
Aku terbangun ketika aku terkejut dengan apa yang aku lihat . Sejenak , aku tidak percaya bahwa si Anonymous adalah orang yang aku kenal . Tidak mungkin aku tidak mengenalinya dan bahkan , yang membuatku menjadi keringat dingin adalah fakta bahwa ia menculikku.
Aku mengedarkan pandangan ke ruangan dan melihat sesosok Sofia yang tertidur di samping ku. Wujudnya memang kembali menjadi spirit, transparan dan agak berkilauan. Hanya saja aku melihat bahwa ia terlelap dalam tidurnya , aku yakin ia pasti juga mengalami kelelahan dalam pertarungan kemarin. Rasa kantuk kembali datang menyerang mataku , hanya saja aku masih belum ingin tidur karena takut kalau-kalau nanti ada suatu mimpi yang buruk lagi. Sejauh ini , mimpi yang tadi adalah mimpi yang paling terburuk.
Karna tak mau membangunkan Sofia , dengan pelan aku menggerakkan kakiku untuk keluar dari hangatnya selimut. Namun agak susah dikarenakan urat-uratku yang belum pulih sama sekali semenjak kemarin . Berapa kali aku berusaha agar bisa keluar dari belenggu selimut namun sama saja hasilnya . Kakiku amat sangat sudah di gerakkan .
"Jangan bergerak dulu .." aku terlonjak kaget lantaran suara wanita itu begitu saja datang tanpa adanya kata 'permisi'.
"Ah, apa anda dokter?" penampilannya tidak seperti dokter , maka dari itu aku menanyakannya .
Wanita yang masuk tanpa seizinku ini memakai baju pondok yang berlogo , Pondok Demigod Balikpapan-ku, berlengan pendek . Ia memakai celana pendek di atas lutut dan kakinya hanya beralaskan sendal jepit. Rambutnya di kepang dua dan memiliki anting berbentuk bintang di telinga kirinya.
"Bukan. Anu, aku datang kemari mau menunjukkan jadwal pelajaran dan kegiatan untuk kedepannya . Di mulai tiga hari lagi kamu menjadi salah satu murid di kelasku. Perkenalkan , aku Lesti Yana. Panggil aja Yana ." ia berjalan ke arahku dan menyerahkan sebuah amplop lebar berisi sebuah brosur dan kertas-kertas jadwal .
"Yana ? hmmm, bisa tolong antar aku ke kamar mandi ? tapi pelan-pelan ya , urat sarafku masih belum pulih ." aku meminta tolong kepadanya agar aku bisa lebih cepat memulihkan diri dengan mandi .
"Hah? ke.. ke..ke.. kamar mandi ?" ia panik dan pipinya memerah .
"Astagah, gak usah mikir macam macam . Aku hanya ingin mandi ." aku mempertegas agar otaknya tidak traveling .
"Ta, tapi kan ...iiiihhh... apasih Yanaaa" ia memukul-mukul kepalanya sendiri karna salting . Mungkin ia malu karna sadar bahwa aku mengetahui isi otaknya yang traveling .
"Ya sudah , mari bantu aku ." aku menjulurkan lenganku agar ia bisa membopong ku .
###
Segarnya pancuran air dari shower membuatku terasa lebih hidup dibandingkan tergolek lemah dan tak berdaya di atas kasur . Aku menikmati setiap menit dan detik air pancuran shower ini , bukan hanya kesegaran biasa , melainkan kesegaran bugar tubuhku dan jasmaniku perlahan mulai pulih . Mengingat bahwa aku putra dari sang Dewi lautan , ini adalah hal yang bisa saja aku lakukan sewaktu saat semisal tak ada kotak first aid kit. Sambil mandi , aku masih mengingat-ngingat kejadian kemarin . Aku mengingat trakhir kali ketika Aden pergi meninggalkan kami, jika aku ada di tubuh fana ku, kemungkinan besar aku merasakan sengatan listrik dan rangsangan agar aku bisa bertarung dengannya . Entah mengapa , mungkin sepertinya karna kami sama sama memiliki orang tua Dewata yang menguasai samudra . Terlebih lagi , aku kembali mengingat ngingat para enam eksekutif yang ada di meja makan . Aku khawatir bahwa masing masing dari mereka memiliki kekuatan setara dengan Aden. Dan , apa jadinya jika pondok ini mereka serang sekaligus ? apalgi , mereka mengerahkan ratusan atau bahkan ribuan monster .
Aku melihat kalung ku yang bersinar seperti batu Rubi. Sinar pendar hijaunya mengingatkan ku akan tentang ibu , karna ibu terlihat sangat cocok dengan warna hijau.
"Kenapa kamu menculikku?" tanpa sengaja aku bergumam sendiri mengingat bahwa orang yang menculikku bukanlah orang asing bagiku . Aku tidak sepenuhnya marah atau pun kecewa , tapi jika dia yang menculikku pasti ada sesuatu yang akan terjadi padaku dan ia hendak menyelamatkanku. Dari semua asumsi yang ku lihat , aku hanya di jebak agar aku jauh dari para Dewata, dan para Dewata sendiri pun tidak terlalu menginginkan ku. Bahkan , mungkin mengingat aku ini putra dari Dewi yang bisa memberontak kapan saja , mereka menjadi takut jika aku tidak bisa di kendalikan sepenuhnya .
Sebenarnya aku juga tidak terlalu perduli siapa yang terkuat dalam dunia Dewata dan siapa pemimpinnya , aku mengikuti arahan si Untung Suropati hanya karna ada kewajiban ku untuk meluruskan namaku di kalangan Dewata . Mereka mencurigai ku, bahwa akulah dalang dari perselisihan mereka. Tetapi aku masih memikirkan semua yang berkaitan , mulai dari aku yang di culik oleh 'dia' , menjalin kontrak dengan Sofia , konflik ganjil yang terjadi dengan aku yang menjadi kambing hitamnya. Apakah keterlaluan jika aku menyebutnya itu sebuah kebetulan?.
Ini seperti sudah di atur, dan mereka yang memanfaatkan konflik ini adalah membelah dua kekuatan Dewata dan menghancurkannya secara internal. Mengingat aku putra dari seorang ratu samudera, tak mungkin Dewata langsung menghakimiku . Dan benar saja, akulah yang menjadi sasaran empuk untuk di kambing hitamkan.
Sudah sekitar setengah jam berlalu , aku sudahi acara mandi serta pemulihan tubuhku . Kali ini , aku agak merasa rileks dan lebih bersemangat dari sebelumnya yang hanya bisa tergolek lemah di atas kasur rawat. Ku keringkan semua bagian tubuhku menggunakan handuk dan aku memutar tuas pintu untuk membukanya . Aku pun berlalu melewati bilik kamar mandi dan berjalan perlahan ke lorong . Aku melihat kanan dan kiri, tidak ada orang yang melihatku. Wanita yang mengaku sebagai ketua kelasku tadi sama sekali sudah hilang batang hidungnya . Mungkin ia tak ingin berlama lama dengan anak baru sepertiku .
__ADS_1
Terkadang aku memikirkan , bagaimana mereka mengurus data masuknya anak anak pada tahun ajaran ini ? apakah mereka juga memiliki data akurat seperti PNS? lalu, siapa yang menggaji para guru yang mengajar?.
Sedang asyiknya aku berjalan , aku di kejutkan dengan Sofia yang berkacak pinggang di depan pintu rawat inap ku. Kakinya sudah berketuk ketuk di lantai.
"Kemana ?" tanya nya penuh selidik. Alisnya terangkat sebelah .
"Mandi , Kenapa?" jawabku , yang ku balik dengan pertanyaan juga .
"Kamu gak mikir kalau ada cewek yang liat posisimu sekarang ? cuman pake handuk trus tanpa baju?. Mana masih agak ada bulir-bulir air lagi di badanmu." ia mengomel dengan nada dan intuisi khas Sofia .
"Dari tadi gak ada yang liat tuh... , aku sengaja gak pakai baju kemarin karena sudah kotor dan bau. Masa habis mandi pakai pakaian yang bau ?" aku hendak masuk ke dalam ruang rawat inap ku , hanya saja Sofia menghalangiku.
"Aku mau masuk ." kemudian Sofia masuk ke dalam kissmark di leherku.
"Kan biasanya gak usah bilang .." aku berjalan ke lemari pakaian. Sepertinya ada pakaian yang bisa di gunakan .
Ku buka pintu lemari pakaian dan aku melihat beberapa pakaian yang masih baru , dan masih ada lebelnya . Ku pilih yang agak bagus , karna hampir semuanya bernuansa sangat nyentrik. Dan warnanya , agak kelihatan norak .
Ketika aku sedang sibuk mencari baju yang tidak norak , seseorang melemparkan selembar baju kaos pondok ke atas kepalaku . Aku menoleh ke arah tersebut, dan orang itu adalah Untung Suropati.
"Pakai lah, putriku tadi sudah memberikanmu arahan kan untuk ke sekolah besok lusa ?" tanya Untung seraya berjalan ke arah kasur dan duduk di pinggiran kasur tersebut.
"Ya , dia adalah anakku. Tetapi , dia tidak sepertimu . Ibunya seorang campuran dari Demigod dan spirit. Dia memang sudah di latih oleh ibunya dari kecil untuk menggunakan tombak dan pisau ." paparnya sambil mengunyah permen karet .
"Waw, aku yang hanya autodidak berkelahi di pasar sih , agak iri mendengar hal itu." semasa aku hidup ketika di sekolah dasar atau pun di SMP . Aku tidak pernah belajar suatu teknik, kecuali dengan seorang Om-om berusia empat puluhan yang agak sedikit beruban . Orang itulah yang memperkenalkanku dan menceritakanku tentang kelemahan monster dan jenis-jenisnya . Dia juga yang memberikanku senjata bambu kuning .
"Oh iya , pak . Selain lima bintang , apa masih ada lagi Demigod kuat ?" aku bertanya karna penasaran .
"Ya , ada . Mereka lebih tua dari Aden dan ayahmu . Bahkan mereka adalah generasi yang pernah mengajar ayahmu ." paparnya sembari mengunyah permen karet, sesekali ia menggembungkan balon dari permen itu .
"Kenapa mereka tidak menghalau penyusup kemarin ?" tanyaku sembari memasang celana (celana ini aku mengambilnya dari lemari pakaian ).
"Sebenarnya mereka pensiunan. Jadi mereka bebas berkelana dan melaporkan apa saja yang mereka dapat di luar sana. Semisal mereka melihat ada seorang anak Demigod yang terlantar , atau bahkan seorang anak yang memiliki potensi bertarung luar biasa walaupun bukan dari kalangan Demigod . Mereka akan mengirimkan sinyal kepada pondok untuk mengirim bantuan kepada anak itu." papar Untung.
Aku manggut-manggut. "Lalu , seberapa kuatkah dia ini ?" aku bertanya karna penasaran. Melihat sekilas dari kekuatan Aden saja aku sudah minder , bagaimana jika ada orang yang lebih hebat dari dia ?
Untung menghela nafas "Ada empat orang , mereka ini di sebut juga empat pengguna bambu kuning legendaris. Atau pondok pondok lain mengenali mereka si empat . Tetapi ada salah satu dari mereka yang menjadi puncak dari mereka berempat. Dan untuk mengukur kekuatannya,.." Untung berdiam sebentar .
__ADS_1
"Tidak bisa di tebak , tetapi bisa di jelaskan bahwa teknik intelegennya dan ilmu deduksi serta intuisi dalam penyelidikan dia di atas ayahmu . Bahkan , dialah yang mengajari ayahmu cara untuk menjadi agen terbaik . Jikalau, Aden maximum ultimate (kekuatan maximal) dan ayahmu di satukan dan bahkan , kelima bintang pun di satukan beserta ayahmu, masih belum mampu untuk menumbangkan orang itu." Untung meludah untuk membuang permen karetnya .
Aku tercekat, jika orang sekuat itu ada, apakah masih jauh perjalananku untuk mencapai kekuatan yang melebihi Dewata ?
Untung melirik ke arahku dan kemudian ia berdiri . "Sudahi berbincangnya, ayo biar ku antar kau sampai ke rumah barumu."
###
Aku melihat banyak sekali tempat tempat yang hancur akibat ulah para monster kemarin , tak ku sangka-sangka bahwa mereka sanggup memporak porandakan pondok Demigod yang berisikan orang orang kuat . Namun untuk sistem penempatan menjadi yang terkuat itu sendiri aku masih belum bisa memahaminya . Ada banyak tempat tempat yang sudah tidak aku kenali , seperti rumah para monyet , ruang rawat yang beberapa hari lalu aku sempat tidur di sana , pancuran patung Poseidon, pusat berbelanja dan masih banyak lagi yang lain. Banyak yang bergotong royong untuk membangun lagi gedung gedung yang sudah hancur dan rata dengan tanah . Mengingat bahwa mereka itu adalah Demigod, tentu agak mudah dan pekerjaan berjalan dengan mudah jika di barengi dengan kekuatan .
Contohnya saja mengaduk semen, jika para kuli biasanya mengaduknya dengan otot dan menggunakan cangkul atau molen , mereka hanya menggunakan rapalan sihir untuk menggerakkan air dan mengaduk semen tersebut. Adapula yang menyusun batu bata hanya dengan sihir angin , dengan begitu pekerjaan serasa lebih cepat karna memakai tenaga angin . Untuk anak anak yang masih dalam tahap bimbingan , mereka masih tetap bersekolah di Campus Athena (nama sekolah yang ada di sini) dan tidak ikut dalam perihal bergotong royong.
"Rio, apa kau pernah mendengar seorang wanita janda yang bernama Selly?" tiga tiba saja Untung menanyakan seorang janda.
"Kalau Selly yang janda aku tak tau, jika yang kau maksud adalah Selly pemarah yang selalu memaksa pelanggan untuk membeli ayam Kentucky yang baru di buka itu aku kenal ." setelah aku berkata demikian , Untung berhenti sejenak .
"Katakan , apakah dia mempunyai tahi lalat di jempol?" Untung bertanya tanpa menoleh kepadaku.
"Kau pikir aku mempunyai hobi melihat tubuh orang ?" aku menyanggah pertanyaan yang agak kurang enak itu.
"Hal yang barusan ku tanya adalah salah satu pelajaran yang harus kau kuasai untuk melacak seseorang . Kau harus tau betul bentuk tubuh , tanda , cacat , wajah , atau bahkan gerak gerik orang di sekitar mu. Agar insting intuisimu berjalan dengan baik." papar Untung yang kembali berjalan .
Aku menyusulnya "Hei, aku sudah menguasai ilmu deduksi." aku protes.
"Aku tau kau mempunyai ilmu deduksi yang akurat dan hanya bisa di pakai di dalam agensi . Aku melihat gerakan tatapan matamu ketika kita pertama kali bertemu. Hanya saja intuisimu harus tetap jalan di setiap keadaan . Misal, jika dia berkata 'aku habis dari pesan makanan' dan kau tidak menemukan satupun wastafel di sana. Tetapi kentara sekali bahwa di bagian pergelangan tangan dan kerah bajunya terlihat percikan air, itu tandanya ia sedang berbohong . Ada kemungkinan ia baru saja kembali dari tempat yang berair dan sempat membasuh tangan dan wajahnya ." paparnya panjang lebar.
Berarti masih banyak yang belum aku ketahui seputar dunia penyelidikan . Aku memang suka belajar tentang cara menyelidik sesuatu, dan panutanku sedari dulu adalah sir Arthur Conan Doyle, pencipta novel Sherlock Holmes. Ada banyak cara untuk mengorek informasi dan menganalisis. Dan jujur , ketika awal aku bertemu dengan Untung, aku memang menyelidiki tubuhnya mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Nah , ini rumahmu, aku buka kan segelnya dulu ." Untung berjalan ke depan rumah besar itu .
Aku baru sadar bahwa rumah itu di design persis dengan rumahku. Untuk eksterior memang tidak sama , akan tetapi untuk interior rumah sangat mirip. Mempunyai dua kamar, ruang keluarga di tengah , ruang tamu di depan ruang keluarga yang hanya di batasi sekat korden . Kamar mandi yang di dekat dapur dan ada ruangan khusus untuk aku bermain game dengan personal computer dan bahkan , adapula tv LG beserta aset PlayStation.
Aku tersenyum puas dan sangat berterima kasih kepada ibuku . Walaupun dia tidak ada bersamaku selama ini, tetapi dia tau betul detail dan tata letak rumah yang aku dekorasi empat tahun yang lalu. Untuk detik ini , aku ingin sekali memeluk ibuku .
"Terima kasih , kalau kau suka ibu juga ikut suka "
Tiba tiba terdengar suara ibuku di kepalaku . Aku tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
Ia ibu .
***