Rio Ferdinand : Perang Internal

Rio Ferdinand : Perang Internal
2vs3


__ADS_3

Aku pernah bermimpi, bermain pedang pedangan . Tapi pedang-pedangannya itu terbuat dari kardus . Dan di mimpi itu , aku menang .


Yang kenyataannya , dengan pedang asli. Aku kalah telak.


"Cuman segitu ya?" gelak tawa memenuhi kericuhan di atas tanah di tepi kali danau ini.


Aku menebak nebak , kapan kiranya aku di selamatkan oleh sesosok Dewi cantik dengan berpakaian ****. Mengatakan , "Karna walaupun kamu lemah namun dengan kegigihanmu melawan takdir, aku berikan kamu kekuatan untuk menumpas mereka!" alhasil aku menjadi manusia super seperti di film film.


Namun kenyataannya, itu hanya skenario film. Untuk yang sungguhan, itu tidak ada.


"Rio.. coba kamu gabung dengan ku." bisik Sofia .


Gabung ? emang bisa ? fusion kaya di dragon ball gitu kan?.


"Aku gak tau apa yang kamu maksud. Tapi aku menyatu dengan jiwamu. Jadi kamu bisa memakai mataku, kalau gerakan kita sinkron , aku bisa memberikan sedikit energi ku." pemikiran cemerlang wahai Sofia ku.


Kamu memang bisa di andalkan ya walaupun imut.


Dia diam.


Ok, gimana caranya?.


"Diam. Konsentrasi, rilekskan jiwamu supaya jiwaku masuk. Abaikan rasa sakit yang ada di tubuhmu. Pokoknya konsentrasi." ku turuti Kata Sofia .


"Hei hei... dia lagi bersemedi hahahaha.." entah suara siapa aku ingin mengindahkannya .


"Jangan terpengaruh, konsentrasi aja dengan penggabungannya ." tegur sofia.


Aku kembali berkonsentrasi. Sayup sayup aku dengar suara orng, namun sekarang aku sudah tidak mendengar mereka karna terlalu sibuk dengan konsentrasi untuk melemaskan jiwa ku.


Mula mula aku kosongkan pikiran, aku tulikan pendengaranku, aku buat urat sarafku rileks semampunya . Namun aku kuatkan pijakanku agar tidak mudah jatuh karna lemasnya tubuh bagian atas ku. Aku juga bisa merasakan, perlahan lahan pedang yang ada di tanganku mulai terjatuh . Tidak, lebih tepatnya pegangan ku mulai mengendur. Aku merasakan angin sepoi sepoi di rambutku.


Angin ini, angin yang bisa menyejukkan ku. Angin yang datang dari genangan air yang sangat besar. Seperti danau atau kali. Dan harumnya aroma pantai membuatku semakin tenang , dan mulai memikirkan hal hal menyenangkan.


"Terus seperti itu, aku masuk!" perintah Sofia .


Aku sudah merasakan bahwa pedang yang awalnya ku genggam sekarang sudah terjatuh. Lumayan lama sesi penggabungan . Mungkin ini karna permulaan.


"Buka matamu Yo." ketika aku membuka mataku , aku kaget .


Karna pemandangan pertama kali yang ku lihat bukan lah lawanku, tetapi langit.


Aku mulai mengedarkan pandangan .


Oh , aku terkapar.


Ada banyak darah bercucuran dari tubuhku.


Oh ternyata aku di siksa ya..


Setelah ku kembalikan pendengaran ku yang telah ku tulikan tadi , aku mendengar sorak sorai halayak yang mengejekku.


"Dasar, huuu... anak baru anak baru .."


Aku mulai menyadarkan seluruh sarafku dan mulai duduk.


Ku geleng geleng kan kepalaku yang terasa pusing . Ketika tanganku menyentuh telinga , aku merasakan air kental mengalir. Ya , itu darah ku.


Aku menarik nafas , dan menghembuskannya dengan kasar . Ku raih kembali pedangku dan kembali berdiri .


"Ku pikir kau sudah menyerah hahaha.." gelak tawa kembali memenuhi suasana latih tanding ku.


"Nyerah? tadi itu baru pemanasan ."


Dengan percaya diri aku berdiri. Dan kembali mengacungkan pedangku bahkan tanpa kuda kuda .


Para halayak kembali heran dan sedang menahan tawa .


"Ok ok biar ku buat kamu ke ruang kesehatan ya .." dengan jurus yang sama , dengan cepatnya ia ingin menyabet lurus ke wajahku.


Tetapi anehnya ,gerakannya melambat.


Sofia , inikah kekuatan matamu? tanyaku.


"Ya, sekarang singkron" titah Sofia.


Kemudian kami pun bersama sama melakukan gerakan memukul dengan tangan kiriku. Kami memukul dada Quelo.


Dbuk ... brak.. klotang ..


"Asuuuu...!!" teriaknya setelah tubuhnya dan pedangnya terhempas ke bumi.


Para halayak yang mungkin tidak melihat kejadiannya karna kecepatan gerakan kami berdua , hanya bisa ter-oh..


"Bwahaahaa... jadi gimana ? udah kalah kah sama anak baru ?" kali ini yang tertawa Steven.


"Brengsek.. apa apaan tadi , cuma kebetulan." Quelo kembali berdiri dan mengambil bilah pedang yang ia jatuh kan tadi .


"Kemari.." ajaknya yang tidak mungkin aku lakukan


"Oalah, udah kalah kah? baru sekali serang aku.." Aku berjalan santuy sambil memutar mutar pedangku .


"Kurang ajaar!" ia berlari dengan gesit seperti serangan pertama tadi .


Namun apalah daya , serangan gesit itu dengan mudah aku melihatnya karna meminjam mata Sofia .


Aku menghindar ke kanan , menendang kaki kanannya dari belakang sehingga dalam kecepatan dan keseimbangan yang lemah , ia terjatuh seperti seekor kuda yang ketendang batu bara .

__ADS_1


"Emng pernah ada kejadian kuda ketendang batu bara?" lagi lagi Sofia bertanya yang tidak perlu.


Itu perumpamaan aja Sofia, aku sudah buntu tentang perumpamaan .


"Sial!" umpat Quelo .


"Hahaha.. masa sama anak baru kalah ?" Steven memanas manasi anak itu . Entah mungkin ia ada dendam dengan Quelo .


"Ok ok, serius ." kali ini , ia memasang wajah serius dan berkuda kuda mantap.


"Percuma ." ledekku.


"Oh ya?" kemudian ia berlari ke arah kananku dan dengan cepat melompat ke atas ku . Ketika di udara, ia terbagi menjadi tiga . Tubuhnya terbagi menjadi tiga . Bentar bentar, tubuh nya terbagi menjadi tiga?


Ini ilusi?


"Bukan , dia membelah dirinya menjadi tiga . Kemungkinan itu hanya jurus berpedang bukan kekuatan aslinya . Lompat ke depan!" perintah Sofia .


"Hah?" tanpa berfikir cenat cenut, aku melompat ke depan dan tiarap di tanah. Alhasil gaya pedang belah tiga tadi gagal dan ia terjatuh tepat di bebatuan besar .


Orang orang di sekitar saling pandang . Dan akhirnya tertawa.


"Trik bodoh di kalahkan dengan gaya yang bodoh ..." gelak tawa lagi lagi bergema . Kali ini , mereka menertawakan Quelo.


"Saudaraku. Bagaimana kalau kita berdua lawan dia ?" salah seorang yang , mirip Quelo. Tidak , itu memang Quelo! tunggu dulu, kembar kah? pokoknya ia mendatangi Quelo dengan menepuk punggung Quelo .


"Ok, kalau begitu 2 vs 2. ayo ! cari temanmu!" tantang Quelo. Sepertinya dia sudah kapok dengan 1 vs 1.


"Biar kamu suruh begitu, aku gak ada teman..." jawabku sambil merentangkan tangan . Tanda memang tak ada temanku .


"Aku bantu " aku menoleh ke arah sumber suara . Yang ternyata David . Ya , dia adalah temanku ! David . Tapi tunggu dulu , ada yang berbeda.


Tubuhnya yang kurang lebih dari aku dulu kini berubah mantap hanya dalam satu hari.


Tubuh David kini menjadi lebih berotot dan lebih tinggi dari biasanya . (Atau memang diriku ini yang pendek )


Baju pondok yang ia kenakan terlihat sangat sempit dan kapan saja bisa robek dengan mudah .


"Hy Rio.. ku bantu 2 lawan 2, tidak .. sebaiknya aku harus mengatakan ini 3 lawan 2." David menepuk bahuku.


Kenapa bisa dia tau? apakah dia tau kalau aku dan Sofia sedang bersatu? . Tidak tidak, walaupun bersatu. Yg namanya bersatu tetap menjadi satu kan?


"Tapi Indonesia bersatu pada saat penjajahan menjadi banyak jumlahnya ..." untuk kesekian kalinya Sofia mengoreksi kata kataku.


"Kenapa bisa begitu?" tanyaku ke David .


" Karna pasif kekuatan mereka , bila mereka bersaudara kembar itu berada dalam team. Maka muncul lah kembaran ketiga ." aku terkejut dan hampir terloncat.


Dahulu , waktu aku masih bocah . Aku pernah dengar oleh seorang tetangga kakek kakek. Ia menceritakan bahwa ada saudara ghaib , yaitu saudara ketiga yang jika kembarannya bersisian.


"Oh seperti itu." aku menarik nafas lega.


"Ok, mulai ronde kedua. 2vs 3!" teriak Steven..


Benar saja , ketika mereka Adu tos , tiba tiba muncul lah sesosok lagi yang mirip dengan mereka. Yaitu kembaran ketiga .


"Yo, kecepatan mereka gak berkurang , kekuatan mereka juga gak berkurang ." David memperingatkan .


"Minotaurus aja ku kalahin , apalagi tikus tanah kaya mereka. " balasku sombong .


Ketiga kembar itu dengan cepat menyerbu ke arah kami. Namun tentu saja , gerakan mereka di mataku menjadi lambat .


Aku mundur sedikit untuk menghindari sayatan Quelo yang tengah , kemudian aku berputar ke kanan lagi untuk menghindari sabetan Quelo kanan. Setelah mereka saling tubruk karna pengaruh gravitasi, aku bersalto dan menghajar kepala Quelo dengan tumit ku. Satu Quelo tumbang .


"Awas kau!" Quelo di tengah dengan ganas dan membabi buta menyerang ku. Menyabet, menyayat, menebas, semuanya ia lakukan . serangan dari atas , dari bawah , bahkan dari samping ia lakukan .


"Kenapa sih kok bisa kau lihat ? hah!?" ia mengomel sendiri.


Ku lirik si David dengan mudah meninju wajah kembaran Quelo . Dan ketika di angkatnya kapaknya , tentu ia hantamkan mata kapak itu ke lengan kembaran Quelo. Maka terpotong lah tangan kanannya .


"Aaarggghh .." kembaran Quelo menjerit .


"Rio ! coba tes ke danau ." bisik Sofia .


"Danau ,? ngapain ? aku kurang mahir berenang ." aku8 menolak .


"Firasatku. Kekuatanmu bersumber dari air. Ayo coba dulu " bujuknya.


"Ok deh ." Aku meng iya kan bujukan Sofia.


"Quelo palsu , permisi " aku berlari menuju danau. Semua orang nampak bingung , mengapa aku berlari menuju danau .


"Whoi...sini !" Quelo palsu mengejarku .


"Tunggu , aku punya trik" aku melompat ke dalam danau. Ketika aku melompat, tentu aku lumayan panik, tapi yang ku ingin pastikan adalah. Apakah memang benar bahwa air sumber kekuatan ku?.


Mula mula aku berfikir bahwa aku berenang sesuai keinginanku . Setelah normal , dan tak terombang-ambing lagi. Aku memfokuskan, bahwa aku tak mau basah. Kemudian aku memusatkan seluruh kesadaranku untuk mengendalikan air. Mula mula ku gunakan untuk menyembuhkan ku.


Kemudian bergerak sesuai kemauanku. Dan akhirnya semua yang ku uji berhasil.


Kini tersisa tubuhku yang tak ingin basah.


Ketika aku melompat ke permukaan, aku di kejutkan dengan dua hal. Pertama , tubuhku tidak basah . Kedua , aku melihat David tumbang . Dan ku lihat Mereka bertiga ,(trio Quelo) sedang berdiri dalam bentuk tidak biasa.


Urat urat mereka semakin nampak, wajah mereka cemberut dan memiliki mata berwarna merah.


"Kali ini , kau yang kalah setelah David ." raung si Quelo asli.

__ADS_1


"Sini sini" tantang ku . Belum sempat aku bernafas, dua Quelo (dengan Quelo yg buntung ) sudah berada di depanku, dan mencoba untuk menyabet leherku .


Karna kesadaranku utuh , aku berkelit ke bawah dan menusukkan pedangku hingga tembus ke belakangnya. Kemudian ku dorong dia hingga bobotnya hampir jatuh. Di detik detik ia terjatuh, kutarik paksa lah pedangku. Erangan kesakitan tentu terdengar begitu kencang .


"Brengsek kau anak baru ..!!" kembaran Quelo (yang buntung ) menerjang dengan melompat dari atas. Yang satu lagi Ingin menyabet perutku.


Sofia. Bersama ! teriakku di dalam hati..


"Ok!" Sofia menurut .


Kami satukan jiwa kami lagi, kemudian dengan gerakan yang menyatu. Tangan kananku yang menggenggam erat pedang kuhantamkan ke bilah pedang kembaran Quelo (si buntung) yang menyerang ku dari atas. Sedangkan yang di depanku, aku menghindar sedikit dan memukul jakunnya, ketika tinju ku mengenai jakunnya , di saat itulah Sofia mentransfer daya kekuatan spiritnya. Sehingga membuat si Quelo palsu terpental hingga ke halayak, bahkan menghantam pohon ek. Untuk kembaran Quelo yang ini (sibuntung), karna kehilangan keseimbangan akibat serangan ku tadi, ia terjatuh dan tercebur kedalam danau.


Ku perintahkan air danau untuk membawa tubuh kembaran Quelo (si buntung) jauh ke dasar danau. Setelah paru parunya mulai terisi air, ku perintahkan lagi air danau untuk mementalkan kembaran Quelo ke depanku.


Tepat ketika tubuhnya (si buntung) tergeletak di depanku, aku menendang tubuh itu seperti layaknya bola. Dan akhirnya , pertandingan pun selesai .


Orang orang yang melihat , bahkan sampai tak bergeming dari tempat mereka. Karna kejadian nya begitu cepat untuk mata mereka, mereka masih belum berkedip sama sekali. Ada kemungkinan otak mereka mencerna apa yang bru saja terjadi pada ketiga demigod ini (termasuk si buntung).


"Bagus anak baru ..!" teriak Steven .


"Team medis . Ada 4 orang yang tak sadarkan diri" sambungnya .


Segera setelah itu datang lah sekitar enam tim medis, dua pria dan sisanya wanita .


Steven menepuk tangan untuk meng-apresiasikan kemenanganku.


Tak lama setelah itu Demigod yang lain juga menepuk tangan mereka.


Kini camp latihan penuh dengan suara tepuk tangan dari para Demigod itu .


Steven mendatangiku, kemudian ia menepuk bahuku .


"Selamat atas kemenanganmu" info yang tidak penting.


"Ya, aku tau kok kalau aku menang .." Namun di balik kebanggaanku, aku masih bingung. Aku ini anaknya siapa ?


Ya , memang pertanyaan perlu di koreksi. Aku ya pasti anaknya orang tuaku, tapi maksudku. Orang tuaku ini siapa?


Dewa Dewi air atau laut. Susano'o? Poseidon? Neptunus ? Njord ?.


"Apa melalui latih tanding tadi kamu sudah tau siapa orang tua Dewata mu ?" Steven memberikanku sebatang coklat .


"Terima kasih , seperti nya belum . Aku belum tau juga kekuatanku (aku berbohong) yah, mungkin nanti sewaktu saat." Aku menerima coklat itu , membukanya lalu memakannya .


"Oh iya , ku dengar . Kau dekat dengan Clarissa?" tiba tiba aku tersedak coklat setelah mendengar pertanyaan (atau mungkin pernyataan) bahwa aku dekat dengan Clarissa.


"Hah? uhuk,! nggak ! kan dia jadi pemanduku kemarin ." Jelasku sambil memukul mukul dadaku .


"Hahaha .. maaf maaf. oh iya , ngomong ngomong . Kau lihat kan cewek cantik yang aku temui waktu mengambilkanmu pedang ?." Aku punya firasat buruk bahwa ia mau curhat bucin.


"Ya.. aku lihat . Pacarmu ?" tanyaku frontal tanpa basa basi dan sangat jitu .


"Eh.. bukan! ya, banyak yang bilang sih kami cocok. Tapi bukan seperti itu. Aku di juluki Pangeran pedang , sementara dia pmPutri belati ."


Oh... begitu, jadi ceritanya dia bukan mau cerita bucin tapi menyombongkan dirinya dan si doi? hmm... orang orang pondok Demigod beragam ya ..


"Trus , emang kenapa kau tanyakan aku lihat atau gak? memangnya mau memastikan kalau aku ini buta atau gak?" selidikku sambil mengangkat alis kiri.


"Bukan begitu Rio.., jadi gini . Aku mau ngasih kamu les khusus berpedang supaya bisa ngalahin si putri belati ." cakapnya .


"Oh, emang anaknya siapa sih dia ?" tanyaku jengkel.


"Oh, dia putri Lu Bu , dan ibunya adalah Demigod Dewi Hestia ." Steven membuka kreker, lalu memakannya .


"Loh bukannya dalam sejarah , Lu Bu dan Guan yu itu berselisih dalam perang tiga negara ? kenapa kalian di bilang cocok?" tanyaku kepo. Agak sedikit syirik sih ..


"Entah lah, itukan orang tua kami. Masa iya kami juga seperti mereka ? harusnya berdamai dong." ia kembali menggigit kreker.


"Oh begitu .." aku mengangguk ngangguk damai , aku malas bercengkrama dengan dia lama lama . Namun juga, aku ingin belajar banyak cara berpedang .


"Oh iya , jika kamu sudah menetapkan siapa orang tua Dewata mu, kamu bakalan di anjurkan untuk memakai atau menciptakan jurus sendiri ." ia kembali mengunyah kreker .


"Oh , seperti yang di lakukan dua kembar itu ya?" aku memakan lagi coklatku.


"Kurang lebih, tapi beda . Kalau tadi skill pasif. Kalau ini jurus . Atau mungkin jutsu dalam penyebutan ninja, skill aktif kalau dalam game ." Jelasnya sambil mengunyah kembali krekernya yang kedua.


"Oalah, bisa di klaim dan buat sendiri ?" tanyaku antusias .


"Ya.. begitulah ." Steven melambai lambai kepada temannya . "Oh iya , aku deluan ya. Ada urusan nih gakpapa kan?" ia membuang bungkus kreker di jalan .


"Ya gkpp, hati hati ." Aku mempersilahkan.


Dan ia pun berlari menuju kekawanannya itu.


****


Lu Bu



Guan yu



Dewi Hestia


__ADS_1


__ADS_2