
Sudah dua hari Sekar di bawa pergi oleh Fury. Raden tau Neneknya itu tidak benar-benar hanya ingin membawa Sekar berlibur. Tetapi Fury sengaja memisahkan dia dan Sekar. Tentu saja karena Fury mengetahui rencana jahatnya.
Kini Raden tidak tau harus berbuat apa. Dia teramat malu untuk menyusul Sekar. Tetapi tersiksa jika di tahan.
Raden melangkah perlahan masuk ke dalam rumah. Dia baru saja bertemu dengan Yuana, berharap dengan bertemu dengan kekasihnya kesepian hatinya sembuh. Namun, semua tak berguna rasa bersalah lah yang lebih dominan menggerogoti hatinya.
Raden masuk kedalam ruang baca. Dia mengamati sekitar. Bahkan, waktu kemesraan diantara dia dan Sekar masih terasa. Kursi yang bergeser karena ciuman yang menggebu masih berada di tempat yang sama.
Raden menutup pintu kamar dengan rapat. Masih mengamati ruangan dan kembali ke beberapa hari yang lalu. Dia masih melihat Sekar yang menangis, dipeluknya dan bahkan dibuatnya lupa caranya bernapas karena ciumannya. Air mata kesedihan wanita itu masih membayanginya. Sekar yang cantik bagaikan bunga mawar yang siap di petik. Namun gagal karena Neneknya yang mengambil bunga cantik itu sebelum kumbang jahat menghisap sarinya. Sayangnya kumbang jahat itu adalah dirinya.
"Sekar," lirih nya pedih.
"Au." Sekar mengibaskan jarinya yang kembali tersayat pisau. Entah sudah keberapa kali, bahkan kelima jari tangan kirinya sudah penuh dengan plaster luka.
Setelah mendengar cerita tentang Putri Acalapati dari Fury, Sekar bertekad akan melupakan kehidupan sebelumnya dan menjalani hidup sebagai Sekar seutuhnya, tetapi dalam segala perannya tentang Sekar, dia kesusahan untuk menerapkan cara memasak dengan benar.
Sekar sudah tidak memikirkan kembali menjadi Acalapati. Toh jika dia kembali berarti saat ini usianya sudah sekitar 40 tahunan, sementara menjadi Sekar, dia masih berusia 22 tahun.
Sekar memejamkan matanya menikmati momen indah yang sama sekali tidak diduganya. Angin lembut menerpanya perlahan. Sekar menikmati setiap rasa kulitnya yang terkena hembusan angin segar seakan menjemput takdir baru.
"Sekar, hentikan ini nak, jangan memaksakan kehendak." Teguran Fury selalu menjadi nyanyian sepanjang Sekar belajar memasak.
Diam-diam Fury tersenyum haru. Dia berpikir Sekar melakukan banyak hal demi Raden. Sekar bahkan rela menurunkan berat badannya, belajar banyak hal untuk bisa menarik perhatian Raden.
Fury juga selalu mengetahui kabar terbaru tentang Raden.
Fury meninggalkan Sekar yang masih bersikeras untuk memotong sayuran. Dia senang Sekar mau berusaha, tetapi juga kasian melihat jemari Sekar ikut tergores dimana-mana.
[Nenek tau kamu sudah berbahagia dengan istri baru mu, maka Nenek menunggu akte cerai kalian. Karena Nenek ingin menjodohkan Sekar dengan seseorang.]
Pesan itu dikirimkan Fury kepada Raden.
Sudah delapan hari Raden tidak bersemangat dalam melakukan rutinitasnya. Hari ini dia berniat menemui Yuana kembali. Bukan untuk melepas rindu akan tetapi Raden ingin mengakhiri hubungan mereka.
"Mas,!" wanita berusia tiga puluh enam tahun itu langsung terseyum bahagia menyambut kedatangan kekasihnya.
Raden membalas senyum tersebut, tetapi tidak sampai pada matanya.
"Ada yang ingin aku bicarakan, Na."
__ADS_1
"Ya, aku tau untuk itu kamu ajak aku bertemu kan, Mas?" senyum manis masih terpatri di bibir Yuana.
"Na, apa kamu benar-benar ingin kita menikah?" Tanya Raden menatap lurus lawan bicaranya.
Yuana mengangguk antusias.
"Kalau begitu ayo kita menikah. Akan tetapi sudikah kamu hidup mulai dari nol dengan ku?"
"Maksudmu apa mas? "
"Sampai kapanpun Nenek tidak akan pernah setuju dengan hubungan kita, dan itu berarti jika kita menikah aku akan kehilangan apa yang ku miliki sekarang!"
"Nenek kamu kejam banget sih?"Yuana mulai dengan mode kesalnya.
"Itu hak Nenek, karena memang semua milik Nenek. Jadi bagaimana?"
"Bagaimana apanya?" kesal Yuana.
"Mau menikah dengan pria tidak memiliki apa-apa seperti ku?" tanya Raden dengan serius.
Yuana bergindik.
Raden tercengang dengan jawaban kekasih pujaan hatinya.
"Sekar..."
"Aku Yu-a-na!!!"
Raden menepuk jidatnya. Dan sedikit merasa bersalah.
"Na, ..."
Yuana mengangkat tangannya, dia tidak mau lagi mendengar ucapan Raden.
Yuana akan pergi tetapi suara Raden menghentikan langkahnya.
"Nenek pernah menawarkan sebuah tas dan juga uang untuk mu, Nenek masih menunggumu untuk membuat kesepakatan bersama nya. Itu Nenek berikan sebagai ganti rugi waktu yang kau habiskan bersamaku."
"Benarkah?" Yuana langsung menoleh, matanya berbinar.
__ADS_1
Se senang itukah kau dengan harta sampai kau tak memikirkan perasaanku, Na? batin Raden.
Setelah menemui Yuana dan mengakhiri hubungan mereka. Raden yang mendapat pesan dari Neneknya langsung menghubungi Fury.
"Tolong beri aku kesempatan, Nek. Aku mohon" Suara Raden bergetar di akhir kalimatnya.
Dari sebrang sana terdengar Fury menghela napas.
"Datanglah kesini."
Pangilan langsung di tutup oleh Raden. Pria itu tersenyum bahagia. Raden berlari menuju kamarnya untuk beres-beres. Dia akan membuka lembaran baru bersama Sekar.
Sekar sedang mengikat jerami untuk di bawa ke peternakan. Selama hidup di kampung Hulu tempat kelahiran Raden Sekar menjadi pribadi yang lebih baik. Sekar juga sudah mulai bisa berbaur dengan para pekerja. Hanya dia memang tidak suka banyak bicara cenderung pemalu sama seperti Sekar sebelumnya.
"Sekar, istirahatlah, kau sudah bekerja sepanjang hari." Tegur Fury dari jendela kayu yang berada di dalam kamarnya.
Sekar terseyum menatap Fury yang tidak berhenti meneriakinya untuk beristirahat, padahal dia benar-benar belum merasa capek. Sekar justru bahagia bisa banyak melakukan kegiatan. Sekar juga ikut melihat proses memetik pucuk teh, memerah sapi dan juga mengikat jerami seperti sekarang.
"Aku akan membayar mu dua kali lipat jika kau segera masuk kedalam rumah."
Sekar tertawa renyah mendengar ancaman Fury.
Dengan gesit dia melepas sarung tangannya. Berlari kecil memasuki rumah dan menengadahkan tangan di hadapan Fury.
"Saya menunggu upah dua kali lipat nya, Ibu bos"
Fury tertawa begitupun dengan Sekar. Suara tawa mereka menembus ke dalam telinga seseorang yang memasuki pekarangan rumah.
"Mandilah, setelah ini kita makan bersama."
Sekar tidak membantah dan segera melakukan perintah wanita yang sangat menyayanginya itu.
Tepat setelah Sekar menutup pintu kamar mandi, saat itulah Raden melangkah masuk kedalam rumah.
Raden bersimpuh di hadapan Fury memohon pengampunan. Dia merasa sangat berdosa pada Neneknya. Dia malu, sangat malu sampai tidak punya wajah untuk menemui wanita yang sudah membesarnya itu.
"Berjanjilah untuk belajar menjadi laki-laki yang bertanggung jawab."
"Ya, Nek. Aku berjanji." Raden sudah berlinang air mata, bahkan sampai ketika Fury menariknya untuk di peluk, Raden semakin tersedu-sedu.
__ADS_1
"Sudahlah, Nenek sudah memaafkan mu. Sekarang temui Sekar. Kau juga harus minta maaf dengannya."