Rio Ferdinand : Perang Internal

Rio Ferdinand : Perang Internal
Benang yang menggumpal.


__ADS_3

Dalam beberapa hal, ada yang perlu di beri tahu kepada kalian . Untuk saat ini kami memang bisa mengasumsikan bahwa perjalanan bakalan mulus. Walaupun sudah pasti tak ada konsep di mana perjalanan beberapa Demigod dan spirit itu benar benar tenang dan tanpa hambatan .


Akan tetapi, itulah yang kami alami.


Perjalanan ini sudah terlampau damai . Mengingat ketika bagaimana aku mendaki bukit kecil di perkampungan kilometer lima belas dan menuju pondok , tetapi di hadang oleh seekor Minotaurus.


Nah , ada kemungkinan pangkal kejanggalan perjalanan kami tadi itu memang dari Black Bible .


"Yakin dek di sini saja? apa tidak mau kakek antar sampai ke dalam saja ? Rumah makan yang kalian sebut itu jauh ke dalam lho ..." tatapan sang kakek pick up memang sendu. Seakan akan ia melihat kami seperti anak anaknya atau cucu cucunya yang memerlukan sedikit bantuan darinya . Jujur , tatapan itu adalah tatapan hangat .


"Tidak usah kek, kami bisa kok jalan sendiri . Lagian kami juga ingin melihat sekeliling perkampungan " Rista menyeringai agar membuat sang kakek tenang.


"Baiklah , jaga diri kalian . Dan satu lagi, jika kalian mengenali kakak beradik perempuan dan lelaki maka tolong sampaikan surat ini ." sang kakek mengeluarkan sebuah amplop dari dalam kantung celananya.


"Seperti apa rupanya ?" tanyaku kepada sang kakek .


"Kakaknya lebih pendek di banding adiknya yang perempuan. Sang kakak memakai anting giwang yang berbentuk bulan sabit di telinga kiri , sedangkan untuk adik perempuannya, ia memakai anting giwang berbentuk matahari di telinga kanan. Dan ia juga memakai kalung perak tanpa liontin . Katakan saja ini dari aku , dan mereka akan paham ." sang kakek menjulurkan amplop itu .


Aku mengambil amplop itu dan menyimpannya di dalam saku bagian dalam jaket Levis ku .


"Baiklah , akan kami sampaikan." janjiku kepada sang kakek.


"Terima kasih , oh iya ini ada sedikit bekal untuk kalian . Tolong di makan habis ya , ada baiknya dan aku senang sekali jika kalian tidak memakan masakan yang ada di rumah makan itu." sang kakek lagi lagi mengeluarkan sebuah Tupperware yang sangat besar yang di masukkan ke dalam plastik merah .


Rista menerimanya sembari mengulas senyum.


"Aku senang sekali jika kalian masih hidup , terima kasih " setelahnya sang kakek memutar balik mobilnya dan pergi meninggalkan kami .


Kami turun dari tumpangan tepat di depan tugu perkampungan tempat itu . Di tugu depan kami tertulis "Handil bagian IV" dan di bawahnya terukir ornamen classic dari suku Dayak, lengkap dengan burung ukiran burung enggang. Kami berempat mengangguk dan berjalan memasuki perkampungan.

__ADS_1


Sofia dan yang lainnya sudah masuk ke dalam tubuhku , dan untuk mbak Kunti ia lebih memilih masuk ke dalam sebuah botol parfum yang di bawa Rista .


Kesan pertama yang kami ambil dari perkampungan ini lumayan sangat ramah dan tentram . Ketika kami berjalan melewati suatu perkumpulan, mereka menyambut kami ramah bahkan sempat mengajak kami mengobrol dari mana kamu berasal. Dari semua yang kami lihat dan kami telah seksama, sama sekali tidak ada tanda tanda bahwa desa ini memiliki sebuah intimidasi dari mahluk ghaib.


Namun pendapat itu terpatahkan ketika kami sudah sampai di penginapan kecil yang bernama Umbrella.


Penginapan kecil ini berdiri dengan dua lantai, di lengkapi kolam renang di bagian halaman belakang . Aku juga baru pertama kali melihat penginapan kecil yang ada kolam renang dan mempunyai dua lantai . Kenapa aku bilang kecil?, itu karna luas dan lebarnya tak lebih dan tak kurang sekitar dua puluh lima meter kali enam puluh tiga meter . Di dalam nya hanya ada enam kamar dan ke enamnya ada di atas . Aku bertanya tanya, apakah semua penginapan di sini seperti itu ? Aku berfikir demikian karna penginapan Umbrella inilah yang memliki vasilitas terbaik di seluruh penginapan di desa ini . Yang membuat ku aneh , adalah hawa keberadaan dan kekuatan yang lumayan besar bersarang di bawah penginapan ini . Entah apa dan siapa, aku tak terlalu memikirkannya. Terkadang ada hal hal yang tak perlu kita ketahui dan ada baiknya kita tak usah terlibat dalam peraturan alam ghaib . Karna dari semua yang aku pelajari, ada perjanjian sunyi antara tiga mahluk di bumi ini yang tak boleh kita usik . Manusia , Dewata , dan Entitas abadi .


Tanpa berlama lama , kami memesan dua kamar di atas . Satu kamar untuk aku berdua dengan Ricky , dan sekamar lagi untuk Zahra dan Rista .


Aku merebahkan diri di kasur berukuran dua orang , dan aku tenggelam dalam pikiran liar ku tentang 'dia' yang sudah menjadi musuh . Tetapi aku masih belum percaya tentang alasan dia masuk ke dalam OCC. Karna pada dasarnya, aku tak pernah melihat is bertarung . Bahkan yang mengejutkan lagi adalah, bahwa ia bertarung duel dengan Aden dan hampir bisa mengalahkan Aden dengan telak jikalau tidak di pisah oleh Wukong.


Sekuat itukah dia selama ini? lalu bagaimana tentang ketika dulu aku menghajar para preman ketika kulihat ia di jegat dan di copet di jalan sepi?. Aku bingung ketika menghubungkan semua kenangan ku bersama dia .


"Hei Rio, aku mau keluar sebentar . Mau nitip sesuatu ?" Aku tersadar dari lamunan liar ku ketika mendengar suara kenop pintu yang di buka oleh Ricky .


"Kau jadi nitip atau gak? atau gak mau nitip?" tanya Ricky lagi .


"Kita keluar sama sama aja , aku juga ingin mencari udara segar ." aku merogoh kantung celana ku dan ku dapati bahwa dompetku masih ada di sana.


"Ku pikir hilang ketika duel dengan pendeta , ternyata masih ada . Hahaha" aku berjalan keluar dari kamar penginapan dan menutup kenop pintu .


"Hei, itu kan dompet yang di beri cewek guild, sudah pasti semua yang ada di sana pasti mempunyai kekuatan magis dan pasti akan kembali ke kantong walaupun di buang ke ujung kulon" jelas Ricky .


"Yakin? emang pakai mantra apa?" tanyaku lagi .


"Mungkin mantra Dewi Hichete level tiga?" jawab Ricky.


"Bukannya di pelajaran , sihir level segitu hanya bisa kembali di radius sepuluh sampai dua puluh meter? selebihnya mantra itu akan teriset ulang dan akan kembali ke si pemantra ?" aku ingin sekali mengoreksi penjelasan yang sok tau dari Ricky ini . Padahal dia sudah lama di dalam pondok Demigod .

__ADS_1


"Benar kah? seingatku itu mantra yang akan kembali di mana pun dan kapan pun" Ricky berjalan mendahuluiku sambil kepalanya manggut manggut.


"Makanya kalau jam pelajaran simak yang penting , jangan semua penjelasan kau ambil dan dimasukin ke dalam otak semuanya ."


Aku kembali berjalan dan melewati Ricky . Ketika aku mendahuluinya, entah apa yang di pikir kan Ricky ia menarik kerah bajuku dan menyeretku keluar dari jalan setapak dan aku pun jatuh tersungkur di rerumputan .


"Buset demi ****** Zeus , apa apaan kamu?" aku hampir ingin berteriak meneriaki si Ricky, bahkan ingin sekali aku berkata kata kasar kalau saja dia tidak menyuruhku diam .


"Hussstttt... kamu gak ngerasakan sesuatu dari jalan pertigaan di sana?" Ricky menunjuk jalan yang di maksud .


Jalan itu adalah bagian kanan di ujung jalan setapak yang kami telusuri , dan jalan itu masih jalanan untuk pejalan kaki dan motor . Yang membuatku aneh adalah, pernyataan yang di berikan oleh Ricky itu benar . Aku melihat sebuah benang ghaib yang tergumpal di bagian ujung . Dan benang sisanya memanjang menelusuri jalan setapak .


Di dalam pelajaran 'Kontrak alam ghaib' , kami di ajarkan bahwa benang yang menggumpal di ujung dan sisanya terbentang adalah pertanda bahwa ada semacam kontrak tumbal demi keberlangsungan hidup sebuah kontraktor. Ada tiga kesepakatan, pertama rupa (kecantikan atau awet muda) kedua fisik (kekuatan atau umur panjang) dan yang ketiga adalah kemakmuran (berlimpahnya hasil bumi atau bisnis yang di jalani).


Jenis kontrak ini biasanya hanya di peruntukan dari generasi ke generasi, seperti dari leluhur yang turun temurun hingga beberapa keturunan berikutnya . Jika salah satu keturunannya melepas kontrak tersebut, maka putus juga benang tersebut. Efek samping dari putusnya kontrak itu adalah, generasi yang memutus hubungan itu akan di datangi oleh sang ahli kontrak dan meminta tumbal satu kepala dari keluarganya .


"Apakah ini misi kita Rick?" tanyaku dalam bisik .


"Ya, tak lain dan tak bukan inilah misi kita ." ia berdiri sambil merapikan baju .


"Bawa alat bertumbuk?" pertanyaan yang agak konyol.


"Bawa selalu, mau duo versus every body?" tanyaku seraya berdiri juga.


"Gas !"


Dan kami melangkah kan kaki menuju benang kusut ghaib.


###

__ADS_1


__ADS_2