
Aku baru tau kalau misi yang akan di hadapi itu bukan hanya sekedar misi membasmi monster . Misi yang kami terima kali ini adalah menyelidiki bagaimana asal muasal kekayaan suatu tempat di sekitar daerah samboja. Daerah yang terkenal berada di antara dua kota , yaitu Balikpapan dan Samarinda. Di daerah itu ada sebuah rumah makan yang baru berdiri . Lebih tepatnya , baru di renovasi dan di perbaharui menunya . Rumah makan itu lumayan besar, bahkan agak kebesaran, mengingat penduduk di situ tidak lebih banyak dari kota kanan dan kirinya. Dan sesuatu yang aneh bukan pada renovasinya, tetapi sumber penghasilan dan dampak negatif dari rumah makan itu.
Ketika kami baru datang di guild, awalnya kami ingin memilih misi memburu monster , namun nyatanya kami di suruh mencari informasi tentang sumber penghasilan dan kekuatan negatif di rumah makan tersebut. Jujur, aku tak tau kenapa kami di larikan ke misi ini.
"Baiklah, apakah ini dengan nona Berista ?" tanya si cewk bule penjaga guild.
"Ia benar, dan ini rekan yang akan aku bawa nanti." jawab Rista dengan melambaikan tangan ke arah kami semua .
"Hmmm.. untuk misi ini di isi dengan maksimal empat orang . Dan anggaran biaya misi sekitar lima ratus ribu perorang . Jika uang anggaran habis, maka salah satu dari kalian akan mengirimkan sinyal agar anggaran di tambah . Tetapi ingat, setiap sebelum meminta anggaran tambahan kalian harus melaporkan apa saja informasi yang
kalian dapatkan." Jelas si cewk bule.
"Baiklah guys, jadi siapa yang mau ikut?" tanya Rista ke kami .
"Hmmm..., mungkin ini saatnya kau memakai salah satu ciptaanku Ricky . Kau saja yang ikut, aku akan mensupport dari sini dengan Axel Drive ku." Justin mengedipkan mata ke Ricky .
"Ok , aku ikut." Ricky bersuara.
"Aku jelas ikut ." tentu, aku tak mau melewatkan kesempatan ini .
"Sarah, kamu ikut ya, aku gak mau cewk sendirian ." Rista menarik lengan Zahra .
"B..bbaiklah, aku ikut" Zahra menunduk malu, mungkin ini pertama kalinya ia menjalan misi? aku juga sih.
"Baiklah, untuk kapten regu ini adalah Berista . Untuk anggotanya , Sarah Az-Zahra, Rio Ferdinand, dan Ricky Dominic. " setelah cewek bule itu menuliskan sesuatu di selembar kertas , ia pun mencantumkan cap stempel di lembaran kertas tersebut.
"Untuk prosedurnya bisa di ambil di ruang Manager, persiapan kalian di berikan dalam waktu lima hari dari hari ini . Ingat! ini misi pertama kalian dan kalian hanya bertugas mengintai, jika ada masalah yang diluar dari kesepakatan klien dan berada di luar misi kalian , kalian harus menginformasikan ke pihak pondok dahulu dan menunggu tugas berikutnya . Paham?"
Kami semua mengangguk dan mengatakan "Paham" dengan serempak.
Aku hanya penasaran , yang di maksudnya klien itu siapa ya ? apakah ada manusia fana yang mengetahui hal-hal gaib tersebut? ataukah yang menjadi klien adalah Demigod yang merakyat ? aku tak tau .
"Misi pertama ya Yo?" untuk sekian lama , akhirnya aku mendengar kembali suara Sofia .
Iya, misi pertama ku . Dalam lima hari lagi aku berangkat .
"Wow, semangat ya, kalau begitu aku juga mau tidur . Biar nanti kalau ada apa-apa bisa bantu kamu. Bye"
Dan ia beneran pergi tidur .
"Ayo guys, kita refreshing dulu sebelum berangkat ke misi pertama kita .." Rista berjalan agak loncat loncat saking senangnya .
__ADS_1
"Apa benar karyamu sudah siap pakai?" ada nada cemas dari kata kata yang di ucapkan Ricky kepada Justin .
"Aku sudah membenarkannya tadi malam, sudah ku isi juga kekuatannya . Tolong di pakai ya, biar aku tau kekurangan dan kelebihannya nanti ." Justin menepuk bahu Ricky .
Kami pun pergi keluar dari guild bersama sama.
###
Lima hari , waktu yang lumayan untuk mengumpulkan prestasi akademik . Aku yang selalu paham materi dengan beberapa kali melihat jadi gampang kalau hanya sekedar belajar ilmu sejarah . Terkadang ada juga Coco menjelaskan teori teori dalam hal pengepungan dan penyergapan suatu komplotan , strategi menyelinap, dan tata cara organisir team . Dalam dua hari ini , aku sudah mendapatkan Exp sebanyak empat ratus . Per level up di butuhkan seribu Exp , untuk gold aku berhasil memperoleh sekitar dua ratus dua puluh gold. Yah, paling tidak aku berhasil tidak menjadi bujangan kere.
"Baiklah , cukup sampai di sini pelajarannya. Hari ini boleh pulang cepat ." Coco merapikan meja guru dan berjalan elegant keluar kelas.
Aku segera memasukkan tablet kedalam tas dan melirik jam di dinding .
"Zahra , bisa temani aku sebentar ?" aku berdiri seraya menyangkutkan tas selempang ku ke bahu.
"Apa itu?" Zahra juga sepertinya hendak merapikan mejanya terlebih dahulu.
"Ada sesuatu yang perlu ku uji coba , tentu bukan kau saja . Aku juga meminta Ricky dan Justin . Hanya saja , mereka kan tadi di jam kedua langsung masuk ekskul. Jadi aku katakan ke mereka kalau selesai ekskul langsung saja ke lapangan ." jelasku panjang lebar .
"Oh , ok. Uji coba apa emang?" Zahra sepertinya mulai penasaran dan mengangkat pantatnya dari kursinya.
Dalam keadaan seperti ini , aku merasakan beberapa pasang mata sedang melihat kami berdua berjalan . Dan spontan saja aku mencari sumber tatapan mata itu.
Mata ku tertuju ke sekelompok anak kelas sebelah yang tak jauh dari pintu kelas kami. Mereka seperti tak senang aku berada di kelas ini . Aku masih berjalan tetap bersisian dengan Zahra , namun tepat ketika aku dan Zahra berada di dekat pintu dan ingin melangkah keluar aku Sofia berseru kepadaku.
"Yo , awas di atas kepalamu ada tepung .!"
Spontan aku memeluk Zahra dan membawanya melompat mundur ke atas meja salah satu milik anak kelas ku. Tepat setelahnya , terdengar bunyi sebuah piringan besi berkelontangan di lantai beserta tepungnya.
"CK, Gagal lagi." Komplotan itu pergi tanpa merasa berdosa.
"Bangsat , mereka kah yang berbuat begitu?" Tanyaku ke Zahra .
Zahra yang panik langsung memasang mimik wajah ketakutan . Air di mukanya mengalir lancar hingga menetes ke lantai .
"Zahra , kamu gakpapa?" aku berusaha mengguncang guncangan tubuh Zahra , namun tak ada respon dari Zahra .
"ZAHRA!" mau tidak mau aku berteriak agar dia dengar .
"Gawat Yo, ayo kita ke lapangan . Justin dan yang lainnya dalam bahaya !"
__ADS_1
"Hah? apa?"
###
Ketika aku sampai di lapangan , Justin dan Ricky sudah tergeletak di sana . Aku melihat mereka babak belur dan tak berdaya , sedangkan di sekeliling mereka ada tujuh orang .
"Justin! Ricky!" aku berlari menuju mereka yang terkapar .
"Oi! siapa yang bolehin elu kemari ?" tepat ketika aku berlari mendekat, seorang anak campus yang berdiri di sekeliling Justin menendang dadaku. Aku terhempas ke tanah akibat momentum .
Aku bangkit dengan bersalto.
"Kalian yang lakuin? kenapa ?" tanyaku kepada mereka bertujuh , aku tau ini pembullyan, tetapi tidak sampai seperti ini .
"Heh, mereka berjanji sesuatu ke kami dan mereka tidak menepati itu. Apalagi, si Rista itu . Si pelacur yang sukanya main batang kelamin pria itu gak mau memberikan apa yang kami minta ." anak campus satu ini, sepertinya mereka yang mempunyai geng di depan kelasku tadi .
"Apa yang kalian maksud?" tanyaku lagi.
"Dengar , mereka berjanji untuk memberikan ku prototipe yang baru di selesaikan oleh Justin . Dan si Rista itu akan memberikan kepada kami uang anggaran misi sebanyak dua juta . Tapi kemana itu semua ?" anak kampus ini mendekat ke depan ku dan barulah jelas aku bisa mengukur kemampuannya .
Ku taksir, semua bisa ku ratakan.
Tinggi anak ini lumayan, dan bahkan lebih tinggi ketimbang diriku. Otot otot nya kebentuk dari balik baju kaos pondoknya , ada banyak bekas luka di bagian leher dan pipinya .
"Kau ! anak baru , mau gabung ? atau mau gua habisin kaya mereka?" ia kini berada tepat di hadapan ku.
"Cuih" aku meludahi wajahnya , dan dia pun segera memukul wajahku telak.
"Beraninya .." ia mengarahkan pandangan matanya ke komplotan nya sesaat, kemudian ke arahku . Dan mereka pun mengerti .
Mereka berjalan ke arahku lagi .Tiga orang ke arahku dan tiga yang lainnya menarik Justin dan Ricky berdiri .
"Hei, bro . Apa di sini gak ada undang undang penghakiman?" tanyaku kepada Zahra .
"Hanya berlaku untuk guru dan sekolah " jawab Zahra .
"Mau jadi jagoan?" salah satu dari ketiga orang ini sudah berada di depanku dan segera melayangkan tinjunya ke arahku , aku yang sudah mulai terbiasa dengan perkelahian sejak dua tahun lalu tidak kaget dengan serangan kejutannya itu. Ku tangkap tinjunya , meremasnya sejenak, lalu ku putar tangan dan ku banting dia ke tanah.
"Kroco kaya kalian lebih baik ngeteh sambil celup roti di pojokan kedai teh di sana." aku menyiapkan kuda kuda dan menerjang mereka tanpa aba aba.
***
__ADS_1