Rio Ferdinand : Perang Internal

Rio Ferdinand : Perang Internal
Murkanya Seorang Aden


__ADS_3

Flashback. :


Author POV.


Sekitar beberapa puluh menit sebelum datangnya Aden kemedan pertempuran .


Jauh dijalanan nan jauh disana, terlihatlah sebuah mobil Avanza biasa berwarna hitam sedang melaju dengan kecepatan tinggi. Tentu berada dibatas kecepatan kendaran dijalan akan mengundang sanksi berat dari polisi. Namun berkat kabut yang dibuat oleh Venikia , hal-hal sepele itu tak akan terjadi .


Venikia adalah salah satu seorang tangan kanan dari agensi Odin dan Athena . Untuk sekarang ia berada dibawah kendali Brain Ferdinand Sinaga. Ayah dari Rio. Selain bakatnya dalam memanipulasi penglihatan , Venikia juga seorang penyetir handal , bahkan di dalam agensi FBI dunia fana pun, ia adalah pengendara terhebat nomor empat didunia jejaring FBI .


Di samping jok kemudi, duduklah sang kepala agensi sekaligus eksekutif ke dua di agensi Odin dan Athena, Brain .


Hari ini Brain mengenakan pakaian santai, yaitu berupa baju kaos lengan pendek oblong hitam dan memakai bawahan celana Levis pendek . Untuk rambutnya ia sisir ke samping dan memakai kalung pemberian dari sang istri , Kadita .


Untuk Venikia , ia memakai pakaian kasual lengkap dengan sarung tangan putih dan dasi biru navy. Tak lupa kaca mata hitam yang ia pakai guna melindungi sisik naga di bagian kantung tidur matanya .


Di bagian jok belakang mobil , ada seorang pria yang memakai jaket jeans lengkap dengan tindik dibagian telinga kirinya dan ada bekas jahitan di pelipis kanannya. Ia sedang asyik menerawang jalanan yang mereka lewati sembari mengenang masa lalu. Sudah ada sekitar sembilan belas mingguan ia tak pulang ke pondok. Dan hari ini adalah hari kepulangannya dari misi yang super sulit.


"Apa kau senang bisa bernafas lega pulang ke pondok, Aden?" tanya Venikia .


"Paling-paling dia akan menyendiri dipojok pangkalan " celetuk Brain.


"Maaf , aku tidak sepayah itu dalam hal bergaul." sahut Aden.


"Memang , tetapi mereka selalu takut melihat kau setelah kejadian dua tahun lalu." Venikia menambahkan kesan sulitnya pergaulan Aden .


"Carilah pasangan lain den , teman teman lain kek... ada banyak teman yang bisa diandalkan dipondok , apalagi banyak wanita yang cantik cantik disana." tepat setelah ia mengatakan 'Cantik cantik di snaa ' kalung pemberian Kadita bersinar , disusul gemuruh angin dan petir di tengah laut nan jauh sana .


"Oops.. ada yang cemburu Brain ." Venikia yang tau bahwa Kadita selalu mengawasi kekasihnya itu pasti mendengar ucapan dari Brain .


"Ingat istri mu pak! Jangan suka melenceng melihat wanita lain kalau tak mau mati konyol" kali ini Aden yang meledek Brain.


"Hoo.. tak mungkin dia membunuhku, dia itu cinta sama aku . Tidak sepertimu Aden, pria gamon dari masa lalu yang tak mau move on . Hahahaha.." Aden yang di ledek balik oleh Brain merasa malu .


Ditengah tengah keasyikan mereka bersenda gurau, tiba tiba nada dering ponsel Venikia berdering . Ketika ia membuka , ada nama 'Kera pengangguran' didaftar panggilan.


"Dari siapa?" tanya Brain.


"Wukong. Mau kau yang menjawab atau aku?" tanya Venikia.


"Sini biar aku saja " Brain mengambil ponsel yang diberikan oleh Venikia .


"Assalamualaikum Wukong ?" Brain memberi salam


"Aku lupa jawabannya... kumlam salam?" sahut Wukong dari seberang telpon.


"Wakaikum salaam yang benar ." koreksi Brain.


"Oh iya , begitulah. Ehem, walaikum salam . Apa disitu ada Aden?" tanya Wukong tanpa basa basi.


"Ya , dia ada disini masih meringkuk gamon dari masa lalunya, kenapa ?"


"Suruh dia langsung berangkat ke pondok. Sekarang ! aku masih sibuk dikuil Tiongkok. Pondok sedang di serang ." perintah Wukong .


"Gak mau , capek !" Aden membalas .


"Kau dengar Wukong?" Brain memastikan.


"Astagah, aku akan membelikanmu oleh oleh dari Beijing . Cepatlah ! di sana juga ada mantanmu yang dulu , walaupun dia sudah bukan manusia lagi . Tapi kau akan bertemu sekali lagi dengannya ." ucapan Wukong dari seberang telpon kini membuat respon hebat ditubuh Aden .

__ADS_1


Jean? apakah kamu masih hidup?.


Aden memantapkan tubuh dengan tegak dan memberi hormat.


"Siap laksanakan. Saya akan kembali kepondok, tolong izinkan saya memakai batu teleportasi illegal." yang dimaksud illegal disini adalah karna batu teleportasi ini hanya dilegalkan oleh mahluk berdarah ichor dan juga orang orang yang mempunyai wewenang khusus langsung dari Dewata. Sekelas Dewa Wukong pun tidak sembarangan memakai batu itu.


"Baik , saya izinkan . By the way, mau oleh oleh apa ? nanti aku singgah ke Beijing sebentar ." tawar Wukong .


"Tidak ! tidak usah juga gakpapa." tolak Aden dengan lantang .


"Haduuh, dengar . Jangan terlalu berharap dia Aden . Kau harus profesional, kini ia sudah menjadi milik orang lain . Dan ingat ! jaga sikapmu, jangan sampai kamu bertengkar oleh pria yamg memilikinya. Mengerti?" Wukong memperingati Aden .


"Siap!" Aden masih belum tau bahwa mantannya benar benar tidak akan bisa kembali padanya . Sebab, mantannya benar benar sudah seutuhnya dimiliki pria lain .


"Oh iya satu lagi," sebelum benar benar mengakhiri telepon , Wukong menambahkan informasi


"Putramu sudah tiba di pondok Brain, aku bisa merasakan aliran darah Kadita ada ditubuhnya dan ia memang benar benar mewarisi sifat tanggap dari ayahnya . Untuk seukuran Demigod pemula , dia orangnya cukup nekatan." tambah Wukong sebelum akhirnya benar benar mematikan teleponnya .


Brain menghela nafas.


"Aden, jangan adu mekanik dengan putraku ya. Karna jika nanti kau bertemu pasti akan ada sengatan listrik kecil ya g mengganggu insting kalian berdua untuk saling baku hantam . Itu naluriah dari insting perebutan wilayah. Ingat! karna orang tua kalian sama-sama memiliki kekuasaan penuh atas lautan ." Brain memperingatkan Aden agar tak agresif jika nanti bertemu dengan putranya , Rio .


"Iya pak , saya mengerti ." Aden memang seperti itu . Hanya tiga orang saja yang ia dengarkan omongannya , Wukong , Arthur , dan Untung. Karna yang menyuruh dia untuk mematuhi tiga orang tersebut adalah Brain.


Dari semua mahluk yang ia temui, Brain lah yang paling banyak menolong hidupnya disaat hidupnya terombang-ambing dalam kegilaan. Dulunya ia adalah seorang kriminal yang harus dipidana mati oleh hukum, hanya saja dengan wewenangnya di dalam FBI , ia meminta agar hukuman diringan dengan syarat Aden berkerja dibawah agensinya.


"Eksekutif Brain, bisakah saya turun disini saja ? saya ingin menggunakan batu teleportasi." pinta Aden .


"Ya , tentu. Venikia, bisakah kita berhenti sebentar ?" tanya Brain.


"Baik pak!" Venikia menepi dipinggir jalan Kilang minyak. Venikia memasang rem tangan agar tidak berjalan mundur karna mereka berjalan di jalan yang agak sedikit menurun. Sebenarnya ini merupakan pelanggaran karna tidak diperbolehkan di area ini untuk sekedar parkir. Tapi bukan Brain namanya kalau tidak semaunya di negri ini.


"Aku baca situasi, sepertinya tidak ada yang lebih kuat dariku nantinya kecuali yang sebanding denganku. Karna mereka menyerang tepat mereka tau ketika aku melakukan misi dan malam ini memang pas. Karna mereka pasti akan menyerang pondok ketika kondisi pondok tidak dalam kondisi prima " ujar Aden .


'Aden benar' pikir Brain. Ini adalah waktu yang tepat , dimana tak ada Aden sebagai pelindung . Wukong yang pergi, dan kondisi para Demigod yang sedang tidak prima akibat lelahnya kegiatan mingguan. Yaitu sobek bendera .


"Iya, kau memang benar. Secara tidak langsung kau pasti hendak mengatakan bahwa ada mata mata di pondok kan?"


Mendengar pernyataan itu, Aden yang tadinya hendak bergegas memakai batu teleportasi malah kembali menoleh ke arah Brain.


"Aku tidak berkata seperti itu. Tapi andai ada bukti yang cukup, aku pasti akan menyeretnya dan tak akan aku beri ampun." Aden melempar batu teleportasi kedepannya lalu terbukalah portal teleportasi.


"Ingat Aden, jangan beritahu siapapun mengenai misi!" Brain memperingatkan sekali lagi ke Aden . Bahwa fakta-fakta yang mereka temui didalam misi belum boleh di bocorkan.


"Kau tahu aku kan Brain? " setelah berkata seperti itu, Aden masuk kedalam portal dan portalpun spontan menutup.


"Apa kau mengkhawatirkan perpecahan dipondok, Brain?" tanya Venikia dari dalam mobil.


"Ya, begitulah. Satu perpecahan bisa menimbulkan masalah yang lain. Sedangkan masalah yang lama belum terungkap, tentu itu akan memperhambat penyelidikan." Brain melipat kedua lengannya didada lalu menyenderkan punggungnya kepintu mobil.


Ia menerawang jauh ke lautan yang ada diseberang jalan minyak ini. "Kadita, sepertinya kau yang lebih dulu ya bertemu dengan buah hati kita." Brain tersenyum sebentar ketika mengingat momen mereka adu mulut untuk memberikan nama.


Ia akan selalu mengenang masa masa trakhir mereka bertiga menghabiskan waktu seharian ketika Rio masih bayi.


***


Sepuluh menit sebelum menyelamatkan Rio.


Alangkah kagetnya Aden ketika melihat isi pondok yang porak poranda.

__ADS_1


Monster dimana mana, Demigod yang bergelimpangan . Entah tubuh mayat atau masih sekarat, yang jelas Mereka sudah dibabat habis oleh para monster.


Aden dengan cepat mencari Arthur dan yang lainnya , ia pergi kedepan gerbang timur pondok yang merupakan pintu utama .


Sedikit.


Sedikit sekali korban disini, bahkan para monster lah yang bergelimpangan . Sayup sayup ia mendengar suara adu pedang disekitar dinding gerbang. Aden pun menajamkan indra pendengarannya dan mendapati bahwa itu suara kapak dan monster yang saling baku hantam.


Dengan gerakan yang amat gesit dan lari yang super cepat ia berhasil menemukan sumber suara. Yang ia dapati adalah David yang merupakan pelindung dari putra Brain sedang beradu dengan seekor Mantiqore.


"Cukup David ! menunduk!" teriak Aden.


David yang kenal suara itupun spontan menurut dan menunduk , lalu dalam sedetik kepala mantiqore itu terputus dari tubuhnya dan Aden sudah berada dibelakang mantiqore tersebut.


"Apa yang terjadi?" Aden berbalik dan membantu David untuk berdiri .


"Aden, Clarissa sedang dikroyok satu batalion monster." David memberitahu Aden .


Aden melirik David dan ia melihat bahwa lengan David hampir putus .


"Lebih baik kau pikirkan kondisi tubuhmu. Cepat pergi keruang penanggulangan pertama." ketika Aden hendak pergi, David kembali memberikan sebuah informasi yang membuat ia marah besar.


"Tapi masalhanya, ruang penanggulangan pertama dan pertolongan pertama, sudah dihancurkan musuh. Para perawat dan dokter banyak dihabisi."


Mendengar itu, Aden langsung naik pitam. "DIMANA DAN BAGAIMANA KEADAAN WULAN?"


"Aku tidak bisa membantu karna sibuk mempertahankan garis depan . Kau tau kan, aku lemah di malam hari?" jawab David .


"Haaaaaarghhhhh.... terkutuk kalian semuaaaa" Aden berteriak murka dan bergemuruh lah bumi .


Seluruh dataran radius dua puluh hingga lima puluh meter terguncang bagaikan gempa vulkanik. Sementara itu dataran itu perlahan lahan mulai meretakkan dirinya dan mengeluarkan pancuran air deras dari dalam bumi .


"Akan kuhabisi mereka semua dengan pusakaku!" Aden mengeluarkan kalung berbentuk pedang dari dalam bajunya . Ia menggigit jarinya hingga berdarah, kemudian membasahi liontin kalung yang berbentuk pedang itu dengan darahnya , kemudian ia juga membasahi benda itu dengan air yang keluar dari dalam bumi.


Seketika mencuatlah sebuah pedang yang tidak lebih panjang dari pedang pada umumnya . Namun di gagangnya ada sebuah ukiran naga lengkap dengan sisiknya.


Aden memerintahkan air yang ada di bumi untuk menerbangkannya , maka memancurlah air itu dari dalam bumi dan menghantam kakinya sehingga ia seolah olah terbang tinggi. Sangat tinggi , bahkan lebih tinggi ia daripada pohon kelapa berumur seratus duapuluh tahun.


"WAHAI BUMI! TELANLAH MONSTER MONSTER HINA INI!" teriakannya terdengar hingga dalam perut bumi .


Hampir semua monster yang ada di sana melihat ke arah Aden . Tanpa mereka sadar, dataran yang mereka pijak telah membuka diri untuk menelan mereka bulat bulat.


"Itu Aden ! " seseorang telah bersenang ria telah melihat Aden kembali. Bahkan ia dengan santainya telah duduk untuk beristirahat. "Akhirnya aku bisa beristirahat.."


Dari atas , Aden melihat para monster sudah mulai berkurang akibat bumi menelan mereka . Ia mengedarkan pandangan mencari sesosok wanita yang bernama Wulan disegala pelosok sudut pondok .


Nihil. Ia tak dapat apa apa.


Yang ia lihat adalah sesuatu yang mengejutkan.


Ia melihat jauh ketengah hutan bagian barat daya, seorang wanita yangg tengah belumuran darah dibagian kepalanya tengah berhadapan dengan puluhan monster sekaligus , bahkan ia melihat ada komandan monster ditengah-tengahnya.


Tetapi yang membuat ia terkejut bahkan hingga tercekat tenggorokannya bukanlah keadaan wanita itu. Tetapi wanita itu adalah mantannya .


Ia mengerjapkan matanya dan melihat dengan seksama .


"Oh tidak, Demi Dewa Zeus yang lupa mencuci kolornya. Apakah itu ..." Tanpa basa basi ia lupakan misi mencari Wulan . Kini dengan segenap kekuatannya ia meluncur dengan derasnya air yang mendorongnya ke arah tempat wanita itu.


***

__ADS_1


__ADS_2