Rio Ferdinand : Perang Internal

Rio Ferdinand : Perang Internal
Kunti -Chan Yang Wibu


__ADS_3

Apakah kalian sewaktu kecil pernah pergi ke kondangan dan mendengarkan musik kondangan tepat di depan sound speaker yang besar ? Percayalah, jika kalian sesudah mendengarkan musik itu selama setengah jam dan pergi dari sana dalam keadaan kepala pusing , ini lebih dari itu.


Suara teriakan yang membuat hampir seluruh kaca jendela SMA pecah hanya dalam satu kali teriakan. Aku tak tau seberapa banyak kah ia memakan sound speaker sampai sampai suaranya full bas tanpa stereo sedikit pun .


"Kalau aku menjadi jurnalis, aku tak mau mewawancarai anak itu" ucap Michel.


"Buaya pernah bisa menjadi jurnalis?" tanya ku.


"Hampir semua buaya bisa menjadi jurnalis, bahkan bisa menjadi kekasih gelapmu" celetuknya .


Makna yang sangat mendalam.


Sambil menutup telinga, aku berjalan mendekati sang Kunti . Dedemit yang lain pergi ke antah berantah dan bubar seperti khalayak yang baru saja selesai tauran di stadion bola. Tak pernah terpikir oleh ku kalau Kunti bisa memiliki teriakan sedahsyat ini . Agak lama aku bersembunyi di bawah jendela kelas menunggu sampai teriakannya selesai . Sekitar dua menit barulah teriakan itu berhenti .


Bagiku, teriakan sedahsyat itu selama dua menit sudah terlalu lama .


"Maaf mbak Kunti, bolehkah aku bertanya? apakah suami mu ada di rumah?" tanyaku dengan sopan .


"Su.. su.. suami? si, siapa ? anu.. apa?" si Kunti malah menjadi gagap dan hampir aku tak mengerti apa yang ia katakan.


"Anda pasti istri dari Genderuwo kan? bisakah saya menemuinya?" tanyaku lagi secara baik baik .


"Tidak boleh !" suara nya naik lagi menjadi empat oktav.


Aku menyumpal telingaku dengan gumpalan air .


"Biar aku habisi saja tuan , akan aku gigit dan ku cincang dia " si Michel ini , aku heran apa yang di ajarkan oleh Zoriath kepadanya.


"Tolong jangan membuat situasi menjadi rumit, apakah kamu tidak tau apa tujuanku ke sini ?" aku mencoba menahan pergerakannya yang ingin menerjang mbak Kunti .


"Datang , hancurkan , rampas , jadikan budak . Benar kan tuan?" jawab Michele.


"Oh ****! siapa yang mengajarkanmu begitu?" aku berusaha memeluk si Michele agar tidak benar benar menerkam si mbak Kunti, namun ia masih tetap saja ingin menerkam si mbak Kunti dengan memberontak dari pelukanku.


"Leluhurku yang di pimpin oleh ibuk mu mengajarkanku untuk mendapatkan wilayah asing dengan menguasai nya! Anggap saja mereka budak setelahnya ." jawabnya dengan nada datar .


Wahai ibuku nan cantik jelita6, mengapa kau mengajarkan hal yang menyulitkan ku di kemudian hari seperti ini?.

__ADS_1


"Dengar dengar ! Jangan ada lagi yang seperti itu mengerti? sekarang aku lah tuan mu! " teriakku kepada Michelle, sebenarnya bukan keahlianku meneriaki perempuan, hanya saja anak ini tidak bisa di ajak kompromi .


Sejenak dia mulai terdiam .


"Baiklah , apakah tuan ingin memikirkan cara lebih sadis?" lagi lagi Michel menanyakan hal yang tidak bisa aku mengerti .


"The ****! kita datang ke sini untuk negosiasi bukan pertempuran. Paham?"


Michelle mengangguk "Paham, kalau begitu membunuh dalam kedamaian kan?"


"Gak , gak , bukan begitu Micheeeeeeleeee" karna lelah memberi tahunya , aku membuat genangan air yang ada di sekitar sekolah berkumpul menjadi satu, aku perintahkan ke mereka agar dapat menahan amukan Michele .


"Tuan ! Kamu tidak akan bisa bertahan sendirian !" teriak Michel yang meronta ronta karna ia di kurung dalam kurungan air .


Aku tetap jalan dan masuk ke dalam kelas melewati jendela . Di sana mbak Kunti sudah melayang di udara dan tak lagi duduk dengan anggun seperti tadi di atas meja. Entah mengapa ia seperti siaga terhadapku .


"Apa yang membuatmu begitu waspada kepadaku?" tanya ku.


"Kau memiliki darah campuran Dewata yang telah memperbudak ras dia" jawab sang Kunti dengan aura yang sangat gelap .


"Maaf , aku tak tau bagaimana sejarah dan perihal mereka bisa menjadi budaknya ibu ku . Tetapi yang jelas aku ingin berdamai denganmu ." aku mengangkat tanganku dengan sukarelawan seperti tanda menyerah kepadanya .


"Hei , percayalah aku ini sedang memburu si pendeta ini . Jadi ku mohon bantulah aku " aku memasang mimik wajah yang tulus dan ingin memelas kepadanya .


"Tidak! " si mbak Kunti tetap menolak.


"Bagiamana kalau kita membuat kesepakatan?" ajakku.


"Apa itu?" tanya mbak Kunti dengan mimik wajah meragukanku .


"Bantu aku menghancurkan sang pendeta dan aku akan memerdekakan sang Genderuwo! bagaimaa?" tanyaku .


"Bagaiman kau bisa di percaya ?" si mbak Kunti memandangku dengan tatapan seperti "Kamu tidak punya apa apa untuk bisa di makan" .


"Aku punya daging buaya kualitas 500 tahun ! " aku melirik kan mataku ke Michelle.


Michelle meronta ronta di dalam kandang air yang ku buat.

__ADS_1


"Kau mengorbankan temanmu demi menukar pacarku ?" tanya mbak Kunti dengan tatapan penuh selidik. Kali ini ruangan terasa banget hawa mencekamnya . Jika saja aku anak baru kemarin sore , sudah pasti aku kencing di celana .


"Aku tidak berniat meninggalkannya , dan aku tidak akan berniat mencampakkan siapapun. Karna aku yakin dengan janjiku! Aku memang darah keturunan ibuku dan aku akan memiliki kekuatannya, tetapi aku berbeda dengan ibuku!" aku membuat janji semanis mungkin agar aku bisa bersekutu dengan Genderuwo itu. Bagaimana pun juga , aku tau di sana pasti ada banyak monster yang tidak akan bisa kami kalahkan dengan kekuatan seadanya . Aku harus menjalin kontrak sebanyak mungkin dengan mereka .


"Benar kah? bagaimana kalau pacarku mati?" tanya mbak Kunti lagi .


"Ku ganti dengan kepalaku! Kau pasti tau kan jika dedemit meminum darah Demigod maka mereka mewarisi kekuatan yang sepadan ?" aku menunjukkan jari telunjukku ke atas .


"Kau benar benar licik! kau tau jika saat aku memakan kepalamu maka ibu mu tidak akan tinggal diam ." jawabnya lagi .


"Tidak ! kumohon mbak Kunti , aku akan menepati semua janjiku !" aku mengatupkan kedua telapak tanganku menjadi satu untuk memohon kepada mbak Kunti .


Ia masih melotot kepadaku , "Apa kau bilang ? mbak Kunti?"


"Maaf, Kunti chan" kataku dengan sopan .


"Chan? " si mbak Kunti kembali bertanya.


"Anu, itu bahasa Jepang ..."


"Bukan bukan ,aku tau . Kamu wibu?" tanya si mbak Kunti.


The ****! dedemit tau wibu?.


Aku mengangguk pelan .


Seketika aura mencekam tadi berubah drastis menjadi aura kehangatan namun tetap saja masih mencekam karna di sini banyak sekali sisi negatif . Akan tetapi hawa ini lebih enak di rasakan dibandingkan sebelumnya .


"Baiklah! ku harap kamu mau menepati janjimu . Ayo ikuti aku wibu" sang Kunti melayang ke atas dan menembus langit langit kelas .


"Hei ! aku bukan mahluk halus! " teriakku kepada sang Kunti-chan .


"Kamu kan bisa naik lewat tangga!" teriaknya balik dari kelas lantai atas.


Aku menoleh kepada Michelle dan mengedipkan sebelah mataku tanda aku berhasil tanpa harus dengan kekerasan.


"Hoki!" balasnya dengan ketus .

__ADS_1


Aku mengedikkan bahu dan berjalan keluar dari kelas lewat pintu depan dan segera menaiki tangga.


Aku harus bergegas , karna waktu kami sangat sedikit!.


__ADS_2