
Sudah sejak Acalapati mengetahui Restu mengikutinya dimalam ketika dia membawa pulang kurma. Sejak saat itu Acalapati mengetahui ada yang tidak beres dengan orang kepercayaan suaminya itu.
Jika pun Restu orang yang setia pada Lingga, lelaki itu tidak akan pernah ragu mencari tahu tentang keperluannya malam itu. Dan justru lebih memilih percaya dengan alasannya yang pasti tidak masuk akal. Ingin makan kurma yang jatuh dari pohonnya? Bukankah itu alasan konyol? Mengingat dari mana Putri Acalapati berasal.
Kecurigaan Acalapati terbukti. Setelah malam kejadian dimana Lingga mendatanginya dengan cara kasar, saat itu sebagai orang kepercayaan Pangeran Lingga tidak seharusnya Restu melanggar aturan istana untuk membopongnya naik ketempat tidur. Apapun alasannya itu tidak dibenarkan, orang yang setia tidak akan pernah melakukan sesuatu yang melanggar.
Binar yang tersirat dari mata Restu juga dapat Acalapati simpulkan maknanya. Restu bukan orang yang setia, dia bisa jadi ingin menguasai apa yang Pangeran Lingga miliki.
Dan setelah cukup lama mencari tahu tentang Restu, Acalapati menemukan fakta bahwa ternyata Restu bukan Restu yang selama ini mendampingi Lingga semasa kecil.
Restu yang sebenarnya sudah meninggal dunia, dan fakta itu tidak diketahui oleh Pangeran Lingga hingga saat ini.
Lantas siapa Restu yang membersamai Lingga selama ini?
Dia adalah kembaran Restu yang di manfaatkan oleh Arimbi untuk menjebak Pangeran Lingga.
Sejak mengetahui fakta itu, Acalapati mulai merencanakan untuk mengoda Restu, mengenggam hati pria itu untuk mengungkapkan kebenaran yang ada.
Tetapi segalanya pasti tidaklah mudah, Karena Pangeran Lingga tidak akan percaya begitu saja dengan Acalapati jika menyangkut Restu, Sahabat sekaligus orang kepercayaan Istana Jaguar.
Entah bagaimana cara Arimbi mendidik Restu palsu agar bisa menyamai Restu yang sebenarnya, mungkin butuh berbulan-bulan lamanya mereka berlatih. Atau justru kematian Restu yang sebenarnya ada hubungannya dengan Arimbi?
Menurut penyelidikan yang Acalapati ketahui. Restu yang asli mati dengan cara keji, tubuhnya penuh luka dan badannya sudah sangat kurus. Itu berarti seseorang telah menyiksanya.
Seandainya saja Restu asli masih hidup pasti akan lebih mudah untuk Acalapati mengungkap semuanya, seseorang memang sengaja membunuhnya karena takut ketahuan. Acalapati juga semakin yakin jika sebenarnya hubungan antara Kakak beradik itu telah di renggang kan oleh seseorang.
Tidak akan ada yang tau jika Restu palsu mengetahui tentang semua kekacauan istana. Karena bisa jadi Arimbi cuma menjadikan Restu sebagai kambing hitam saja.
Kini Acalapati harus semakin waspada, saksi kunci mungkin tidak hanya Restu, dan Acalapati harus semakin jeli mengamati orang-orang terdekat Pangeran Lingga.
__ADS_1
Pergi itu Acalapati mendapat kunjungan tak terduga dari ketiga adik Lingga. Putri Zava, Putri Ana, dan Putri Ilya.
"Kakakku bilang, kau sudah berubah? Kami hanya ingin memastikannya." Putri Ilya memang membenci Acalapati terang-terangan dan mendukung Arimbi dekat dengan Sang Kakak, tetapi gadis itu tetap menghargai status Acalapati sebagai kakak iparnya, meski benci, Ilya tidak pernah menyakiti Acalapati dengan tindakan. Hanya kata-katanya ketus dan tidak sopan.
Acalapati baru saja usai mandi saat ketiga adik Lingga berkunjung, Acalapati belum selesai berpakaian, saat mereka bertiga memaksa masuk. Jejak-jejak kemerahan itu bisa di lihat ketiga pasang mata yang diam-diam menelan ludah.
Pakaian tipis yang menutupi sebagian tubuh Acalapati tidak cukup mampu menyembunyikan lekukan tubuhnya yang bisa membuat setiap mata wanita iri dan mata lelaki berdecak kagum. Begitu juga dengan ketiga adik Lingga.
Tanpa persiapan apapun, justru Putri Acalapati membuat semuanya kagum dan tak mampu memungkiri kesempurnaan mahluk Tuhan yang satu ini.
Kaki Acalapati ramping, tapi pinggulnya berisi, Putri Acalapati juga memiliki pinggang yang kecil terlihat rapuh untuk menanggung beban dua gumpalan lembut yang membulat dan berisi, kulitnya yang putih pucat menambah kesan lembut, rambutnya panjang berwarna kebiruan. Benar-benar seperti boneka Barbie yang hidup di dunia nyata.
Ilya mengamati wajah Acalapati yang cantik, wanita itu masih menunggu jawaban atas pertanyaannya.
"Aku tidak merasa berubah," kalimat itu terdengar lembut.
"Apa Kakak ku sering mengunjungimu?" kali ini Ana yang bertanya. Melihat berbagai jejak kemerahan di sepanjang leher jenjang sang kakak ipar membuat Ana tidak tahan.
"Ya, dia selalu bersama ku."
Kata 'selalu' itu dimaksudkan Acalapati ketika malam hari, tetapi pikiran ke tiganya tidak demikian.
Zava hanya diam. Gadis itu syok mengetahui sang kakak sudah menyentuh istri beda agamanya. Gadis seusianya pasti sudah paham berbagai jejak itu pasti mengarah pada ranah yang lebih intim.
Bibi Zur sudah menyajikan berbagai hidangan untuk ketiga adik Pangeran Lingga, yang Zur racik dan buat sendiri di dapur yang berada di kamar Acalapati.
"Kau seperti hidup di tahanan." Putri Ilya menatap sendu berbagai hidangan. Menyindir Acalapati secara terang-terangan.
"Iya, Kakak mu melarang ku memakan masakan dari dapur istana."
__ADS_1
"Pangeran Lingga hanya tidak mau seseorang mencelakai Putri Acalapati, Putri Ilya." Bibi Zur membela Acalapati.
Putri Ilya melirik Zur. "Bukankah kau pelayan setia Ibuku?"
"Ya, saya disini atas perintah Yang Mulya ratu."
Tentu jawaban Zur semakin membuat ketiga adik Lingga kebingungan.
Meski tau jika ibunya menyukai Acalapati, tetapi tidak mengira Ibunya juga memperlakukan Istri Kakaknya secara khusus.
Acalapati tidak memperdulikan kebencian siapapun terhadapnya, begitu juga dengan Ketiga gadis cantik yang masih memiliki hubungan darah dengan Suaminya.
Dari dulu Acalapati tidak menghiraukan kebencian mereka, begitupun saat ini. Kedatangan ketiganya juga hal yang baru, setelah lebih setahun mereka menjadi keluarga.
Mereka baru saja akan menyantap hidangan ketika tiba-tiba Pangeran Lingga kembali masuk ke dalam kamar.
Putri Zava, Putri Ana, dan Putri Ilya tertegun saat melihat Maty langsung melompat ke pangkuan Acalapati untuk di elus manja.
"Kalian disini?" Pangeran Lingga bertanya pada adik-adiknya, tapi bibirnya malah mendarat di pipi Acalapati.
Tindakan Lingga membuat adik-adiknya menegang, Pria itu seperti bukan Kakanya.
"Makanlah yang banyak, hari ini aku libur untuk mu." Lingga melupakan kehadiran adik-adiknya. Seolah dunia hanya milik berdua, kini Pangeran Lingga justru duduk tepat di samping istrinya, tangannya mengambil piring yang ada di hadapan istrinya, menyuap sang istri dan dirinya sendiri.
"Kakak, aku mau undur diri." Zava sampai tergagap karena menyaksikan pemandangan yang tidak biasa.
"Ya, hati-hati." jawab Lingga tanpa sedikitpun mengalihkan perhatian dan pandangannya dari sang istri.
Zava menelan ludah, benarkah laki-laki itu Kakak lelakinya.
__ADS_1
Sementara Ana dan Ilya terus menatap keduanya tanpa berkedip.