
Jujur, tubuhnya tak sebesar Minotaurus. Hanya saja yang membuatku agak cemas adalah dia lebih cerdas dan berpengalaman untuk hal teknik bertarung dibandingkan dengan si Mino.
Aku mengambil ancang ancang lagi untuk kedua kalinya , kakiku lumayan lemas akibat mengetahui perbedaan kami. Karna aku belum memberikan damage ke dia, jadi aku masih harus mengukur seberapa tahan tubuhnya dengan kekuatan gabunganku dengan Sofia .
"Apa kau menggunakan Spirit?" tebaknya.
Buset, dia tau pasti aku menggunakan spirit.
"Maaf, dari mana anda tau?" tanyaku dengan sopan sembari merangsek maju untuk menguji ketahanan tubuhnya .
"Pertanyaan bodoh! Monster dan Spirit itu saling merasakan ketika mereka saling bergesekan kekuatan !" ia juga menerjangku.
Aku melompat dan berusaha melakukan serangan tipu, aku mengangkat pedangku ketika di udara dan seolah olah aku ingin menebasnya . Namun ketika hentakan angin di udara berubah haluan , ku gunakan pijakanku untuk menginjak udara itu dan berputar dan melakukan seranganku sebenarnya, yaitu menendang kepalanya.
Tipuan ku itu setengah berhasil setengah tidak . Ketika aku hendak menebas , ia melakukan posisi bertahan dengan tangannya diangkat ke atas bagaikan perisainya. Dan ketika aku berputar haluan menjadi menendangnya, (yang seharusnya aku berhasil menendang kepala belakangnya) ternyata malah menendang bahu nya . Ia tersungkur lumayan jauh kedepan menyebabkan beberapa bebatuan hancur akibat jatuhnya tubuh besarnya .
Aku mendarat di atas pecahan batu dan kembali bersiaga.
"Ternyata berhasil Sofia , hosh hosh ..." aku lumayan capek karna dari awal kegiatan hingga sekarang aku dihadapkan dua lawan hebat . Pertama Coco dan kedua mahluk ini .
"Belum, dia bangkit lagi.." Sofia menyadarkanku agar aku siap siaga dari kelelahan.
"Lihatlah di sekelilingmu , wharghaghaghagha..... sebentar lagi , operasi pembangkitan Yang mulia nan agung akan terpenuhi dan akan menguasai kembali dunia ini !" tawanya agak aneh ku dengar .
"Om sepertiga binatang , maaf ya . Hari ini bumi tutup untuk membuka pendaftaran baru si 'Yang mulia nan agungmu' . Jadi, cepatlah pergi !" aku kembali memacu lariku ke depan Om sepertiga binatang.
Ia juga sudah mempersiapkan diri , dengan agak liar kini ia memutar mutar tangannya . Kali ini lebih kencang dari sebelumnya . Ketika aku sudah dekat, aku bermanuver ke kiri. Namun kali ini usaha tipu daya ini sia sia , ia berkelit dan memutar tubuhnya . Ketika ia mendapatkan posisi yang pas , ia melepaskan tinju putarnya dan seketika kepalan tinju itu meluncur lepas landas dari pergelangan tangannya bagaikan misil pesawat tempur . Dengan jarak sedekat ini , aku benar benar tak bisa bermanuver kemana mana dan bahkan aku tak bisa menghindar dengan cepat. Karna jaraknya yang terlampau dekat dan amat sangat cepat .
Peluru tinju itu menghantam wajah ku telak di batang hidung dan membuatku terpental ke belakang . Bahkan ketika aku menabrak sebuah pohon , kepalan tinju ini masih menekan batang hidungku hingga pohon itu retak dan patah .
"RIO!!!!" Sofia keluar dari tubuhku dengan cepat dan menarik tubuhku keluar dari jangkauan pertempuran dan sebuah pohon yang patah. Aku yamg setengah sadar merasakan bahwa diriku dibawa terbang oleh Sofia dan pergi menjauh dari sang Om om sepertiga binatang .
"Rio ! sabar ya kita cari tempat aman dulu !" ucap Sofia yang suaranya terdengar agak parau karna khawtir akan kesadaran ku .
Aku mengangguk "Iya Sofia ,"
Sofia menurunkan tubuh ku di tanah dan membaringkan diriku . Di buatnya posisiku agak menyender pada batang pohon yang tumbang .
"Tahan Yo.. tahan ya..." Sofia dengan cepat dan sigap membersihkan lukaku dan entah apa yang dirapalnya tapi bibirnya memang komat kamit membaca sesuatu.
Selang beberapa saat , keluarlah sebuah cahaya berwarna hijau berpendar di telapak tangannya . Lalu diusapkannya ke wajahku dan ke dadaku.
"Hangat Sof .." ujarku parau.
"Diam dulu!" Sofia masih serius memberikan serpihan demi serpihan cahaya itu agar masuk ke dalam pori pori tubuhku .
Ketika asyik-asyiknya Sofia menyembuhkanku, tiba tiba ada suara raungan monster didekat kami. Spontan aku dan Sofia menoleh ke arah sumber suara, alangkah terkejutnya kami ketika yang kami lihat adalah kumpulan monster yang berlusin lusin berkumpul di dekat kami. Jarak itu terlampau dekat sehingga bisa saja kami dikeroyok kapan saja . Di depan mereka ada Om om sepertiga binatang .
"Kalian hendak main mesra mesra? jangan seperti itu di medan pertempuran . Tak ada yang boleh piknik disela-sela PERANG!!" Om om sepertiga yang iri melihatku di obati oleh Sofia , meneriakkan sesuatu dalam bahasa Monster yang aku sendiri tak tau apa artinya . Para kekawanan Monster itu berbondong bondong ke arah kami.
"Rio! berikan ekstensi tubuhmu !" Sofia mengulurkan tangannya .
"Maksudnya ?" ketika aku bertanya apa yang ia maksud, dengan cepat dia menarik daguku dan mencium bibirku. Lalu ia menarik udara dari dalam tubuhku dan keluarlah ekstensi ku. Sepertinya aku jadi mengerti apa itu estensi. Setelahnya , ekstensiku masuk ke dalam jiwa Sofia. Perlahan lahan tubuhnya mulai memadat dan akhirnya ia menjadi berwujud seperti manusia .
"Maaf , ini satu satunya cara. Konsepnya sama seperti pergabungan, hanya saja wewenang ini adalah dibawah kendaliku." paparnya secara singkat .
Para Monster sudah mendekat dengan jarak kurang lebih sepuluh meter . Sofia menarik nafas panjang sebelum akhirnya ia menerjang khalayak Monster .
Sebenarnya ada beberapa pertanyaan yang ingin aku tanyakan . Pertama, bagaimana cara ia bertarung padahal sebelumnya ia hanya anak SMP biasa . Kedua, apakah ia mempunyai suatu anugrah dari Dewata sehingga membuat ia percaya diri untuk menerjang khalayak monster ? . Ketiga , kenapa tubuhku terbengkalai di depan pohon?
__ADS_1
"Hohoho... pengalihan pergabungan ? maaf nona tapi staminamu akan habis jika harus melawan monster sebanyak ini !" Om om sepertiga binatang sedang bahagia .
Sofia menerjang khalayak dengan brutal, ia melompat sangat jauh untuk terbang ketengah-tengah para Monster. Setelahnya , ketika ia mendarat dengan diikuti sebuah ledakan kekuatan dari Spirit, ia berputar dan menghajar secara acak ke semua Monster . Dengan benar benar tangan kosong ia memukul , membanting, memotong lengan monster , dan bahkan menghancurkannya dengan kekuatan pancaran dari aura Spirit . Rambut panjangnya benar benar berantakan kesana-kemari , namun kendati demikian penglihatannya tak terganggu sedikitpun. Tetap luwes dan mahir membelah tubuh monster .
Karna banyaknya monster yang mengeroyoknya , sesekali ia terbang ke atas untuk bernafas . Setelah teratur kemudian ia kembali menghantamkan pijakannya ke tanah membuat gempa kecil di sekitarnya dan retakan di dataran ini. Para Monster yang kehilangan keseimbangan akibat adanya getaran gempa tersebut terjatuh dari masing masing pijakannya, hal ini adalah kesempatan yang tak akan disia-siakan oleh Sofia. Sekilas ia menarik nafas lagi sedalam dalamnya dan meneriakkannya , maka menyeruak lah pancaran kekuatan hijau milik Sofia yang membuat setiap Monster yang terkena efek itu akan meledak secara teratur .
Sofia ngos-ngosan dan kembali melompat menjauh dari khalayak Monster .
"Kenapa kamu bisa sehebat itu Sofia ?" tanyaku .
"Hosh.. hosh... liat tutorial di yutub." Sofia menjawab dengan mengcopy kata kataku tadi .
"Hahahaha... sudah kubilang , akan sulit bagimu untuk mengalahkan kami" si Om om sepertiga binatang merentangkan tanganya dengan bangga .
Kini kawanan Monster sudah berkurang banyak akibat ledakan yang dihasilkan Sofia . Kendati demikian, masih banyak kawanan monster yang siap untuk menyerbu . Sofia mengatur nafas lelahnya dengan perlahan . Para monster sudah mulai berlarian menyerbu Sofia lagi .
"Kalau memang gak bisa , aku harus bawa tubuhmu Yo" Sofia berlari kencang di atas angin dan membuat ia benar benar seperti terbang . Jujur, aku baru tau kalau Sofia sekuat itu dalam hal pertarungan . Awalnya ku pikir , ia hanya kakak kelasku yang sudah lama meninggal dan tak bisa memakai ilmu bela diri apapun.
"Sejak kapan kamu punya kekuatan sedahsyat itu Sof?" tanyaku .
"Udah diem , gak usah nanya " Sofia masih fokus berlari menapaki angin di udara . Ku lihat di bawah banyaknya monster monster yang ingin terbang namun tak bisa , dari kejauhan, nampaklah Om om sepertiga binatang itu memutar mutar lagi lengannya dan sudah ku pastikan bahwa ia pasti ingin meluncurkan serangan tinju misilnya .
"Sofia , awas .! dia mau ngeluarin jurus tadi !" Spontan Sofia menoleh ke arah yang dimaksud dan benar saja tak lama setelahnya Om om sepertiga binatang itu meluncurkannya .
Sofia menghindar dengan mudahnya serangan tadi dan mendarat di samping tubuhku .
Melihat Sofia sudah mendarat, para Monster kembali mengejar Sofia .
"Rio, aku akan melempar tubuhmu ke seberang sana . Bisa kah tubuhmu tahan atas bantingan ?" tanya Sofia polos .
Ingin aku menjerit mendengar pernyataan mengerikan Sofia . Sungguh kejam nian perlakuannya terhadap tubuhku .
"Baiklah kalau begitu ." Sofia menarik tubuhku ke punggungnya , lalu mengalungkan kedua lenganku ke bahunya , seolah olah ia menggendongku.
"Rio, aku pinjam kekuatanmu" ujar Sofia yang ku iyakan dengan anggukan.
"Sofia memejamkan matanya dan menarik nafas dalam dalam , setelahnya aku merasakan perutku serasa ditarik tarik dan sedikit nyeri . Ternyata Sofia mengambil sedikit energi ku keluar dan membentuknya menjadi sebilah pedang nan bersinar terang .
"Mari kita serang " Untuk kesekian kalinya , Sofia kembali berlari menerjang para monster . Sofia berlari sambil menyabet asal dan menebas asal. Karna banyaknya Monster yang berkumpul, sabetan-sabetan pendek dari pedang itu selalu mengenai mereka . Jika menurut Sofia sudah agak letih, ia terbang dan berjalan di atas udara .
"Hosh.. hosh... capek banget Yo, badanmu berat juga ya " keluh Sofia.
"Tubuh pria emng berat Sof" sahutku .
Dari kejauhan aku melihat seseorang dengan memakai kaca mata sedang melambai lambaikan tangan ke arah kami. Aku mencoba menerawang dan memikir , siapakah kiranya pria itu?.
Di tengah tengah asyiknya aku berfikir , sebuah misil tinju menghantam perut Sofia dan kami terpental jauh ke arah hutan . Benar benar jauh, tubuh fana ku yang di gendong oleh Sofia kini terhampas ke tanah tergelatak tak berdaya . Sofia pun juga begitu , ia terbentur batu besar nan keras dan hantaman itu membuat kepalanya mengeluarkan darah .
"Spirit bisa berdarah Sof ?" bodohnya pria yang bernama Rio ini, ia malah mempertanyakan hal sepele.
"Kepalaku sakiiiit..yooo.." Sofia berkata lirih .
Hatiku lumayan teriris mendengarnya, is berusaha mati-matian agar tubuhku selamat dari serbuan Monster ganas tersebut.
"MASIH BERNAFAS KAH KALIAN? HUAHAHAHAHA...." Si Om om sepertiga binatang itu kembali berteriak dan membawa kawanan monster bersamanya .
Jumlah mereka ini jauh lebih sedikit ketimbang tadi . Terlepas dari berkurangnya jumlah mereka , kami yang di sini benar benar kalah kuantitas .
Teriakan di seberang hutan sebelah mulai sirna . Yang ku khawatirkan adalah mereka (para Demigod) kalah dalam menangani monster yang banyak nian ini . Jujur, untuk orang baru , bagiku hari ini terlalu terbebani. Walaupun aku adalah anak tunggal dari seorang Dewi yang perkasa , tapi jika pengalaman bertarung ku kurang , itu hanya bualan belaka bagi dunia fakta .
__ADS_1
Kuantitas memang terkadang bisa dikalahkan dengan kualitas. Akan tetapi , perumpamaan ini hanya berlaku jika kualitas nya memang melebih dari total keseluruhan kualitas-kualitas dari musuh .
Aku harus bisa bangkit dan tak boleh tergolek lemah di depan wanita . Ini bukan pertengkaran anak jalanan atau sekedar pertempuran para preman yang ingin mengambil kekuasaan preman sebelah . Tetapi pertempuran ini , benar-benar memberikan pengaruh besar kedepannya .
Kalah \= Mati!
"Sof.. izinkan aku keluar dari tubuhmu." ujarku.
"Jangan Yo, bahaya.. kamu ini mahluk fana. Sedikit saja kena daerah vital kamu bisa mati." masuk akal juga penjelasan dari Sofia .
Walaupun semisal aku mempunyai kekuatan tangguh , namun sebuah kekuatan jika belum tau cara penggunaannya bisa berakibat fatal di medan pertempuran. Hal itu bisa diambil dari perumpamaan kau yang memiliki senjata kuat seperti pistol tapi baru pertama kali memakainya sedangkan lawanmu adalah seorang pembunuh profesional dengan senjata andalannya yang hanya berupa pisau dapur .
"Tapi aku gak tega Sof kalau kamu sampai segitunya demi melindungi tubuh fana ku" aku berusaha meyakinkannya .
"Jika kamu ingin bertarung karna rasa ibamu kepadaku lebih baik kamu diam di dalam sini , karna tekat iba hanya setengah setengah . Lagi pula , kamu itu adalah majikanku, sudah sepantasnya melindungi majikan." ia berusaha berdiri walaupun keadan tubuhnya bergetar. Dengan langkah yang agak pincang ia berjalan ke depan dan kembali mengacungkan pedang dalam genggaman erat .
"Kamu sudah membebaskanku dari belenggu Rooftop. Aku harus berbalas budi ! "
Tubuh Sofia mengeluarkan aura hijau nan banyak dan menyebar di sekeliling tubuhnya . Aura itu mengepul seperti sebuah kepulan asap dari arang pemanggang daging sapi .
"Rio, andai aku masih hidup. Aku mau kamu jadi cowokku" Sofia melontarkan kata kata yang bagiku agak mengiris hati.
Aku baru sadar kalau dia memang benar benar ingin memilikiku, tetapi karna memang takdir yang membuat kami tak bisa seperti itu, ia lebih memilih menjadi milikku tanpa harus aku menjadi miliknya .
Aku hanya bisa diam mendengar penuturan katanya tadi .
Sedetik setelahnya , Sofia berlari dengan terseok-sok kedepan sambil menghunuskan pedang. Aura itu membentuk beberapa tentakel dan meluncur menyerang beberapa monster .
"Ayo anak anak , kalian akan mendapatkan daging Demigod terbaik di sana ! seraaaaaang!!!!" si Om om sepertiga binatang berteriak dengan lantang . Membuat semua kawanan monster menyerbu ke arah kami.
Aku pikir inilah saatnya aku menggunakan kekuatan anugrah dari kalung pemberian ibuku . Ketika aku benar benar putus asa, tiba tiba saja sesuatu meluncur dari langit nun jauh di sana dan menjatuhkan diri ke tengah tengah monster.
Ledakan itu bukan hanya ledakan api, tetapi setelah benda itu terjatuh di sana , ada banyak pancuran air yang menyeruak dari sana . Air nan banyak nian bak air bah itu benar-benar menyapu bersih separuh populasi monster tersebut.
Karna panik, para monster bubar menjauh ke segala arah , membuat air bah tadi agak sulit untuk menjangkau mereka .
Air bah tadi yang sangat banyak menyeruak kini kembali menarik diri dan berkumpul disatu tempat, kemudian menyusut dengan cepat dan muncul lah sesosok pria dengan tubuh tegap .
Pria itu memakai sebuah jaket jeans biru dan sedang menggenggam erat sebilah pedang nan bersinar terang layaknya emas yang ditemukan di tambangnya . Potongan rambut undercut dengan poni yang tak panjang dan hanya menjuntai hingga pelipisnya. Ia tak begitu tinggi, hanya lebih tinggi sedikit dariku . Mungkin tingginya sekitar seratus tujuh puluhan. Tubuhnya yang tegap dan agak keras membuat ia seperti tangguh walaupun dengan otot yang tidak membengkak.
Ada banyak air yang menyeruak tertahan di bawah airnya layaknya pancuran kolam ikan hias .
Pria itu menoleh ke arahku .
"Komandan, tolong bawa pergi mereka . Mereka sangat kritis kurasa." ujarnya dengan suara yang benar benar mengintimidasi lawan bicaranya .
Tak lama datanglah komandan kami (entah dari mana dia datang ) dengan membawa sejumlah besi hitam tadi . Ia membuang besi hitam itu lalu mengangkat tubuh fana ku.
"Siap boskuh.." jawab sang komandan sambil memberi hormat .
"Siapa pria itu?" pertanyaan yang ingin ku tanyakan sudah dilontarkan deluan oleh Sofia .
"Tenang , mau seluruh monster di pondok ini bakalan dihabiskannya. Bahkan monster di hutan sebelah sana sudah dihabisinya ." jawab sang komandan .
Aku kembali melihat pancaran aura dari tubuhnya yang tak kasat mata benar benar mengintimidasi lawan. Para monster mulai berangsek mundur untuk menjauh darinya .
"Dia itu adalah Demigod terkuat di pondok ini . Putra dari Poseidon, Dewa lautan serta salah satu dari tiga Dewa tertua. Namanya Aden ."
Benar benar nama mengandung kekuatan , untuk mendengarnya saja , ada semacam intimidasi yang bisa kurasakan dari balik punggungnya .
__ADS_1
****