Sang Pemilik

Sang Pemilik
Bab 38


__ADS_3

"Bagaimana Anda tau jika kita di ikuti, Putri?" Restu dibuat kagum oleh kepekaan Acalapati.


"Aku melihat dari pilar." Jawab Putri Acalapati.


Mereka masih berdiri di dekat pilar dengan tubuh yang saling memeluk satu sama lain.


"Oh sial!" Putri Acalapati melihat anak panah meleset dari balik gerbang istana, sungguh pemanah itu pasti sangat profesional karena dapat melihat mereka meski jarak jauh.


"Akhhhh ... " Lengan restu tetap tergores meski Acalapati sudah menarik nya menghindar.


Para ajudan dan pelayan jadi berlarian mengejar pelaku setelah melihat beberapa anak panah mengarah ke dalam istana.


"Dari mana saja kalian!!" bentak Acalapati yang ikut geram melihat penjagaan istana yang benar-benar minim.


Padahal kamarnya saja beberapa hari ini di jaga dengan ketatnya mengapa keamanan istana justru lemah seperti ini?


"Pergilah, cari pelakunya." perintah Acalapati ketika salah satu ajudan mendekat ingin membantu.


Darah mengalir dari lengan Restu yang terkoyak, jubah putihnya berubah merah karena darah yang merembes di bagian bahu.


Restu terkejut ketika Acalapati justru memeras lengannya, membuat darah nya makin keluar banyak.


"Tahan sebentar!" Acalapati terus meremas lengan Restu sampai darah yang keluar semakin banyak.


Restu tidak protes meski dia seperti teraniaya. Karena dia sudah merasa berhutang nyawa pada Acalapati.


Acalapati melihat warna darah itu terus menerus. Setelah memastikan tidak berubah warna, baru saat itu dia menghentikan remasan pada lengan Restu dan segera membuka cadarnya yang panjang untuk menutup dan mengikat kuat lengan Restu.


"Kembali kekamar ku. Lukamu harus di obati terlebih dahulu."


Restu tidak mampu menahan gejolak di hatinya melihat kepintaran, kecantikan dan ketangkasan Acalapati. Wanita itu benar-benar mengagumkan.


Inikah yang membuat Zur berubah memihak Acalapati? Ketangkasan wanita ini? Atau justru ada hal lainnya yang layak di dukung?


Restu sadar dia sudah melanggar hukum Jaguar. Restu segera menunduk untuk mengalihkan pandangannya dari wajah cantik Acalapati.


"Cadar itu untuk melindungi Anda dari pandangan jahat dan cara efektif menyembunyikan identitas Anda, Putri."

__ADS_1


Acalapati tak acuh dan memilih untuk mengamati sekitar. Mereka sedang berada di tengah-tengah perjalanan. Jika Acalapati memutuskan kembali ke kamarnya waktunya akan sama seperti melanjutkan perjalanan menuju kamar Lingga.


Acalapati tidak ingin pekerjaan Restu sia-sia, untuk itu Acalapati menarik Restu untuk melangkah pada tujuan awal.


Acalapati harus cepat mengobati luka Restu. Karena meskipun anak panah itu tidak mengandung racun, tetapi sepertinya ada aroma lain di kain yang tertembus anak panah itu.


Luka Restu memang hanya koyakan memanjang di lengan. Tetapi justru kebasnya terasa hingga jemari kaki. Acalapati mengamati perubahan jalan Restu dan tahu jika sepertinya anak panah itu mengandung cairan untuk membuat seseorang yang terkena sayatannya akan jatuh tak sadarkan diri. Bahasa mudahnya di bius.


"Jaga kesadaran mu, kita tidak lama lagi sampai."


Langkah Restu semakin terseok-seok, kakinya mulai tak mampu menjaga keseimbangan, mereka kurang lima puluh meter lagi dari kamar lingga tetapi Restu semakin tak kuat melangkah. Beruntung Pangeran Lingga yang tidak sabar menunggu kedatangan Acalapati berniat menyusul Restu.


Pangeran Lingga melihat Acalapati yang merangkul Restu merasa heran. Buru-buru menghampiri mereka dan akan marah. Namun belum sempat membuka suaranya tubuh Restu sudah merosot dan jatuh di lantai.


Acalapati sudah tidak kuat menahan tubuh Restu tangannya yang sakit sudah sangat nyeri.


Untuk Lingga. Kata-kata yang akan keluar dari bibir tadi tertelan lagi, melihat orang kepercayaannya jatuh bersimbah darah.


"Kemana para ajudan?" tanya Lingga meraih tubuh Restu untuk segera di papah menuju kamarnya.


"Mengejar pelaku."


Sebenarnya Pangeran Lingga sedang sangat rindu dengan istrinya, tidak menyangka kejadiannya malah seperti ini.


Restu sengaja diminta untuk menjemput istrinya agar dia bisa mengecoh lawan untuk tetap berpikir jika Lingga masih berada di Mataram dan bisa mengungkap pelaku dibalik ini semua.


Restu segera di tangani oleh dokter kerajaan. Dugaan Acalapati benar, jika anak panah itu di bubuhkan obat tidur dosis tinggi. Beruntung tadi Acalapati sudah mengeluarkan darah Restu lumayan banyak, jadi bisa mengurangi dosis yang tercampur pada darah.


Pagi itu akhirnya Acalapati diskusi dengan Lingga. Sesuatu yang belum pernah mereka lakukan.


"Kita perlu bicara!" kata Acalapati.


Pangeran Lingga langsung meletakkan cangkir minuman hangatnya untuk menoleh pada Acalapati.


"Apa kau menyesal dengan pernikahan ini, tentang hubungan kita yang mulai dekat dan tentang berapa banyak musuh yang mengincar nyawa mu ketika memilih bersama ku?" tanya Lingga.


"Entahlah Lingga, aku sendiri sebenarnya juga tidak mengerti. Aku hanya tahu seharusnya kita tak dekat." Acalapati balas menatap Lingga. "Terlepas kau jadi apa tidak menikah dengan Putri Arimbi kita tetap tidak seharusnya dekat."

__ADS_1


Tangan Acalapati terulur untuk menyentuh tangan Lingga yang terkepal kuat setelah mendengar ucapannya.


Acalapati mengurai genggaman itu dengan hati-hati karena takut. Takut terus mengikuti kemauannya sendiri, takut tidak akan pernah rela melepaskan Lingga untuk wanita lain.


Lingga melunak dan meraih tangan Acalapati untuk balas di genggam. Kemudian mencium istrinya menenangkan, Acalapati juga balas menciumnya dengan keras seperti sama-sana menginginkan sebelum akhirnya mendorong Lingga untuk menjauh.


Acalapati meraba dada Lingga untuk memohon kerelaannya.


"Ini juga sama-sama tidak mudah bagiku, tapi mungkin kita hanya butuh waktu untuk terbiasa lagi, terbiasa jauh seperti sebelumnya." Acalapati memilih jujur. Karena dia juga mulai terbiasa dengan Lingga, dan merasa aman.


Acalapati baru paham kenapa seharusnya jangan melangkah terlalu jauh dengan seseorang yang tidak layak bersama. Kerena rasanya akan sangat sulit untuk merelakan. Meskipun kebersamaan mereka bukan dosa tetapi bagi Acalapati itu dosa besar karena mereka tak menggenggam keyakinan yang sama.


Saat Lingga meninggalkannya beberapa hari, saat itu Acalapati mulai menyadari jika ada perasaan yang tidak seharusnya sudah mulai tumbuh di hatinya. Saat itu dia kembali sadar jika meskipun dia bisa memberikan keturunan pada Pangeran Lingga, banyak orang yang akan menentang kehadiran anak mereka karena keyakinan sang Ibu.


"Apa mau mu?" tanya Lingga. Acalapati kaget saat lingga sudah melingkarkan lengannya di pinggang rampingnya.


"Jaga jarak, aku akan tetap membantumu mendapat dukungan dan memastikan hari penobatan itu tetap terjadi." jawab Acalapati membalas tatapan mata suaminya.


Pangeran Lingga mendaratkan bibirnya di pundak Acalapati yang sengaja di tarik turun.


"Siapa yang akan ku sentuh seperti ini jika kita berjarak?"


Acalapati mengenggam erat gamis panjang Pangeran Lingga, saat bibir hangat pria itu tak kunjung diam dan semakin nakal.


"Siapa yang bisa ku beri tanda seperti ini jika kita berjarak?" Pangeran Lingga sengaja menghisap kuat leher Acalapati sampai bunyi basah itu terdengar.


Acalapati sengaja mengigit bibirnya kuat-kuat agar rintihan itu tak keluar.


"Siapa yang akan melunakkan aku jika kita berjarak?"


Kali ini Acalapati kaget dengan tindakan Lingga yang menarik tangganya untuk di jepit di tengah pahanya.


Saat Pangeran Lingga bergerak semakin intens, saat itu Acalapati menitihkan air matanya.


Benar! Jika mereka berjarak, lantas siapa yang akan Lingga sentuh seperti ini?


Arimbi?

__ADS_1


Oh, Sampai mati Acalapati tidak terima!


Karena perasaan nya yang berubah drastis, Acalapati sampai tidak sadar jika dia lebih dulu mencium suaminya.


__ADS_2