Rio Ferdinand : Perang Internal

Rio Ferdinand : Perang Internal
Aku Menyukaimu Monyet!


__ADS_3

Yuen masih memasang wajah masamnya di atas awan kinton . Ia masih tak suka jika ia harus duduk di atas awan kuning dan berada di belakang Wukong .


"Monyeeeet... aku mau turun ." keluh Yuen .


"Loh , tadi katanya mau ikut?" Wukong berkata tanpa menoleh .


Yuen semakin cemberut.


"Pokoknya aku mau turun ! kalau kamu gak mau gendong aku , aku akan nekat lompat ke bawah !" ancam Yuen , yang kali ini ia tak akan main main lagi.


"Coba saja .." tantang Wukong .


"Ok , baik !" Yuen sangat kesal dengan sifat cueknya si Wukong .


Apa dia gak tau cewek kalau ngambek ? hufft.. dasar monyet kuno !.


Yuen memejamkan matanya dan segera ia jatuhkan dirinya dari angkasa raya.


Awalnya , ia berharap kejadian ini berakhir seperti di film film . Yang dimana ketika wanitanya jatuh dari langit , akan ada kekasihnya yang datang menyelamatkannya ketika ia membuka matanya.


Namun , pada kasus kali ini beda .


Ketika Yuen membuka matanya , tak ada apa apa di depannya . Ia pun kembali menutup matanya , dan tak lama beberapa detik ia buka lagi matanya. Namun tetap tak ada apa apa. Hingga kesabarannya mulai habis.


"Dasar MONYET KUNO!" Yuen berteriak dengan kesal . Pada akhirnya , ia berbalik tubuh dan menginjak udara. Ia pun terbang ke daratan untuk mendarat.


Wukong yang melihat aksi si Yuen hanya bisa menggeleng kepala "Kenapa dia bisa menjadi bijaksana didalam padepokan, tetapi bertingkah kekanakan di depanku?"


Wukong segera mengubah haluan terbangnya mengikuti jejak kaki Yuen yang membekas di udara. Wukong khawatir , ia membuat suatu perkara di bawah sana ketika suasana hatinya jelek .


###


Yuen melihat ada sebuah pohon yang tumbuh tegak di samping bangku taman.


Sebelum ia benar benar mendarat, ia melihat di sekelilingnya. Ia memeriksa kalau-kalau ada seorang pejalan kaki yang mabuk sedang lewat, bisa gawat jika ia dikira Dewi Kuan IM.


Setelah kondisi aman, ia pun mendarat di dekat pohon . Dengan agak kesal ia berjalan ke arah bangku taman , dikarenakan Wukong sama sekali tidak mengejar dirinya .


"Anggap saja aku barang kececer di jalan !" umpatnya kesal.


Yuen mendaratkan pantatnya yang mulus dan agak padat berisi itu ke bangku taman . Kakinya di luruskan dan di goyang goyangkan seperti anak kecil. Yuen juga mengeluarkan sebuah wig rambut berwarna abu abu dari celah dimensi (sebuah kemampuan umum yang di miliki tingkat Kaio dan Lord Kaio) untuk menutupi rambut mangkuknya.


Tepat setelah ia memasang wignya , datanglah segerombolan geng yang sepertinya baru saja keluar dari klub. Geng itu berisikan enam orang dan pemimpinnya memiliki tato di leher dan tindik di pelipis. Salah satu dari mereka melihat Yuen sedang berkaca di bangku taman itu.


"Bos, ada cewek cantik !" ujarnya kepada pemimpinnya seraya menunjuk ke arah Yuen .


Sang bos melihat ke arah Yuen. yang lagi bercermin pada sebuah cermin rias.


Awalnya, pemimpin geng ini tertarik. Namun setelah sekian banyaknya orang yang ia lawan, ia baru menyadari bahwa wanita itu bukanlah lawan mereka . Entah dari mana firasat itu, tetapi mata petarungnya melihat bahwa ada jarak nan sangat jauh antara kekuatannya dan si gadis di bangku taman itu.


"Tidak! dia bukan tipe ku " si bos beralasan agar tidak di olok olok oleh bawahannya karna rasa takutnya itu.


"Kalau begitu biar kami saja bos, jangan menyesal ya kalau kami pake deluan itu cewek" setelah tertawa, anak buahnya pun pergi meninggalkan bosnya dan mendatangi Yuen .


Si bos mendapati firasat tidak enak , namun walaupun begitu ia harus tetap memantau segala tindakan anak buahnya . Jika anak buahnya kalah , ia harus bertanggung jawab dan mengakui bahwa kesalahan itu adalah murni dari kesalahannya yang tidak bisa mengatur anak buahnya .


"Hay nona manis .. sendirian aja ?" salah satu anak buahnya yang berambut pirang hijau dengan tindik di telinga menghampiri deluan .


"Sini main sama kami.." sahut lagi seorang temannya yang berambut hitam gelap dengan tindik di hidung .


Yuen yang sibuk berkaca tidak tau bahwa ada segerombolan geng yang mengepungnya. Karna baginya , seluruh orang di kota tidak ada yang bisa melukainya barang sedikitpun.


Melihat perlakuan Yuen yang acuh tak acuh dengan mereka , salah satu dari mereka pun geram dan tak tahan oleh penghinaan tersebut. Seolah olah mereka hanyalah seekor anak anjing yang telantar dan minta dikasihani di beri makanan.


"Woi nona ! Kami sedang berbicara kepadamu!" teriak salah seorang dari mereka .


Akhirnya karna suara lantang dari orang itu, Yuen pun mendongak dan kaget bahwa dirinya sudah di kepung.


"Apa apaan ini? kalian fans sama aku?" tanya Yuen dengan polos.


Para kumpulan geng saling menatap dan akhirnya tertawa berbarengan .


"Tidak ada yang ngefans, hanya saja kami minta nona menemani kami untuk minum ." orang itu duduk di sebelah Yuen dan merapatkan dirinya ke tubuh Yuen .


Yuen yang masih sibuk dengan wajahnya di cermin hanya mengindahkan pergerakannya .


"Kayaknya dia gugup deh, malu malu tapi mau.." ujar si rambut pirang hijau .


"Hehehe, ya sudah kalau begitu. Aku inisiatif sendiri "


Ketika pria yang duduk disamping Yuen itu hendak meraba payudara Yuen, Yuen pun segera menengok ke wajah orang itu .

__ADS_1


"Kamu mau pegang ?" tanya Yuen.


"Mau dong !" lelaki itu sangat senang dengan tawaran dari Yuen dan saking semangatnya , ia semakin merapatkan tubuhnya dengan Yuen .


"Emang kamu suka dengan tempat terbuka begini ?" pria itu semakin menggebu-gebu .


"Hmmm... terserah sih , aku enjoy aja" jawab Yuen sambil mengedipkan matanya .


Kali ini , mereka bersorak kemenangan karna telah mendapatkan seorang wanita yang cantik dan amat sangat menggoda untuk di jadikan bahan kepuasan malam ini.


"Kalau begitu aku mulai dari sini ya .." tepat ketika pria itu ingin meremas payudara Yuen , Yuen berdiri dan menarik nafas.


"Kamu kah pemimpinnya ?" tanya Yuen seraya menunjuk sang pemimpin geng .


Si pemimpin mangangguk dengan gemetar.


Yuen tersenyum dan dengan satu kali mengeluarkan aura intimidasi, seluruh geng itu jatuh pingsan dan hanya menyisakan sang pemimpin .


Si pemimpin meneguk liur dan bersiap kuda kuda "Aku tau kau bukan orang biasa" ucap si pemimpin geng.


Yuen menaikkan alis .


"Besok pagi, kamu pergi ke kuil padepokan yang ada di puncak lereng bukit di sana" tunjuk Yuen ke arah padepokannya.


"Untuk apa aku ke sana?" tanya orang itu.


"Aku melihatmu murni seorang petarung, bukan seperti anak buahmu yang hanya suka berfoya foya . Aku bisa melatihmu menjadi lebih kuat " ucap Yuen .


"Apa ada jaminan aku masih hidup?" tanya orang itu.


"Kalau aku memang ingin membunuhmu, lebih baik ku lakukan sekarang ." Yuen membalas kata kata pria itu dengan nada penegasan .


Pria itu akhirnya sedikit tenang dan mengendurkan kewaspadaannya kepada Yuen .


"Bagus, sekarang aku perintahkan kamu untuk melupakan kejadian ini . Dan besok , kamu akan secara naluriah pergi ke padepokan ku!" dan sedetik setelah mengatakan kalimat itu , Yuen berada di belakang pria itu dan menekan titik akupuntur yang ada di tengkuknya . Pria itu pun menjadi diam . Pandangan nya pun kosong , dan akhirnya ia pun mengangguk lalu pergi meninggalkan Yuen .


Wukong melompat kedepan Yuen yang membuat Yuen kaget sampai hampir saja jantungnya jatuh ke perut.


"Astagah Monyet! Bikin kaget tauk ... iiiih!!!" Yuen memukul lembut ke dada Wukong .


"Buat apa kamu tadi menyuruh pria itu datang ke padepokan?" selidik Wukong .


"Ya buat ku latih lah , kan si calon Kaio mau kamu bawa ke Indonesia." Yuen menjelaskan .


"Iyalah! emang mau ngapain aku? " Yuen memutar bola matanya .


"Kirain aja " Wukong memasang wajah lega kali ini .


Beberapa detik setelah hening, Yuen menyadari sesuatu.


"Kenapa kamu kepo ? jangan jangan ... kamu cemburu ya? kalau aku yang manis ini di ambil cowok geng tampan tadi ? iya kan ? ngaku!" Yuen memojokkan Wukong dengan memencet mencet pipinya Wukong .


Wukong kewalahan menghindari tingkah laku Yuen "Apaan si? nggak lah , cemburu apanya ?" Wukong mengeles.


Yuen tertawa cekikikan melihat Wukong yang salah tingkah "Ah , masa sih? yang bener?" Yuen menggelitiki perut Wukong , dia tau kalau Wukong sedari dulu tidak kuat digelitik.


"Udah nah , ayo kita lanjut belanja !" Wukong hendak kembali melompat sebelum akhirnya ia kembali terduduk karna Yuen menarik ekornya .


"Kenapa lagi sih Yuen ?" Wukong agak kesal dengan tingkah kekanakan Yuen .


Yuen cemberut dan menunduk , ia masih berfikir kata kata apa yang tepat untuk di beri tahu ke Wukong .


"Kamu kenapa? ada masalah? cerita sama aku Yuen .." Wukong menggenggam kedua pipi Yuen.


"Aku suka kamu monyet !" ucap Yuen sambil kembali menundukkan kepalanya , bahkan saat ini pipinya mengalami kemerahan merona .


Secara tak sadar, ekor Wukong menggeliat seperti ekor kucing ketika melihat seekor betina . Kuping Wukong juga bergerak gak karuan .


Malam itu, ia mendapati sesuatu fakta yang sangat tidak masuk akal. Seorang wanita menembak seorang pria .


###


Wukong dan Yuen masih berdiam-diaman di angkasa. Setelah di bujuk Wukong , akhirnya Yuen mau menaiki awan kinton . Padahal hari ini adalah hari yang ramai di Tiongkok , dimana taman hiburan , dan pasar malam sangat ramai di kunjungi para manusia .


Wukong bingung memulai percakapan dari mana , sebab Yuen sendirilah yang mengungkapkan perasaannya. Wukong putar lagi beberapa fakto manusia yang mencintai seseorang , dan semua faktor itu ada pada sikap Yuen kepadanya.


Dimulai dari Yuen bersikap khusus kepadanya , sifat kekanakannya, manjanya , dia yang suka mengolok, dan bahkan Yuen sering kali caper dengannya akhir akhir ini. Wukong masih menggaruk kepalanya yang tak gatal dan masih berusaha untuk mencari cara agar bisa berkomunikasi.


"Hey Monyet! Mau turun dimana kita?" akhirnya Yuen lah yang deluan bersuara .


"Hmmm... sebentar , aku masih nyari kios kebab" Wukong benar benar menajamkan matanya .

__ADS_1


"Gak usah di cari, kita turun di sini saja . Ntar kita nikmati saja acara pasar ini sampai ketemu kebabnya ." Yuen memberi saran kepada Wukong .


Yuen memang paham, bagaimana cara berpikir Wukong yang saat ini statusnya adalah seorang Dewata . Terkadang, orang yang merasa dirinya tinggi itu selalu menempatkan pemikiran yang seperlunya . Semisal masuk kedalam acara , ia pasti hanya melakukan yang perlu perlu saja sebab ia merasa dirinya itu penting . Hal hal sepele lainnya akan di abaikan karna itu hanya akan membuang buang waktu yang berharga baginya.


Tapi , bagi kita manusia yang tak pernah merasa menjadi sesuatu yang penting, selalu saja menginginkan momen menghabiskan waktu bersama seseorang itu ada. Dan ketika ada , ia pasti akan menikmati detik per-detiknya sampai ke hal-hal kecil dan sepele. Entah memperhatikan gerak gerik jalannya, cara ia mengedipkan mata , cara lengannya bergoyang, cara si doi berinteraksi atau bahkan ia pasti memperhatikan bagaimana cara si doi bernafas.


Yuen ingin Wukong merasakan hal hal seperti itu , karna tugasnya sebagai Dewata memang sulit dan pasti membuatnya agak penat.


"Baiklah , dimana tadi?" Wukong akhirnya menurut .


"Itu ! di kios bakpao! Aku sudah lama tak makan bakpao!" tunjuk Yuen .


"Iya iya , ayo ke kios bakpao" Wukong mengajak awan kinton untuk mendarat di dekat sana.


Sebelum mereka benar benar mendarat, tak lupa Wukong melapisi pendaratan mereka dengan kabut. Itu bertujuan agar manusia fana tidak terlalu melihat apa yang sebenarnya terjadi .


"Ayo! cepet!" Yuen melompat dari awan kinton dan langsung menarik lengan Wukong . Wukong yang panik hanya bisa mengikuti langkahnya .


Dari belakang , Wukong melihat keindahan Yuen . Mulai dari wig yang ia pakai, leher jenjangnya , lengannya yang tak kurus namun tak berlemak, bagian pinggulnya yang sempurna (tidak besar dan tidak kecil) dan bahkan langkah kaki Yuen yang sangat-sangat menawan. Bahkan bagi Wukong , lari kecilnya Yuen saja sangat imut di matanya .


Awalnya Wukong ingin menuntaskan janjinya kepada Aden dengan membawakan oleh oleh kebab Tiongkok. Namun melihat Yuen yang tampak bersemangat dalam menjelajahi kuliner pasar dan segala permainan di pasar pada malam ini , membuat Wukong ingin beristirahat sejenak dari segala permasalahan yang ia hadapi.


"Kira kira , sudah berapa lama ya aku tidak merasakan hal seperti ini. Guru Tong Sam Cong" Wukong bersyukur kepada Tong Sam Cong yang membujuk dirinya agar tetap terus hidup dan tak menyegel dirinya kembali ke gunung lima jari.


"Hmmm? keuh nah fah?" Wukong kembali tersadar dari lamunan akibat teguran dari Yuen yang sambil mengunyah dua bakpao sekaligus kemulutnya, membuat pipinya sukses tembem seperti pipi panda .


Wukong tertawa terbahak bahak.


Yuen yang bingung segera meneguk semua bakpao yang ia belum selesai kunyah.


"Kenapa ketawa ?" selidik Yuen .


"Gak papa.. boleh aku minta satu?" tanya Wukong .


Yuen yang saat ini menggenggam dua buah bakpao di masing masing tangannya segera melihat keempat bakpao itu secara bergantian , seolah olah ia bingung apakah Wukong di kasih atau tidak .


"Gak!" Yuen segera memasukkan kedua bakpao ke dalam mulutnya dan mengunyahnya , ketika Yuen mengunyah dan pipinya kembali tembem. Itu lebih seperti terlihat seperti seekor tupai yang memasukkan segenggam kacang tanah ke dalam mulutnya .


Wukong kembali tertawa melihat tingkah lucu Yuen .


Yuen tak mengerti kenapa Wukong tertawa, ia pun hanya fokus mengunyah kedua bakpao yang ada di dalam mulutnya.


"Katanya kamu suka aku? kok yang di sukai gak di kasih?" tanya Wukong .


Yuen kesedak dan memukul mukul dadanya . Wukong segera mengambil botol Tupperware yang berisi air perasan jeruk dari celah dimensi dan memberikan botol Tupperware itu kepada Yuen .


Dengan cepat Yuen merampas botol itu dan meneguknya banyak banyak.


"Haaah..., hah ..." Yuen berusaha mengatur nafas .


"Makanya kalau makan itu pelan pelan" tegur Wukong .


"Ya udah deh , kamu ambil satu.." Yuen memberikan sebuah bakpao ke Wukong .


Namun sebelum Wukong mengambil bakpao itu, Yuen sempat bimbang dan akhirnya ia menarik kembali bakpao itu .


"Lho kenapa?" tanya Wukong yang heran .


"Setengah aja gakpapa kan?" Yuen memasang wajah anak-anak yang tak ingin makanannya di rampas oleh anak-anak besar .


Wukong kembali tertawa "Ya udah deh terserah "


Yuen tersenyum lebar dan merobek bakpao itu menjadi setengah kemudian memberikan potongan bakpao itu ke Wukong .


Segera setelah Wukong mengambil bakpao , Yuen kembali memasukkan sisa robekan bakpao dan sebuah bakpao yang lain kedalam mulutnya dan kembali mengunyahnya dengan khidmat.


Wukong sangat menyukai Yuen yang rakus dalam memakan bakpao.


"Wah wah, kalian pacar yang serasi ya , atau mungkin sudah berkeluarga ?" ucap si penjual bakpao yang melihat tingkah laku mereka .


Yuen kembali tersedak setelah mendengar penyataan sekaligus sebuah pertanyaan absurd itu . Wukong dengan sigap membantu Yuen agar meminum air perasan jeruk dari Tupperware tadi.


"Anu kek , .." sebelum Yuen membalas sang kakek penjual bakpao, Wukong lebih dulu bersuara..


"Iya kek, baru saja jadian . Dan insyaallah akan berkeluarga nanti" ucap Wukong.


Mata Yuen melotot dan pipinya pun merona. Kali ini mulutnya ternganga tak berdaya dan tak tau harus berucap apa .


"Insyaallah?" sang kakek tak mengerti.


"Oh , itu kalimat mayoritas orang Indonesia jika hendak menentukan atau ingin menepati janji yang ia buat . Dan biasanya setelah mengatakan itu orang itu pasti akan berusaha membuktikan omongannya" Wukong mengabaikan kebingungan Yuen .

__ADS_1


Saat ini , Wukong hanya ingin melihat Yuen melahap semua jajanan di pasar .


***


__ADS_2