Rio Ferdinand : Perang Internal

Rio Ferdinand : Perang Internal
Leluhur Buaya


__ADS_3

Rio POV


Setelah adu tinju yang lumayan menyakitkan bagi tulang jariku, aku berlari sembari menarik lengan Zahra . Awalnya ku pikir dia pintar dan lari ketika aku memberikan ia perintah lari, namun ternyata aku salah besar .


"Kenapa kamu gak mau lari sendiri ?" tanyaku di sela sela pelarian kami yang di kejar mahluk besar setinggi dua setengah meter dan memliki tubuh sekeras batu tambang.


"Aku gak bisa meninggalkan team ! Ingat , kita seharusnya berada di bawah komando sang putri belati, tetapi karna nilaiku tertinggi di kelas jadi ia menyuruhku untuk mengawasi!" ia lebih tegas dari yang ku kira . Kendati bahwa aku lebih kuat dari dia , dia ada benarnya . Sebuah team yang seharusnya di isi oleh seorang komando berpengalaman , namun komando itu memiliki misi mendadak, tentu siswa yang paling tinggi nilai akademiknya lah yang akan di beri tanggung jawab .


"Rio , aku bisa mengalahkan pria besar itu " tiba tiba Zahra berkeyakinan ia bisa merubuhkan pria batu itu.


"Bagaimana bisa ? " tanyaku , selagi kamu berlari.


"Mau kemana kalian hah!? mengajakku ke hutan lindung ? tempat bagus untuk berwisata kawan , tapi itu akan menjadi makan kalian!" teriak sang pria batu.


"Hei Chuck! jangan sekali kali kau membunuh mereka , mereka bukan musuh.. kita harus menyandera mereka dan mengintrogasi mereka !" entah siapa yang berkata demikian , intinya itu adalah suara dari rekan se team pria batu.


"Dengar Yo, aku tau bahwa di bawah jembatan sebelum ke hutan lindung ada aliran sungai, kau pasti ingin ke sana kan?" tebak Zahra yang tentu saja itu benar .


"Ya , tak salah si Coco memilihmu. Lalu apa ? apa kamu ada rencana ?" kami masih sambil berlari .

__ADS_1


"Ada ! Aku tau teori cara mengaktifkan hipnotis. Dan aku mau mempraktikannya di sini, hipnotis yang aku praktekan ini hanya bersifat sementara. Yaitu sekitar dua sampai tiga menit. Dalam kendali hipnotis itu , aku akan mengirimkan mimpi buruk ke jiwanya dan aku akan memberikan perintah kepada otaknya agar meringkuk di jalan " ucap Zahra panjang lebar .


"Hah? ada yang begituan ? " aku kaget setengah kepalang . Untung saja aku gak ada berurusan dengan dirinya . Syukurlah dia ada di dalam circle pertemananku.


"Ok , jadi bagaimana rencananya?" tanyaku lagi ke Zahra .


"Dalam hitungan ketiga kamu lompat ke bawah jembatan ." jawab Zahra sembari ia mempraktikkan tiga jari kepadaku.


"Dari kapan?" tanyaku lagi sembari melihat ke belakang.


"Tu, dua , sekarang!" ia kemudian mendorongku dengan sekuat tenaga ke luar jembatan . Aku yang kaget dan tengah berlari kencang langsung saja terlempar akibat dorongannya yang lumayan mengejutkanku itu. Sebelum aku benar benar terjatuh ke sungai, aku sempat melihat Zahra menatap mata si pria baru dan menepuk tangannya ke udara seperti kalian menepuk nyamuk yang sedang terbang di depan wajah kalian . Seketika pria batu terdiam dan meringkuk ke tepi jalan .


Tepat di depan mataku , ada dua ekor buaya yang sedang menganga . Ada kemungkinan ia sudah tau bahwa aku akan menceburkan diri ke sungai ini . Salah satu dari mereka menggigit tanganku hingga putus . Aku spontan berteriak dan menebas leher teman si buaya yang satu lagi , dan impas lah sudah . Lengan di balas dengan kepala .


Aku memerintahkan sungai untuk membawaku ke hulu, namun sepertinya sungai ini memang belum bersahabat denganku . Karna aku seperti terbawa arus dengan tekanan tinggi yang memang sifat alami dari sungai yang sedang pasang . Aku memejamkan mata dan mulai memfokuskan semua Indra di tubuhku untuk memerintah air . Agak lumayan lama aku berfokus kepada seluruh syaraf , karna lenganku yang putus dan aku tidak bisa memerintahkan air untuk menyembuhkan ku.


Aku menancapkan pedangku ke dasar sungai dan akhirnya aku tidak lagi terseret arus yang lumayan tidak bersahabat itu. Aku kembali berkonsentrasi, dengan maksimal aku merasakan air di sekelilingku dan membuat perasaan dan pikiran kami menjadi satu . Berkali kali aku mencoba dan berkali kali pula aku gagal di karenakan banyaknya bebatuan ataupun benda kasar lainnya yang menghantam daging lenganku yang putus . Harusnya kalian tau kan seberapa besar rasa sakitnya itu .


Hingga pada menit ke sepuluh aku menemukan inti aliran dari sungai yang berada tak jauh dariku . Di dalam pusaran sumber sungai itu aku merasakan ada sebuah kekuasaan yang mutlak di dalam sungai , namun mereka masi aku rasakan berada di bawah kendali ibuku . Kenapa aku yakin? karna aku anaknya , batin ibu dan anak selalu ada kan ?.

__ADS_1


Karna ada kemungkinan kalau proses penyatuan pikiran dan hati antara diriku dan jiwa air di sungai ini akan lama , aku langsung nekat pergi ke sumber mata air sungai ini .


Dengan susah pakai payah aku berjalan melawan arus yang lumayan deras, bahkan kakiku seperti terkoyak dibuatnya . Oh iya , bye the way aku walaupun aku tak bisa mengendalikan aliran sungai ini , aku masih bisa menggunakan wewenang alamiahku sebagai putra dari pengusaha lautan , yaitu bernafas di dalam air .


Sekitar dua meter dari tempat aku berdiri , aku melihat banyak buaya yang sedang menungguku dan berbaris untuk menyantap daging ku. Aku tahu benar bahwa dari sorot mata mereka yang kelaparan . Ketika aku sampai tepat di depan mereka, mereka tiba tiba menjadi diam dan tak ada hawa pembunuh sama sekali . Sewaktu aku melihat ke belakang barulah aku menyadari apa penyebab yang membuat mereka seperti itu.


Di belakang mereka, sekitar lima meter atau lebih aku melihat sebuah gerbang istana yang tak besar . Bahkan tiga kali lipat lebih kecil dibandingkan gerbang pondok . Di depan gerbang berdiri lah sesosok mahluk yang tidak bisa ku katakan manusia tetapi hampir mirip seperti manusia . Di atas kepalanya ada semacam mahkota yang berhiaskan kerang dan cangkang keong yang terbuat dari tembaga . Kepalanya tentu seperti kakek kakek tua pada umumnya (manusia) tetapi memliki janggut yang seperti lumut. Matanya bersinar pendar putih ke abu abuan yang agak keruh. Aku menerawang jauh ke dalam matanya , ia seperti menunggu seseorang dan pandangannya itu hampa . Seperti sudah tidak ada lagi yang ia harapkan di dunia ini . Bagian tubuh atasnya , (dari dada sampai pinggang ) memiliki sisik yang lumayan keras seperti hal nya sisik buaya , ia juga memliki ekor buaya yang menjuntai juntai di belakangnya . Sedangkan bagian bawah nya, (dari pinggang sampai kaki) membentang lah dua ekor sirip ikan patin untuk menjadi pengganti kedua kakinya . Ia menggenggam sebuah tongkat yang di atasnya terdapat sebuah miniatur mirip seperti keong yang terbuat dari emas bercampur dengan tembaga .


"Permisi, bisa kah aku menjinakkan pusaran air ini ?" tanyaku kepada sang pria bermahkota .


"Tentu, karna kau bisa bernafas di dalam air pastinya kau adalah salah satu putra penguasa lautan . " ia melambaikan tangan ke sampingnya , tanda bahwa aku boleh berdiri di situ .


"Baiklah, namaku Rio Ferdinand Sinaga. Putra dari Kadita , atau Nyi Roro Kidul." aku membungkukkan diri untuk memberi hormat.


Seketika semua aliran sungai terhenti, dan bahkan sang pria bermahkota menjatuhkan tongkatnya .


"Sekian lama aku menunggu untuk pensiun , akhirnya tiba di akhir masa lansiaku untuk berlibur panjang sepanjang panjangnya!" teriaknya dengan riang gembira .


Entah kenapa aku merasakan semua mahluk yang ada di sungai menyeringai kepadaku .

__ADS_1


***


__ADS_2