
Aku sudah lumayan banyak mengalami bencana di mana mana , dan bahkan ada banyak kejutan yang tak terhitung jumlahnya . Termasuk hal yang mengejutkan bagiku adalah bahwa pendeta ini benar-benar ada dua orang .
Yang ku lawan ini rupanya adalah arwah pendendam milik kembaran sang pendeta gereja . Sang pendeta gereja mempunyai keterbelakangan mental , seperti ia tidak pernah tenang dan selalu gelisah jika tidak melihat bunga . Dan hal itulah yang menimbulkan masalah hingga menjadi seperti ini .
Setelah aku membunuh arwah pendendam dari sang kembaran pendeta , aku melihat seluruh monster dan dedemit yang bertempur melawan kami sudah lenyap . Bahkan para Guardian sudah berhasil di tumbangkan oleh sang Genderuwo. Yang membuat ku semakin penasaran adalah , ucapan yang di ucapkan oleh si pendeta itu selalu menggangu pikiranku . Memangnya aku ini iblis yang akan menjadi raja iblis? rasanya tidak masuk akal aku yang merupakan putra dari Dewi samudra menjadi raja iblis .
Untuk skenario di dunia fana, seseorang dari komplotan pondok sebelah mampu memberikan informasi palsu dengan meyakin kan mereka dan sedikit membelokkan fakta fakta yang ada . Aku terkesan bahwa sudah pasti jika di bidang intelektual mereka sudah jauh di atas kami .
"Tuan, berilah nama ku" sang Genderuwo menagih nama seraya bertekuk lutut di hadapanku .
"Giganz" ucapku , dan itu hanya pemikiran selintas karna ia besar dan kuat jadi aku menamai ia Giganz.
"Baik tuan , sama hamba Giganz" setelah itu , ia menyusut dan merubah tampilannya menjadi Abang Abang berambut panjang dengan sedikit jambang di pipi dan lengkap dengan kumis tipis. Rambutnya panjang terurai sampai bahu .
Setelah memberikan nama, tenagaku langsung habis dan staminaku benar benar kosong . Saking tak kuatnya kakiku menopang tubuhku, aku hampir saja tersungkur jika Shofia tidak cepat-cepat menangkap tubuhku dengan pelukan .
"Tidur lah Yo , istirahat yang banyak" kata kata yang keluar dari bibir manis Shofia membuatku tenang dan benar benar rileks. Belaian jari jemarinya yang lentik menyusuri wajahku membuat ku benar-benar terbuai dan hendak tidur .
Karna semua yang telah terjadi seharian ini , dan kebetulan juga hari sudah malam , aku memutuskan untuk tidur di dalam pelukan Shofia .
Dan aku kembali kepada mimpi-mimpi yang aneh .
__ADS_1
Aku berada di sebuah hutan belantara yang di tengah-tengah hutan ini terdapat sebuah danau . Danau kecil ini memliki air jernih di tengah nya dan terdapat sedikit rawa di pinggiran danau tersebut . Yang membuatku terkejut adalah terdapat sebuah rumah yang terbuat dari batu bata yang di semen dan separuh bagian rumah lagi terbuat dari kayu. Atapnya pun terbagi dua , di bagian depan rumah di lapisi genteng batu, dan di bagian belakang rumah di beri atap seng besi tipis saja . Di belakang rumah terdapat sebuah kebun kecil yang menyelimuti bagian halaman pekarangan bagian belakang rumah tersebut . Kebun itu berisi dua perkebunan , perkebunan markisa dan anggur .
"Maaf tuan , sepertinya kita harus pindah tempat dari sini . Sang pendeta yang kita incar bulan lalu sudah di bunuh oleh calon kita . " terdengar sebuah percakapan dengan suara dan nada yang berat dari dalam bagian belakang rumah .
"Aku tau , aku tau, biarkan aku istirahat dua atau tiga hari di sini . Aku ingin menghisap pipa tembakau ku dengan sedikit kayu manis dan serpihan kulit markisa ini . Memang agak aneh kalau di pikir pikir , tapi rasanya sangat manis dan menawan ." setelahnya, terdengar suara ia menghisap pipa rokok dengan panjang dan kencang . Lalu kemudian menghembuskannya.
"Baik tuan , kami menunggu di markas tiga ." Suara derap langkah kaki berat kini terdengar seperti melangkah keluar dari ruangan . Dan benar saja tak lama setelah aku mendengar derap kaki berat itu , aku melihat seorang pria dengan baju tentara angkatan laut membuka pintu belakang rumah tersebut dan melangkahkan kaki menuju jalan setapak.
"Hei boritos" teriak sang perokok pipa dari dalam rumah .
"Ya pak!" dengan hormat pria tentara angkatan laut itu kembali berputar haluan kembali ke arah belakang rumah dan memberi hormat dalam posisi tegap.
"Jangan lupa, ajak dan pastikan bahwa target kita bergabung dengan partai kita . Kita harus membangun ulang negri ini dengan cara memasukkannya ke dalam partai kita ."
"Bagus "
Mimpi berganti , dan aku berada di pelabuhan Semayang. Aku berdiri tepat di dermaga dan melihat beberapa kapal sedang berlabuh .
Dari kejauhan nampak lah sebuah kapal besar yang dengan perlahan sedang menepi untuk menurunkan jangkar . Di atas dek kapal terdapat barisan ribuan mahluk yang sangat ganas dan sangat bengis . Aku kenal mahluk itu, itu adalah sekawanan Orc. Entah bagaimana kabut murni menyembunyikan realitas mereka , tetapi jika ribuan tentara orc di kumpulkan dalam satu kapal, aku yakin pasti bakalan ada tentara tentara sekutunya yang lain dan siap berperang .
Setelah berhasil menurunkan jangkar , terompet purba di tiupkan dan terdengar suara suara hentakan kaki dari orc , seperti sebuah ritme untuk menghormati seorang pemimpin mereka yang masuk ke dalam barisan .
__ADS_1
Tepat ketika cahaya rembulan menunggu dan menampakkan sinarnya dengan terang lantaran tak ada awan yang melindunginya, aku melihat sebuah siluet pemimpin mereka. Seseorang dengan ukuran badan tinggi dan memliki rambut panjang yang terurai. Di bagian paha kanan dan kiri terdapat sepasang gunblade yang di pisah menjadi dua sisi .
Dan tentu aku tau dia siapa, dia yang seharusnya tidak ada di barisan dan di kumpulan itu . Dia yang seharusnya menjadi tujuan aku bertahan hidup dan ingin kembali ke rumah .
Aku ingin meneriaki namanya, namun lidahku kelu dan aku keburu di bangun kan oleh suara yang memanggil namaku .
"Rio , Rio , banguuun " suara itu dari Sofia .
"Ya Sofia ? ada apa?" aku berusaha mengerjapkan mataku karna silau dari cahaya senter yang di arahkan ke mataku .
"Kita dapat tumpangan , dan ini kita mampir untuk makan." mendengar informasi dari Sofia , aku dengan segera mengatur posisi untuk duduk dan mulai mengedarkan pandangan . Perlu beberapa menit diriku untuk mengumpulkan kembali nyawaku yang telah hilang akibat mimpi mimpi barusan .
"Kamu melihat mimpi aneh lagi?" tanya Sofia sembari menarik pelan tangan ku agar aku berdiri .
Ku ikuti tarikan lembut tangannya dan berusaha memposisikan tubuhku agar berdiri. "Ya , dia Sof, dia seharusnya gak ada di situ " aku memeluk Sofia dan ingin menangis karna mengetahui sosok itu akan menjadi musuhku kelak , ku benamkan wajahku ke dalam belahan payudara Sofia.
"Kita ceritakan ke yang lainnya ya, informasi dari mimpi setiap demigod itu penting ." ucap Sofia sembari mengusap ubun ubunku .
Aku mengangguk pelan dan mengusap air mataku yang membekas di pipi .
"Ya sudah , yuk kita gabung dengan mereka "
__ADS_1
***