Rio Ferdinand : Perang Internal

Rio Ferdinand : Perang Internal
Deja vu


__ADS_3

"Begitulah yang ku lihat di mimpi . Jika kalian menanyakan tentang bagaimana mereka mendapatkan persenjataan dan perlengkapan militer, aku tak tau ." kata ku , sesudah aku selesai menceritakan mimpi burukku semalam .


"Lalu, siapa yang kau lihat di mimpi ? " tanya Sarah dengan antusias .


"Sudah ku bilang kan? aku tak mau mengatakannya sampai aku bertemu dengannya langsung . Aku ingin memastikannya dengan mata kepalaku sendiri ." jawabku bersikeras.


"Ayolah kawan , kita tak akan bisa mempunyai cukup informasi dan tak akan mudah untuk menembus mereka ." Ricky kini ikut angkat suara yang sebelumnya hanya mengunyah kacang kacangan .


"Aku tidak bilang kalau kita menerobos mereka langsung Rick, dalam hal ini kita hanya perlu diam. Lagi pula bukan itu misi kita , misi kita hanyalah masuk ke dalam desa dan melihat apa kendala yang membuat rumah makan itu menjadi laris manis dan memiliki aura jahat di rumah makan tersebut. " Berista menyelamatkan ku dari tuntutan pertanyaan yang lainnya .


"Guys, emangnya si Genderuwo , mbak Kunti dan si buaya betina itu ikut kita yah?" tanya Sarah.


Aku mengalihkan pandangan kepada trio dedemit yang kini sedang asik berdebat siapa yang paling jago makan. Jujur , aku belum pernah melihat dedemit sebelum kejadian di sekolah . Namun jika melihat bahwa Dedemit itu tak jauh beda dari manusia yang juga memiliki rasa humor , rasa takut, dan bahkan bisa sedih, membuat ku ingin melindungi lingkungan yang seperti itu di suatu saat nanti .


"Iya, mereka dedemit yang kontrak dengan ku . Tapi kalau mbak Kunti belum ku kontrak , dan dia juga belum punya keinginan untuk melakukan kontrak . Jadi aku belum bisa memasukkan dia ke dalam tubuhku kalau kalau sewaktu waktu ada hal mendesak yang mengharuskan mereka masuk ke dalam tubuh ku." Aku berdiri dan berjalan ke arah trio dedemit .


Ketika aku berhenti di dekat mereka , seketika mereka berhantu debat .


"Wahai pangeran lautan yang tertunda, ada apakah gerangan ?" tanya si buaya betina , Chelly.


"Nggak, aku mau bertanya . Sampai kapan kalian ingin ikut dengan ku?" tanyaku .


Mereka saling bertatap pandang satu sama lain , lalu di ikuti dengan keheranan yang mendalam sembari menaikkan pundak mereka.


"Pertanyaan macam apa itu ? kau sudah mengalahkan ku . Sudah sepatutnya aku mengabdi kepadamu sampai aku mati .." Jawab Giganz.


"Aku tidak di beritahu oleh zoriath. Pak tua itu menyuruhku untuk mengabdi kepadamu . Lagipula , dirimu juga manis ." sungguh , Chelly sangat menggoda.

__ADS_1


"Heh! Dia sudah punya wanita yang harus ia jaga !" Sofia langsung berderap dengan langkah kaki yang di hentak hentakkan dan melotot kan matanya kepada mata Chelly.


"Hei mbak, selama janur kuning masih melengkung , masih ada jalur untuk menikung " Balas Chelly tak gentar .


"Hooo.. jadi begitu mau mu ? iya?" Sofia mengeluarkan aura spiritnya yang sangat kuat.


"Maaf , mau bagaimana ini?" si Chelly juga tak mau kalah dan kini ia menarik seluruh jiwa air dan tanah untuk menyatu dalam pusaran energi nya .


"CUKUP!" Giganz menepuk tangannya dan terguncang lah dataran yang kami pijak dan hembusan angin akibat tepukan tangannya membuat Sofia dan Chelly hilang keseimbangan .


"Beraninya kalian bertengkar di hadapan pangeran lautan. Beri hormat dan minta maaf!" Teriak Giganz.


"Hahaha, tak usah Giganz. Kalian adalah keluarga bagiku walaupun kalian bukan satu darah denganku. Anggap saja tadi hanya jokes." aku menengahi mereka .


Jujur , aku tak tau sampai kapan hal ini terus berlanjut. Namun jauh dari dalam pikiran dan benakku , aku merasa bahwa aku akan menjadi sumber bencana mereka di masa depan . Entah cepat atau lambat, yang pasti takdir yang ku jalani tak akan bisa di rubah . Atau bahkan , scenario terburuknya adalah ada seseorang yang berusaha merubah takdirku dan aku sendiri ingin takdir ku itu di rubah olehnya.


"Ok , kalau begitu kita akan membuat suatu jalan pikiran . Apakah kita akan pergi melanjutkan misi atau kembali ke pondok dan meminta agar misi di ganti?" tanya Rista .


"Jangan ! Kita pasti bisa melewatinya. Aku yakin!" Ricky mengangkat tangannya dengan wajah yang penuh keyakinan dan semangat. Jujur , semenjak ia mengenakan Axel Drive itu , ia menjadi semakin berani .


"aku mengerti, tapi apakah ada jaminan kita selamat dalam misi? sedangkan di tengah jalan saja kita bisa saja mati jika kita tidak di bantu oleh Giganz dan yang lainnya " Zahra memang benar. Sejauh ini kita berhasil bertahan hidup di karenakan kita memiliki keberuntungan yang luar biasa . Bisa di bilang ini adalah keberuntungan yang hanya bisa di pakai setahun sekali . Dan aku juga tidak yakin jika misi ini behail dengan mulus .


"Aku menyarankan untuk maju. " aku berdiri dan merenggangkan tubuhku .


"Apa alasannya Yo?" Zahra terheran heran .


"Karna kita masih beranggotakan empat orang , dan kalung ini masih bisa melontarkan kita langsung ke pondok . Jadi ketika di masa akan mendatang kita menghadapi bahaya yang sama sekali tidak bisa teratasi, maka kalung ini adalah kartu as yang akan kita pakai dan kita akan kembali ke misu dalam keadaan yang siap matang " ujarku panjang lebar .

__ADS_1


"Aku setuju " sahut Ricky.


"Tapi bagaimana jika kita tidak bisa memakainya dalam keadaan tertentu nanti? sedangkan kita tidak bisa memprediksi kejadian yang akan menimpa kita selanjutnya " Kali ini pernyataan Rista cukup membuatku harus berfikir lagi .


"Kami akan mengulur waktu, biar bagaimana pun kami lebih kuat dari kalian ." Giganz berjalan pelan ke arahku dan mengangguk pasti . Seakan-akan ia ingin memberitahukan bahwa mereka bisa di andalkan .


Rista mengangguk dan tersenyum .


"Ok guys, kita menuju lokasi !" teriak Rista , yang di ikuti yang lainnya dengan suara dan teriakan yang lantang .


Tak lama setelah kami kembali bersemangat , mobil pick up yang memang sudah kami tau dan kami hafal pun datang . Mobil itu berhenti di depan kami dan pria tua yang ada di dalam mobil menurun kan kaca mobilnya .


"Ada yang perlu tumpangan ?" tanya pak tua itu.


Deja vu.


"Iya pak, kami butuh tumpangan " jawab kami serempak .


"Ya udah , mari ikut. Satu orang di depan gak papa?" tanya pak tua itu .


"Biar Zahra yang di depan , kami semua di belakang ." Rista memberi komando .


Setelah kami semua menaiki bak pick up (kecuali Zahra yang duduk di samping supir) sang supir langsung menyalakan mesin mobil dan menjalankannya dengan laju dan mulus. Bahkan sang supir terlihat seperti berbeda dari sebelumnya . Cara ia menyetir lebih halus , namun cepat . Aku bahkan ingin sekali tidur di bak pick up ini jikalau saja Sofia tidak mencubit hidungku ketika aku mengantuk .


Dan inilah perjalanan yang sesungguhnya . Perjalan kami menuju misi yang sebenarnya akan di mulai .


###

__ADS_1


__ADS_2