
Ketika Pangeran Lingga mencium pipinya, Acalapati menyadari sorot mata berbeda di mata pria itu. Ciuman itu adalah cara Lingga agar adik-adiknya menjauh. Ucapan boleh menipu, tetapi sorot mata dan deru napas tak bisa di tutupi.
Dulu memang awalnya begitu kesepakatan mereka. Menikah namun sibuk mengurus urusan masing-masing. Harusnya tetap seperti itu. Tetapi akhir-akhir ini Lingga terus merusuhi dan melakukan kemauannya sendiri.
Putri Ilya mencondongkan tubuh untuk berbisik pada Putri Ana. "Aku kesini ingin bertemu dengan Kakak. Bukan melihat hal seperti ini."
Putri Ana ikut meringis, mendengar keluhan adiknya. Dia sama tak menyangka nya akan melihat sesuatu yang tak terduga seperti ini.
Pangeran Lingga masih sibuk menatap Istrinya, membuat Acalapati ikut gemas dan balas menatap pria itu. Mereka kini saling berpandangan.
Diam-diam ada amarah berkobar di hati ke tiga gadis cantik yang masih suci itu. Mereka merasa di abaikan. Biasanya sang Kakak selalu memprioritaskan mereka, tetapi sejak kedatangan Lingga, lelaki itu acuh dan lebih perduli pada Istri cantiknya.
Acalapati perlahan mendekatkan bibirnya di telinga Lingga. "Demi Tuhan, aku melihat adik-adik mu seperti ingin menelanku hidup-hidup."
Lingga perlahan menolehkan kepalanya, dan mendapati ucapan Acalapati benar.
Tiga pasang mata itu menatap tajam pada Acalapati yang tampak tenang. Sepertinya Lingga akan sedikit kesulitan jika harus menangani perasaan wanita.
Pangeran Lingga menghela napasnya. Dia menggeleng sambil tersenyum.
Acalapati berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan ke empat orang itu di meja makan. Begitu Acalapati beranjak, Maty segera mengekor di belakangnya.
"Istrimu aneh." Putri Ilya langsung mencibir.
Pangeran Lingga menatap Ketiga adiknya. "Dia pergi untuk memberi waktu pada kita."
"Kakak terlihat sama anehnya." komentar Putri Zava.
Pangeran Lingga tertawa kecil. "Berarti kami cocok, sama-sama aneh." jawab Lingga teramat santai.
"Kekuatan wanita mengalahkan segalanya." Komentar Putri Ana.
"Adik-adik ku biasanya sangat lembut." komentar Pangeran Lingga.
Acalapati berdiri dengan tegak. Menunjukkan wajah cantik dan kemolekan tubuhnya. Membuat semua orang meliriknya. Dia melakukan gerakan anggun. Kecantikannya bukanlah rumor belaka. Benar-benar seperti terlahir menjadi wanita penggoda.
"Nikmati waktu kalian. Aku akan pergi sebentar."
__ADS_1
"Kau mau kemana?" tanya Pangeran Lingga.
"Fokuslah pada adik-adikmu, aku ingin menemui Restu sebentar."
Acalapati tahu jika Restu itu adalah kepercayaan Lingga. Apapun yang dia katakan, Pangeran Lingga akan percaya. Niat Acalapati adalah membuat hubungan mereka retak, Lingga dan Restu bermusuhan, dan itu akan terwujud sebentar lagi. Hanya tinggal selangkah lagi untuk membeberkan semua fakta pada Lingga.
Pangeran Lingga memandang Acalapati yang akhirnya mengerti dengan apa maksud dari perkataannya. Dia tersenyum sambil memandang Acalapati. Dan dengan terseyum. Acalapati ikut menganggukkan kepalanya.
Senyuman yang membuat angin pun ikut menikmatinya. Sangat cantik!
☘️☘️☘️☘️☘️
Acalapati hendak masuk ke dalam kamar Restu. Zur berlari menghampirinya.
"Aku memiliki informasi yang sangat penting."
Acalapati diam lalu terkejut mendengar Zur dengan sangat bersemangat cerita. "Apa Bibi yakin dengan yang Bibi katakan?"
Zur semakin bersemangat. Kenyataannya dia benar-benar mendengar dengan telinganya sendiri ucapan Putri Arimbi yang berkata tengah mengandung anak Restu.
Restu duduk kaku di sandaran tempat tidur. Dia selalu mengingat perbuatan Acalapati yang sangat berani. Suara rintihan kesakitan wanita itu saat tak sadarkan diri, membuat Restu terjaga semalam. Restu merasakan keresahan yang luar biasa. Acalapati benar-benar sudah membuatnya tidak tenang.
Restu sangat antusias saat melihat kunjungan Acalapati, dan melihat keadaan wanita itu baik-baik saja membuatnya lega.
"Terimakasih Anda sudah dua kali menyelamatkan nyawa Hamba."
Acalapati masih diam. Dan itu membuat Restu gelisah. Acalapati sengaja melepas cadarnya begitu hendak masuk ke kamar Restu.
Alat perekam sudah ready di balik gamisnya yang tersembunyi
Restu masih saja memainkan perannya dengan sempurna, begitu juga dengan Acalapati.
Mereka masih sempurna dalam bersandiwara.
Restu mulai sedikit menggerakkan kedua tangannya yang terasa dingin akibat bergetar. Dia benar-benar dibuat terpesona berkali lipat oleh kecantikan Acalapati.
Kini mereka saling berhadap-hadapan. Ke dua mata mereka saling pandang. Restu semakin bergetar melihat kecantikan yang terpancar dari dalam diri Acalapati yang untuk kesekian kali dilihatnya.
__ADS_1
Mata hitam milik Restu masih saja terus memandang wajah Acalapati. Namun perlahan Acalapati membuang muka muak.
Acalapati membalikkan tubuhnya dengan cepat, berjalan menuju pintu kamar Restu.
"Aku kecewa, Restu." rintih Acalapati.
Restu sangat terkejut melihat kepergian Acalapati. Dia buru-buru bangun dan meraih tangan Acalapati.
"Putri," lirih Restu, seperti membujuk.
Air mata Acalapati sudah berjatuhan ketika Restu berhasil memutar tubuhnya untuk saling berhadapan.
"Mengapa kau meniduri wanita lain di saat hatiku telah separuhnya ku serahkan padamu, Restu." Ratap Acalapati menundukkan kepalanya.
Restu terperanjat, tetapi juga syok berat dengan ungkapan Putri Acalapati.
"Ada apa, Putri?" Restu meraih tangan Acalapati, yang langsung di tepis oleh wanita itu.
Acalapati berharap Lingga tidak mengacaukan segalanya. Untuk kali ini Acalapati ingin Lingga sibuk dengan ketiga adiknya, hingga misi nya selesai.
"Mengapa kau menghamili Arimbi? Mengapa dia?" Isak tangis menyesakkan hanya untuk sekedar di simak, membuat hati Restu tersayat.
"Putri, Anda ...?"
Acalapati mengusap rahang tegas Restu untuk di tangkup dan di usap mesra.
"Bagaimana dengan Aku." Sudah seperti wanita penggoda yang sedang merayu pelangg*n. Acalapati sama sekali tidak perduli.
"Katakan dengan jelas, Putri!" tuntut Restu.
Acalapati menggeleng keras kepala, membuat Restu gemas.
"Benarkah Anda memiliki perasaan padaku?" wajah Restu tampak berbinar.
"Hiks, hiks ... " Putri Acalapati malah kembali menangis di tanya seperti itu.
"Oh, Putri ...!"
__ADS_1