Rio Ferdinand : Perang Internal

Rio Ferdinand : Perang Internal
Kecerdasan Sang Komandan .


__ADS_3

RIO POV .


"Begitulah " ibuku mengganti dunia flashback menjadi dunia hampa .


"Ibu, kenapa pas bikin akunya gak di liatkan?" tanyaku sedikit iseng . Yah, siapa tau dapat bonus tamasya melihat proses pembuatan diriku kan ?


"Gak gitu anakku sayang" ia menyentil hidungku seperti anak kecil .


"Toh kamu sudah ngelakuin sama pacarmu kan?"


Sumpah , mungkin sekarang mukaku seperti kepiting rebus .


"Hah? kok ibu tau? ibu ngintip?"


Ibuku cekikikan .


"Dasar , anakku sudah besar rupanya ." ia menyentil hidungku lagi .


"Ya sudah , kembali ke acara . Sebenarnya , ada banyak yang ingin ku katakan . Tapi dilain waktu saja ya .." ibuku memelukku lagi . Aku pun membalas pelukannya dengan erat .


"Berasa meluk gadis kan?" goda ibuku .


"Ah... udah ah Bu, hoby nya ibu godain aku ya?" aku yang malu karna ketahuan nyaman meluk tubuh ini malah makin membenamkan wajahku ke belahannya .


"Hahaha.. ya sudah , waktu sesi pertemuan ibu dan anak sudah selesai . Yuk kembali , " ibuku membelai rambutku dan aku mengangguk tanda setuju .


Ibuku menjentikkan jarinya dan keluar lah kami dari dunia itu dan kembali ke dunia asli .


Orang orang masih melihat kami yang sedang berpelukan mesra.


"Udah Yo.. kamu gak malu di liatin banyak orang ?" aku tersadar ketika ibuku berkata seperti itu .


"Eh iya .." aku segera melepaskan pelukanku dari sang ibu.


"Oh iya ,Sofia , tolong dijaga Rio ya . dia licik tapi sembrono .." aku heran , kenapa ibuku tau kalau ada Sofia di tubuhku .


"Iya Tante .." sahut Sofia dari dalam tubuhku .


"Bagus, sudah saatnya kami pergi dari sini .. jaga diri ya Rio .." ketika ibuku hendak berjalan di atas angin , tiba tiba ia berhenti dan membalikkan badannya ke arahku .


"Aku punya sesuatu yang bagus ." ibuku mengulurkan tangannya dan muncullah sebuah jam arloji mewah. Pinggiran arlogi diliputi emas murni dan rantai jamnya berwarna silver . Dari jarum jamnya berbahan perak dan dilapisi dengan mutiara kerang laut asli .


"Wah .. hadiah ultahku yang telat?" tanyaku .


Ibuku tertawa .."Coba pakai , itu senjatamu . "


Aku heran kenapa ini adalah senjataku . Ketika aku memakainya , biasa biasa saja . Tak ada suara suara aneh seperti jam tangan Ben Tenison yang bisa berubah menjadi alien , atau bahkan bisa berubah menjadi Kamen rider .


"Tarik jarum jamnya ." perintah ibuku .


Aku menurutinya , kutarik jarum jam dan ku lepas . Seketika jarum jam itu berubah menjadi pedang eksklusif dengan bahan dari perak dan berhiaskan mutiara lautan .


"Mutiaranya akan membantumu mencarikan air . Pedang itu terbuat dari perak rembulan dan perak gimnasium . Kekuatan kerusakannya sangat kuat untuk membunuh monster." kata ibuku .


"Cara mengembalikannya?"


"Sentuhkan saja pucuk pedang mu dengan lubang jarum jam , dia akan masuk sendiri ." ku praktekan apa yang ibuku terangkan . Dan benar saja pedang itu masuk dan menjadi jarum jam seperti semula .


"Nah , kalau kau putar pinggiran jam , maka dia jadi perisai untukmu" ibuku mencium kening ku . " Ya sudah hati hati ya"


Itu adalah kata kata trakhir ibuku untuk hari ini .


Setelah ia mengecup keningku , tiba tiba saja ada suara ledakan amat dahsyat dari tengah bukit. Lokasinya tepat di base kubu langit .


"Apa apaan ini?" teriak Ares seraya berdiri .


Wajahnya sangat memanas dan merah padam .


"Siapaa yang mempersilahkan orang asing masuk!" Odin ikut berteriak .


Rupanya ledakan itu terjadi akibat pertarungan seseorang dengan lima penyihir sekaligus . Aku khawtir dengan Steven , jadi aku memutuskan untuk kembali ke base secepat mungkin . Namun sebelum aku sampai di tebing untuk mendaki bukit, seseorang dengan lantang berteriak .


"Izinkan aku memperkenalkan nama wahai hadirin hadirin Dewata .!" ucapnya .


"CODE NAME KU : CLOWN ASIAN . AKU ADALAH EKSEKUTIF KE 5 DARI ORIAN CHAOS CLUB. ATAU BISA KALIAN SINGKAT DENGAN OCC. ORGANISASI PENGGULING TAHTA DEWATA!" suaranya menggema ke seluruh Antero pondok . Entah bagaimana mereka bisa masuk , tetapi aku banyak melihat monster berdatangan dari bukit , membanjiri arena kegiatan robek bendera .


"LANCANG SEKALI KAMU DI HADAPAN KU MAHLUK FANA!" dengan meluap luap Ares melompat ke bukit.


Aku harus segara ke puncak. Kini aku sedang sibuk dengan urusan mendaki bukit ini , jujur selain curam ada banyak bebatuan yang licin dan tajam yang membuat sendalku dan kakiku sering kali tergelincir .


"Rio anakku .. tangkap ini!" ibuku melemparkan sebuah kalung yang pas sekali langsung mengalungi leherku.

__ADS_1


"Itu kalung untuk meminta karunia atau berkah ku . Bisa digunakan 3 hari sekali . Manfaatkan sebaik mungkin ." ibuku segera ke arah Medan tempur .


Ada banyak sekali raungan monster yang berkombinasi dengan erangan kesakitan para Demigod. Ada juga beberapa Cyclops , Raksasa , Beruang merah dan lain lain lagi monster mitologi yang belum aku ketahui .


"Rio ! sini ikut aku!" aku mendengar teriakan wanita , aku yakin kalau itu Putri belati .


"Sini!" ia mengulurkan tangannya kepadaku .


"Kita teman ?" tanyaku memastikan.


"Kegiatan sudah selesai , gak ada alasan aku untuk menyerangmu . cepetan!" aku menyambut uluran tangannya dan ditariknya aku ke pelukannya .


Ternyata dia terbang menggunakan sebuah papan yang di lapisi dengan api menyala..


"Lumayan ya punyamu .." aku bersungut sungut .


"Apanya ?" tanya nya dengan sedikit nada tinggi .


Suara ledakan kembali terdengar . Banyaknya semburan air pertanda ibuku juga sedang berpartisipasi dalam ajang pertarungan dengan orang asing itu .


"Ada apa ini?" tanyaku kepada Putri belati .


"Aku gak tau , sebaiknya kita ikut ke medan tempur" ia menengadah ke atas dan berteriak . Seketika api yang di papan semakin menyala dan membuat kami melesat jauh ke puncak bukit .


"Namamu siapa?" tanyaku kepada sang Putri belati .


"Aku?" ia menunjuk sebuah bet yg ada di saku nya "Cocolate Khoil Arrisa . panggil aja Coco . Khusus buatmu" ia kembali menghadap ke depan .


Yah .. nama yang aneh bagiku.


Coco mengeluarkan belatinya tadi dari sakunya , kini kedua tangannya sudah siap menggenggam belati .


"Mau combinasi jurus?" tanya Coco .


"Hei, aku ini baru masuk . Aku gak tau apa itu combinasi jurus " jawabku .


"Ya udah , simpelnya, aku mengendarai ini sambil menebas yang di depan . Kau menghalau monster monster yang ada di sekeliling kita " perintahnya bagaikan leaderku sekarang .


"Tapi aneh , kan di sana banyak Dewata, mengapa mereka tak sekuat yang ku kira " aku bertanya tanya , apakah Dewata juga mempunyai keterbatasan kekuatan di suatu tempat .?


"Ketika Dewata turun ke bumi tanpa perintah izin sah dari Zeus . Kekuatan mereka minus 70 persen " kata Coco .


"Ouh , jadi mereka tidak dalam kondisi prima?"


"Ngomong ngomong .." aku mengedarkan pandangan ke arah khalayak .


"Di mana Steven ? dan dimana Dewata ?" tanyaku .


"Steven aku tidak tau , kalau para Dewata di sana !" Coco menunjuk ke arah kumpulan Dewata yang mengelilingi seorang pria yang memakai topeng badut .


Aku heran , mengapa para Dewata hanya terdiam di depannya dan hanya mengelilinginya ? terutama ibuku . Dia yang semestinya mempunyai kekuatan setara Zeus malah terdiam di depan pria itu .


Aku melihat juga di depannya tertancap sebuah pedang di tanah .


"Sekarang, Dewata tak bisa mengangguku lagi !" ketika pria itu menyentil pedang itu, spontan para Dewata sirna hilang tanpa jejak .


"Hah? kok bisa ?" aku naik darah dan naik pitam melihat ibuku yang tak berdaya dan di musnahkan begitu saja . Dengan amarah yang membara aku berdiri dan melakukan ancang ancang untuk melompat , tetapi batal karna dua alasan.


Pertama aku di ganggu dengan monster burung , kedua si Coco menahan tanganku agar tidak kemana mana .


"Tenanglah , mereka tidak musnah. Kemungkinan itu cuman teleportasi ."


Coco berdiri dan bersiaga .


"Tunggu lebih dekat baru kita menyerang ." perintah coco.


Aku melihat si kembar sangat sibuk dengan urusan menyekik, menyabet dan membunuh para monster .


Ada juga dua demigod bersaudara yang tingginya dua meter lebih itu sedang membantai para monster Raksasa dan Cyclops.


Kalau begini keadaannya , ada kemungkinan menang .


"Kita harus sedekat apa baru bisa melompat untuk menghajarnya ?"


"Sekrang !" Coco deluan melompat .


Aku mencurigai dia menginginkan mendapat gelar mvp perang sungguhan kali ini .


Aku juga ikut melompat ke bawah.


Seperti yang sudah sudah , aku tidak mendarat dengan keren . Aku terpeleset batu gunung dan jatuh terduduk .

__ADS_1


"Wah wah , putri belati. Ada keperluan apa?" Coco bingung , aku juga bingung.


Pria bertopeng badut ini mengetahui julukan Coco .


"Sebenarnya agak merasa terhormat . Tetapi sayangnya, hari ini tidak ada lagi Dewata yang bisa masuk ke sini , karna adanya kekuatan pancaran anti surgawi yang ada di dalam perang Pakistan ini ." si Pria topeng menyentil nyentil gagang pedang yang tertancap di tanah itu . Gagangnya terbuat dari perak dengan hiasan batu berlian di pangkal gagang itu .


"Oh pantas saja mereka hilang ," Coco bersiaga untuk menyerang .


Aku ingin mengikutinya bersiap siap menerjang , tetapi Sofia menghentikan ku .


"Yo , jangan dulu . Ini sepertinya termasuk rencana komandanmu" ujarnya .


"Hah? " tanyaku lagi.


"Sudah , intinya biarkan saja si Coco itu duel . Kau bersihkan arena dengan menghancurkan tiang tiang besi yang tertancap di sekitar arena."


Aku mengikuti instruksi dari Sofia, bagaimana pun Sofia sudah berkali kali menyelamatkanku dengan semua sarannya . Aku mengedarkan pandangan ke segala arah di arena ,aku berusaha mencari tongkat besi yang di maksud oleh Sofia .


Agak lama aku mencarinya , sampai sampai duel mereka berdua pun di mulai .


Coco menerjang ke arah depan si Pria badut , yang tentu tidak mudah untuk membidik satu titik karna sasarannya lumayan jago , si Pria badut menghindar dengan mudah . Aku curiga , si Pria badut lebih profesional dibanding kan Coco .


Coco sangat gesit dalam pergerakan dan pengambilan keputusan , ketika si Pria bertopeng menghindar mudah . Ia pun juga berhasil dengan mudah berganti haluan serangan. Diputarnya tubuhnya kemudian melakukan manuver ke kanan hingga ke belakang si Pria badut . Dengan cepat pula ia menyabet leher si Pria badut .


Pria badut terkekeh .


"Lumayan.." dan mereka pun beradu pedang dengan kecepatan yang di luar nalar . Gerakan mereka tidak bisa di lihat hanya dengan mata manusia biasa , aku bisa mengamatinya karna aku memakai mata Sofia .


"Sudah , fokus sama tiang besi !" Sofia mengingat kan .


Aku mengitari bukit, aku mendapatkan dua buah besi dan aku tarik .


Besi besi ini lumayan berat, namun masih bisa ku angkat . Aku menarik besi dengan sekuat tenaga dan akhirnya terlepas setelah seluruh tenaga ku terkuras.


Dan tak terjadi apa apa , tak ada ledakan, percikan api , ataupun badai stunami dari bumi .


"Jadi ? apa yang kulakukan ?" aku masih terheran heran . tak ada apa apa yang terjadi .


Pekikan dan raungan pertempuran masih berlanjut , ada banyak Demigod yang sudah mulai tumbang karna banyaknya jumlah monster yang berdatangan . aku ingin membantu mereka , hanya saja aku harus mengingat ngingat bahwa aku mempunyai tugas sendiri .


Entah apa yang di katakan Sofia benar atau salah , tapi feeling ku tentang besi ini tak mungkin meleset . Aku yakin pasti ada penyebab dan akibat jika besi ini tertancap .


Ketika aku sedang asyik mengitari bukit mencari besi, aku melihat sang komandan bertarung dengan tiga ekor monster berekor berlian dan bertubuh landak . Besar monster itu kira kira sebesar sapi.


Di tangannya kirinya ada sepasang besi yang aku lepas .


"Rio ! kebetulan ! kau paham dengan besi ini?" sang komandan berteriak .


"Aah.. iya , bila besi ini..." aku ingin berlagak tau apa maksud dari besi ini , hanya saja aku tak tau fungsi asli dari besi ini . Karna yang menyuruhku adalah Sofia .


"Tidak usah di perjelas .. syukurlah kalau kau tau. Cepat lepaskan semuanya .!" ia kembali sibuk dengan dua monster landak berekor berlian itu .


Aku kembali mengitari bukit . Sejauh ini , aku sudah menemukan delapan besi itu dan melepaskannya. Sepuluh jika di hitung dengan besi yang di ambil oleh komandan . Aku mengitari sekali lagi , dan akhirnya menemukan yang trakhir .


Aku melihat sebuah batang besi tertancap di dekat pohon . besi ini dikelilingi monster yang sedang bertarung dengan para Demigod. aku mengedarkan pandangan namun tak satu pun aku menemukan seseorang yang ku kenal yang dapat ku andalkan .


Akhirnya aku memutuskan untuk mencabutnya sendiri .


Aku berlari kencang namun tanpa bisa dirasakan kehadiranku , akal akalan ini berjalan mulus hanya sampai aku berada di depan besi itu .


Di sampingnya , aku benar benar tidak menyadari , berdirilah seekor monster yang wujudnya mirip seperti Gorilla , namun disetiap kepalan tinjunya mencuatlah batu crystal yang keras .


Ekornya pun adalah seekor ular , kelebihan yang lain yang tak ku miliki adalah sayap dan lubang hidung yang besar .


"Hy om sepertiga hewan.." aku melambaikan tangan kikuk.


"Kau mau mengambil ini? " ia menunjuk besi hitam yang tertancap di sampingnya .


"Hehehe, om mantan dukun ya?. Kok tau kalo aku pengen itu." aku bersiaga .


"Kau tertawa , tapi tidak dengan ancang ancangmu ya . Aku khawatir kalau dagingmu alot ketika aku makan nanti ." ia juga tak mau kalah dan memasang kuda kuda .


"Hahaha... menang ukuran badan tidak bisa menentukan kemenangan om" aku mengencangkan otot kakiku , dan mulai berlari ke arah om om sepertiga hewan.


"Kau tak tau cara menikmati masa muda ya " ia maju dengan memutar mutar lengannya seperti anak anak usia enam tahun yang sedang main pahlawan pahlawanan.


"Awas Yo! itu sakit lho !" dengan histeris , Sofia mendadak menyinkronkan tubuhku dan mengajak tubuhku agar menghindar ke sebelah kanan.


Untung saja gerakan kami dua kali lebih cepat dibandingkan manusia biasa , dan kamipun berhasil menghindar dari serangan monoton dari lengan om om sepertiga hewan itu.


"Bagaimana kau bisa secepat itu Demigod muda ?" si Om om sepertiga hewan kepo.

__ADS_1


"Sering nonton tutorial di yutub om".


***


__ADS_2