
Dari semua yang aku tau dan aku alami, aku baru saja menemukan hal baru dalam hidupku.
Yaitu ketika yang kami temukan di sekitar jalan setapak ini kami mencium aroma sesaji yang busuk .
Pada dasarnya , ketika seorang bangsa dedemit atau bahkan kelompok dedemit yang suka sekali menguras tenaga manusia demi esensi mereka sendiri, karna semakin banyak manusia mengkonsumsi makanan itu maka semakin banyak pula tenaga manusia itu akan terkuras . Aku baru melihat kalau ada yang ingin sesaji berbau busuk . Awalnya, aku berencana untuk menghentikan niatku dulu untuk mengobrak Abrik tempat itu . Jujur , kasus ini lain dari yang lain .
Menurut Ricky, kasus ini seharusnya bukan kami yang menangani. Di karenakan kasus ini ternyata adalah kasus kontrak benang menggumpal dan terlebih lagi orang ini melakukan kontrak ke 2. Aku juga berfikiran demikian, karna yang membuat misi ini menjadi sulit bukanlah ketika kita bertarung dengan dedemit yang kuat atau arogan. Tetapi bagaimana cara kita untuk membongkar semua kebusukan yang mereka buat . Terlebih lagi, para warga di sini sudah sangat-sangat menerima kehadiran rumah makan itu .
Aku pun memutuskan mengajak Ricky untuk langsung ke rumah makan .
Rumah makan itu terletak di tempat yang strategis dalam hal penjualan . Karna rumah makan ini berdiri tepat di pinggir jalan yang jalurnya menuju jalan raya . Mengingat desa ini adalah desa yang akan di lewati antar kota Samarinda dan Balikpapan , pastilah pengemudi yang merasakan lapar akan singgah ke rumah makan ini . Mengingat bahwa rumah makan ini termasuk rumah makan terbesar di desa ini .
Luas rumah makan ini sekitar dua puluh meter kali enam puluh empat meter . Dengan dua lantai yang di lengkapi dengan teras santai di bagian depan lantai dua dan di halaman belakang lantai satu . Ada pun teras kopi yang di depan lantai satu terdapat sebuah food court untuk disert dan minuman manis seperti aneka ragam minuman coklat dan caramel .
Awalnya aku memang tergoda untuk makan di situ, namun mengingat bahwa sebagian marketing di rumah makan ini adalah campur tangan oleh dedemit, maka aku harus menahan godaan agar aku tak makan . Ricky melangkah maju dengan langkah yang tegap dan cepat . Aku yang selalu mengamati sekeliling pun mulai merasakan aura kelam yang memenuhi ruangan atas . Ketika aku menoleh, aku merasa yakin bahwa indukan atau inang dari marketing ini berpusat di lantai dua.
"Rick, kamu mau langsung labrak atau bagaimana?" tanyaku setelah aku berhasil menyusulnya .
"Kekuatannya kayaknya gak terlalu besar, tapi yang sulit itu bagaimana cara kita untuk membuktikan bahwa mereka ini mempunyai kontrak negatif dengan dedemit ?." perkataan Ricky ada benarnya juga .
Seperti kataku tadi, sungguh sulit untuk melabrak kasus seperti ini kalau masyarkat sudah sangat menikmati rumah makan dan obyek yang di berikan si kontrak.
"Permisi, apa ada yang bisa kami bantu? mau pesan dulu atau mau milih tempat dulu? "
Sedang asyik asyiknya kami berbincang , aku hampir terlonjak kaget ketika waiters telah berada tepat di sampingku .
Waiters ini seorang wanita dengan perawakan tinggi semampai dan mempunyai rambut yang di ikat buntut kuda, kesannya rapi karna memang totalitas seorang waiters memang harus selalu rapi. Dari raut wajah dan dahi, sepertinya dia tipe orang yang lunak kepada siapa saja dan sangat ramah kepada siapa saja . Dan dari kelentikan jari jemarinya, bisa di simpulkan bahwa ia memliki keterampilan dalam menjahit ataupun menganyam .
__ADS_1
Dan ciri khas utama yang harus aku ingat dan harus aku tangkap , ialah bahwa waiters ini memiliki Anting giwang berbentuk matahari dan di lehernya melingkar lah kalung perak tanpa liontin .
"Aku pilih tempat aja dulu mbak, bisa saya pesan di lantai dua ?" tanyaku sembari menggerakkan alis ke arah Ricky .
Ricky mengangguk.
"Baik, ada yang di request ?" tanya waiters itu lagi.
"Boleh saya request mbaknya?" tanyaku.
Spontan wajah si waiters panik dan gelabakan.
"Maaf , ma.. ma.. maksudnya itu bagaimana ya? kan.. kan.. saya sudah menemani masnya untuk memesan " katanya gugup .
"Memesan ? saya kan belum mesan apa apa.." aku semakin mengintimidasi si waiters .
"Maaf, ada yang perlu dibantu?"
"Tidak , hanya saja saya ingin memberikan tip kepada mbak ini asalkan ia mau menemani kami ." jawabku tegas .
"Menemani kalian? memangnya ini bar? hah?!" orang ini sudah mulai emosi , entah mengapa ia menjadi sangat emosional.
"Ada apa ini ribut-ribut?" tak lama kemudian , seorang wanita dengan kisaran usia sekitar dua puluhan , datang menghampiri kami dengan seragam yang super ketat dan slim . Di dadanya yang menonjol karena ukuran *********** itu terpampang jelas betname yang bertuliskan "Hanna".
"Salam kenal , saya Rio . Saya ingin menikmati nuansa rumah makan nan elegant ini . Dan boleh kah saya ingin menitip kan tip kepada waiters ini dengan syarat bahwa ia bisa melayani ku untuk menikmati makan malam di sini ?" ku lirik jam di dinding sudha menunjukkan pukul sepuluh malam .
Hanna pun terlihat sedang berfikir, ada kemungkinan dia ingin memikirkan tarif yang akan ia berikan kepadaku.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu . Sampai jam berapa anda ingin melakukan reservasi?"
"Aku ingin sampai aku selesai menikmati semua makanan yang aku pesan ." jawabku .
"Ok baik, harga nanti sesuai yang saya sebutkan ketika anda sudah selesai menikmati hidangannya . Kalau begitu, silahkan anda naik ke lantai dua dan mengambil meja nomer empat belas . Untuk menu dan pemesanan bisa langsung hubungi waiters yang lain dengan cara menekan bel yang ada di meja nanti , terima kasih" Hanna kemudian berbalik arah dan berjalan meninggalkan kami .
"Baiklah , kalau begitu mari kita ke atas ." ujarku, sedangkan si pria cebol masih kebingungan dengan apa yang baru saja ia lihat . Ia mungkin tidak terima dengan fakta bahwa staf rumah makan ini sudah menyetujui perihal aku yang menyewa satu orang waiters ini .
Biar bagaimana pun , anak ini adalah cucu dari kakek tadi .
Kami menaiki tangga yang berbentuk spiral ke atas , dan ini membuat aku dapat kembali melihat keadaan lantai satu dari tangga pertengahan naik ke atas . Aku melihat bahwa mereka yang sedang menikmati makanan itu sangat bersemangat . Ya, bersemangat menikmati makan , namun tidak memiliki semangat hidup . Seolah olah, mereka menjalani hidup hanya untuk menikmati makanan yang ada di rumah makan ini saja .
Sesampainya di lantai dua , aku tak melihat sesuatu hal yang berbeda dari lantai satu . Sama seperti di lantai satu, di lantai dua ini mereka juga hanya memiliki semangat hidup hanya untuk makan makanan rumah makan ini dan tidak ada sama sekali menginginkan kehidupan yang lain .
"Maaf mas , maksudnya mas seperti apa ya saya menemani mas? soalnya saya baru pertama kali di booking oleh pelanggan, terutama pelanggan pria." si cucuk kakek pick up ini memberikan kesan yang canggung dan kepalanya sedikit menunduk .
Aku pun memberikan kode mata kepada Ricky agar memesan menu yang ada di sini . Aku berani memesan dikarenakan di dalam tubuhku terdapat banyak dedemit, jadi mereka bisa menetralisir semua ajian-ajian dari dedemit kontrak di rumah makan ini .
"Kemari, duduklah di sampingku ." ujarku seraya mempersiapkan tempat duduk di sampingku dan menepuk kursinya tanda ia boleh duduk di situ.
Si waiters meneguk liur, awalnya ia enggan, namun karna aku meyakinkan dia dengan wajah serius ku, ia pun mengangguk dan kini telah duduk di kursi di sampingku. Tanpa basa basi, aku mengeluarkan amplop yang di berikan oleh sang kakek pick up lalu kemudian menyerahkannya kepada sang waiters.
"Kakakmu memberikan ini kepada kami." ujarku.
Seraya wajah sang waiters kini terlihat tegang dan berkeringat . Kemudian ia melihat ke seluruh ruangan , langit langit , dinding , jendela , lantai dan bahkan ke tangga spiral yang kamu naiki tadi .
"Tidak mungkin!" pekiknya .
__ADS_1
Aku dan Ricky terkejut atas pekikannya itu.
###