
RIO POV .
"Begitulah " ibuku mengganti dunia flashback menjadi dunia hampa .
"Ibu, kenapa pas bikin akunya gak di liatkan?" tanyaku sedikit iseng . Yah, siapa tau dapat bonus tamasya melihat proses pembuatan diriku kan ?
"Gak gitu anakku sayang" ia menyentil hidungku seperti anak kecil .
"Toh kamu sudah ngelakuin sama pacarmu kan?"
Sumpah , mungkin sekarang mukaku seperti kepiting rebus .
"Hah? kok ibu tau? ibu ngintip?"
Ibuku cekikikan .
"Dasar , anakku sudah besar rupanya ." ia menyentil hidungku lagi .
"Ya sudah , kembali ke acara . Sebenarnya , ada banyak yang ingin ku katakan . Tapi dilain waktu saja ya .." ibuku memelukku lagi . Aku pun membalas pelukannya dengan erat .
"Berasa meluk gadis kan?" goda ibuku .
"Ah... udah ah Bu, hoby nya ibu godain aku ya?" aku yang malu karna ketahuan nyaman meluk tubuh ini malah makin membenamkan wajahku ke belahannya .
"Hahaha.. ya sudah , waktu sesi pertemuan ibu dan anak sudah selesai . Yuk kembali , " ibuku membelai rambutku dan aku mengangguk tanda setuju .
Ibuku menjentikkan jarinya dan keluar lah kami dari dunia itu dan kembali ke dunia asli .
Orang orang masih melihat kami yang sedang berpelukan mesra.
"Udah Yo.. kamu gak malu di liatin banyak orang ?" aku tersadar ketika ibuku berkata seperti itu .
"Eh iya .." aku segera melepaskan pelukanku dari sang ibu.
"Oh iya ,Sofia , tolong dijaga Rio ya . dia licik tapi sembrono .." aku heran , kenapa ibuku tau kalau ada Sofia di tubuhku .
"Iya Tante .." sahut Sofia dari dalam tubuhku .
"Bagus, sudah saatnya kami pergi dari sini .. jaga diri ya Rio .." ketika ibuku hendak berjalan di atas angin , tiba tiba ia berhenti dan membalikkan badannya ke arahku .
"Aku punya sesuatu yang bagus ." ibuku mengulurkan tangannya dan muncullah sebuah jam arloji mewah. Pinggiran arlogi diliputi emas murni dan rantai jamnya berwarna silver . Dari jarum jamnya berbahan perak dan dilapisi dengan mutiara kerang laut asli .
"Wah .. hadiah ultahku yang telat?" tanyaku .
Ibuku tertawa .."Coba pakai , itu senjatamu . "
Aku heran kenapa ini adalah senjataku . Ketika aku memakainya , biasa biasa saja . Tak ada suara suara aneh seperti jam tangan Ben Tenison yang bisa berubah menjadi alien , atau bahkan bisa berubah menjadi Kamen rider .
"Tarik jarum jamnya ." perintah ibuku .
Aku menurutinya , kutarik jarum jam dan ku lepas . Seketika jarum jam itu berubah menjadi pedang eksklusif dengan bahan dari perak dan berhiaskan mutiara lautan .
"Mutiaranya akan membantumu mencarikan air . Pedang itu terbuat dari perak rembulan dan perak gimnasium . Kekuatan kerusakannya sangat kuat untuk membunuh monster." kata ibuku .
"Cara mengembalikannya?"
"Sentuhkan saja pucuk pedang mu dengan lubang jarum jam , dia akan masuk sendiri ." ku praktekan apa yang ibuku terangkan . Dan benar saja pedang itu masuk dan menjadi jarum jam seperti semula .
"Nah , kalau kau putar pinggiran jam , maka dia jadi perisai untukmu" ibuku mencium kening ku . " Ya sudah hati hati ya"
Itu adalah kata kata trakhir ibuku untuk hari ini .
Setelah ia mengecup keningku , tiba tiba saja ada suara ledakan amat dahsyat dari tengah bukit. Lokasinya tepat di base kubu langit .
"Apa apaan ini?" teriak Ares seraya berdiri .
Wajahnya sangat memanas dan merah padam .
"Siapaa yang mempersilahkan orang asing masuk!" Odin ikut berteriak .
Rupanya ledakan itu terjadi akibat pertarungan seseorang dengan lima penyihir sekaligus . Aku khawtir dengan Steven , jadi aku memutuskan untuk kembali ke base secepat mungkin . Namun sebelum aku sampai di tebing untuk mendaki bukit, seseorang dengan lantang berteriak .
"Izinkan aku memperkenalkan nama wahai hadirin hadirin Dewata .!" ucapnya .
"CODE NAME KU : CLOWN ASIAN . AKU ADALAH EKSEKUTIF KE 5 DARI ORIAN CHAOS CLUB. ATAU BISA KALIAN SINGKAT DENGAN OCC. ORGANISASI PENGGULING TAHTA DEWATA!" suaranya menggema ke seluruh Antero pondok . Entah bagaimana mereka bisa masuk , tetapi aku banyak melihat monster berdatangan dari bukit , membanjiri arena kegiatan robek bendera .
"LANCANG SEKALI KAMU DI HADAPAN KU MAHLUK FANA!" dengan meluap luap Ares melompat ke bukit.
Aku harus segara ke puncak. Kini aku sedang sibuk dengan urusan mendaki bukit ini , jujur selain curam ada banyak bebatuan yang licin dan tajam yang membuat sendalku dan kakiku sering kali tergelincir .
"Rio anakku .. tangkap ini!" ibuku melemparkan sebuah kalung yang pas sekali langsung mengalungi leherku.
__ADS_1
"Itu kalung untuk meminta karunia atau berkah ku . Bisa digunakan 3 hari sekali . Manfaatkan sebaik mungkin ." ibuku segera ke arah Medan tempur .
Ada banyak sekali raungan monster yang berkombinasi dengan erangan kesakitan para Demigod. Ada juga beberapa Cyclops , Raksasa , Beruang merah dan lain lain lagi monster mitologi yang belum aku ketahui .
"Rio ! sini ikut aku!" aku mendengar teriakan wanita , aku yakin kalau itu Putri belati .
"Sini!" ia mengulurkan tangannya kepadaku .
"Kita teman ?" tanyaku memastikan.
"Kegiatan sudah selesai , gak ada alasan aku untuk menyerangmu . cepetan!" aku menyambut uluran tangannya dan ditariknya aku ke pelukannya .
Ternyata dia terbang menggunakan sebuah papan yang di lapisi dengan api menyala..
"Lumayan ya punyamu .." aku bersungut sungut .
"Apanya ?" tanya nya dengan sedikit nada tinggi .
Suara ledakan kembali terdengar . Banyaknya semburan air pertanda ibuku juga sedang berpartisipasi dalam ajang pertarungan dengan orang asing itu .
"Ada apa ini?" tanyaku kepada Putri belati .
"Aku gak tau , sebaiknya kita ikut ke medan tempur" ia menengadah ke atas dan berteriak . Seketika api yang di papan semakin menyala dan membuat kami melesat jauh ke puncak bukit .
"Namamu siapa?" tanyaku kepada sang Putri belati .
"Aku?" ia menunjuk sebuah bet yg ada di saku nya "Cocolate Khoil Arrisa . panggil aja Coco . Khusus buatmu" ia kembali menghadap ke depan .
Yah .. nama yang aneh bagiku.
Coco mengeluarkan belatinya tadi dari sakunya , kini kedua tangannya sudah siap menggenggam belati .
"Mau combinasi jurus?" tanya Coco .
"Hei, aku ini baru masuk . Aku gak tau apa itu combinasi jurus " jawabku .
"Ya udah , simpelnya, aku mengendarai ini sambil menebas yang di depan . Kau menghalau monster monster yang ada di sekeliling kita " perintahnya bagaikan leaderku sekarang .
"Tapi aneh , kan di sana banyak Dewata, mengapa mereka tak sekuat yang ku kira " aku bertanya tanya , apakah Dewata juga mempunyai keterbatasan kekuatan di suatu tempat .?
"Ketika Dewata turun ke bumi tanpa perintah izin sah dari Zeus . Kekuatan mereka minus 70 persen " kata Coco .
"Ouh , jadi mereka tidak dalam kondisi prima?"
"Ngomong ngomong .." aku mengedarkan pandangan ke arah khalayak .
"Di mana Steven ? dan dimana Dewata ?" tanyaku .
"Steven aku tidak tau , kalau para Dewata di sana !" Coco menunjuk ke arah kumpulan Dewata yang mengelilingi seorang pria yang memakai topeng badut .
Aku heran , mengapa para Dewata hanya terdiam di depannya dan hanya mengelilinginya ? terutama ibuku . Dia yang semestinya mempunyai kekuatan setara Zeus malah terdiam di depan pria itu .
Aku melihat juga di depannya tertancap sebuah pedang di tanah .
"Sekarang, Dewata tak bisa mengangguku lagi !" ketika pria itu menyentil pedang itu, spontan para Dewata sirna hilang tanpa jejak .
"Hah? kok bisa ?" aku naik darah dan naik pitam melihat ibuku yang tak berdaya dan di musnahkan begitu saja . Dengan amarah yang membara aku berdiri dan melakukan ancang ancang untuk melompat , tetapi batal karna dua alasan.
Pertama aku di ganggu dengan monster burung , kedua si Coco menahan tanganku agar tidak kemana mana .
"Tenanglah , mereka tidak musnah. Kemungkinan itu cuman teleportasi ."
Coco berdiri dan bersiaga .
"Tunggu lebih dekat baru kita menyerang ." perintah coco.
Aku melihat si kembar sangat sibuk dengan urusan menyekik, menyabet dan membunuh para monster .
Ada juga dua demigod bersaudara yang tingginya dua meter lebih itu sedang membantai para monster Raksasa dan Cyclops.
Kalau begini keadaannya , ada kemungkinan menang .
"Kita harus sedekat apa baru bisa melompat untuk menghajarnya ?"
"Sekrang !" Coco deluan melompat .
Aku mencurigai dia menginginkan mendapat gelar mvp perang sungguhan kali ini .
Aku juga ikut melompat ke bawah.
Seperti yang sudah sudah , aku tidak mendarat dengan keren . Aku terpeleset batu gunung dan jatuh terduduk .
__ADS_1
"Wah wah , putri belati. Ada keperluan apa?" Coco bingung , aku juga bingung.
Pria bertopeng badut ini mengetahui julukan Coco .
"Sebenarnya agak merasa terhormat . Tetapi sayangnya, hari ini tidak ada lagi Dewata yang bisa masuk ke sini , karna adanya kekuatan pancaran anti surgawi yang ada di dalam perang Pakistan ini ." si Pria topeng menyentil nyentil gagang pedang yang tertancap di tanah itu . Gagangnya terbuat dari perak dengan hiasan batu berlian di pangkal gagang itu .
"Oh pantas saja mereka hilang ," Coco bersiaga untuk menyerang .
Aku ingin mengikutinya bersiap siap menerjang , tetapi Sofia menghentikan ku .
"Yo , jangan dulu . Ini sepertinya termasuk rencana komandanmu" ujarnya .
"Hah? " tanyaku lagi.
"Sudah , intinya biarkan saja si Coco itu duel . Kau bersihkan arena dengan menghancurkan tiang tiang besi yang tertancap di sekitar arena."
Aku mengikuti instruksi dari Sofia, bagaimana pun Sofia sudah berkali kali menyelamatkanku dengan semua sarannya . Aku mengedarkan pandangan ke segala arah di arena ,aku berusaha mencari tongkat besi yang di maksud oleh Sofia .
Agak lama aku mencarinya , sampai sampai duel mereka berdua pun di mulai .
Coco menerjang ke arah depan si Pria badut , yang tentu tidak mudah untuk membidik satu titik karna sasarannya lumayan jago , si Pria badut menghindar dengan mudah . Aku curiga , si Pria badut lebih profesional dibanding kan Coco .
Coco sangat gesit dalam pergerakan dan pengambilan keputusan , ketika si Pria bertopeng menghindar mudah . Ia pun juga berhasil dengan mudah berganti haluan serangan. Diputarnya tubuhnya kemudian melakukan manuver ke kanan hingga ke belakang si Pria badut . Dengan cepat pula ia menyabet leher si Pria badut .
Pria badut terkekeh .
"Lumayan.." dan mereka pun beradu pedang dengan kecepatan yang di luar nalar . Gerakan mereka tidak bisa di lihat hanya dengan mata manusia biasa , aku bisa mengamatinya karna aku memakai mata Sofia .
"Sudah , fokus sama tiang besi !" Sofia mengingat kan .
Aku mengitari bukit, aku mendapatkan dua buah besi dan aku tarik .
Besi besi ini lumayan berat, namun masih bisa ku angkat . Aku menarik besi dengan sekuat tenaga dan akhirnya terlepas setelah seluruh tenaga ku terkuras.
Dan tak terjadi apa apa , tak ada ledakan, percikan api , ataupun badai stunami dari bumi .
"Jadi ? apa yang kulakukan ?" aku masih terheran heran . tak ada apa apa yang terjadi .
Pekikan dan raungan pertempuran masih berlanjut , ada banyak Demigod yang sudah mulai tumbang karna banyaknya jumlah monster yang berdatangan . aku ingin membantu mereka , hanya saja aku harus mengingat ngingat bahwa aku mempunyai tugas sendiri .
Entah apa yang di katakan Sofia benar atau salah , tapi feeling ku tentang besi ini tak mungkin meleset . Aku yakin pasti ada penyebab dan akibat jika besi ini tertancap .
Ketika aku sedang asyik mengitari bukit mencari besi, aku melihat sang komandan bertarung dengan tiga ekor monster berekor berlian dan bertubuh landak . Besar monster itu kira kira sebesar sapi.
Di tangannya kirinya ada sepasang besi yang aku lepas .
"Rio ! kebetulan ! kau paham dengan besi ini?" sang komandan berteriak .
"Aah.. iya , bila besi ini..." aku ingin berlagak tau apa maksud dari besi ini , hanya saja aku tak tau fungsi asli dari besi ini . Karna yang menyuruhku adalah Sofia .
"Tidak usah di perjelas .. syukurlah kalau kau tau. Cepat lepaskan semuanya .!" ia kembali sibuk dengan dua monster landak berekor berlian itu .
Aku kembali mengitari bukit . Sejauh ini , aku sudah menemukan delapan besi itu dan melepaskannya. Sepuluh jika di hitung dengan besi yang di ambil oleh komandan . Aku mengitari sekali lagi , dan akhirnya menemukan yang trakhir .
Aku melihat sebuah batang besi tertancap di dekat pohon . besi ini dikelilingi monster yang sedang bertarung dengan para Demigod. aku mengedarkan pandangan namun tak satu pun aku menemukan seseorang yang ku kenal yang dapat ku andalkan .
Akhirnya aku memutuskan untuk mencabutnya sendiri .
Aku berlari kencang namun tanpa bisa dirasakan kehadiranku , akal akalan ini berjalan mulus hanya sampai aku berada di depan besi itu .
Di sampingnya , aku benar benar tidak menyadari , berdirilah seekor monster yang wujudnya mirip seperti Gorilla , namun disetiap kepalan tinjunya mencuatlah batu crystal yang keras .
Ekornya pun adalah seekor ular , kelebihan yang lain yang tak ku miliki adalah sayap dan lubang hidung yang besar .
"Hy om sepertiga hewan.." aku melambaikan tangan kikuk.
"Kau mau mengambil ini? " ia menunjuk besi hitam yang tertancap di sampingnya .
"Hehehe, om mantan dukun ya?. Kok tau kalo aku pengen itu." aku bersiaga .
"Kau tertawa , tapi tidak dengan ancang ancangmu ya . Aku khawatir kalau dagingmu alot ketika aku makan nanti ." ia juga tak mau kalah dan memasang kuda kuda .
"Hahaha... menang ukuran badan tidak bisa menentukan kemenangan om" aku mengencangkan otot kakiku , dan mulai berlari ke arah om om sepertiga hewan.
"Kau tak tau cara menikmati masa muda ya " ia maju dengan memutar mutar lengannya seperti anak anak usia enam tahun yang sedang main pahlawan pahlawanan.
"Awas Yo! itu sakit lho !" dengan histeris , Sofia mendadak menyinkronkan tubuhku dan mengajak tubuhku agar menghindar ke sebelah kanan.
Untung saja gerakan kami dua kali lebih cepat dibandingkan manusia biasa , dan kamipun berhasil menghindar dari serangan monoton dari lengan om om sepertiga hewan itu.
"Bagaimana kau bisa secepat itu Demigod muda ?" si Om om sepertiga hewan kepo.
__ADS_1
"Sering nonton tutorial di yutub om".
***