Rio Ferdinand : Perang Internal

Rio Ferdinand : Perang Internal
Kelas 5 A


__ADS_3

Aku cukup bersabar dalam segala sesuatu , misalkan dalam hal yang tak terduga seperti tadi yang membuat aku harus mengganti pakaian.


Detik detik selesai makan , ada seseorang menumpahkan minumannya ke bahuku dan membuat aku harus kembali ke rumah untuk berganti pakaian, dan kini aku sedang berjalan ke arah campus.


Baju ku tetap sama , yaitu kaos pondok . Hanya saja lain warna . Aku memasuki campus lewat jalan depan dan memilih masuk ke gedung A. Ada kemungkinan bahwa di dalam gedung B itu adalah gedung yang isinya adalah orang orang kuat yang sudah siap dalam misi tingkat A ke atas .


Di dalam misi petualangan , ada tingkatannya . Namun di pondok ini, tak hanya misi petualangan . Ada juga yang namanya misi surgawi. Yaitu misi khusus yang langsung dari Dewata . Misi petualangan ini tingkatannya mulai dari C (Challenge), B (Beginner), A (Amazing) , S (Super) , Ss (Super solit) dan trakhir Zero. Misi zero jarang di temukan , karna biasanya misi itu harus melibatkan salah satu dari kelima bintang Demigod .


Adapun tingkatan di misi surgawi .


Misi perunggu , misi perak , misi emas , misi berlian , misi Imperial, Misi Emas imperial dan trakhir , misi Goddnes Knight.


Untuk misi Goddnes Knight sendiri baru beberapa yang berhasil mencetak skor di sana , dan salah satunya adalah si Empat. Aku menaiki tangga menuju lantai dua , karna tadi saat aku baru memasuki ruangan , aku melihat sebuah brosur di papan pengumuman bahwa angkatan baru tahun ini berada di lantai dua .


Satu persatu anak tangga aku naiki dan tak ada modelan jebakan yang fantastis seperti film film tentang sekolah magician yang pada umumnya . Saat benar benar telah sampai di lantai dua , aku melihat beberapa pintu kelas berbaris di dinding yang berada di sebelah kiri ku. Karna aku tak tau kelasku di mana , jadi aku menelusuri dari kelas paling dekat dengan anak tangga. Kelas ini bertuliskan 1 A, di bagian samping kanan pintu adapula daftar anggota kelas berikut


Ketua kelas : Deni Wendy ,


Wakil: Diego


Bendahara : Mari


murid kelas : Serfigos, Brifiordan, Quincy, Meli , Antonio , Shelly.


Tertanda :


Berfiosta.


Kemungkinan Berfiosta adalah walikelasnya , yah paling tidak tak ada namaku di sini . Aku kembali berjalan dan membaca satu persatu daftar kelas , dan pada ketentuan perjalanan akhir, aku mendapati sebuah kelas paling ujung dekat dengan tangga menuju lantai berikutnya . Kelas ini adalah 5A. Benar benar kelas pojokan.


Aku membaca dan ada namaku.


Ketua kelas: Yana


Wakil : Belivia


Bendahara : Rista


Anggota : Ricky, Dinda, Justin, Cloude, Mervis , Dandan, Bokuri , Nano , Rio, Borhax ,Cleo .


Tertanda


Cocolate Choil Arrisa.


Wow, ternyata benar dia yang jadi walikelasku.


Aku mengetuk pintu dan memberi salam , dan yang kudapat adalah keheningan . Hening , tak ada apa apa yang menyahuti. Ketika aku memutar tuas pintu , barulah seseorang menarik bahuku dengan kencang sehingga aku berbalik ke belakang dan menghadap orang itu.

__ADS_1


"Weh, kamu kemana aja? mau di scors? atau nilaimu mau ku kurangi?" ternyata orang yang menarikku itu adalah Coco .


"Hei, ayolah tadi waktu sehabis makan bajuku ketumpahan air jus, masa aku gak boleh ganti baju?" protesku.


"Kenapa lama? bukannya kamu anaknya Kadita? dan kalau begitu tentu kekuatanmu air , Kenapa kamu gak pakai kekuatanmu untuk menghalau air itu pergi dari bajumu hingga bajumu kering ?" cerewet Coco .


Ternyata begini dirinya ketika menjadi guru?


"Umurmu berapa Co?" tanyaku


"Di sini walaupun kau masih bocah umur empat tahun , jika sudah layak menjadi guru maka akan di jadikan guru oleh kepala sekolah .!" bentaknya seraya menjewer kupingku dan menariknya , ia menarik ku kedalam ruangan .


Ketika tiba di ruangan , momen pertama kali yang ku dapat adalah silau. Setelahnya, samar samar aku mulai melihat siluet orang orang di dalam kelas dan suara mereka yang agak bising . Ketika aku masuk dengan cara di seret dengan jeweran tangan Coco , mereka menjadi terdiam dan hening seketika .


"Perkenalkan namamu , Rio !" teriak Coco dengan wajah galaknya .


"Gak bisa kah seorang guru memperlakukan muridnya dengan lemah lembut? seperti di elus, di manja begitu?" protesku sembari mengusap usap telingaku yang merah.


"Bisa , tapi kalau saja mereka kucing ! aku mau manjain kamu kalau kamu kucing!" setelah menjawab ku, ia pergi ke meja guru dan duduk dengan kakinya di silangkan .


"Cepat!"


"Ekhem..., anu. Salam kenal, namaku Rio Ferdinand Sinaga. Putra Kadita dan umurku masih 15 tahun . Oh iya, kemarin lusa aku mengalahkan Coco ." setelahnya , wajahku tiba tiba mendapatkan hantaman telak . Dan pelakunya tentu adalah yang bersangkutan.


"Duduk! brengsek kamu Yo!" wajahnya merona, mungkin malu kalau dia kalah dariku . Hahahaha.


"Ok ok, aku duduk. " Aku berjalan kikuk dengan banyak tatapan mata seisi kelas yang menatapku .


"Rio! dimana tablet sekolahmu?" tanya Coco lagi


"Aku gak tau , gak ada yang memberiku sebuah tablet. Haruskah aku beli?" tanyaku balik .


"Yana, seharusnya kamu memberikan info kepadanya untuk membawa tablet yang di beli dari hasil prestasi . Belum kamu beritahu?" Coco kembali mengomel, dan kali ini Yana yang kena .


"Maaf Bu, saya lupa " Yana gugup sambil menunduk.


Tiba tiba gadis yang di sampingku mengangkat tangannya .


"Biar pakai tablet saya saja Bu untuk sementara , saya punya dua tablet dan yang satu ini belum pernah saya pakai . "


Wah, betapa beruntungnya diriku ini.


"Bagus kalau begitu , ingat Rio ! mulai besok kamu harus bisa mencari prestasi dan membeli tablet campus sendiri. Saya berikan kamu waktu sebulan untuk memilikinya. Mengerti?" Coco kembali menatap mataku lekat lekat, aku mempunyai firasat bahwa ia masih dendam dengan pertarungan kami dua hari yang lalu .


"Mengerti " jawabku asal.


Aku melirik Rista yang duduk agak tengah dan di bagian barisan sebelah barisan ku cekikikan , begitu juga Ricky dan Justin .

__ADS_1


"Ini , kak Rio . Buat saja akunnya , punya email dari dunia fana kan?" tanya gadis di sampingku .


"Ah , iya aku punya . Oh iya bye the way, kenapa kamu manggil aku kakak?" tanyaku pelan , takut kedengaran Coco yang lagi sibuk menyiapkan materi di papan tulis .


"Karna kakak lebih tua dari aku . Ini tabletnya ." ia memberikan sebuah tablet berukuran delapan inci .


"Oh iya, nama kamu siapa ? kamu manis ku liat ." tanyaku .


"Ehem, ingat Clara !"


Aku mendengar bahwa Sofia menegurku.


Apa salahnya ? aku jujur bahwa dia manis, bukan berarti aku naksir dan aku menganggap gadis ini lebih cakep ketimbang Clara , tetapi ini ungkapan kejujuran dari seorang pria .


"Anu, namaku , itu ... aku anak Dewi Athena ... tapi, anu," gadis ini malah menjadi semakin gugup dan terbata bata .


"Yang ku tanyakan namamu.." kataku kembali .


"Itu, anu , namaku...Sarah Az-zahra."


jawabnya sambil menundukkan wajah .


"Kalau begitu , aku panggil kamu Zahra aja ya ?" kataku .


Zahra menoleh "Kenapa? orang banyak manggil Sarah kok "


"Ya , karna ... ya gak ada alasan . " jawabku.


"RIO! APA KAU MENYIMAK KALIMATKU TADI?" Coco berteriak ke arahku yang ku jawab dengan menggeleng .


"Suaramu terlalu kecil Coco .. yang kudengar cuman suara Zahra aja " seisi kelas menoleh .


Zahra pun tercengang mendengar jawabanku.


"Maksudmu apa Rio ? manggil pakai namaku? bukan embel embel guru?" Coco berjalan ke arahku.


"Ya suka suka aku dong .." aku pun berdiri.


"Dasar anak baru kurang ajar!" Coco bersiap ingin menjewerku , namun aku mengelak dan menghindar .


"Eits, gak kena .. " aku memeletkan lidahku


"Hoo, mau pakai kekerasan ? " Coco mengambil belati dari kantung Jaz bagian dalam nya .


"Hei, bukannya selama jam pelajaran gak boleh ada kekerasan ?" aku merentangkan tangan .


"Pintar juga kamu mengelak, toh juga murid kelas di sini hanya menutup mata " Coco menerjang ke arahku, aku yang lumayan siap siaga sedari tadi kemudian bersalto dan mendarat di belakang Coco .

__ADS_1


"Byee... Coco .." aku membuka jendela kelas dan melompat keluar .


***


__ADS_2