
Biar ku beritahu ke kalian seperti apa Dewata yang ada di singgasana .
Pertama , Odin . Dia memakai kaca mata bulat hitam dan memakai pakaian tidur. Piyama bermotif burung hantu. Dengan burung hantu asli yang ada di pundaknya.
Sedangkan Ares , ia memakai jaket kulit mahal dan memakai baju denim . Celananya tidak terlalu terlihat .
Untuk Apollo , ia memakai baju seperti baju bangsawan Inggris era 70 an lengkap degan serbet putih di kerahnya .
Athena memang cantik kurasa , ia memakai pakaian simple , yaitu hanya memakai gaun blouse biru muda dan rambutnya yang di gerai begitu indah dan lurus.
Di samping Athena , ada sang Dewa tampan Arjuna . Ia memakai baju kaos anime one piece dengan jaket Levis dan memakai celana Levis pula . Di sampingnya terdapat Dewa Indra , sepertinya ia hanya melilitkan selimut tidur di tubuhnya .
"Rio .! langsung ke bawah. Lewat kanan ya , jangan sampe mereka lihat ." Steven memberi instruksi.
"Ok " aku melesat maju dengan berlari sekuat tenaga . Tapi di saat dekat dengan jurang , aku memelankan jalan ku agar tak terdengar musuh . Karna jalanan di tanah di penuhi dengan dedaunan kering yang berguguran .
Aku mendengar sorak sorai para Demigod di atas , nampaknya kedua kubu sudah saling baku hajar .
Tugasku hanya melihat keadaan di dekat tebing . Jika tebing aman , aku harus merayap untuk mencuri bendera dan merobeknya . Hanya saja , bagian tersulitnya jika rencana A tidak mulus. Itu berarti aku harus kembali ke atas untuk masuk kedalam tong besar, lalu tong itu akan di lontarkan oleh ketapel raksasa.
Andai ada hp pasti lancar .
Ketika aku sudah di dasar , aku mendengar langkah kaki berat dan banyak di dekatku . Aku bersembunyi di dekat akar pohon yang amat besar di kiriku.
"Cepat ! jangan membuat nona Belati menunggu lama . Kita sergap tengah .!" ujar yang memimpin pasukan.
"Ha!" sahut sekompi.
Ini pertanda buruk, jika yang di bawa segini . Kemana yg lainnya ? apa ada siasat baru ? . Menurut perhitungan Steven , bagian kanan akan lebih banyak . Karna mereka pasti suka melakukan serangan kejut yang bar-bar . Hanya saja ini bukan yang seperti di maksud Steven , ini bukan serangan kejut bar-bar.
Ku hitung semuanya berjumlah selusin . Peserta yang ikut ada ratusan . Kemana puluhan sisanya ?
Ku tarik pedangku, dan aku bersiap untuk menerjang .
"Tunggu Rio! . Tugasmu itu mengambil bendera !" tegur sofia .
"Tapi kalau mereka gak di jegat... bakalan repot bagian tengah ." jawabku .
"Ingat ! kalau gak ada yang mencuri bendera , itu sama saja gak akan menang ." Sofia memperingatkan.
"Baiklah ."
Aku fokuskan seluruh Indra ku. Ku tajamkan pendengaran ku ke atas . Masih belum ada aba aba untuk aku mundur dan menjalani rancana b .
Tapi setelah nya , aku mendengar lagi bahwa sempat hening sejenak. Lalu teriak sorak sorai musuh lebih ramai.
Kalah kah?
Tapi jika kalah, gak ada teriakan instruksi dari Steven agar aku mundur. Kalau begitu aku harus tetap maju .
Ku ikuti instingku untuk tetap terus maju, kulihat lagi ke atas , ada banyak Demigod di pihak langit berjatuhan . Tapi bukan berarti di pihak bumi tidak ada . Hanya saja , jumlah langit lebih banyak ketimbang bumi .
Kembali aku menelusuri jalan , aku melihat ke kanan dan kekiri . Ada ular hijau, ular hitam . Dan bahkan ada beberapa serigala ungu sedang memanjakan dirinya di seberang sungai sana .
Tunggu dulu , sungai? .
Aku menelaah dengan seksama jalur hilir sungai itu. Patokan strategi ada di sungai, berarti aku sudah dekat dengan markas musuh. Ku ikuti aliran sungai. Agar tidak terlalu berisik, aku berusaha berjinjit dan melangkah dengan lebar . Perlahan tapi pasti, aku melangkah menyeberangi sungai . Untung aku fokuskan diriku yang tak ingin basah karna air , jadi sepatu ku tidak basah karna aliran air sungai .
Setelah menyeberang sungai, dan aku menyusuri hutan ilalang. Aku menemukan sebuah gua yang di kelilingi oleh lereng bukit. Ku lirik di sekitar sini , aku tidak menemukan jejak seorang manusia pun . Terlebih lagi , aku tidak tau kapan nantinya pasukan khusus si Steven datang .
Dalam sorak sorai di bukit atas , aku mendengar suara telak kekalahan dari pihak kubu kami . Namun aku masih hafal beberapa suara dari segelintir Demigod yang masih berjuang . Walupun ini hanya latihan tempur, tapi ini agak berlebihan .
Aku kembali berjalan berjinjit, namun acara jalan jinjit ku kini berhenti akibat pemikiran dan instingku yang tiba-tiba merasakan kehadiran yang tiba-tiba saja muncul di dekat ku . Aku spontan tiarap .
"Aku tau kau di situ , anak baru " aku sungguh terkejut ketika ada panah menghujani daerah tiarap ku. Sebatang anak panah telah sukses menancap di helm tempurku dengan sangat cantik. Aku pun membuang helm tempur itu .
Aku kenal suaranya, itu si Putri belati . Aku menghindari hujan panah itu lagi dengan cara menggelinding ke samping, namun hal itu agak percuma karna ada sebatang yang menancap di paha atas ku.
"Sialan.." bisikku sambil menahan rasa sakit . Aku cabut panah itu dengan paksa , dan ternyata malah memperparah cederaku, sedikit dagingku ikut terangkat .
"Brengsek " aku mengumpat .
"Semuanya , cari yang lain . Gak mungkin dia nyerang sendiri." Teriak si putri belati .
"Baik !" akhirnya para kekawanan yang tadi menembakku dengan panah mulai menuruni dari lereng gua dan mulai memeriksa sekeliling .
Aku berusaha berdiri .
"Kenapa kamu ke sini ? mau ngincar ini ?" si putri belati memperlihatkan bendara Belanda .
"Yah.. mau apa lagi?" aku benar benar berusaha berdiri . Karna setiap gerakan yang di buat oleh otot kakiku sangat nyeri .
"Ok ," ia melompat dan berdiri tepat di depanku . Lalu di kaitkan batang bendera itu ke punggungnya.
"Sekarang , ambil ." Ia mengeluarkan belati . Belati ini agak panjang dan lebar , kemungkinan ini memang khusus untuk manusia .
"Ok ," aku keluarkan pedangku dari sarungnya . "Anak baru versus bintang , terlebih lagi anak barunya agak cacat sekarang ."
__ADS_1
Ia terkekeh.
"Sini maju" sang putri belati sangat meremehkan mc kalian ini kayaknya .
Dengan langkah yang pincang aku berjalan mendekatinya . Ku hunuskan pedangku kedepan wajahnya .
"Mari adu mekanik!" tantangku , yang langsung ku sabet wajahnya .
Iya lumayan kaget akibat kecepatan ku dan terlambat untuk menghindar .
Kini pipinya yang tadinya mulus sudah ada goresan serta darah segar yang mengalir dari darahnya .
"Hah! kena kan?" teriakku dengan bangga .
"Hoho.. terlalu bangga buat mu dek!" aku tidak melihat pergerakannya , tiba tiba saja ia berada di depanku . Tepat di depanku , sangat dekat . Ia menyabet lenganku membuat uratku yang ada di situ putus .
"Aaakhh" aku berteriak kesakitan . Jelas memang sangat sakit . Aku bahkan sama sekali tidak tau rasanya urat di potong seperti apa .
"Lemah!" setelah menghinaku, ia tendang perutku degan sepatu hak nya . Pas dengan paku yang ada di bagian tumit sepatu itu. Hal itu membuat aku lemas dan terlempar jauh . Akibat tendangan yang telak di perut itu, aku memuntahkan kopi luwak yang ku minum tadi dengan Steven .
"Adu mekanik? kau bahkan tak sehebat yang ku kira . Bisa bisanya si kembar kalah denganmu" ia menendang bokong ku sehingga aku tergelinding kedepan . Bahkan wajahku belepotan dengan apa yang aku muntahkan tadi .
"Ew.. jibang (jiji banget) liat muka lu!" hina nya , setelah menjambak rambutku dan menggoreskan belatinya di jidatku. Kembali aku berteriak kesakitan .
"Mending cuci muka sana !" ia melemparku ke sungai . Bayangkan, seorang gadis melempar diriku yang pria ke sungai yang jaraknya sekitar sepuluh meter .
Aku sungguh berterima kasih kepadanya , karna aku terhempas ke sungai. Aku merasakan aliran sungai berkumpul di dekatku. Tak hanya itu, setiap buih buih air yang mengalir menutup lukaku, bahkan uratku yang putus bisa di sambungkan lagi. Namun regenerasi ini membutuhkan waktu yang lama. Sekitar tiga menit, dan aku baru pulih dari luka jidad. Aku tetap tak menggerakkan tubuhku. Biarlah sang putri berleha leha , mungkin ia sudah mengira aku kalah telak .
"Rio . Lakukan penyatuan .! aku gak tahan liat kamu di hina begitu !" aku sungguh berterima kasih kepada author yang sudah memberikanku tokoh support secantik dan sebaik Sofia .
"Bentar . Uratku belum sempurna di sambungkan ." Aku masih dalam posisi tiarap. Tenagaku sekarang mulai pulih , dan aku tinggal menunggu uratku kembali tersambung .
"Lho lho , sudah selesai kah ? " aku mendengar suara pedas dari sang putri belati .
Entah kenapa Suaranya bikin aku merinding .
"Ayolah berdiri . Kan kamu anak baru yang songong ! liat tuh , di liatin sama para Dewata . Gak malu apa kalah sama cewk?" Ia menginjak punggung ku , di tekan dan di putar putarnya paku sepatu haknya .
Sakit anj.
"Yo.. lakukan penyatuan ! cepat !" Sofia sudah memaksaku .
Tunggu sebentar, sedikit lagi.
"Rio.!! " aku mendengar suara si kembar . Setelah aku mendengar itu, si putri belati mengangkat kakinya dan bersalto untuk menghindari anak panah yang di bidik oleh bawahan Quelo .
"Ngapain kamu nyungsep. Sini berdiri .!" ia membantuku berdiri dengan menarik tanganku .
"Terima kasih , uratku tadi di potong ..." aku merasakan uratku belum sepenuhnya tersambung .
"Ya sudah , tukar tempat dengan Steven . Kamu mundur dulu ke basecamp untuk di sembuhkan . " P
perintah Quelo .
"Caranya ?"
"Pegang tanganku ." Ku turuti apa yang ia mau .
"Tukar dengan Steven !" ia berteriak dan seketika tangannya dan tanganku mengeluarkan cahaya keemasan . Tepat sesudahnya aku tiba tiba berada di basecamp .
Lho?
"Jangan bingung , kamu bertukar tadi sama si steven . Bertukaran tempat" ucap seorang gadis di sampingku yang kini sedang memakai kaos pelatihan dengan perlengkapan seadanya . Sepertinya ia seorang medis .
"Benarkah ? jadi mereka sedang melawan si Putri belati ?" sang gadis medis mengangguk .
"Eh , anu. Aku pengen tau namamu ." tiba tiba hening . Gak juga sih , terdengar suara ramai pertempuran di luar basecamp.
"Namaku , Chika. Chika Underclaw" akhirnya ia berkata .
"Namaku ..."
"Rio Ferdinand kan? udah di kasih tau sama Steven kok" sebelum aku berkenalan . Ternyata dia sudah tau .
Dia , lumayan cantik . Dengan rambut pirangnya yang di uraikan , serta ada jepit rambut yang menempel di pucuk poni nya .
"Sini biar ku sembuhkan . Rencana A hampir gagal . Sebentar lagi ada perubahan rencana ." Jelas Chika .
"Perubahan ke rencana b ?" tanyaku.
Ia menggeleng . "Rencana c mungkin ." sambil mengangkat bahu.
"Hah? jadi gimana situasinya ?"
Chika menjelaskan situasi sekarang .
Garis tengah sudah hampir di pukul mundur . Sayap kanan dan kiri kini sedang berusaha agar jalur tengah tidak hancur berantakan . Namun sebaliknya , di pihak musuh juga berdatangan . Agak sulit memang jika menjalankan misi rencana b .
__ADS_1
"Aku punya rencana Chika ." Kataku dengan pede .
Ia mengernyitkan dahi, tanda ia hampir tidak percaya kepadaku. "Rencana apaan?."
"Begini , sesudah kamu sembuhkan aku. Aku akan maju ke garis tengah." aku melihat ke belakangku , tepat di balik pohon yang ada di belakang ku. Di sana lah terdapat pertempuran garis tengah .
"Hah? gila kamu. Ini sudah masuk ke tahap sesi berkah ." Kata Chika .
"Sesi berkah? maksudnya ?" aku bingung . Aku belum di beritahu soal sesi berkah .
"Lihat para Dewata di sana ?" ia menunjuk ke barisan singgasana Dewata . Kini aku melihat kursi yang tadinya kosong telah terisi. Yang mengisi itu adalah seorang gadis cantik dengan naluri keibuan dan mempunyai sisi tegas sebagai pemimpin .
"Kenapa emng ?" tanyaku.
"Sebentar lagi . Para Dewata akan mengirim berkah kepada kita semua . Lima puluh persen untuk bukan keturunannya. Dan delapan puluh persen untuk keturunannya ." Jelas Chika .
"Oh seperti buff ?"(peningkatan kekuatan dan skill bertarung)
"Ya .. seperti itu. Sedangkan kamu?" ia menatapku khawatir . Khawatir jika aku terjatuh dan mengalami koma .
"Aku punya firasat kalau dia ibuku.." tanpa sadar aku ngomong sendiri .
"Hah? siapa ?" si Chika malah kepo.
"Gak jadi." aku berdiri dan merentangkan tanganku. Serta ku bunyikan seluruh sendi .
"Sofia . Mulai !" aku memfokus kan diri .
"Aku Chika ! bukan Sofia ." Chika mengomel .
Aku berusaha mengabaikan suara perseteruan dan mulai berkolaborasi dengan Sofia .
"Tetap fokus Yo!" perintah yang tak perlu di perintahkan .
Kali ini , tak butuh waktu lama untuk pergabungan . Ketika kubuka mataku, aku melihat semuanya dengan jelas . Pandanganku semakin jeli, pendengaran semakin akurat. Ku ambil pedang yang tergeletak di lantai lalu dengan pasti melangkah ke medan pertempuran.
"Hooooi! Rio ! Sudah waktunya berkah ! hati hati!" teriak Chika .
Ku lirik di singgasana .. para Dewata mulai bangkit .
"Wahai Demigod, kami memberikan berkah selama 30 menit!" teriak sang Odin . Dan semuanya kini bersinar, termasuk diriku.
Entah sinar apa ini , tapi sinar kami masing masing berbeda. Sinarku kehijauan. Kenapa ?
Kini aku sudah ditengah Medan tempur .
Aku menengok ke bawah kakiku, persis seperti kejadian saat melawan Minotaurus , di bawah kakiku terdapat jejakku dengan pancuran kecil air dari bumi . Banyak di antara mereka semua saling baku hantam , saling menyabet dan saling menembakkan panah . Dan aku ada di tengah tengah mereka .
"Baiklah , mari kita coba Sofia!" aku berlari ke tengah pertempuran . Ku lihat ada bebatuan, aku menginjaknya dan melompat ke arah kubu bumi . Dengan sambil bersalto untuk mendarat, aku menyabet kepala mereka . Ada dua yang kena (tapi tidak terlepas dari lehernya) , salah satunya tak sadarkan diri . Aku berlari lagi dan kembali menyabet, menendang kaki mereka lalu menikamnya .
Ketika ada tiga orang yang ingin menyerangku , aku fokuskan pikiranku ke air kecil yang di bumi . lalu ..
"Dor!" teriak ku sambil menunjuk dua orang di depanku, maka terpental lah mereka akibat dorongan pancuran air yang keluar dari bumi . Lagi, dua orang datang mengincar ku , aku berkelit dan menghindar. Lalu aku putar tubuhku , kini aku membelakangi mereka . Dengan cepat aku tebas punggung dan tengkuk mereka berdua . Aku berlari lagi dan melakukan hal yang sama berulang ulang . Menyabet, memukul, menghambur halayak dengan pancuran air , dan bahkan menendang jauh mereka ke pohon .
"Hebat Yo . Gerakan kita seirama!" Sofia berteriak senang .
"Ok, mari kita habisi garis depan !" aku maju ke halayak .
"SEMUANYA ! MAJUUUU!!!"
teriakku kepada pasukan di kubu ku . Dan mereka membalasnya dengan teriakan dan semangat pula .
Kali ini , aku menerobos mereka dengan sangat brutal . Setiap orang yang ku lalui ku tebas tengkuk dan perutnya . Bahkan , adapula yang aku buat tubuhnya terpental ke pohon dengan pancuran air dari bumi . Aku menggila , ku lihat suasana mulai berbalik . Sudah sekitar empat lusin aku menghabiskan pasukan ketika aku menerobos . Dengan mata tajam Sofia, aku berhasil menghindari sabetan dadakan musuh , bahkan lesatan anak panah dengan mudah aku hindari .
Ketika kami melakukan gerakan yang sinkron , tak hayal obyek yang kami hajar terpental jauh dan mengalami cidera fatal. Aku menelaah ke sekeliling ku, sudah banyak bergelimpangan tumpukan tubuh Demigod yang tak sadarkan diri . Bahkan untuk sekarang , aku berdiri di atas tumpukan tubuh yang tak sadarkan diri .
Sayup-sayup aku mendengar suara isak tangis Chika . Di sela sela tangisnya , ia memekik nama Steven .
"Sofia, ayo kembali " aku melompat dan Sofia juga mensinkronkan lompatan ku .
Aku melihat sudah mulai stabil pertempuran ratusan Demigod ini, namun waktu tersisa dua puluh lima menit untuk mengakhiri pertandingan . Jika tidak, pertandingan akan tetap menjadi seri untuk kesekian kalinya .
"Kenapa Chika ?" tanyaku kepadanya setelah aku berada disampingnya .
"Dia hampir tak sadarkan diri ..." aku melihat jari telunjuk Chika yang di arahkannya ke dasar tebing . Dan aku melihat , Steven hampir kalah dengan anak panah yang menancap di punggung sebanyak dua .
"Tenang . Aku suruh dia kembali ke sini ," ku tepuk bahu Chika agar ia berhenti menangis .
"Tapi tadi kan , kamu hampir kalah ." Chika masih menahan Isak tangis.
"Tadi . Sekarang beda !" aku menatap ke bawah , ku lihat si kembar juga terpojok karna ada dua orang bertubuh besar di situ. Aku menghirup udara banyak banyak , waktu tersisa 20 menit .
Aku melompat ke bawah tanpa perantara apapun dan siap mengalahkan sang Putri belati di ronde kedua ku ini .
***
Chika Underclaw
__ADS_1