
Sekolah ini memiliki tiga lantai. Bangunan ini di buat mengelilingi lapangan bola dan musholla di pojok bagian lapangan . Aku berfikir , bagaimana jika sedang ada kelas olahraga dan salah satu murid tidak sengaja menendang bola ke dalam mushalla dan berhasil mengenai kepala sang imam .
Aku mendaki anak tangga hingga ke lantai dua . Aku pikir hanya sampai di sini lah si mbak Kunti melayang , namun ia memanggil ku lagi dari lantai ketiga ketik aku sudah sampai di lantai dua . Alhasil aku kembali menaiki tangga ke lantai tiga . Aku mencoba melihat ke sekeliling bagian sekolah , sekolah ini benar benar angker dan sangat seram . Sama sekali tidak bersahabat dan di selimuti hawa dingin yang bahkan dapat membawa adrenalin dan bulu roma kalian berdiri.
Setibanya aku di lorong, ada banyak sekali dedemit yang menempel di dinding sekolah dan di bagian atap sekolah . Bahkan ada juga yang kerjaannya merayap dan menjilati lampu sekolah , aku pernah di beri tahu oleh guru ku si kakek pengembara agar tidak mengganggu dedemit. Selama dedemit itu tidak mengganggu aktifitas kita , maka jangan sekali kali kita mengganggu kehidupan mereka . Sebenarnya mereka sama seperti kita, ingin hidup normal dan biasa biasa saja . Bedanya mereka terlahir dari kumpulan emosional negatif yang di tiupi ruh manusia yang masih penasaran ke dunia ini .
"Demigod wibu! Setelah di belokan lorong , masuk ke dalam ruangan seni" suara itu tentu dari sang Kunti wibu . Aku mendengar suara ledakan dari kejauhan . Kemungkinan terjadi pertempuran di gereja , aku menerka-nerka bagaimana kah cara kabur menutupi peristiwa yang sebenarnya kepada masyarakat?.
Sesuai instruksi dari sang Kunti wibu , aku memasuki kelas ruangan seni dan ku putar tuas pintunya . Seketika terbelalak lah mataku melihat sang Genderuwo hanya kepalanya saja . Ya , hanya kepala ! .
Di dalam ruangan ini penuh dengan kepalanya dan entah di mana tubuhnya .
"Hei, bukannya harusnya tubuhnya komplit?" tanyaku .
"Genderuwo memang seperti ini jika tidak ada kerjaan , menyembunyikan bagian tubuhnya dan hanya menyisakan sebagian saja tubuhnya" Jelas si Kunti wibu .
"Kurasa tadi sore kau melihat kami berjalan dalam keadaan utuh dan terbelenggu di depan sekolah ?" tanyaku.
Jangan kan kalian , aku yang sudah berhari hari di dunia seperti ini saja bingung kenapa ketika tadi sore dia ada di depan sekolah dalam keadaan utuh walaupun terbelenggu ? dan sekarang malah dia berada di dalam sekolah dengan kepala terpisah dengan badannya .
"Itu karna aku di beri perintah untuk melihatmu . Dan memberikan informasi secara rinci dengan siapa dan apa saja yang kau bawa ." jelas si Genderuwo.
Aku berfikir , mungkin kah ada suatu kesepakatan? .
"Aku panggil kamu ini siapa?" tanyaku .
"Bukan kah kau sudah tau kalau dedemit mempunyai nama itu adalah hal tabu?" kata mbak Kunti .
Aku baru ingat apa yang di katakan Sofia , bahwa dedemit yang mempunyai nama itu adalah hal tabu .
"Baiklah, apakah kontrak kalian ada semacam syarat atau ketentuan berlaku?" tanyaku .
"Jika dia memperintahkan aku untuk melakukan sesuatu barulah secara otomatis aku keluar dari sekolah walaupun dalam keadaan terbelenggu."
"Kalau begitu, bisakah kamu katakan kepada si pendeta Abal Abal itu untuk membunuhku? katakan bahwa aku ingin melarikan diri dari wilayah ini . " saranku.
__ADS_1
"Jika perintahnya bunuh, maka aku harus membunuhmu! apa kau tidak keberatan anak muda?"
Aku mengangguk.
"Aku sudah berjanji kepada pacarmu untuk membebaskanmu dari belenggu. Jadi aku mempunyai rencana ." aku berjalan mundur perlahan dan aku pun mulai berlari keluar dari sekolah . Paling tidak aku harus bisa membuat kesan bahwa aku benar benar ingin melarikan diri dari wilayah ini .
Ketika aku sampai di depan gerbang, si Michele mengerucutkan dahinya "Ada apa? gagal?" tanya nya .
"Mudahan berhasil." jawabku.
Ia berdecak sembari menggeleng gelengkan kepalanya , tanda mungkin bahwa ia kurang puas dengan jawabanku.
Tak lama setelah aku berada di depan gerbang , secara tiba tiba muncullah kabut hijau dan suasana menjadi sangat sunyi. Dari semua kabut hijau itu , muncullah pepohonan beringin yang keluar entah dari mana dan bahkan ketika kabut hijau ini telah mengepul hingga kelangit, tempat ini sudah berganti dari sekolah menjadi hutan belantara yang seperti nya baru selesai di bakar habis oleh manusia .
Dari tebalnya kabut hijau , muncullah sesosok raksasa bertaring kuning dan runcing. Masing masing memliki bagian bagian yang rusak. Tubuh Genderuwo ini ternyata di penuhi bulu nan lebat hampir seperti beruang Grizzly dan rambutnya pun gondrong seperti tak terurus sedikit pun selama jutaan tahun . Dari balik bulu bulu di tubuhnya , terlihat jelas otot otot perkasa yang sudah pasti bisa membuat tulang rusukmu hancur berkeping keping jika melawan mahluk satu ini dengan tangan kosong .
"Dimana ini?" tanyaku kepada sang Genderuwo.
"Ini tempat ku, di mana aku memliki wewenang terbaik di tempat ini . Aku akan membunuhmu di sini agar jasadmu tidak di temukan orang ".
"Baiklah aku akan pemanasan dulu , jika kamu tidak keberatan bolehkah kamu menahan dirimu sebentar saja agar tidak merusak tulang rusukku?" tanyaku dengan sangat sopan sembari memutar arlogi ku dan menarik tuas jarum jamnya keluar dari sarangnya . Maka mencuatlah sebilah pedang bersamaan dengan berpusingnya perisai di arlogiku.
"Aku tidak bisa menahan diri, tetapi jika kamu mau tau melemahkan kekuatanku, akan aku beritahu".
"Apa itu?" aku memulai kuda kuda dengan perisai ku acungkan kedepan dan pedangku ku genggam erat erat.
"Tandukku, tandukku ini berfungsi sebagai penarik energi negatif dari sekelilingku. Patahkan salah satunya maka aku akan melemah ."
Aku baru sadar kalau ia memiliki tanduk . Awalnya ku pikir itu hanyalah sebagian dari gundukan rambut.
"Aku ingin bertanya , apa kau mempercayai ku?" tanyaku hati hati.
" Pacarku mendapat sebuah ramalan dari sang kakek buaya bahwa aku akan terbebas dari belenggu ini dan memiliki majikan yang baru. "
Dan ia percaya bahwa ramalan itu adalah aku? wow.
__ADS_1
Aku memperkuat otot kakiku untuk menginjak tanah, ku kumpulkan seluruh tenaga saraf ku dan ku pusatkan ke bawah telapak kakiku. Ketika aku merasakan otot dan saraf kakiku mendapati sebuah momentum , aku melompat setinggi tingginya . Energi ku perlahan mulai menyebar ke seluruh otot ku, sehingga aku terbang dalam keadaan tidak menukik.
"Terlalu lambat!" teriak si Genderuwo.
Ia menepis tubuhku layaknya seekor nyamuk dan aku pun sukses di buatnya tersungkur ke atas pohon beringin . Aku yang lumayan panik jika terhempas ke bebatuan gunung itu dengan cekatan menancapkan pedangku ke batang pohon . Butuh sekitar dua meter pedangku terseret kebawah hingga akhirnya aku menggelantung dalam keadaan tanganku menggenggam erat pedangku.
"Sudah ku bilang aku harus serius dalam pekerjaan ini , jika tidak eksistensi ku akan hilang "
Aku tidak menyalahkan dia yang terlalu kuat atau terlalu serius untuk membunuhku, hanya saja di sini faktanya adalah aku yang terlalu lemah .
"Baiklah tak apa" aku mencabut pedangku dari batang pohon beringin dan mendarat dengan perlindungan dari perisai ku.
"Aku akan serius" aku berusaha mencari sumber air dalam pikiranku. Ku rasakan aroma khas dari sumber air sumur atau pun aliran air di sungai, bahkan embun sekalipun harus aku cari .
Seolah olah tak mau menunggu aku yang sedang konsentrasi, si Genderuwo melangkah maju ke arahku dengan sebuah gadanya yang entah dari mana ia dapatkan. Gada itu sangat besar dan dilengkapi dengan paku paku yang sangat besar pula.
"Maaf , jika kekuatan mu hanya seperti ini sepertinya bukan kau lah yang ada di dalam ramalan nak"
Sang Genderuwo telah mengangkat gadanya ke atas dan datanglah badai angin beliung kecil di atas pucuk gadanya .
Aku tau bahwa aku terlalu lambat dalam konsentrasi, itu karna aku bukan berkonsentrasi untuk mengalirkan kekuatan air kepadaku. Melainkan untuk...
"Sekarang ! potong tanduknya !" teriakku sembari menunjuk tanduk Genderuwo dengan bilang pedangku.
Berliter liter air dari segala penjuru yang ku kumpul kan di belakang Genderuwo pun berkumpul dan menyerbu tanduk Genderuwo.
Si Genderuwo panik dan langsung berbalik ke belakang . Namun apalah daya , gerakan Genderuwo terlalu lambat dan tak secepat kecepatan air menebas tanduknya .
Setelah berhasil menebas satu tanduknya , aku berlari ke samping kanan Genderuwo dan menebas belenggu di kakinya . Belenggu ini terlalu kuat , saking kuatnya tebasanku hanya menyisakan bekas goresan biasa .
"Ku akui kau begitu cerdik nak" kata Genderuwo.
"Aku akan berikan banyak kejutan kepadamu " aku kembali melompat mundur dan bersiaga kuda kuda .
Aku harus cepat membebaskan dia dari belenggu kontrak itu .
__ADS_1
***