
Lingga menoleh. Ia memandang Zur dengan tatapan tajam sebelum kaki nya melangkah mendekati tempat tidur.
Pandangan keduanya bertemu pada detik kedua, membuat Acalapati dapat merasakan mata se hitam malam tersebut tengah menatapnya penuh luka.
Mengapa? Bukankah yang terluka adalah Acalapati sendiri?
Merasakan air mata Acalapati jatuh di jemarinya. Membuat Lingga ingin terus menatap bola matanya, semakin dilihat Lingga seperti jatuh kedalam jurang tak berdasar.
Zur yang hendak meraih tangan Acalapati kembali tersentak karena ucapan Lingga.
"Jangan menyentuhnya"
Terdengar begitu dingin. Penuh penekanan pada setiap nada rendah yang keluar dari mulutnya.
Siapa yang tidak terkejut? Seluruh manusia didalam ruangan bahkan menautkan alisnya tak percaya karena larangan Pangeran Lingga.
"Apa yang Anda butuhkan Pangeran?"
__ADS_1
Pelayan yang ikut datang penasaran. Setahu mereka, sosok Pangeran Lingga itu sama sekali tidak perduli dengan Putri Acalapati. Pangeran Lingga mendengus, ada amarah di hatinya. Saat ini istrinya sedang tak memakai kain tipis penutup wajah, ada rasa tak terima ketika orang lain dapat melihat kecantikan istrinya secara terang-terangan.
Seluruh isi istana Jaguar langsung heboh dengan berita kemarahan Pangeran Lingga karena istrinya yang terkena bara api di dapur istana. Pangeran Lingga langsung melarikan Putri Acalapati ke rumah sakit untuk menjalani pengobatan, atau jika perlu operasi.
Zur sangat ketakutan, Zur takut karena Pangeran Lingga akan sangat marah. Dia sudah di perintahkan secara khusus untuk menjaga Putri Acalapati supaya tetap aman, tetapi dia malah menciptakan kehebohan seperti ini.
Restu yang sedang mengecek hasil laporan Kongres yang Pangeran Lingga berikan, langsung bergegas menyusul kerumah sakit begitu mendengar kehebohan yang terjadi malam ini.
Sesampainya di lorong rumah sakit. Restu melihat Pangeran Lingga yang tengah duduk seorang diri.
Posisi Pangeran Lingga sedang tidak aman, hubungan Lingga dan Tuan Aryan belum sepenuhnya membaik. Apa lagi semua orang tahu jika Putri Acalapati tidak di inginkan kehadirannya di Istana Jaguar. Berbagai spekulasi pasti akan terjadi dan Pangeran Lingga tidak akan bisa menghentikannya.
Tepat ketika Pangeran Lingga bicara seperti itu, Pintu kamar dimana Putri Acalapati di tangani terbuka.
Ternyata Putri Acalapati langsung di perbolehkan pulang. Luka bakar di punggung tangannya memang serius, tetapi tak sampai harus di rawat inap.
Lingga melihat Acalapati yang tidur meringkuk membelakangi nya. Pangeran Lingga pikir Acalapati masih takut karena amarahnya tadi. Pangeran Lingga memang benar-benar marah, karena kecerobohan Acalapati ikut membuat hatinya ikut berdenyut nyeri.
__ADS_1
"Aku tidak marah, aku tahu kau tidak sengaja, tetapi jika boleh tolong lain kali jangan menimbulkan kekacauan."
Pilihan kata yang kurang tepat pasti menimbulkan dampak. Seperti halnya sekarang, karena ucapannya, langsung membuat Acalapati bereaksi tak suka.
"Kau sendiri yang menimbulkan kekacauan dengan berteriak-teriak tidak jelas. Sudah ku katakan aku tidak apa-apa, tetapi kau yang keras kepala untuk melihat luka ku, apa aku memintamu untuk melihatnya? Tidak! Lantas sekarang kau bilang padaku, memperingatkan ku agar aku tak membuat kekacauan? Dasar egois! " Maki Acalapati cukup keras.
Pangeran Lingga malah menatap Acalapati teduh, sama sekali tidak tersinggung.
"Ku rasa, dirimu yang sebenarnya telah kembali." komentar Lingga acuh dan malah ikut merangkak naik ke atas tempat tidur.
Lingga ikut masuk kedalam selimut, menyadari pakaian yang di kenakan istrinya terasa sangat tipis. Pria mana pun pasti akan berdecak di dalam kepalanya jika di hadapkan dengan kondisi seperti ini. Pangeran Lingga semakin sadar, jika dia sudah mulai ketagihan ingin terus menyentuh istrinya. Tetapi dia menahan diri.
Apa tega dia memaksakan kehendaknya pada wanita yang masih terluka?
Pangeran Lingga masih memakai pakaian lengkap, tetapi dengan mudah ia mampu melucuti nya jika dia mau. Bohong jika Pangeran Lingga tidak tergoda untuk melepaskan pakaiannya dan kembali menyatu dengan istrinya. Tapi ia sadar, Acalapati harus cukup tidur, dia sedang rapuh.
"Tidurlah, aku tidak akan menggangu mu. "
__ADS_1