Sang Pemilik

Sang Pemilik
Ban 50


__ADS_3

Oh, sungguh Acalapati mulai merasa senang karena setelah ini dia akan segera membongkar kebusukan Arimbi dan juga Restu.


Hari ini rekamannya memang tidak banyak mengungkapkan bukti. Tetapi setidaknya hari ini dia bisa menikmati siksaan yang dirasakan oleh Arimbi.


Masih ada hari esok. Dan Acalapati akan melakukan yang lebih baik lagi.


"Pangeran, Benar." Acalapati meletakkan cangkir tehnya. Wajahnya menunduk dan tangannya membuat gerakan memutar di atas perutnya. "Aku bisa melukai atau membunuh orang lain, tapi aku tidak akan pernah menyakiti darah dagingku sendiri."


Mendengar ucapan yang keluar dari bibir Acalapati, hati Pangeran Lingga tersentuh.


Tiba-tiba disaat itu Restu berdiri. "Izinkan hamba mengantar Putri Arimbi kembali ke tempat seharusnya, Pangeran!"


"Mengapa buru-buru?" tanya Pangeran Lingga.


" Bukankah kebersamaan seperti ini jarang terjadi?" Acalapati mengedarkan pandangannya ke arah Restu dan Arimbi.


Arimbi mengutuk Acalapati dalam hati. Bibir wanita itu beracun.


Pangeran Lingga ikut menganggukkan kepalanya, menyetujui ucapan Acalapati tentang hal yang sangat jarang terjadi di antara mereka.


"Tapi tidak apa-apa, jika memang Putri Arimbi harus segera pergi."


Restu menunduk hormat.


"Terima kasih atas kemurahan hati Anda." ucap Restu. Terlihat sekali Restu ingin segera membawa Arimbi pergi. Mungkin karena Restu tertampar secara tidak langsung dengan ucapan Acalapati yang sejahat apapun dirinya tidak akan pernah menyakiti darah dagingnya.


Begitu Arimbi dan Restu benar-benar keluar dari kamar Restu, Acalapati dan Pangeran pun ikut pergi dari sana. Sebelum keluar Pangeran Lingga menegur Isterinya.


"Kenakan penutup wajah mu."


Mata Acalapati memicing.


"Putri Arimbi bercadar, apa kau suka karena hal itu?"


"Apa aku perlu memberitahu mu?" Pangeran Lingga tau Acalapati tidak suka dengan sepupunya itu. Pangeran Lingga pikir itu karena niatnya ingin menikahi Arimbi. Tidak tahu jika masalahnya lebih besar dari itu.


"Dia sedang hamil." Putri Acalapati membocorkan informasi.

__ADS_1


"Jangan sembarangan."


"Kau bisa membuktikannya sendiri."


"Aku tau kau tidak suka dengan Arimbi. Tapi jangan karena itu kau memfitnahnya!" Pangeran Lingga memperingatkan.


Putri Acalapati tergelak kecil. "Kau kecewa karena bukan kau Ayah dari janin yang dikandungnya?" ejek Acalapati.


"Astagfirullah!" Pangeran Lingga beristighfar.


Acalapati berdecak malas dan buru-buru meninggalkan Pangeran Lingga.


Saat itu Pangeran Lingga sadar jika Acalapati bisa lebih mengerikan dari pada algojo.


Meong


Meong


Maty melompat dari kursi depan kamar Pangeran Lingga saat melihat kedatangan Acalapati.


Kekesalan Pangeran Lingga seketika surut begitu mendengar penuturan wanita yang sedang menimang hewan peliharaannya.


"Ya dewa, aku telah meracik teh saffron untuk calon istri Anda tadi. Saffron sangat tidak bersahabat untuk orang hamil muda jika dosisnya berlebihan." tiba-tiba Putri Acalapati membekap mulutnya dramatis, dengan mata menatap Pangeran Lingga penuh penyesalan.


Pangeran Lingga melotot. "Hentikan omong kosong ini!"


Acalapati mengerucutkan bibirnya.


"Bukankah seharusnya sebagai calon suami sekaligus calon Ayah anak itu Anda khawatir?"


"Allah Al-Karim ..." Pangeran Lingga melepas sorbannya.


Acalapati terkekeh kemudian melangkah tanpa dosa ke dalam kamar Pangeran.


Melihat tawa natural itu muncul di bibir indah Acalapati ternyata Pangeran Lingga menyukainya.


Acalapati duduk di bibir ranjang dengan Maty di gendongannya.

__ADS_1


Pangeran Lingga ikut duduk dan memperhatikan istrinya dengan sesama.


Kini Mary pindah bermanja-manja pada Lingga. Pada saat itu Acalapati meraih tangan Pangeran Lingga untuk di genggam.


Mendapatkan perlakuan tidak terduga dari wanita yang sah menjadi istrinya hati Lingga mustahil jika tak tersentuh.


"Apa yang ku ucapkan itu kebenaran, Lingga. Kau bisa mencari tahu. Tapi sebelum semua terbongkar siapkan mental mu dulu."


Dalam ucapan Acalapati penuh peringatan. Dari sorot matanya tidak ada sirat bercanda di sana. Membuat Lingga diam-diam meragu.


Malam itu Pangeran Lingga tidak bisa memejamkan matanya. Perkataan Acalapati terus terngiang-ngiang. Hingga pukul tiga dini hari dia terpaksa membuat janji temu dengan Jendral.


Ada yang membuat Acalapati sangat kagum dengan cara Pangeran Lingga mengelola kekuasaan. Kini istana Jaguar tidak hanya mampu mengelola sumberdaya alam dan mampu mengembangkan berbagi sistem dan bidang hingga mampu bersaing dengan negara barat. Pangeran Lingga juga tidak mau kekuasaannya dikendalikan pihak asing. Alasan itulah Tuan Aryan dan Acalapati sangat mengagumi kecerdikan dan kepintaran Pangeran Lingga. Hanya saja, Acalapati tidak menduga jika dibalik segala usaha yang ingin Lingga wujudkan. Ada orang-orang yang terus ingin menggagalkan rencananya. Dan parahnya mereka-mereka itu adalah orang-orang terdekat Lingga sendiri.


Acalapati sadar. Menikah dengan Lingga seperti mengadaikan nyawa.


Setahun lamanya waktu yang Acalapati butuhkan untuk melihat situasi dan keadaan. Satu tahun waktu yang Acalapati habiskan untuk terus mengenali orang-orang di sekitar Lingga. Dan sudah cukup satu tahun segalanya harus segera di bongkar. Lingga harus tetap naik tahta.


Jendral tidak menyangka akan di ajak diskusi di pagi buta seperti ini. Bulan Desember memasuki musim dingin di timur tengah. Udara sangat dingin. Tetapi Pangeran Lingga justru minta bertemu di luar ruangan.


Tetapi hawa dingin yang terasa menusuk tulang Jendral perlahan di jalari rasa panas kala Pangeran Lingga mengatakan maksudnya meminta Jendral menemuinya.


Terasa mustahil ketika ada seorang wanita hamil di luar nikah di lingkungan istana Jaguar. Selain wanita timur di bekali beberapa ilmu pengetahuan tentang adegan ranjang dan cara memuaskan pria mereka juga diajarkan cara tepat menunda kehamilan. Terlebih aturan menjaga jarak antara laki-laki dan perempuan begitu ketat. Bagaimana ada wanita yang hamil? Terlebih dia seorang Putri.


Di lingkungan istana. Umum seorang Putri di ajarkan berbagai teknik memuaskan Pria. khususnya mereka yang sudah menikah. Karena di timur tengah memiliki kebudayaan. Jika lelaki itu kaya dan mampu dia boleh beristri lebih dari satu. Tentu sebagai pejabat kerajaan memiliki lebih dari satu istri itu hal lumrah. Untuk itu para wanitanya di didik cara memuaskan pria, untuk mengikat pasangan mereka agar selalu puas di ranjang dan tidak mencari pemuas lainnya.


Meski Lingga merasa ucapan Putri Acalapati hanya wujud rasa cemburunya. Tetapi di hati kecilnya bisa melihat keseriusan di mata Acalapati.


Entah apa yang dimaksud Acalapati tentang Lingga yang harus menyiapkan mental. Lingga masih belum paham.


Setelah selesai mengatur strategi dengan Jenderal, Pangeran Lingga hendak kembali ke kamarnya. Di saat melewati aula wanita Pangeran Lingga menyelipkan tubuhnya di antara guci besar.


Dari sayap kiri istana. Pangeran Lingga melihat Restu yang berjalan mengendap-endap. Pria itu masih mengunakan baju yang sama saat kemarin mereka duduk minum teh bersama. Wajah Restu terlihat letih dan lesu dengan pakaiannya yang sudah berantakan.


Pangeran Lingga tidak keluar dari persembunyiannya sampai Restu menghilang di lorong yang memisahkan aula wanita dan laki-laki.


Dari mana Restu?

__ADS_1


__ADS_2