
Si Genderuwo mulai melemah akibat tanduknya yang aku potong . Ia kini agak sempoyongan jika berjalan biasa sambil menyeret gadanya , aku tak tau bahwa seburuk itulah jika tanduk tersebut di potong.
"Tenang , aku pasti bisa membebaskan mu" aku berlari untuk menerjang di Genderuwo.
Genderuwo melihat ke arahku dan dengan nafas yang masih di atur ia mencoba untuk menghindar . Belum sempat aku menebas matanya ia berhasil mengelak ke samping kanan dan memukul tubuhku dengan gada nya. Aku memang terkena dampak dari pukulan gada tersebut, namun kali ini aku tak akan pasrah terhempas seperti awalnya tadi .
"Aku masih bisa mengalahkan mu nak, jika kamu memang membutuhkan ku, harusnya kamu lebih kuat dari ini untuk bisa membuka belengguku" kata Genderuwo.
Aku bersalto dan kembali berdiri tegak . "Aku ini kuat , baiklah aku akan tunjukkan kekuatan ku " sebenarnya ini kekuatan pinjaman dari ibuk ku, tetapi ya sudahlah .
Aku menggenggam kalung yang di beri ibuku dengan rapat. Setelah nya , aku menutup mataku dengan berkonsentrasi terhadap segala eksistensi elemen yang ada . Air, udara, oksigen, api, embun, dan hembusan angin . Dalam satu pusat aku salurkan semuanya ke dalam satu titik , yaitu tepat di pusarku. Dalam renungan ku, aku melihat semua eksistensi elemen yang berkaitan air berbondong bondong berkumpul ke titik pusarku. Perlahan lahan titik pusarku mulai terbuka hingga akhirnya alam bawah sadarku berada di depan sebuah gerbang . Di dalam gerbang aku melihat sebuah trisula yang sedang di rantai. Naluri ku membimbing diriku untuk membuka gerbangnya dan mengambil trisula itu . Aku tak tau kenapa hari ini aku selalu saja di perlihatkan dengan trisula, jujur saja aku sempat berfikir bahwa trisula itu hanya milik Poseidon. Karna dari setiap mytologi Poseidon lah yang memiliki trisula , aku tau hal ini dari Clarisa .
Seolah-olah terbimbing , ku langkahkan kedua kakiku menuju gerbang yang amat besar dan bahkan tidak ada pencahayaan yang cukup untuk sebuah ruangan berukuran kounteiner ini. Aku buka gerbangnya yang bersamaan dengan itu terdengar bunyi berderit nyaring memekakkan telinga. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tak ada jebakan jebakan dadakan seperti di film film petualangan biasanya .
Setelah merasa cukup aman, aku kembali melangkahkan kakiku untuk mengambil trisula yang sedang berdiri Kokok di sebuah bebatuan laut. Untuk hal ini aku pikir di bawah kakiku hanya berupa lantai marmer, namun nyatanya seluruh lantai marmer ini di genangi oleh air laut. Kenapa aku tau ? karna aku hafal aroma asin dari air laut.
"Sebuah ramalan telah menantimu nak, ramalan yang selalu menyajikan dua jalur kehidupan . Kau memang di takdirkan untuk itu putra Kadita!"
Suara itu terdengar langsung oleh telingaku, dan tak lain tak bukan suara itu pasti berasal dari trisula yang sedang tertancap di bebatuan ini .
__ADS_1
"Kalau begitu bisa kah kamu memberitahukan ramalanku?" tanyaku.
"Tentu! dan itu harus di lakukan. Ramalanmu adalah 'putra Kadita , terlalu mendalam urusan cinta maka cinta itulah yang akan membuat ia mengambil takdir yang berbeda . Kanan penuh dengan kesakitan , kiri penuh dengan kekuatan . Kau tidak akan bisa menguasai lautan jika kau tidak memiliki sebuah pengorbanan yang berarti. Takut bukan lah alasan bagimu untuk memulainya, tetapi kau akan menuai ketakutan kepada mereka yang telah menghalangi jalanmu. Ikuti lah jalur angin sebelah barat , maka kamu akan mendapatkan keabadian layaknya Dewata . Takdir kahyangan ada di pilihanmu, tapi jangan lupa bahwa jika kau tidak move one dari masa lalu dan selalu melihat kebelakang tanpa memperdulikan seklikingmu, maka dunia akan rata dengan kehancuran tepat di bawah kakimu'."
Setelah nya, cahaya hijau menyeruak memenuhi ruangan gelap ini dengan sangat terang hingga aku tidak bisa melihat apapun saking silaunya . Lumayan lama aku menutup mataku hingga ketika secara naluriah aku membuka mataku perlahan, tiba tiba aku berada di atas pancuran air besar dan sedang memegang sebuah replika trisula dari air. Di kepalaku pun melingkar lah sebuah mahkota kerang laut dan lengkap dengan hiasan mutiara laut yang menyala terang . Tubuhku pun di selimuti jubah kekaisaran laut dengan hiasan kerang laut dan kuda laut yang sedang berenang renang ria . Maksudku kuda laut berenang renang ria adalah mereka asli berenang di dalam jubah airku.
"Baiklah Genderuwo, apa aku masih terlihat kurang kuat?" tanyaku dengan nada sombong .
Tanpa menunggu jawabannya, aku meluncur dengan pancuran air . Melesat menabrak angin yang ada di depanku sangat berbeda sensasinya terbang dengan Coco di atas papan api miliknya . Terbang dengan gaya meluncur di atas pancuran air sangat menyenangkan.
"Kecepatanmu bertambah ya, aaarghh.." si Genderuwo berteriak kesakitan ketika dengan cepat aku melesat dan memotong lengan kanannya. Kemudian aku melesat dengan kecepatan extrim lagi untuk memotong lengan kirinya , setelah ia kebingungan , aku melesat lagi ke bawah dan memotong kaki kanannya , lalu kemudian kaki kirinya . Al hasil sekarang ia telah terbaring tak berdaya sembari meronta ronta kesakitan . Aku bisa membayangkan rasa sakit yang tiada tara ketika di potong organ tubuh nya .
Aku tak menghiraukan dia yang sedang menyumpah nyumpahi aku, karna aku fokus mengambil kedua lengan dan kakinya yang tergelatak di tanah . Lumayan berat untuk sebuah tangannya , bahkan jika saja aku tidak menggunakan jasa replika tangan raksasa dari air, aku mungkin tak akan bisa mengangkat tangannya .
Aku memerintahkan air untuk membuat sebuah balon air raksasa dan menyuruh para replika tangan air untuk memasukkannya ke dalam sana, ketika ke empat organ tubuh Genderuwo sudah mulai pucat warnanya , aku pun masuk kedalam balok air itu.
Aku memeriksa belenggu di bagian tangan kanan, ku lihat masih ada bekas goresan tipis ketika aku menyabet nya tadi. Ketika di sekolah , aku di ajarkan tentang macam macam belenggu pada dedemit. Ada yang berupa benda kesumat, rapalan sihir, dan berupa sumpah lisan . Untuk yang satu ini untung saja berupa benda kesumat. Yaitu benda yang dapat mengunci jiwa dan eksistensi nya menjadi semacam hewan peliharaan . Benda kesumat itu terlalu efektif untuk semacam Dedemit yang memiliki eksistensi besar , seperti Buto ijo, Genderuwo, Leher panjang , Kuyang , Kalong , Macan rumba, dan Buto Ireng. Cara mematahkannya pun simpel, yaitu dengan menghancurkan benda kesumat itu dengan eksistensi lebih abadi dan kuat seperti halnya kelima elemen murni . Dan untung saja aku memiliki salah satunya yaitu air .
"Hancurkan !" perintahku.
__ADS_1
Balik air menurut dan seketika belenggu belenggu itu lenyap dalam arus pusaran beliung air di dalam gelombang balon air .
Aku keluar dari balon air dan meluncur ke dataran untuk mendekati si Genderuwo yang sudah mulai diam dan meratapi nasibnya yang telah kehilangan empat organ penting di tubuhnya .
"Kau puas nak? dengan kemenangan ini?" tanya dia kepadaku .
"Hei bukannya Genderuwo bisa beraksi dengan terbang dan kekuatan spiritualnya? kenapa gak di pakai?" tanyaku balik.
"Kau pikir apa enaknya mempunyai pacar dan menjadi mahluk kuat tetapi tak mempunyai sepasang tangan dan kaki?"
Jujur perkataan Genderuwo ada benarnya .
Aku sebenarnya tidak benar benar ingin memotongnya , toh lagi pula hanya ini satu satunya cara untuk membebaskan dirinya dari belenggu.
"Baiklah kalau begitu, aku akan meregenerasi ulang tangan dan kakimu" aku duduk bersila di atas pancuran air dan mulai fokus memperintahkan seluruh air yang ada untuk menyembuhkan dan menumbuhkan ulang tangan dan kaki si Genderuwo.
"Bergembiralah Genderuwo! Bahwa kau sekarang sudah bebas!"
***
__ADS_1