
"Pangeran Lingga tiba"
Restu segera keluar dari kamar Putri Acalapati untuk menyambut kedatangan Pangeran Lingga.
Sementara Putri Acalapati acuh dan memilih berganti pakaian.
Pintu kamarnya kembali di ketuk setelah dia selesai berganti pakaian.
Acalapati membuka pintu dengan tangannya sendiri.
'Klek'
Di hadapannya sudah berdiri Pangeran Lingga dengan Jubah putihnya yang menjuntai hingga mata kaki. Restu sudah berada di pria itu. Sekejap mata mereka bertemu, Pangeran Lingga masih menatap Acalapati yang sudah lebih dulu membuang pandangannya.
"Aku berkunjung karena ingin melihat keadaan mu." Ucapan itu sangat datar, tetapi mata itu menyiratkan kelegaan melihat wanita yang bisa berdiri tegak dengan kedua kakinya.
"Aku baik-baik saja." saut Acalapati tak kalah datarnya. "Wakil mu menjagaku dengan sangat baik." Acalapati melirik pada Restu.
"Sebaiknya, Anda mempersilahkan Pangeran untuk masuk, Putri." ucap Restu seperti mengajari tata krama pada Acalapati.
"Sudah malam aku ingin istirahat."
Restu mendelik mendengar ucapan Acalapati yang menurutnya sangat lancang.
"Hati-hati dengan ucapan Anda!" Geram Restu.
"Kenapa? Aku lelah ingin istirahat, apa salahnya? Kalian tidak memberiku seorang pelayanan yang bisa membantu ku, aku mengerjakan semuanya sendiri."
Pangeran Lingga mengerutkan keningnya. Kini dia beralih menatap Restu.
Restu langsung gelagapan. "Anu, Pangeran, para pelayan tidak ada yang berani bekerja untuk Putri Acalapati jika bukan Anda sendiri yang menunjuk."
"Siapa yang melayaninya mandi, berpakaian dan membersihkan ruangannya selama aku tidak ada?"
"Aku mengerjakannya sendiri, apa kau tidak dengar? Di sini aku melapor padamu, kenapa kau harus bertanya padanya?"
Bibir Pangeran Lingga tertutup rapat.
"Bagaimana mau jadi seorang pemimpin kerajaan, memberi kejayaan pada istrinya sendiri saja dia tidak becus."
__ADS_1
"Anda ...?" Restu sudah akan masuk, saat suara Pangeran Lingga memperingatinya lebih cepat.
"Hak seseorang untuk mengemukakan pendapat."
"Tapi, Pangeran,"
Senyum kemenangan terbit di bibir Putri Acalapati, dia menatap Pangeran masih dengan wajah yang tertutup cadar.
"Aku benar-benar lelah, Pangeran." Dan tanpa menunggu lagi Putri Acalapati pamit untuk beristirahat. Setelah membalikkan badannya, senyum kemenangan di wajah Acalapati memudar di gantikan oleh raut datar.
"Aku akan menjagamu sampai kau bisa meraih itu semua" Acalapati memejamkan matanya dan bergumam dalam hati. Tetapi kakinya tetap melangkah menjauh dari hadapan suaminya dan Restu.
Acalapati merebahkan tubuhnya yang lelah. Berjam-jam dia berkeliaran di antara rakyat kecil. Menyamar sebagai rakyat biasa. Memakai baju kurung khas timur tengah.
Dia memantau perkembangan pasar, sudah lama rasanya Acalapati tidak melihat hal seperti ini. Melihat kondisi rakyat dengan berbagai macam keadaan.
Mereka hidup di perbatasan. Banyak anak-anak yang putus sekolah, pagi hari mereka berjualan di pasar, malamnya mereka mencari buah kurma yang jatuh dari kebun orang lain untuk di jual keesokan harinya.
Entah bisa dikatakan mencuri atau tidak, tetapi kebun kurma itu memang bukan milik mereka.
Saat melirik ke arah pintu. Pangeran Lingga sudah tidak berada di sana. Kini Putri Acalapati memandang kearah plastik berisi kurma. Dia berbohong kepada Restu mengenai keinginannya untuk memakan kurma yang jatuh dari pohonnya. Yang benar dia membeli kurma itu dari seorang wanita tua yang memungut kurma bersama cucunya yang masih sangat kecil.
Mentari mulai bersinar. Perlahan, sinar ke emasan nya, membuat semua atap rumah terlihat dengan jelas hingga sampai di istana yang sangat megah. Dari celah-celah jendela kamar Acalapati, sinar itu menyilaukan wajahnya hingga terbangun.
Acalapati menghembuskan napasnya. Harus sebanyak apa dia menyakiti orang agar tidak ada yang berani mendekatinya.
Acalapati tidak suka di mata-matai, dia suka dengan kebebasan. Dia tidak suka orang membantunya dalam hal apapun. Dia sangat disiplin, dan tidak bisa mentolerir kesalahan sekecil apapun.
Dia terkenal sangat kejam. Tapi kebenarannya tidak. Dia terkenal tempramental sebenarnya pun tidak demikian.
"Ehem." Putri Acalapati berdehem, membuat kedua orang pelayan itu berjingkat.
"Pu-Putri, Anda sudah bangun?"
Acalapati menatap keduanya dengan tajam.
"Jika kalian tidak siap untuk kehilangan beberapa jari lebih baik jangan pernah berpikir untuk menjadi pelayan pribadi ku!" Gertak Acalapati dengan suara yang dingin.
"Ka-Kami siap?" jawab dua wanita muda itu terbata.
__ADS_1
"Sungguh?" Acalapati mencemooh.
Acalapati mulai menghitung mundur dari angka sepuluh hingga satu. Di angka hitungan ke tiga, suara tangisan dua wanita itu sudah terdengar.
"Ampuni kami, Putri, kami mohon ampun. Tolong jangan potong jari-jari kami"
Acalapati mendudukkan dirinya.
"Pengecut." Bentaknya yang mampu di dengar dari luar.
'Cetar!!' suara pecut itu menggema di iringi Isak tangis kedua pelayan yang ketakutan.
Di balik pintu dua orang pria gagah mendengar segala sesuatu yang ada di dalam ruangan.
"Dia masih tidak waras" ucap Restu dalam hati.
"Apa sikap mu memang benar-benar tidak bisa berubah, Acalapati?" Batin Pangeran Lingga yang urung menemui istrinya.
Pangeran Lingga tidak banyak memiliki waktu. Selama empat bulan dia sudah harus bisa memiliki calon penerus. Sementara wanita yang dinikahinya beda kepercayaan, dan lagi memiliki perilaku sangat mengerikan.
Tadinya, Restu mulai simpati pada Putri Acalapati karena dia sempat melihat secantik apa wanita itu. Tapi pagi ini rasa simpati dan tertarik itu tiba-tiba menguap mendengar suara cambuk dan jeritan para pelayan tidak berdosa.
"Dia sudah sembuh. Apa aku harus mengirimnya kembali ke istana Acalapati?" Tanya Pangeran Lingga pada Restu.
Restu tidak berani menjawab. Karena sadar ini bukan keputusan kecil.
Sementara di dalam kamar. Putri Acalapati menghentikan tindakannya.
"Kalian akan selamat, asal kalian menyebarkan berita buruk tentang ku, katakan apa saja. Kalian bisa berbohong aku menyiksa kalian, memukul, atau memotong jemari kalian, terserah. Selain kalian bebas dari ku aku juga akan memberi kalian ini."
Putri Acalapati mengacungkan dua amplop berisi uang.
Dua wanita muda itu saling pandang. Apakah kekejaman Putri Acalapati itu hanyalah kebohongan? Mengapa wanita yang sangat cantik ini ingin namanya sendiri buruk?
"Aku tau apa yang kalian pikirkan. Tetapi yang harus kalian tau aku bisa memukul kalian sungguh-sungguh jika aku sedang kambuh. Aku memiliki penyakit depresi." Bohong Acalapati seperti biasanya. Mengarang cerita.
"Ini untuk kalian. Kalian bisa melakukan apa saja pada tubuh kalian, dan bercerita di luar sana jika itu perbuatan ku."
Setelah menyerahkan dua amplop tebal itu pada masing-masing wanita. Acalapati melenggang ke kamar mandi.
__ADS_1
"Jangan mengatakan sesuatu tanpa bukti. Karena mereka pasti akan membuktikan ucapan kalian dengan cara memeriksa apa yang kalian keluhkan." Setelah mengatakan itu. Acalapati benar-benar menutup pintu kamar mandi.
"Mereka calon penghianat." Desis Acalapati sebelum masuk kedalam Jacuzzi.