
"KENAPA KAU TIBA TIBA MENGHILANG GURU BAJING*NNNN!" aku berteriak di tengah lariku yang sangat sangat kencang bersamaan dengan David yang sudah kami bebaskan.
"DENGAR YO.. DIA ITU TIDAK BERWAJIB UNTUK MEMBANTU KITA SAMPAI TITIK INI.. INI PERMASALAHAN KITA SENDIRI..!!" balas David dengan teriakan yg setengah ngos-ngosan.
"AKU GAK BAKALAN SE EMOSI INI DAVID.! KALAU KITA GAK DI KEJAR KEJAR SAMA MINOTOURUS INI DASAR DAJJAAAAAAALLLLL" .
WAIT WAIT! sebelum aku melanjutkan seperti apa suasana hari ku pada malam hari yang gelap gulita dengan modal dua senter berbatrai soak, dan tengah di kejar kejar oleh seekor MINOTOURUS .., aku harus menceritakan dulu bagaimana bisa kami menemukan David temanku yang paling Bangs*t ini.
FLASHBACK :
"Jadi, sore ini kita lakukan ?" Aku bertanya kepada guru baru itu. Aku heran , setiap aku berbicara empat mata dengan dia , mengapa dia gak pernah mau melihat mataku.
"Ya ... , kalau bisa . Nanti aku bakalan menghapus ingatan satu sekolah tentang kami bolos di jam kedua, mari kita sama sama mencarinya di jam kedua ." ucapnya sambil memperbaiki prabotan yg terhamburan di ruang BK ."
"Boleh boleh, jadi.. kamu legenda? Dewa? Demigod? atau apa ?" aku tau aku tidak sopan. Tapi aku malas penasaran. Kalian tau kan rasanya penasaran itu seperti apa ?
"Aku dulu seorang legenda pahlawan Bali. Karna aku melakukan kontrak, jadi aku tidak betul betul mati . Hanya saja aku meninggalkan tubuhku yang fana dan berpindah ke sesuatu yang abadi . Kau sudah tau darah ichor ?" ia merapikan barang terakhir yg berantakan di meja BK .
"Ah tau. Darah keemasan yang di miliki oleh kaum abadi atau dewata." kataku.
"Nah tepat sekali. Seperti itulah maksudku " ia berjalan dan mengambil sapu ijuk dibelakang pintu.
"Hari ini juga kita harus bisa menemukannya . Harus.!" ujarnya sambil menyapu bagian lantai.
"Maaf, tapi malam ini aku mau jalan dengan pacarku. Apakah bisa di tunda jika gak dapat sampe sore?" tanyaku.
"Jadi kamu lebih mementingkan pacarmu ketimbang David ? dan kamu mementingkan pacarmu daripada keselamatan dunia ? bahkan kamu gak tau kan? seberapa dahsyatnya gejolak alam jika para Dewa Dewi saling berperang ?" ia kembali ke belakang pintu dan mengambil serok .
"Pikirkan itu baik baik." setelah ia serok bagian kotoran yang terkumpul. Ia pun pergi meninggalkanku di ruang BK .
"Anjiiii*Ng " aku menendang meja dan menjatuhkan vas bunga yang di ikuti dengan dirinya yang pecah kemana mana .
"Hayuuu... vas nya pecaah" goda Sofia .
"Gak urus.!" aku membuka pintu dan menutupnya dengan cara membanting .
Dengan perasaan gusar dan ntah kenapa aku malas sekali ke kelas, aku pun pergi ke Rooftop sekolah .
Ketika aku membuka pintu Rooftop. Ada beberapa siswa dan siswi yg juga disana sedang membolos dengan minum dan merokok. Aku yg lagi memiliki suasana hati yg gak enak, mendatangi mereka . Ku hajar mereka satu satu dan ku Jambak anak anak cewek.
"Apa apaan?" si ketua geng berdiri karna tidak terima perlakuanku yang tiba-tiba memukul wajahnya dan menjambak rambut wanitanya .
Ku tendang selangkangannya , ku tarik rambutnya dan ku banting dia ke lantai. Teman temannya yg lain ku hajar dengan membabi buta dan ada pula yang aku telanjangi.
"Pergi kalian bangs*t! sebelum ku telanjangi juga cewknya .!"
Aku masih terngiang ngiang ucapan si guru baru.
"Jadi lebih penting pacarmu ketimbang David?" dan khayalan itu muncul di wajah si ketua geng. Tanpa basa basi dan tak perduli dia siapa, aku hajar lagi wajahnya sampai benar benar hilang khayalan itu.
Ketika aku sadar, si ketua geng sudah pingsan tak sadarkan diri . Bahkan, ada banyak darah yg keluar dari hidung dan telinganya .
Teman temannya yang melihat itu spontan pergi terbirit-birit, para wanita teriak histeris dan pergi juga . Hanya satu wanita yang dari awal aku datang masih santai duduk di tepi rooftop.
"Heh... gak pergi juga ?" tanyaku setengah menantang .
"Buat apa ? kita gak kenal... aku gak ada urusan dengan kau, dan kau juga sebaliknya" ia menatap langit dengan rambut yang diterpa angin. Kilau matanya benar benar terlihat . Bulu matanya yg lentik mencerminkan kalau dia benar benar merawat wajahnya dan tidak sembrono . Dua kancing atas dadanya terbuka mempamerkan belahan dada .
"Ok.. aku abaikan .." ketika aku duduk, ia melemparkan sekaleng minuman soda , Greensand.
"Gak ada bir. Aku cuman punya itu." katanya sambil kembali menghisap rokok.
"Gkpp , thanks" aku buka segelnya dan ku teguk minuman itu hingga habis setengah kaleng .
" By the way . Arwah dia mengikutimu ya ."
Celetuknya tiba tiba .
Aku yang mendengar itu tiba tiba kesedak air soda.
"hah? "
"Arwah teman kakakku dulu. namanya Vriska. Dia meninggal di sini. Aku liat kok, aku memang indigo dari lahir, aku berani cerita gini karna yakin kalo kamu emng sadar klo lagi bersamanya" ucapnya disela-sela hisapan rokoknya .
"Lho.. jadi, namanya Vriska ? aku kasih nama dia Sofia" ucapku.
"Terserah, kan dia mau jadi pengikutmu. Jadi emang terserahmu" ia kembali menghisap rokoknya .
"Namamu siapa ?" tanyaku.
"Aku? Eka Berista . Panggil aja Rista ." ia menghembuskan asap rokoknya .
"Klo kamu ?" ia balik bertanya.
"Aku , Rio Ferdinand Sinaga. Panggil aja Rio ." ucapku.
"Oh.. Rio pacarnya kak Clara?"ucapnya .
"Lho kmu tau?" aku spontan menengok.
"Iya , kami satu team basket" ia kembali menghisap rokoknya .
"Oh.. gimana dia menurutmu?" aku membuka percakapan basa basi.
"Dia? sebenarnya menurutku gak cocok sama kamu , soalnya dia terampil dalam segala aspek. Dan dia mempunyai jiwa multi talenta " ucapannya memang benar walaupun agak menyakiti jiwa .
"Iya sih.."
"Tapi, dia bagus sama kamu. Kalian saling melengkapi. Kamu jadi tameng dan tombaknya , dia yg harusnya memberikan arahan kalau kamu kehilangan kendali seperti tadi. Karna dia sangat perfect klo masalah berfikir walaupun dalam keadaan panik." ia turun dari tepi rooftop dan duduk ke sampingku.
"Mau rokok? sisa dua lho.." ia menyodorkan kotak rokok.
"Gak , makasih. udah berhenti ."
__ADS_1
Ia ambil sebatang rokok, lalu menyulutnya .
"Udah berpaa lama sama kak Clara?" tanya nya kepo.
"Hmmm... lumayan. Udah berjalan setahun" jawabku.
"Wah bagus tuh, mau komitmen ya?" ia menitikkan abu rokok yg sudah terkumpul di ujung rokoknya .
"Ya pengennya begitu. Tapi gak tau dia mau apa gak nya" aku menatap langit.
"Oh iya, mau kemana ? Aku dengar kemarin pas latihan dia mau kencan sama kamu?" tanya nya .
"Aku juga gak tau, ta" aku merenung .
Kemudian ditengah renunganku, muncul ide baru.
"Oh iya ta. Kamu kan indigo. Tau Dewa Dewi dan monster?" tanyaku konyol.
"Ya , karna aku sering lihat monster. Berarti kalau monster aja ada, apalagi Dewa Dewi? " jawabnya .
"Mau kah kamu ikut denganku di jam pelajaran kedua ?" tanyaku.
"Cara bertanyamu kaya mau drama panggung eh ..." celetuknya dengan wajah yg menyatakan seolah olah aku ini menjijikan.
"Terserah.. intinya kamu mau gak ? " tanyaku lagi.
"Ya , mau. Emng kemana ? "
"Mencari seseorang ..."
***
"Apa ini ? kenapa kamu bawa warga sipil?" guru baru itu malah bertanya dengan nada seolah olah kami ini tentara yang hendak pergi berperang .
"Dia membantuku nanti. Udah , jadi gimana ? kita mulai dari mana ?" guru baru itu mendekati Rista .
"Kok wajahmu familliar. Di mana ya aku ketemu.." ia kembali berjalan ke depan kami sambil menopang dagu ..
"Iya muka ku pasaran emang. Ya udah kita mau kemana?"
Si guru baru berjalan bersisian denganku.
"Baik, kita mulai dari ... kantin." ia berjalan santai menuju lorong kantin.
"Apa ? gila ya.. kan logikanya kalo dia disekap disitu, pasti dia ..." sebelum aku berucap , dia sudah memotong.
"Sudah ditemukan?, justru itu yg membuat tempat kantin menjadi objek pertama kita ke sana. Lagi pula manusia fana tidak mungkin sadar kalau David disembunyikan di sana" ia membenari dasi. "Lagi pula , seluruh penduduk sekolah sini sudah dihapus ingatannya tentang David kecuali kau dan aku."
Itu masuk akal.
Belakangan ini aku sudah banyak menghadapi hal hal yg tidak stabil di kehidupan nyata . Paling tidak , logika yang di sampaikan guru baru itu lebih masuk di akal ketimbang seorang Demigod mengendarai sebuah pulau mengelilingi dunia karna gabut.
"Siapa yang kita cari ? " tanya Rista .
"Ingatan satu sekolah tentang dia sudah dihapus . Jadi gak bakalan ada yang ingat." Rista sepertinya cepat tanggap. Ia mengangguk-ngangguk tanda bahwa ia mengerti apa yang kuucapkan .
"Sudahi obrolan kalian. Kita memasuki lapisan dinding dimensi ."
Aku baru sadar, kalau masih ada system lapisan dinding dimensi .
"Ok, apa yg kita lakukan?" tanyaku.
"1,2,3 . Lompat kedalam!" entah kenapa aku reflek maju dan lompat kedalam portal itu. Rista juga spontan dan tak mengeluh .
"Tuh kan bener! itu dia !" guru baru itu berlari ke depan . Aku ikut berlari mengikutinya , Rista pun juga ikut mengekor .
"Lihat! itu dia .." tunjuknya.
Dari sela sela meja makan, terselip lah seorang yang kukenal. David , ia tergelatak dalam keadaan tak sadarkan diri dengan tubuhnya yang diikat dan dililit kawat setrum.
"Cepat lah !" teriak guru baru.
Aku dan Rista berlarian untuk segera mengambil David. Hanya saja ada banyak monster yg bermunculan di sekitar kami. Dan itu baru saja terjadi .
"Aku pikir kita pergi mencari , ketemu, setelah itu ambil dan bawa pulang ." kata Rista .
"Sejak kapan kehidupan anak indigo atau Demigod sedamai itu?" sahut guru baru.
"Ruarrgghhhh...." aku baru tau kalau Monster juga bisa berkomukasi.
"Mau kenalan?" tanyaku.
"Yang harus kau kenalkan itu tinjumu, bukan namamu." nasehat yang bijak dari sang guru baru.
"Ya udah ayo hajar .." Rista melompat dan menendang salah satu wajah Monster hingga monster itu terhuyung.
"Boleh juga cewk tuh..." si guru baru meneliti bagian belakang Rista dengan kaca matanya . (Yg aku heran , dari kapan si guru itu berkaca mata ?)
"Sofia , tolong ," pintaku
"Ok " ia keluar dari bagian leherku yang ada bekas ****** nya .
"Semuanya kah ?" ia bertanya dengan tekun .
"Klo kamu mau kita jadi rendang ? silahkan bermain satu satu dengan mereka ." aku menawarkan.
"Oh.. gitu, ya udah . Kan kalian juga yang jadi rendang ." dengan khidmat ia mendatangi satu persatu monster dengan mematahkan leher mereka. Tapi satu per satu.
"Baiklah.. , aku mau duduk tenang sembari melepas ikatannya ." aku mencoba melepas kawat listrik itu. Hanya saja ketika aku menyentuhnya , sengatan listrik menembus kulitku .
"Ini sendal jepit." guru baru melemparkanku sepasang sendal jepit. (Sekali lagi, aku tidak tau sejak kapan ia membawa sendal jepit)
"Sudah belum ? " Rista ternyata jago juga dalam bertarung . Buktinya dia berhasil menumbangkan monster monster berbentuk kadal itu.
__ADS_1
"Kau bertanya ke siapa ?" tanyaku.
"Menurutmu? " ia balik bertanya .
"Menurutku? ok kmu bertanya ke pak guru ." aku berusaha fokus untuk melepaskan ikatan kawat itu.
"Kok ke aku? gak ke Sofia ?" sahutnya (sekali lagi aku heran . Kenapa dia bisa tau nama Sofia ?)
"Kau kenal aku bang ? " Sofia pun ikutan bingung. Sambil mematahkan leher monster monster itu .
"Sumpah ! aku gak konsen bangs*t" dengan marahnya aku melompat setinggi tingginya dan menendang salah satu monster . Lalu aku mengeluarkan senjata bambu kuningku dan menikam mereka sambil berlarian dengan memakai sendal jepit.
"Bagus juga mekanikmu ternyata...," aku tau itu suara guru baru. Jadi aku tak perlu menoleh untuk melihat wajahnya .
"Waw.. Rio hebaaat " Sofia bertepuk tangan . Seolah olah aku ini seorang bayi berusia lima tahun yg baru bisa berjalan.
Dalam waktu lima menit, entah bagaimana aku berhasil menumbangkan separuh populasi monster tersebut.
"Hah... huh... hah.." aku ngos ngosan.
"Dasar preman pasar. Cara bertarung mu itu gak elegan." hujat si guru baru .
"Kau cuman diam aja anj!" sumpah aku kesal .
"Yo.. kita pergi," si guru baru itu membuka portal.
"Lho, gak di habisin dulu monster nya?" tanyaku
"Gak perlu . Gak ada guna gunanya juga kita hancurkan mereka semua ." beberapa dari mereka mulai menerjang lagi .
"Cepat lho ah!" Sofia menarik kerah bajuku kedalam portal. Ketika aku berkedip, sampai lah kami di depan pintu kantin.
"Mereka sudah mulai banyak berkeliaran disini." ucap guru baru .
"Malam ini , kamu harus ke pondok berasrama kami." ujarnya . Ia pun memperbaiki dasi yang sama sekali tidak berantakan .
"Tapi malam ini aku ada acara dengan pacarku.." protesku.
"David , harusnya kamu sudah bangun dari tadi" kata guru baru .
"Iya , maaf sudah merepotkan Anda. manager pondok" aku baru sadar kalau David sudah bertekuk lutut memberi hormat.
"Kalau begitu aku serahkan sisanya ke kamu ya ." guru baru itu berjalan ke lorong sekolah dan menghilang di belokan .
"David . Apa itu pondok berasrama?" tanyaku
"Itu tempatnya para demigod dan orang indigo tinggal. Agar mereka aman dari kejaran monster" jelas David , singkat namun mudah di mengerti.
"Oh iya by the way , siapa dia ?" David bertanya , sialnya dia menunjuk orangnya .
"Dia indigo . Lumayan jago dia bertarung. Namanya Rista . "
"Ayahku dari kecil didik aku begitu." ucapnya .
" Ayahmu silat?" tanyaku.
"Gak , cuman kuli bangunan." jawabnya .
Aku membayangkan seorang kuli bangunan. Namun dengan gaya kerjanya mirip seperti Jackie Chan.
"Oh iya kalian ku tinggal dulu ya.. please.. soalnya aku mau pergi sama Clara" aku melihat jam dinding dekat kelas ...
"Hah? jam setengah tiga ? kok cepet banget ?" aku kaget setengah mati. Aku janjinya siang jam 2 an .
"Kan kita berdua di rooftop lama ." Rista mengingatkan.
"Iya yah.. oh iya Vid. Habis aku jalan ya .. pleaees.." aku meminta mohon agar diizin kan .
"Naik apa ?" tanya David .
"Hah? maksud?"
"Kamu kan gak bisa naik motor. " dengan sakit hati dan setengah malu ( karna ia menyebut nya di depan Rista ) aku menginjak kakinya yang berbalut sepatu .
"Kamu manusia kan? tolong jaga hati sesaama manusia ya .. bye .." aku berlari karna sudah gak punya muka lagi di depan Rista .
Apa apaan? cowok jago tarung malah gak bisa naik motor? tapi emang sih kenyataan. Tapi ini karna trauma, bukan emng gak bisa ..
Di tengah tengah perjalanan menuju gerbang sekolah , aku kaget karna mendengar klakson dari motor Jupiter MX king. Dan aku tau itu siapa .
"Eh syang .. hehe.." aku cengar cengir karna kepergok gelisah.
"Lama banget sih.. nih pake ," Clara melempar helm ke aku.
"Tasmu Udah ku simpen di kamar ku. Ya udah ayo cepetan! " aku melihat sekeliling yg tengah memperhatikan kmi.
"Yah? kok bisa?" tanyaku heran.
"Iya tadi aku ke kelasmu trus kulihat ada tasmu . Ya udah aku pulang deluan baru jemput kamu cintaku..." aku hampir terbang melayang karna iya teriak dengan ucapan cintaku.
"Eeh.. iya deh iya maaf." aku langsung lengos naik ke motor.
"Maaf kenapa?" tanya nya .
"Gak tau . Lupakan ." motor pun di gas dan kmi berjalan menjauhi parkiran.
Kala itu , mungkin menjadi siang terakhir dan akan menjadi senja terakhir kmi.
***
(Berista )
__ADS_1