
Aku bangun pagi pagi sekali hari ini , karna setelah sekolah kami di perintahkan untuk mempersiapkan segala yang di butuhkan dalam misi pertama kami . Jujur saja , pelatihan ku sudah termasuk nilai plus karna sudah mengalahkan seorang bintang dan berhasil memperoleh kemenangan di Minggu kemarin . Harusnya malam ini akan di adakan lagi robek bendera , namun kami berempat tidak ikut karna kami akan menjalankan misi pertama kami .
Untuk pembimbing , harusnya jadwalnya adalah Coco . Namun karna memang Coco ada kepentingan lain yang jauh lebih penting , jadi kami hanya di bekali kalung kristal Rubi yang kalau di saat darurat kami menekan kalungnya maka kami akan teleport langsung ke pondok .
Untuk teori sebagian besar kami serahkan kepada Zahra . Penyerangan jarak dekat di ambil alih oleh Ricky, dan radar di ambil oleh Rista . Insting dan semua hal hal yang berbau pelacakan seperti pendengaran , penciuman , dan pendengaran semuanya di kuasai oleh Rista . Kalau aku? aku mengambil jatah tumpuan jarak menengah . Yaitu harus bisa mendominasi serangan dan juga pertahanan. Alih alih berkolaborasi dengan materi , petarung tipe jarak menengah harus bisa mengetahui cepat situasi. Sebenarnya pulang sekolah sih bisa saja aku merapikan barang barang ku , hanya saja ada sesuatu yang ingin aku lakukan ketika pulang sekolah . Jadi aku bangun pagi pagi buta sekali untuk merapikan barang barang ku . Tak banyak yang ku bawa, hanya beberapa lebar pakaian dan P3K. Untuk senjata, aku sudah mengkonfirmasikan ke guild bahwa senjata yang di berikan ibuku ini adalah senjata utamaku. Ketika aku di mintai untuk memberi nama, aku menamainya Gekiryu. Entah dari mana aku menamai itu , tapi yang pasti aku mendapat pemikiran itu seketika seperti sebuah wahyu.
Seusai membereskan perlengkapan dan merapikan rumah ku, aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan seperlunya.
Pasti kalian berpikiran kenapa aku tidak memerintahkan air untuk membersihkan tubuhku dan aku tinggal bersantai . Tidak semudah itu Ferguso! Memerintahkan air memerlukan stamina dan juga tenaga syaraf otak untuk mengendalikannya . Jika saja aku sudah memiliki nirdewa , aku pasti dengan santuy hanya memerintahkan mereka dan mereka yang melakukannya secara otomatis. Hanya saja untuk sukuran Demigod , memerintahkan air untuk menyembuhkan luka kecil saja aku sudah ngos-ngosan .
"Hey, aku keluar ya Yo" Sofia tiba tiba keluar dari leherku .
"Ngapain ?" tanya ku selagi aku melepaskan baju .
"Hm.. aku mau eksplorasi wilayah pondok . Kan kita gak tau bakalan menghadapi situasi apa dan bagaimana? jadinya aku mau tau jalan jalan kecil atau lika liku setiap jalan di pondok. Byeee.." Sofia pergi terbang keluar lewat jendela rumahku dan menghilang dari pandangan .
"Terserahlah.." aku meneruskan kegiatan mandi ku .
###
"Hei Yo , pagi sekali kamu ke kelas.." Zahra menyapaku ketika aku baru masuk kelas . Aku melihat dia sedang menyapu lantai kelas .
"Misi pertama , aku harus semangat !" aku merenggangkan tubuhku dan membunyikan beberapa tulang tubuhku .
"Aku agak khawatir kalau kita tinggal si Justin ke misi . Karna gak ada kamu yang lindungi dia kalau di bully lagi ." ujar Zahra .
"Iya juga ya .." aku menjadi khawatir kalau begini .
Untuk sekarang , ada kemungkinan Justin bisa selamat karna berita tentang aku mengalahkan si bos kakel kemarin itu cepat tersebar . Aku berjalan menuju kelas bos kakel dan ingin bertemu dengannya . Apa menurut kalian aku ini so jago ? apakah aku tidak boleh melindungi temanku dari ancaman orang orang seperti itu?.
"Hei , ada anak baru !" teriak salah seorang murid Demigod yang sedang nongkrong di tangga .
"Hahaha dia mau naik ke atas ternyata ." dan orang yang di sampingnya itu menghadang ku .
"Dengar, aku gak ada urusan dengan kalian . Tapi ku mohon menjauh ." tepat ketika aku menaiki satu anak tangga , aku di hadang oleh si bos kakel kemarin yang aku kalahkan . Di bagian telinga hingga kepala masih terlilit perban .
"Apa yang kau inginkan di sini ? aku tidak ingin memukulmu di tangga ini ." dengan posisi tangan bersedekap ia memandang rendah diriku .
"Hahahaha... apa apaan ini ? kenapa ada anak baru ke sini ?" suara tawa seorang gadis terdengar sangat memekakkan telinga ku.
"Jangan begitu sung bin . Dia sudah berhasil mengalahkan bos." sahut anak buahnya bos kakel yang sewaktu kemarin juga aku kalahkan .
Dan seketika semua mata tertuju kepada bos kakel, seolah olah mereka menginginkan pengakuan atau pembelaan dari sang bos .
"Hoki aja kemarin dia itu , aku hanya salahelihat gerakannya ." pandai sekali bos kakel ini berkelit .
"Aku hanya ingin memberi saran , jangan kau menyentuh lagi si Justin , atau nanti akibatnya bakalan lebih parah dari ini!. Ya sudah aku ke atas dulu ." aku pergi melewati mereka menuju lantai berikutnya .
Ada sesuatu yang harus aku tempelkan , yaitu beberapa mutiara yang ada di sekeliling arlogi jam ku. Kata ibuku, mutiara ini berfungsi untuk menyalurkan dan mencari sumber air kepadaku lewat arlogi ini . Sebenarnya aku ingin melakukannya ini ketika pulang sekolah , tetapi ya sudahlah mumpung ada waktu . Aku takut kalau-kalau di saat misi , aku bertarung di daerah yang sekelilingnya minim sumber air, maka dari itulah aku mencoba untuk menempelkan beberapa di tempat yang memang memiliki aliran air .
Dari yang ku lihat, setiap lantai memiliki kamar mandi dan toilet. Itu berarti pasti ada saluran air nya entah itu dari pipa atau selang . Aku ingin menempelkan mutiara ini ke kedua benda tersebut . Aku berjalan menelusuri lorong sembari memperhatikan sekeliling , kalau kalau ada sebuah aliran pipa air atau selang air . Agak lama memang aku mencari pipa dan selang air, sampai akhirnya aku melihat sebuah pipa paralon besar yang menyambung ke atas. Firasatku mengatakan bahwa di atas sana ada sebuah tampungan air yang cukup besar . Jadi aku memutuskan untuk menempelkan mutiara ini ke pipa paralon tadi .
"Apa yang kau lakukan di sini nak" suara wanita yang agak berat itu membuatku kaget bukan main .
Aku menoleh ke arah sumber suara .
"Oh buk Ji-sung toh . Aku kira siapa" aku kembali menempelkan mutiaraku .
"Kembali ke kelas mu! ini sudah jamnya masuk !" buk Ji-sung mengomel , namun tak ada kesan marah di wajahnya . Seolah olah ia seperti marah kepada gebetan yang gak mau belikan dia jajanan seblak.
__ADS_1
"Ok buk.." aku berjalan melewati Bu Ji-sung yang masih memperhatikan diriku . Aku tak tau masalah pribadi apa yang menimpanya sampai-sampai aku yang terkena imbasnya .
###
"Oi Rio ! cepetan , kamu gak siap-siap?" Rista meneriaki ku dari ujung kelas. Sepertinya dia belum berkemas kemas sedari tadi pagi .
"Aku sudah , kamu deluan aja " balasku yang kemudian aku kembali berkutat dengan catatan ku.
"Itu catatan apa Yo?" Ricky menghampiriku setelah ia merapikan mejanya, diikuti si Justin yang mengekor di belakangnya .
"Aku hanya menggambar rute aliran air , nanti aku beri tahu kalian . Jadi, kalian sudah siap siap?"
"Aku sudah tadi pagi , tinggal ganti baju saja , oh iya si Sarah gak mau siap siap? bukannya cewek banyak yang di bawa ya?" rentetan pertanyaan Ricky menang sangat mendalam.
"Eh , emang semua wanita ribet ? aku jarang memakai make up. Jadi , ya barang seperlunya saja . Kalau kalian? biasanya kan lelaki yang paling malas berkemas ." jawaban Zahra memang juga sedikit mengganggu telingaku.
"Jangan juga seperti itu Zahra , sebelum kalian bangun aku sudah berkemas ." aku berdiri dan merapikan meja ku .
"Ok lah, aku akan ikut mengantar kalian sampai gerbang ." si Justin entah bagaimana selagi ia memainkan PSP kesayangannya itu , ia menyimak obrolan kami dan menyambungnya .
"Ok baiklah , sampai ketemu di lapangan ." aku deluan keluar kelas .
Aku memang sedang melatih insting air ku agar aku bisa memliki penguasaan map petarungan . Biasanya, hal hal yang lebih menyulitkan adalah bagaimana caranya bertarung di depan umum tanpa harus membahayakan jiwa manusia fana . Apalagi mereka sama sekali tidak melihat apa yang kami lihat . Aku lebih iri kepada Kamen rider atau Super Sentai yang mereka bertarung di tempat umum tetapi manusia biasa tetap bisa melihat monster tanpa harus meyakinkan mereka bahwa yang di depan mereka itu adalah seekor monster .
Sambil jalan , aku menutup mataku . Aku berjalan dengan insting dari hembusan angin , udara , suara gemericik air dan suara manusia . Ku tajamkan segela Indra ku sebagaimana aku menajamkan seluruh Indra ku ketika aku menyatu dengan Sofia . Ada sekitar dua kali aku menabrak orang dan satu kali kesandung batu .
"Hei Rio ! kamu ngapain ?" suara Sofia bergema di benak ku.
Kamu di mana ? kok gak ada sama aku? tanyaku di dalam hati.
"Aku sedang keliling hutan . Sebentar, aku mau terbang tinggi dulu." katanya .
"Aneh , cari kamu lah!" jawabnya ketus .
Lah, bukannya bisa dengan ku sebut namamu? tanyaku lagi
"Oh iya ya, hehehe.. gak kepikiran . Ya udah panggil!" Sofia cengengesan.
Sofia!
Dan masuk lah dia kedalam benak ku.
"Gitu kek.." ia masih cekikikan di selingi cengengesan.
"Norak" umpatku.
"Kamu gak mau pergi? bukannya ini misi pertama mu?" Sofia seenak jidat menghakimi perbuatan orang lain .
"Bagaimana sih konsep dari pemikiranmu itu ? kok bisa kamu mikir ke situ?" tanyaku selidik sembari aku memutar kunci rumahku . (Karena aku sudah sampai di rumah )
"Kamu dari tadi kemana aja?" tanyaku penasaran .
"Ih kepooo, kenapa emangnya ?" goda nya
"Gak papa kan aku cuman nanya , emang gak boleh?"
"Cuman keliling aja majikanku sayaaaaaanggg, gak akan kok aku nyari majikan yang lain " andai dia di sampingku , entah apa yang ia lakukan .
"Ya sudah aku mau bawa tas perlengkapan ku." aku bergegas ke kamar dan mengambil semua tas tas ku yang isinya adalah kebanyakan bahan yang aku perlukan di saat tidak ada air.
__ADS_1
Aku keluar rumah dengan membawa dua tas , satu besar dan satu kecil . Tas yang kecil isinya hanya baju dan celana ganti, sedangkan yang besar adalah perlengkapan kemah.
Saat aku bertemu di lapangan , hanya tersisa Zahra yang belum ada . Di sana sudah ada Justin yang melambai lambaikan kedua tangannya , Ricky dengan kopernya (sebenarnya itu adalah koper milik Rista , tapi Rista menyuruh Ricky untuk membawakannya) dan tas gunung di punggungnya , si Rista dengan tas kecilnya yang ia sangkutkan di bahunya.
"Kak Sofia ikut ya?" celetuk Rista .
"Ya, harus . Karna aku masih butuh dia " jawabku .
"Sofia siapa ?" Ricky masih belum tau bahwa aku mempunyai seorang spirit yang mengontrak denganku .
"Spirit. Ada seorang spirit yang ngontrak dengan ku." kata ku.
Tak lama kemudian aku mendengar bisikan "Setidaknya di dunia ini" di telingaku.
Spontan aku melihat sekelilingku. Aku terkejut bukan karna suaranya yang menakutkan , tapi suara itu persis dengan suaraku.
"Maaf aku lambat , aku tadi ke WC sebentar " Zahra datang juga dengan menyeret koper . Entah kenapa cewek cewek suka memakai koper.
"Baiklah, sudah berkumpul semua .." aku kaget, tidak! bahkan semua orang yang ada di sini kaget ketika melihat pak Untung Suropati tiba tiba berada di tengah tengah kami .
"Sekarang waktunya aku untuk membuka kan gerbang "
Agak jauh di daerah timur sana , aku melihat dan mendengar suara pintu besar gerbang di buka. Pintu gerbangnya lumayan besar dengan tinggi sekitar enam meter dan lebar tiga meter kali dua . Sepertinya gerbang itu di desaign untuk bisa di masukin oleh segala ras . Para penjaganya masih siap siaga di setiap di samping tiang gerbang . Di atas gerbang pun juga ada dua pos kanan kiri untuk memantau dari kejauhan .
"Baiklah , silahkan lewat . Dan ini lokasi yang harus kalian tujui." pak Untung Suropati memberikan sebuah mini map versi tablet guna kami mencari lokasinya . Kami pun di berikan radio WiFi agar bisa saling berkomunikasi. Mengapa kami tidak membawa smartphone atau handphone seluler? karna monster dan segala mahluk gaib terlalu sensitif dengan dua benda tersebut. Jika kami makai dua benda itu, kami akan terlacak oleh insting mereka di karenakan radiasi yang kami pancarkan akan menyatu ke radiasi seluler dan berujung ke sinyal tower. Ibaratnya sama saja kami mengumumkan "Hallo monster nan manis dan unyu , kami di sini sedang menunggu kalian lho.."
"Teman teman , hati hati. Kembali lah hidup hidup ." Justin memeluk kami satu persatu di mulai dari Ricky dan di akhiri dengan aku.
"Aku ingin membuat kau semakin terkejut dengan iron suit ku Rio . Jadi kembalilah hidup hidup ya!" ia menepuk dadaku dan memelukku erat .
"Terima kasih" kataku.
Tak lama kemudian aku mendengar seseorang meneriaki ku dari jauh . Aku tau dan aku hafal benar siapa orang itu . Dia adalah sahabatku dari kecil , David .
"Rioo!! tangkap!" David melempar sebuah kalung berliontin bentuk kapak . Aku menangkap kalung itu di udara.
"Apa ini?" teriakku .
"Pakai kalung nya! Aku pasti akan datang di saat saat yang genting !" teriaknya dari jauh . Entah mengapa dia seperti habis lari ngos ngosan dan berhenti agak jauh dariku.
"Terima kasih!" teriakku sambil melambai ke arah David .
"Wow , kau kenal David ?" tanya Ricky .
"Ya aku kenal, kenapa memangnya?" jawabku sekaligus aku menanyakan pertanyaannya.
"Hei, kau memliki pelindung yang kuat? David itu adalah pelindung terkuat nomer enam !" kali ini si Zahra yang kaget.
Aku tertegun dan berdiam diri . Kemudian aku berbalik ke arah David .
"Sofia , kamu bisa menajamkan pandanganku ke arah David ?" pintaku ke Sofia .
"Bisa " Sofia memasuki saraf mataku dan pandanganku pun mulai terfokus dan di zoom kan ke arah David . Di sekeliling tubuh David terdapat sayatan pedang , dan ritme pedangnya seperti tidak asing bagiku. Entah kenapa aku seperti melihat gaya pedang sang ahli namun aku bisa menirunya . Dan dalaman sayatan pedang itu aku sangat tau bahwa itu persis seperti pedang yang ibu ku kasih , Gekiryu.
"Hei! apalagi yang kau lihat!?" tanpa ku sadari pintu gerbang mulai tertutup ketika aku mendengar suara teriakan dari Zahra .
Aku pun segera menyusul teman temanku dan bergabung dengan mereka .
Aku hanya merasakan ada sesosok orang yang persis sepertiku
__ADS_1
***