
"Anak anak ! Segera berlari ke jalur evakuasi! *dimana menuju terowongan bawah tanah yang aman*"
Teriak seorang guru di tengah kepanikan muridnya.
Namun itu adalah hal yang percuma, Jelas sekali para kelompok yang menyerang Best Study itu sudah ahli dan mereka juga tahu seluruh peta Best Study, Dengan begitu mereka menghancurkan jalur evakuasi agar murid murid maupun guru tidak pergi ke ruang bawah tanah karena di sana terdapat sebuah portal dan sihir komunikasi untuk meminta bala bantuan yang besar di sekitar Best Study.
Agar Rencana mereka berhasil dengan mudah mereka tentunya telah memblokir komunikasi dan portal yang akan membocorkan keberadaan mereka, mereka melakukan ini bukan hanya dengan kemampuan fisik melainkan pikiran juga agar tidak ada bala bantuan yang menangkap mereka.
Mereka telah meracuni prajurit prajurit dalam Best Study dan telah mengecoh prajurit atau bala bantuan diluar Best Study....
"Mana mungkin kita akan terus di kelas.... Jika jelas terkena Bom..."
Gumam Silvia melihat kehancuran Best Study lewat jendela.
"Seharusnya para kelompok itu tidak akan mengincar kita...Karena akan membuat perang sesama negara"
Jawab Rose menenangkan Silvia.
"Tapi tidak ada jaminan kita tidak terluka atau sekarat yang pada akhirnya mati juga... Itu pun bila kelompok itu tertangkap ! Namapak sekali mereka sudah ahli ! meski Rencana mereka gagal pun sepertinya kabur bukanlah hal yang tidak mungkin untuk mereka"
Khawatir Silvia menjadi jadi.
"Kita akan baik baik sa..."
Belum menyelesaikan bicaranya tiba tiba lentai bergetar hebat.
Saat itu kelas Rose berada di lantai atas sepertinya lantai bawah mulai runtuh membuat siswa panik, tidak peduli mereka putri, pangeran atau bangsawan yang memiliki derajat sehingga sedikit orang yang mau melawan mereka, Namun di saat seperti ini Nyawa tidak ada hubungannya dengan marga mereka.
Teriakan mulai menggema ke seluruh sudut sudut ruangan, Namun itu malah membuat Ruangan semakin hancur.
"Kita harus keluar jika tidak ingin tertimpa !"
Teriak Siswa sisiwi yang langsung berhamburan dan berusaha keluar dari lantai atas itu, Untung saja jalur keluar tidak tertutup mereka (para siswa) langsung mencari tempat yang aman.
"Silvia ! Dimana kamu !?"
Teriak Rose menyadari Silvia tidak ada setelah terbawa keramaian...
__ADS_1
...***...
"Tuan, Sekarang kita hampir sampai ?"
Tanya Ishani yang mengikuti Rever.
"Benar ! Best Study ada di seberang sana, Saat sampai aku akan langsung menemui Rose dan akan bermeditasi untung memulihkan energiku, Sekarang energiku benar benar Nyaris habis...Sedang tidak bisa menggukan sihir"
Jawab Rever sambil mempercepat larinya, Nampak Rever benar benar kelelahan namun ia tidak mau berhenti untuk segera melepas Rindunya pada Rose.
"Oh iya, Saat ada orang jangan panggil aku master, tuan atau sejenisnya panggil aku Rever saja"
Ujar Rever menyuruh Ishani.
"Itu tidak sopan, Manusia sehebat anda, Bukankah hal yang wajar saya menyebut anda tuan ? Para manusia juga menghormati anda kan ?"
Tanya Ishani yang belum tahu akting Rever selama ini.
"Aku belum pernah menunjukan kekuatanku, Turuti saja perintahku"
Namun ketika Rever sudah dekat dengan Best Study ia tidak melihat ke anehan, Dengan segera Rever masuk melalui gerbang utama.
"Aneh...Ada sesuatu di gerbang ini..."
Gumam Rever menelaah.
Namun Ishani dengan segera menggantikan Rever menghancurkan Pelindung gerbang itu,
Karena energi Rever sudah habis.
Dan ternyata itu adalah pelindung agar orang luar tidak mengetahui apa yang terjadi di dalam itu cukup membuat Rever dan Ishani Namun itu bukan seberapa di Banding pemandangan yang ada di dalam Best Study ketika banguan bangunan dan gedung gedung yang tadinya terlihat kokoh mulai di ledakan mencari kepala sekolah dan berkas berkas.
Itu bukan hal yang membuat Rever Khawatir atau panik, Yang ia takutkan hanya keselamat Rose, Dengan segera Rever mencari bolak balik Best Study mencari Rose dalam keadaan yang lelah setelah 3 hari perjalanan tanpa istirahat itu.
"Rose !!! Ishani, Cepat cari Rose !"
Teriak Rever sambil berlari.
__ADS_1
"Yang mana ?! Aku melihat anak lain aku tidak tahu Rose !?"
Teriak Ishani balik.
"Rambut pirang bergelombang dan mata merah !"
Teriak Rever menjawab.
"Banyak anak yang rambutnya pirang ! Yang mencolok adalah seorang anak berambut pendek merah di sana !"
Teriak Ishani masih mengikuti Rever.
"Itu adalah Silvia ! Dimana kau melihatnya ! Jika Silvia ada kemungkinan besar Rose ada di sekitarnya !"
Teriak Rever langsung memutar arah.
sedangkan di keberadaan Rose, Nampak Jari-jari dan kaki Rose mulai luka luka akibat Goresan serpihan bangunan yang meledak ledak, Rose juga menggaruk garuk kepungan bangunan untuk mencari Silvia.
"Silvia ! Dimana kau !"
Teriak Rose andai di sana sedang tidak ada keributan, Suara Rose tersamarkan oleh teriakan orang lain juga, Sehingga wajar Silvia mungkin tidak mendengar.
"Rose ! Aku disini !"
Teriak Suara Silvia dari samping Rose, Dan terlihat juga sosok Silvia dengan keadaan yang sama dengan Rose dimana jari jari dan kakinya mulai terluka.
Dengan segera Rose berlari sempoyongan dengan sisa tenaganya menuju Silvia, Begitu pun dengan Silvia berlari dengan kakinya yang terluka lebih parah dari Rose.
Namun tinggan 10cm antara jarak Rose dan Silvia tiba tiba datang sebuah panah berteburan di sekitar mereka.
Dan ketika Rose dan Silvia sudah mulai bersentuhan Rose melihat satu anak panah yang mengarah ke kepala Silvia.
Dengan Refleks tanpa berpikir Rose mendorong Silvia sekuat tenaga namun itu malah membuat panah itu menebus jantung Rose dengan tepat, Sungguh sebuah kecelakaan yang benar benar kebetulan.
"Rose!!!!!!!!! Apa yang kau lakukan!!!!!??"
Teriak Silvia yang berusaha berjalan ke arah Rose namun saat itu kaki Silvia sedang terluka di tambah dorongan Rose membuat Kaki Silvia benar benar Mati Rasa, Namun Silvia seolah tidak peduli berusaha berjalan ke arah Rose meski setiap ingin bangun rasa sakit merambat dan menusuk di kakinya membuat ia kesakitan dan akhirnya jatuh, Hal itu terus Silvia lakukan meski pada Akhirnya ia tidak berhasil melangkah 1 langkah pun.
__ADS_1