Sang Pemilik

Sang Pemilik
Bab 10


__ADS_3

Malam itu, hujan lebat mengguyur dan membasahi segala sesuatu di bumi, petir yang menyambar di selingi guntur memekakkan telinga, dan di seluruh kota diselimuti kegelapan.


Tidak ada sedikitpun cahaya di kamar yang remang-remang itu, dan gorden yang tebal menghalau cahaya malam yang suram di luar, sama sekali tidak merambat kan cahaya ke kamar pria itu.


Di atas tempat tidur besar itu, hanya menampakkan kekosongan, karena sudah dua hari terakhir sang pemilik tidak kunjung datang.


Pria pemilik kamar itu sedang berada di rumah sakit pusat kota. Sedang berdiri dengan mantel hitam malam miliknya tepat di depan pintu ruang bedah, menatap lampu bertuliskan operasi tanpa ekspresi.


Koridor kosong di sekitar luar biasa menyeramkan di malam yang hujan, seolah ada hawa kematian dimana-mana.


Waktu tidak pernah berjalan lambat sebelumnya. Pangeran Lingga berdiri, terus menunggu sampai hujan berhenti di luar sana dan langit berangsur-angsur cerah.


Meski menunggu lama, setidaknya masih ada harapan walau tanpa kepastian bukan?


Namun, pada saat fajar menyingsing, Pangeran Lingga merasa bahwa dunia telah sepenuhnya mengubur harapannya.


"Maaf, kami sudah mencoba yang terbaik...."


Dokter menghela napas pelan. "Putri Acalapati kehilangan terlalu banyak darah, dan jantungnya berhenti berdetak beberapa kali selama proses operasi, walaupun semua sudah bisa di atasi, kami belum bisa memastikan Putri Acalapati akan kembali siuman."


Setiap telinga yang mendengar diam-diam menerbitkan senyum tipis, hanya Pangeran Lingga yang auranya tampak mengelap. Seperti sore yang di tarik warna jingganya.


Restu menatap semangat di mata Arimbi, matanya yang indah dan cerah berkilat dengan licik. Waktunya mendekati Pangeran Lingga, lalu menjalani kehidupan seorang permaisuri.


Kilatan obsesi itu tentu saja tidak di ketahui oleh Restu, Restu hanya mampu menangkap ke tertarikan Arimbi pada sang Tuan mudanya.


Tatapan Arimbi begitu lembut, penuh kasih sayang dan dalam. Itu yang dilihat Restu.

__ADS_1


Siapapun tak menyangkal ketampanan Pangeran Lingga, Restu sendiri pengemar berat sang Pangeran. Lingga terlihat benar-benar tampan, ketampanannya mampu menyingkirkan artis terkenal berskala internasional. Wajahnya yang tampan tampak seperti dipahat. Di dalam sepasang mata yang tajam itu terdapat pupil se hitam batu obsidian yang dalam. Hidungnya bangir, bibirnya tipis berwarna merah alami, bahunya lebar dan pinggangnya ramping. Wajahnya sempurna tanpa noda.


Sangat serasi jika bersanding dengan Putri Acalapati, sayang sang Putri yang memiliki kecantikan paripurna itu memiliki sikap buruk.


Putri Acalapati benar-benar cantik, elegan, dia berkaki jenjang, pinggangnya ramping dan hanya memiliki selisih sedikit saja dari tinggi badan Pangeran Lingga, sangat luar biasa cantik. Kecantikan Yunani yang sempurna, dia juga sudah menyelesaikan studi paska sarjananya, dan langsung bersedia menikah dengan Pangeran Lingga.


Namun, Putri Acalapati wanita jahat yang tidak memiliki hari nurani. Setiap penghuni istana membencinya. Mungkin hal yang sama juga dirasakan Pangeran Lingga.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


"Nenek?"


Yuana membelalakkan matanya, dia menurunkan tangannya yang menopang dagu.


Fury mendengus dingin, dan satu pria tinggi besar datang menyusulnya lantas menarikan kursi kebelakang.


Fury meletakkan tas branded barunya, yang merupakan edisi terbatas dan hanya di produksi puluhan saja yang sudah menyebar di seluruh dunia, jadi akan sangat jarang di temui dalam satu kota pemilik tas yang sama. Dari penampilan luar maupun dalam tas itu hanya menyuarakan satu kata, yaitu Mewah.


"Siang, Nek." gugup melanda hati Yuana. Hubungannya dengan Nenek kekasihnya ini tidak lah baik, dan Fury juga terang-terangan menolaknya untuk menjadi cucu menantu. Yuana benar-benar tidak tahu tujuan Nenek kekasihnya tiba-tiba menemuinya, tapi Yuana juga tidak bisa mengelak. Yang perlu Yuana lakukan adalah menjaga diri agar tidak ceroboh dengan salah bicara atau bertingkah memalukan.


Mata tua Fury menyorot penampilan Yuana, memperhatikan wanita yang sudah cukup umur untuk melangsungkan pernikahan. Fury melihat Yuana balas menatapnya dan tersenyum. Terlihat wanita itu tegang dan itu membuat Fury senang.


"Tas ini akan menjadi milikmu," Fury sengaja men-jeda ucapannya, memperhatikan terlebih dahulu lawan bicaranya.


Yuana terlihat menunggu kelanjutannya, tetapi wanita itu tetap diam tidak berani menyela.


"Aku tidak mungkin datang tanpa penawaran yang berarti untuk mu," Fury menerbitkan senyum licik. Tas branded yang di letakkan di atas meja di dorong lebih dekat ke hadapan Yuana.

__ADS_1


Yuana menatap lekat-lekat ke arah tas yang di sodorkan oleh wanita pemilik ratusan hektar tanah itu. Yuana belum terlalu paham dengan apa yang akan Fury lakukan kepadanya.


"Tas ini akan ku berikan kepadamu. Tuliskan saja rekening dan kirimkan ke nomor ponselku, aku akan memberimu sejumlah digit yang kamu inginkan" Senyum tipis itu masih tersungging di bibir Fury. "Sebagai imbalannya tinggalkan cucuku, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyetujui hubungan kalian. Bahkan ketika aku sudah berada di bawah tanah sekalipun."


☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Raden tersenyum tipis melihat Sekar yang tertidur di samping kursi kemudi. Sejak malam itu perasaannya pada Sekar berubah.


Sampai mobil yang mereka kendarai tiba di rumahnya dia masih tidak turun dari mobil dan malah memperhatikan Sekar dengan lembut.


Raden memejamkan matanya. Dia merasa perasaannya menghangat dan pemandangan di hadapannya seperti tidak nyata.


Bagaimana mungkin Sekar bisa menjelma menjadi wanita cantik seperti ini dalam beberapa Minggu.


Mungkinkah ini karena Tuhan tengah menghukumnya? Tuhan menghukumnya karena berani mempermainkan sebuah pernikahan. Atau justru Tuhan tengah memberinya petunjuk jika wanita yang telah menjadi istrinya ini adalah wanita yang luar biasa cantik. Tidak hanya hatinya yang lembut tetapi juga fisiknya yang indah.


Sekar merasakan hawa panas di sekitarnya membuatnya terbangun. Sekar berpaling dan membuka matanya. Tepat ketika Sekar membuka matanya dia malah langsung berhadapan dengan Raden yang sedang balas menatapnya.


"Kita sudah sampai?" tanya Sekar dengan suara khas bangun tidur.


"Ya." Raden malah kecewa melihat Sekar yang cepat terbangun.


"Kenapa kau tidak memberitahuku?"


"Aku baru saja ingin membangunkan mu" Raden mencari alasan.


Sekar sedikit heran. Hawa di dalam mobil sudah tak begitu dingin. Bukankah mereka tadi memakai AC? .

__ADS_1


"Ah, kau lupa membeli obat serangga" ucap Sekar sambil melepas sabuk pengaman.


Raden sempat heran kenapa Sekar malah membahas obat serangga. Namun ketika sadar akan makna yang lain, wajah Raden jadi bersemu merah.


__ADS_2