
Jika pembaca budiman sering melihat aksi James Bond melompat dari ketinggian, percayalah aku lebih dari itu.
Tebing ini sangat curam, dan jika berhasil mendarat akan ada bebatuan gunung nan tajam dan keras seperti kepala pembaca sekalian .
Ketika aku mendarat, tepat di samping Steven . Aku hampir hilang keseimbangan karna guncangan seluruh tubuhku ketika kakiku menghantam keras batu gunung yang keras itu .
"Oops.. , oh iya si Kembar ! . Bisa bawa kabur leader kita gak ?" aku menggandeng lengan Steven , aku merasakan denyut nadinya rendah .
"Stev?" tanyaku .
"Jujur, aku butuh perawatan. Aku gak tau jika ada pemanah di sekeliling tebing ." ia memberitahuku lewat matanya .
Ku lirik ke arah mata ia pandang .
Di sana ada berjejer selusin, bahkan lebih dari itu sedang menarik busur panah .
"Baiklah , kamu mundur dulu ya ." Ketika aku memegang leher nya , aku melihat ada lubang bekas tancapan panah kembar (panah dengan dua mata ) hampir mirip lubang bekas gigitan seekor cobra .
Anehnya , mereka semua hanya melihat dan tak ada yang bergerak . Selagi kami di sini , di atas masih menjadi lapangan pertempuran yang sengit . Gemuruh petir, hantaman batu , angin , api , semuanya terdengar. Lantunan rapalan sihir bergema karna banyak nya penyihir di situ, biasanya mereka adalah anak anak Dewi Hecate .
"Kamu mau ngapain ?" tanya Quelo .
"Mengambil dan merobek bendera ." Aku maju dengan percaya diri.
"Hoi, bertahan . Aku pasti memanggil bantuan ." Quelo kembar membopong Steven .
"Wah wah, baru sudah sehat mau nantang lagi? ya udah habisin !" ia memerintahkan anak buahnya dan pergi meninggalkanku .
Aku melihat sungai , kemudian dengan cekatan aku berlari ke sungai.
Lusinan anak panah di tembakkan ke arahku, yang pasti aku sudah bisa melihat kecepatan mereka semua . Tentu agak mudah aku menghindari walaupun jumlahnya yang tak bisa dihitung. Dua orang raksasa tadi menghampiriku. Ternyata dia bukan jenis raksasa, hanya seorang Demigod yang memilik tubuh setinggi dua meter lebih . Yang satu memegang pedang dan perisai, dan yang satu lagi memegang morning star dan perisai . Ia ayun-ayunkan Morning star itu untuk mendapatkan bobot yang lebih berat dan sakit untuk kepalaku .
Aku berlari ke celah mereka dengan cepat sehingga mereka tidak sadar dan berbalik mulai mengejarku . Karna tubuhku lebih ringan , aku mampu berlari kencang sekencang kencangnya. Hingga para penembak jitu itu tidak dapat mengarahkan anak panah mereka dengan tepat.
Sekitar beberapa langkah lagi , akhirnya aku sampai ke sungai. Namun secara tiba tiba tanganku hampir saja habis terpotong jika tidak dengan cepat aku melompat ke belakang . Ternyata itu adalah tombak yang di lemparkan oleh sang Putri belati .
"Hahaha, mau main kucing-kucingan anak baru? seluruh pasukanku sudah pasti menghabisi pasukanmu." Sang Putri belati merentangkan tangannya .
"Wahai para Dewata sekalian yang maha agung . Siapakah di antara dua kubu yang menurut kalian menang ?" spontan karna teriakan lantang itu semua Dewata menengok. Walaupun perang sempat berhenti sebentar , tetapi si kembar berteriak untuk menyerang lawan . Dan kembali lah riuh ricuh perang terdengar .
Ares menoleh ke Odin .
"Aku sih, kubu bumi . Di lihat dari power kekuatan , strategi dan serangan jitu? semua unggul di kubu bumi . Walaupun untuk kecepatan pergerakan lebih di menangkan kubu Langit ." Komentar yang baik dari bapak Ares.
"Menurutku sih, hasil akhir yang menentukan . Tapi di lihat dari situasi sekarang , memang kubu bumi . Aku kubu Langit ." Odin dengan santuy dan agak ambigu memilih kubu Langit .
"Kata Zeus kau tau segalanya , ternyata kau plin-plan " hardik sang Dewi Athena . "Tapi disisi lain aku memilih kubu Langit ."
Dewa Indra menguap ."jelas kubu bumi ."
"Aku bumi. " Lanjut Arjuna
"Karna aku tidak mau di samakan dengan si Arjuna .Tapi kali ini aku memilih bumi deh ." Apolo pun memilih bumi . Namun dari 6 Dewata , masih ada satu Dewi yang hanya tersenyum .
"Menurut ku sih, jelas aku memilih sang pria tampan milikku ..." ia pun tertawa , tawanya amat sangat menakutkan namun agak menawan. Cantik , tapi memiliki aura kelam. Seluruh yang ia pakaikan kali ini gaun pesta berwarna hijau.
"Aku jelas memilih langit." Ujarnya .
Aku tak tau siapa pria tampan yang ia maksud .
"Tiga banding empat? sudah telak kemenangan kubu bumi !" teriak putri belati .
Aku menyerang dia saat dia lengah . Namun agak sulit memang karna di sekeliling tebing ada pemanah bidik . Ketika aku maju, hujan panah mulai menghujani sekitarku . Aku berusaha agar tidak terkena satu pun , karna aku tau di antaranya pasti ada racun pelumpuh urat nadi .
Belum sempat aku berbalik , punggung ku di hantam dengan keras memakai morning star . Aku terpental gak terlalu jauh namun rasa sakit yang ku terima sangat sakit . Bahkan, baru ini aku merasakan rasa sakit yang amat sangat perih .
Aku memuntahkan darah segar ke tanah.
"Berdiri !" ketika Sofia berteriak. Aku spontan salto dan kebetulan menghindari tebasan maut dari manusia tinggi satunya .
"Wah wah, mana ini ? katanya mau bantai !" mereka semua tertawa , bahkan para penembak jitu juga ikut tertawa.
Sofia !
"Ok!" aku menyatukan gerakan, urat saraf dan kesadaran ku sepenuhnya kepada Sofia . Dengan ini , kekuatan ku akan naik 3 kali lipat .
__ADS_1
"Maju sini bangsat .! " Pekik ku sembari merangsek maju ke dua orang tinggi .
Seketika itu hujan turun , beserta kilatan petir agak biru . Tepat di kilatan petir itu aku melihat dua sosok itu di tengah gelapnya awan hujan . Aku tidak tau, padahal tadi sangat cerah . Aku langsung menyabet tangan yang berperang , terpotong lah setengah daging lengan atasnya . Ia menjerit kesakitan seperti jeritan beruang yang di sembelih . Karna panik, temannya yang memegang morning star ini mengibas-ngibaskan morning starnya ke segala arah . Ketika kilat menyambar lagi, ia melihat aku sudah di depannya . Panik, ia langsung menghantam tanah yang barusan saja ku pijak . Dengan pasti dan akurat, aku melompat ke dadanya , menendang dada bidangnya dan bersalto ke tempatku semula.
Ia terhuyung tak seimbang akibat serangan ku tadi , kini kecepatan ku bertambah seiring dengan meresapnya segala air yang ada di sekelilingku ke tubuhku . Seolah-olah semua momentum hanya gurauan belaka, aku melompat lagi dan kali ini kutusuk lehernya . Ku biarkan pedangku tertancap di lehernya . Ia pun meraung Raung dengan malang .
Para pembidik mundur karna hujan bukan lah cuaca bagus untuk membidik suatu target . Andai yang mereka pegang itu adalah sniper kar94 model Jerman , itu mungkin masih bisa mengenaiku barang sedikit .
Tersisa lah beberapa orang yang di sekelilingku dan sang Putri belati .
"Semuanya ! Alberdo dan Gilerdo sudah takluk! bantu ke atas dan tuntaskan perang bendera .! aku akan berduel." Dan mereka semua berlarian menuju tebing.
"Kamu pikir aku diam ?" aku memfokuskan pikiranku ke aliran air sungai, di tambah dengan tetesan air hujan yang jatuh ke sungai dan ke bumi . Aku suruh mereka bersatu dan buatlah satu pusat pancuran besar.
Ketika aku membuka mata , aku melihat ada satu pusaran air besar dan menjulang tinggi seperti tiang pesta . Besar dan kokoh , pancuran ini dengan sengaja berputar putar hingga ke atas, makin lama semakin tinggi ia menjulang .
"Rio ! Sekarang !" Sofia berteriak lagi .
"HABISI SISA PASUKAN YG ADA DI SINI!!!!" teriakku kepada tiang air itu.
Dan dengan segera , sekitar puluhan dan hampir mendekati seratus , semua pasukan itu di babat habis dan di seret ke sungai dan bahkan di hanyutkan hingga ke hulu .
Ku lihat sang Putri belati ternganga .
"Sejak kapan?" karna kurang fokus , aku langsung menerjang .
Di saat yang sama , kilat pun kembali menyambar . Dan akhirnya ia melihatku dengan jelas bahwa aku sudah ada di depannya. Aku cepat , namun dia tak kalah gesit . Tebasan maut ku yang harusnya bisa menyabet lehernya , malah hanya menyabet angin dan tetesan hujan akibat teknik gaya menghindarnya yang unik.
"Sini kau!" Ia berbalik menyerang . Ia serang aku dengan belatinya .
Aku berkelit , menghindar dan bersalto ke belakang. Jarak dekat , memang kurang baik jika ingin menang darinya .
Aku menjaga jarak agak jauh , ku sadari aku sudah mulai kelelahan akibat memakai tenaga untuk mengendalikan air besar tadi .
"Maju sini !." Sepertinya sang putri kesal bahwa aku bisa melenyapkan pasukannya dengan sekali serang , ia pun kembali menyabetku dan kali ini mengenai di pipiku . Namun anehnya , luka itu cepat sembuh karna terkena air hujan.
"Apa?." Sang Putri kembali kaget .
"Waktunya balasan !." Tak akan aku biarkan diriku di pertontonkan secara tak layak oleh Dewata , dengan kecepatan tinggi aku berliuk-liuk menyabet, menusuk dan menyayat, namun dari semua yang ku serang hanya satu titik yang kena. Yaitu paha bawahnya .
Aku menjaga jarak lagi, ketika ia memperbaiki gaya belatinya , aku kembali menyerang lagi .
Kali ini tak hanya memakai pedang , tapi segalanya ku pakai .
Aku membuat pancingan dengan menyabet dari bawah . Tapi sebelum sabetan itu mengenainya , aku menarik lagi tangan ku dan berputar tubuh lalu menendang perutnya . Karna gerakan ku sinkron dengan Sofia , tendangan ku lebih kuat lima kali, sehingga selain ia merasakan damage yang ngilu, ia juga terhempas jauh beberapa meter . Ku lihat benderanya terbuang agak jauh ke dekat tebing .
"Dapat !" aku berlari sekencang angin . Namun salahnya aku , aku tidak memperkirakan jika sang Putri belati menabrak ku dan menendang dadaku . Akibat momentum dari kecepatan larinya dan kekuatan tendangannya , aku terhempas pula ke dasar dinding tebing dan membuat jarakku dengan bendera menjadi jauh lagi .
"Ohok!." Air salivaku tersedak keluar .
"Kenapa kamu jadi lumayan hebat? apa rahasianya ?." tanya Putri belati .
"Jadi duta shampo headandsoldier mbak .." aku bersalto dan berdiri dengan gagah lagi .
Aku menghirup nafas dulu, lalu kembali menerjang .
Aku melihat kali ini ia memakai belati di tangan kanan dan krriss di tangan kiri . Ketika kriss itu di angkat kelangit, gemuruh Guntur berbunyi. Dan ketika ia mengarahkan krissnya ke arahku, petir menyambar tepat ke arahku. Untung urat dan kesadaran ku aku gabungkan dengan Sofia . Sofia yang melihat dari kejauhan nun jauh, telah menyadari kejadian itu. Aku melompat kekanan , selamat tapi tetap terkena dampak ledakan akibat benturan tanah dan petir tadi .
"Ayo maju lagi " kali ini dia yang menyerangku .
Aku ingin berfokus ke seluruh air , ku serahkan seutuhnya tubuhku ke Sofia . Sofia menggerakkan tubuhku dengan sangat luwes, dia tidak neko-neko untuk menyerang sembarangan . Ketika sang putri dengan cepat menyabet leherku, Sofia membiarkannya agar sang putri mendekat . Ketika sudah dekat, Sofia menendang perut sang putri , air salivanya tersedak keluar sebelum akhirnya ia jauh terpental ke pohon . Buah mangga muda yang di pohon itu pun berguguran akibat kuatnya tendangan tubuhku yang di kendalikan Sofia .
"Brengsek" kali ini berbeda , sang putri tidak lagi menyerang ku dengan asal dan serangan serangan serba cepat seperti tadi. Ia berjalan pelan ke arah bendera , ada kemungkinan bahwa ia ingin mengulur waktu agar kubu nya dapat mengalahkan kubu ku dalam beberapa menit dan mengambil bendera . Namun aku percaya , kepada teman temanku .
Aku yang berfokus kini merasakan kehadiran seluruh air yang ada di bawah tebing ini . Aliran air di sungai, tetesan air hujan , gemericik air di dekat gua, kumpulan air di tanah dalam . Semuanya aku rasakan dan aku dapati .
Setelah semuanya ku hafal, aku kembali menyadarkan diriku ke tubuhku .
"Makasih Sofia " bisikku .
"Tentu, aku padamu kan?" aku tersenyum mendengar jawaban Sofia .
"Mau ngulur waktu ya,? mana kehebatan dan ketangkasan yang kamu punya ? oh iya , para Dewata kayaknya agak kecewa deh ." aku tau bahwa kekuatannya api , sedari tadi aku melihat uap di tubuhnya . Kemungkinan besar ia ingin melepaskan bola api atau apalah , hanya saja cuaca ini tidak mendukung. Sehingga tak dapat memberikan celah yang pasti ketika ia ingin mengeluarkan api.
"Oh ya , nggak kok . Mari kita coba " aku mendengar itu terngiang ngiang suara Siska Kohl .
__ADS_1
Aku bersiaga di tempat , menunggu nunggu akan adanya kekuatan baru darinya . Sedetik kemudian , ia berdiri dengan kuda-kuda . Ia memfokuskan diri . Kemudian ia berteriak sambil mengenjan untuk mengeluarkan sesuatu.
Saat ia membuka matanya , bola matanya menjadi menyala semerah api. Aku melihat seluruh tubuhnya mengeluarkan uap panas yang ganas . Setelahnya ia berteriak dan mengeluarkan api dari tubuhnya . Kini tubuhnya diselimuti api yang ganas .
"Hah.. itu dia yang kusuka .. Putri api!" teriak Dewa Ares sambil menunjuk sang Putri belati .
Kok gak padam pas kena rintikan hujan ?
"Ok waktunya penghabisan . Setelah dirimu , aku akan ke atas untuk membereskan ." Ucapnya .
"Dan waktu sisa kurang dari tujuh menit ?" aku melirik jam tanganku .
"Tentu bisa ." Ia memasang kuda-kuda lagi . Lalu setelahnya , ku lihat di genggamannya berkumpul lah api yang sangat besar hingga membentuk bola api . Kemudian ia berlari ke arahku.
"Rasenggan?" aku menebak nebak jurus apa namanya ini jika author memberikan nama.
Aku tetap berada di posisi. Berpura pura untuk tidak siaga, oh iya . Aku lupa memberi tahukan kalian , kalau pedang ku ini aku ambil dari musuh. Soalnya pedangku masih tertancap di leher si Demigod tinggi .
Semakin mendekat .
Baiklah , pertarungan jarak dekat .
Aku membuang pedangku. Dengan ini aku akan melayaninya dengan tangan kosong .
Ia hendak memukul ku dengan tinju apinya dengan melayangkan tinjunya ke arah kepalaku, api memang ganas . Tapi tak secepat air yang mengalir deras.
Dengan gesit aku berkelit ke bawahnya , kurasakan air di bumi ku paksa keluar dengan pancuran dahsyat. Sedetik setelah kubayangkan, pancuran air menyeruak dari bumi dan menyembur ke perut sang putri . Sang putri lagi-lagi terhempas ke bebatuan tebing .
Aku tak ingin membuang waktu , Karna waktunya sisa lima menit .
Aku berlari menuju bendera , sang putri yang melihat itu mengumpul kan seluruh apinya di bawah telapak kakinya , sehingga membuat semacam pemantik untuk mengangkat tubuhnya melesat terbang ke arahku.
Aku iri karna tak bisa terbang .
Tapi kucoba sekali lagi untuk membuat pancuran air dari bumi tepat di bawah kakiku , lalu ku buat ia mendorongku ke atas . Ketika hal itu terjadi, sekilas aku terlihat terbang . Tapi hanya di pancuran . Ketika sang putri sudah dekat , aku bersalto dan menghantamkan tumitku tepat ke ubun-ubun sang putri , kali ini adalah serangan terkuatku. Sofia ikut menyinkronkan , sehingga membuat kekuatan tumitku 5 kali lebih kuat .
"AKU MENANG ANYING !" pekik ku.
Sang Putri yang terkena telak dari serangan ku pun tak berkutik dan tak sadarkan diri lagi . Ia terhempas kuat ke tanah menimbulkan bunyi dahsyat seperti terjatuhnya batu besar ke dataran aspal. Tanah yang di bawah tubuhnya pun membuat retakan akibat kerasnya benturan tubuhnya ke tanah.
Aku lemas, Sofia juga sudah mencapai batas . Dengan tenaga yang tersisa aku berlari kecil ke bendera ..
"WAHAI PARA DEWATA DAN SEMUA DEMIGOD ...!! AKU DARI KUBU LANGIT MEROBEK BENDERA KUBU BUMI ! " dengan lantang aku berteriak serta merobek bendera Belanda , tepat di bagian warna biru menjadi bendera Indonesia. Merah Putih .
Setelahnya , teriakkan dan gemuruh pertempuran di atas berhenti .
Kubu ku serentak ke tepi tebing dan melihat diriku dari atas . Aku mengibarkan bendera ke atas dengan bangga .
Beberapa detik setelah aku mengibarkan bendera . Tangan kanan komandan Arthur , Devidson (aku lupa memperkenalkan kepada kalian) telah membunyikan peluit.
"Hasil akhir . Kubu Langit menang untuk pertama kalinya !" teriak Devidson.
Seluruh kubuku berteriak penuh kemenangan . Ada yang berpelukan untuk melepas lelah. Adapula yang mengangkat temannya setinggi tingginya .
Aku melihat si Kembar saling membopong saudara mereka . Mereka tersenyum ke arahku dan memberikan jempol dari kejauhan .
Aku tersenyum penuh kemenangan kepada mereka . Setelah kami bergembira ,...
"SEMUANYA , HARAP DIAM . DIA YANG MEMPUNYAI KEKUASAAN MUTLAK DATANG !" Odin dengan tegas berteriak .
Semuanya langsung diam .
Sang Dewi yang tadi bergaun pesta hijau datang kepadaku . Ia seperti terbang , tidak . Lebih tepatnya menginjak angin .
Ketika ia sudah di depanku ia mengelus kepalaku .
Ku lihat air matanya perlahan keluar .
"Kamu sudah besar ya , Rio sayang . Aku ibumu .. Dewi kemurkaan badai, kekuasaan mutlak samudra. Keperawanan , jodoh , dan Dewi penghukum . Kadita, atau sebut saja Nyi Roro Kidul." Sekali lagi, air matanya menetes hingga membasahi dahi ku. Dan ia memelukku dengan hangat .
Dari aku kecil, baru pertama kalinya aku merasakan pelukan hangat dari seorang ibu.
...
Morning star .
__ADS_1