
Acalapati menatap pria dihadapannya dengan prihatin. Pangeran Lingga masih menangis dengan ponsel di pelukannya. Ternyata sosok Restu adalah orang yang begitu penting di hidup Pangeran Lingga.
"Sejak kapan kamu mengetahui persekongkolan mereka?" Pangeran Lingga menatap lekat istrinya yang masih memperhatikan dia terus menerus. Sebenarnya Pangeran Lingga sedang malu di perhatikan di saat dia menangis seperti ini, tapi apa bisa dia melarang Acalapati.
"Belum lama ini. Lingga soal, ..." Acalapati terlihat ragu untuk melanjutkan ucapannya, tapi dia harus tetap melakukannya." Putri Arimbi hamil itu kamu juga tahu?"
Pangeran Lingga tersenyum kecut. Dan mengangguk terus terang.
"Syukurlah." Acalapati mend*sah lega. Tanpa disadari kedua sudut bibirnya terangkat naik.
Melihat senyum manis di bibir istrinya, membuat Lingga tertegun. Lingga seperti tengah menyaksikan seorang istri yang tengah cemburu.
Tuk!
Tuk!
Tuk!
Ketukan pintu membuat Lingga bangkit untuk segera melihat orang yang datang. Tindakannya itu membuat Acalapati heran. Harusnya Lingga tidak harus melakukan itu, cukup mengizinkannya saja, orang di balik pintu pasti masuk sendiri.
Lingga sendiri sengaja melakukannya, dia ingin menghindari Acalapati sejenak. Lingga malu telah menjatuhkan air matanya di hadapan wanita itu.
Zur terperanjat karena ternyata pintu di buka dari dalam. Dia segera menunduk ketika melihat Pangeran Lingga sendiri yang membuka pintu.
"Salam Pangeran," Zur memberi hormat.
Pangeran Lingga tersenyum sekilas sebelum berlalu begitu saja.
__ADS_1
Acalapati heran melihat kepergian Lingga yang terkesan ganjil.
"Kenapa sih dia?" tanya Putri Acalapati dalam hati.
"Anda baik-baik saja?"
Cepat Acalapati menggeleng kepala dan mengibas tangannya, tanda dia tidak apa-apa. Tidak mau Zur khawatir.
Raut wajah Zur yang tadinya cemas kini berangsur-angsur lega. Melihat kondisi Putri Acalapati dari ujung rambut hingga ujung kaki. Zur segera menyampaikan tujuannya datang, yaitu untuk meminta Pangeran Lingga dan Putri Acalapati datang ke aula wanita, Yang Mulya Permaisuri meminta kedua nya hadir.
"Para Selir dan anak-anak Tuan Aryan akan datang, ini soal akan di Lantik nya Pangeran Lingga," Zur memberi informasi.
Mendengar penuturan Zur, Acalapati malah mencari solusi bagaimana caranya, dia dan Lingga bisa tidak hadir di acara itu. Acalapati mulai berpikir keras.
"Bi, tolong jangan bilang pada Ibu Suri jika Bibi berhasil menemui ku dan Pangeran Lingga." Acalapati mulai mencegah.
Acalapati tidak perlu menjelaskan alasannya, tapi dengan larangan itu, Zur tidak ada pilihan lain untuk membantah.
"Ku tunggu di kamar, aku ingin memberi tahu sesuatu."
Zur segera pamit undur diri, sementara Acalapati langsung bersiap dengan rencananya.
Pangeran Lingga masuk kembali ke dalam kamar dan menemukan Acalapati dengan pakaian yang, entahlah, Lingga sampai tak berkedip dibuatnya.
"Kau ... apa-apaan?" tanya Pangeran Lingga setelah sadar dari keterkejutannya.
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." ucap Acalapati sambil membenahi topinya. Rambut panjangnya di selipkan di lubang topi membuat penampilan seperti seorang remaja.
__ADS_1
"Anda juga harus Menganti kostum Anda supaya serasi dengan saya." sadar atau tidak kata-kata Acalapati sangat sopan, bahkan terkesan formal.
Pangeran Lingga masih belum mengerti, sampai akhirnya Acalapati mulai mencari pakaian yang cocok untuk digunakan Pangeran Lingga.
"Apa dia tidak ada pakaian santai?" Putri Acalapati menggerutu saat mengecek pakaian Pangeran Lingga yang kebanyakan gamis dan jenis jas.
☘️☘️☘️☘️☘️
Acalapati terseyum melihat Pangeran Lingga muncul dari walk in closet. Ini juga kali pertama Acalapati melihat Pangeran Lingga memakai setelan jas casual. Pangeran Lingga tetap sangat tampan dengan apapun yang melekat ditubuhnya.
Acalapati sangat senang. Lingga setuju mereka keluar dari istana hari ini. Dengan begitu tujuan Acalapati untuk menjauhkan Lingga dengan saudaranya dari para selir berhasil.
Belum saatnya mereka di pertemukan, masalah harus di selesaikan dahulu, agar mereka bisa memandang satu sama lain sebagai saudara bukan sebagai pesaing.
Selama ini, yang Acalapati tahu para selir Tuan Aryan lah yang mempengaruhi putranya untuk mendesak sang Ayah agar meminta keadilan, karena bagaimanapun dia juga seorang putra dari Tuan Aryan.
"Aku tidak membiarkanmu memakai pakaian seperti itu!" Pangeran Lingga kembali menilai penampilan istrinya.
"Hanya untuk hari ini, oke!" Acalapati terlihat seperti tengah membujuk lelakinya, "ini yang terakhir, setelah kita jalan aku akan segera membuang pakaian ini." tambahnya dengan memelas.
Akhirnya Pangeran Lingga menyetujui. Keluar dari kamar baik Pangeran Lingga ataupun Acalapati melapisi pakaian mereka dengan pakaian umum istana, Pangeran Lingga dengan jubah, Acalapati dengan gamis syar'i tanpa hijab.
Acalapati mengajak Pangeran Lingga berjalan di kawasan kebun kurma yang sepanjang jalannya di penuhi pasir putih. Pangeran Lingga meraih tangan Acalapati untuk dia genggam, Acalapati membiarkannya dan ikut menautkan tangannya. Mereka benar-benar berjalan seperti sepasang kekasih yang sedang menikmati liburan. Sebuah momen yang langka bagi pria seperti Pangeran Lingga dan Putri Acalapati untuk hidup seperti orang biasa. Bergandengan tangan di tempat umum. Andai hidup mereka semudah itu, tapi mau bagaimana lagi tanggung jawab selalu lebih besar dari keinginan mereka sendiri.
"Tempatnya indah." puji Pangeran Lingga sambil menyambar pinggang Acalapati yang ramping.
Acalapati baru akan menjawab komentar Lingga saat dengan tidak tau tempatnya, Pangeran Lingga justru malah memangg*t bibir Acalapati penuh minat.
__ADS_1
Tentu saja perbuatan yang mendadak itu membuat Acalapati blank tidak mampu merespon, kesempatan itu malah di manfaatkan Lingga untuk semakin mendesakkan lidahnya.
"Pangeran ... "