cemburu .
"Iya deh kamu ikut." setelah mendengar itu , Kadita kembali tersenyum manis dan mendekap dada Brain .
Angin ribut yang di tengah lautan kini hilang , cuaca kembali cerah dan getaran gempa kembali tenang.
Repot ya punya pacar Dewi .
Sebenarnya Kadita mendengar keluhan itu di dalam hati Brain . Tapi , dia tau . Kalau keluhan itu tanda bahwa Brain sayang dengan dirinya .
Tiga hari setelah kejadian itu, mereka sudah mendapatkan tempat di Samarinda . Sebuah mini hotel yang bisa di bilang lumayan untuk mereka .
Awalnya , Brain benar benar lupa membawa kartu dan sertifikat palsunya kemana mana , yang biasanya ia pakai jika sewaktu waktu ada orang yang ingin di minta tanda riwayat hidup . Hanya saja , dengan jentikan jari dari Kadita , semua pelayan di sana hanya melayani dan tak ada yang bertanya apa apa.
"Gampang kan?" Kadita melengos memeriksa kamar kamar untuk mencari tempat yang sesuai keinginannya .
"Untung aja gak kamu hanyutkan mini hotel ini ke sungai Mahakam ." Brain merasa lega dan menghembuskan nafas .
"Sini Brain ..." Kadita memanggil Brain yang kemudian di turuti oleh Brain .
"Di sini aja gimana ? " Kadita memperlihatkan kamar yang bagus nian dan tepat di jendela kamar ada kebun bunga yang rimbun dengan bunganya .
"Gak bisa Kadita , jalur kaburnya sudah kalau ketahuan sama musuh . Soalnya di jendela ada..."
"Kamu lupa sama aku?" Kadita berkacak pinggang .
"Oh iya lupa , kamu kan Dewi ." Brain menaruh semua barang bawaan di atas kasur dan membanting tubuhnya ke atas kasur nan empuk .
Kadita ikut merebahkan diri di atas dada brain .
"Brain ... aku pengen punya anak .." Kadita menelusuri dada bidang brain dengan jari telunjuk nya .
"Aku masih dalam misi Kadita .. mana bisa..." sebelum selesai, Kadita menyambar bibir Brain .
Brain hanya bisa pasrah dan mengikuti alur permainan .
***
__ADS_1