Rio Ferdinand : Perang Internal

Rio Ferdinand : Perang Internal
Bunker 99


__ADS_3

Aku menerjang dengan lompatan tinggi , saking tingginya aku bisa menginjak kepala salah satu dari mereka . Aku tau kalau aku memiliki lompatan dan kekuatan kaki yang lebih efisien daripada tinju. Ketika berhasil menginjak kepala orang itu, (yang akhirnya dia tersungkur dan seketika tak sadarkan diri ) aku memperkuat pijakanku dan berputar sambil mengayunkan tendangan ke salah satu kepala teman mereka . Rupanya yang satu ini sudah siap waspada, jadi kakiku dengan entengnya di tahan .


"Lumayan juga " ucapnya dan melempar kakiku.


Aku bersalto untuk menstabilkan kembali pijakanku.


"Ayo maju lagi" aku menerjang lagi.


"Hahaha, baru ini ada yang melawan kakak kelas " anak yang tadi menangkap kakiku itu kemudian melompat dan mengeluarkan pecut halilintar entah dari mana . Ketika aku sudah dalam jangkaunnya, ia memecutku dan kurasakan seketika kulitku mengelupas. Aku tersungkur ketanah .


"Hahaha.. sudah selesai ?" anak itu berjalan sambil memutar mutar pecut.


"Hahaha, biar ku jelaskan " aku berdiri kembali dan membunyikan persendian bahuku. "Kekuatan ku lebih hebat darimu .


"Yo! " Sofia berteriak.


"Ok" balas ku.


Dan, yah.. mungkin kalian sudah tau bahwa kami menjadi satu .


"Sini kau !" tepat ketika dia mengayunkan pecut, aku menghindar dengan gesit dan menendang perutnya hingga ia tersungkur ke tanah . Aku tak ingin memberikan dia jeda waktu, aku cengkram kerahnya dan ku tarik dia ke udara , lalu aku banting dia kembali ke tanah . Ada bunyi retakan tulang di punggungnya yang membuat ia meraung dengan keras.


Aku mengambil pecutnya dan memecut beberapa teman-temannya yang lain . Mereka tak sadarkan seketika setelah menerima pecutan yang amat pedih dari pecut halilintar ini .


"Sini kau brengsek !" bosnya marah dan mengeluarkan angin beliung kecil di sekitar kakinya .


"Sekarang, giliran ku maju!" teriaknya seraya terbang meninggi.


"Ya, memang harusnya begitu." aku memerintahkan aliran air dari bumi untuk menyeruak , namun tak ada sama sekali yang terjadi .


"Kau tidak memiliki berkah ibumu Yo , waktu itu kau bisa menaiki pancuran air dari bumi berkat berkah ibumu !" jelas Sofia .


"Ok , kalau begitu.." aku berlari menuju danau yang letaknya tak jauh dari pertarungan kami .


"Mau lari kau ?" sang bos kakel membuat sebuah pusaran angin yang mirip beliung kecil yang di dekat kakinya tadi , ia melempar pusaran angin itu ke arahku. Itu lebih seperti proyektil yang memiliki sifat berpusat pada porosnya . Apa ya , hmm.. seperti konsep jutsu rasenggan yang ada di anime Naruto ? yah kurang lebih . Atau jika kalian tidak mengerti, bisa di katakan seperti bentuk pusaran tata surya nebula .


Proyektil angin itu melaju dengan kecepatan angin (karna memang itu angin ) . Aku yakin , jika terkena telak oleh jurus itu mungkin aku akan mual mual dan muntah .


"Lompat dan banting ke kiri !" aku mengerti apa yang di perintahkan Sofia . Dan aku melakukannya.


Proyektil itu tetap pada jalurnya dan menabrak sebuah pohon kecil. Dalam seketika , pohon itu tercabik-cabik karna bergesekan dengan pusaran proyektil angin tersebut.

__ADS_1


"Wow" aku meneguk liur melihat fakta bahwa proyektil itu bisa saja membongkar isi perutku jika kena .


"Wahahaha.. itulah sebabnya banyak yang tidak ingin melawan ku" sang bos kakel kembali membuat proyektil berporos. Aku yang ingin memenangkan pertarungan ini dengan kemenangan telak harus bisa menghindari cedera proyektil tersebut.


"Bagaimana kalau ada tiga !" dalam seketika , muncul lah dua lagi proyektil angin berporos . Ini orang kok bisa ya begitu? memangnya dia Demigod apa ?.


"Sofia ! lompatan jauh! tak apa ketika lompat kakiku patah , yang penting bisa masuk ke dalam danau!" ujarku seraya berlari menuju danau lagi.


"Baiklah , jangan menyesal!" Sofia mensinkronkan gerakan lariku dan melompat secara bersamaan, namun kali ini ia memakai tenaga alam sebelah yang membuat lompatan ku berada di enam kali lebih kuat di banding pria dewasa biasa . Lompatan ini sangat tinggi, dan aku merasakan bahwa kakiku sudah mati rasa dan tulang kakiku berkelotakan di sana .


"Kena kau bangsat !" umpat bos kakel.


Aku tau , pasti si bos kakel sudah meluncurkan ketiga proyektil angin berporos itu ke arahku. Aku segera membuat bobot ku lebih berat di pundak, dengan memfokuskan semua ototku dan uratku ku larikan ke pundak . Aku pun juga menyuruh air yang di danau untuk menyeruakkan diri ke atas agar aku bisa di tangkap oleh mereka . Dan benar saja setelah aku memerintahkan seperti itu, sebuah pancuran air menyeruak di tengah tengah danau dan pancuran itu melilitkan tubuhnya keleherku dan menarik tubuhku ke dalam danau.


Sungguh , kejam nian cara mereka menarikku.


"Akhirnya aku bisa istirahat sejenak. Tolong berikan aku penyembuhan total, dan maximalkan tenagaku." ujarku kepada air.


Aku merasa bahwa tubuhku di guling-gulingkan dan di bawa hilir mudik . Lumayan bisa membuat kalian mabuk dan muntah jika kalian tidak tahan menaiki roller coaster. Perlahan lahan aku merasakan denyut nadiku berdenyut dengan kencang , jantungku berpompa dengan sangat baik. Aliran darah terasa deras, dan yang paling penting otot ototku mulai merespon dengan sangat cepat dari refleksi otakku. Aku mencoba meninju arus air , dan aku dapat menembusnya barang sedikit. Tulang ku sudah kembali tersambung , mulus tanpa ada jejak retakan tulang sedikitpun. Setelah semuanya ku pastikan , barulah aku memerintahkan air untuk membawaku ke permukaan.


Ada sekumpulan tekanan air dari dalam danau, dan terus naik hingga aku merasakan bahwa aku menginjak sesuatu yang bisa di pijak. Ya , ini adalah sensasi di mana aku bisa menginjak tekanan air ketika aku berdiri di pancuran waktu melawan Coco. Sungguh , aku merasa bahwa aku bisa mengalahkan bos itu dengan sangat mudah .


Pancuran air membawaku meninggi hingga aku seperti terbang . Teman temanku kaget melihat aku yang berdiri di atas pancuran air di tengah tengah danau .


"Wahai Dewa Aeros , berikan aku tekanan angin nan hebat !"


Awalnya aku berfikir, dengan teriaknya dia seperti itu dia mendapatkan kekuatan nan dahsyat nian seperti halnya badai yang di ciptakan oleh Aden beberapa hari yang lalu . Namun nyatanya , nihil. Tak ada yang terjadi, hening dan aku hanya mendengar suara seperti mesin blender di proyektil angin berporosnya.


"Mau ngelawak badut?" aku menerjang dengan pancuran air yang mengikuti ku.


Si bos kakel mungkin murka karna doanya tak di kabulkan oleh kakekku (secara teknis kakek dari ayahku) dan beralih untuk menghajar ku dengan kekuatan seadanya. Ia melemparkan selusin proyektil angin berporos itu ke arahku. Semuanya langsung menuju ke arahku tanpa ada basa basi . Aku memutar jarum jam dan menariknya , sehingga keluar lah sebilah pedang nan gagah dari jamku. Aku coba untuk memotong semua yang ia ciptakan. Karna berkat bantuan dari penglihatan Sofia , kecepatan angin tidak ada apa apanya. Aku bisa melihat semuanya .


"Baiklah sof, aku mulai ." aku menajamkan kembali Indra pendengaran ku dan penglihatanku, dari kedua Indra yang ku maksimalkan tersebut, aku bisa mengimbangi jalur dan kecepatan dari proyektil proyektil angin berporos itu. Dengan kecepatan tinggi , aku menebas semua nya dan memerintahkan pijakan air ku agar membawaku tepat ke depan si bos kakel. Karna Sofia yang juga memberikanku energi tiga kali lipat, aku tidak menyia-nyiakan energi itu dan langsung melompat untuk menyabet paha sang bos. Si bos yang tak melihat gerakan itu langsung spontan meronta ronta. Karna ada celah, aku berputar dan menendang bagian telinganya hingga telinganya mengeluarkan cairan merah darah yang kental. Si bos kakel terpental dan berputar jatuh kebawah hingga kepalanya tersangkut di sela sela ranting pohon.


Hanya sesimple itu? aku jadi tak enak menggunakan tenaga boros boros.


Aku turun ke tanah dan menyuruh anak buah bos kakel itu melepaskan Ricky dan Justin .


"Hei brader, kenapa kalian mau saja di bully? kenapa gak lawan balik?" aku membantu Justin untuk berjalan ke tepi jalan , sepertinya kakinya cedera .


"Tidak semua Demigod memiliki anugrah dan kekuatan super Rio . Sebelum kau ada , kami sudah sering di bully, kami ini kumpulan pecundang ." Justin agak setengah berteriak . Mungkin karna ini ia ingin menciptakan alat henshin seperti Axel Drive . Jujur , aku tidak tau kalau ada hal hal seperti ini .

__ADS_1


Di tengah perjalanan menuju asrama Dewa pengrajin dan penempa, Justin memberhentikan langkahnya .


"Jangan pulangkan aku ke asrama ." katanya .


"Kami memiliki tempat sendiri Rio . Kami belum tau kau ini akan tetap memihak ke kumpulan kami setelah tau bahwa kami ini pecundang , atau kau ingin bergabung ke komplotan James tadi, jadi kami sama sekali tidak memberi tahu mu tempat kami ." Ricky mengatakan dengan nada agak mendalam . Sebegitu takutkah mereka ?


"Mengapa kalian berpikiran demikian? aku kan ada di pihak kalian ." jelasku ke Ricky .


"Kau tau? ada banyak orang orang kuat yang baru masuk dan langsung di rekrut oleh James . Dan mereka hanya memperkuat kumpulan mereka untuk mengambil dan memonopoli karya Justin . Karna mereka sudah melihat cetak biru karya Justin ." Ricky membopong Justin . Aku pun mengikuti mereka berjalan kemana .


"Yo, ada yang mengintai ." Sofia memberi tahuku .


"Bisa kah kamu keluar dan periksa ? kalau memang mereka komplotan si James tadi kasih informasi ya." perintahku .


"Ok" Sofia keluar dari kissmark di leherku dan terbang menuju objek.


"Justin! Kamu gak papa?" Rista berteriak dan lari menghampiri kami .


"Gak papa kok, Rio sudah membantai James dan kroco nya ." jelas Justin .


"Yah, untuk sementara . Dia pasti akan datang untuk membawa kawanan yang lebih kuat ." Ucap Ricky.


"Aku masih bisa menjaga kalian kok. Tenang ." aku menepuk dadaku dengan bangga .


"Oh iya, kenapa kalian gak laporin aja ke Wukong ?"tanyaku .


"Aku sudah melakukannya , tapi kata Wukong 'Urus saja sendiri , Demigod harus selalu bisa menghadapi hal-hal tersebut .' begitu katanya " Zahra memberi tahuku .


Jujur , aku baru tau bahwa sifat Wukong seperti itu .


"Sudah sampai ." Justin berjongkok dan mengusap ngusap tanah .


Kami berhenti di depan pohon beringin tua yang terletak agak jauh di belakang bangunan asrama . Jika terus menelusuri sungai yang ada di bawah jurang di dekat sini , maka akan sampai ke rumahku . Apakah di dalam pohon mereka membuat markas mereka ?.


"Kau pasti berpikir di pohon kan ? " seolah olah Justin bisa menebak isi kepalaku.


"Kenapa bisa tau begitu?" tanyaku .


"Karna kami memang sengaja membuatnya terlihat bahwa kami ingin memasuki sebuah pohon. Tetapi nyatanya .." ketika Justin selesai menyapu pasir dan tanah itu dengan tangannya, aku melihat sebuah piringan baja menempel di tanah situ.


"Kami menyebutnya , bunker 99"

__ADS_1


***


__ADS_2