
"Apa?" Sama halnya dengan Restu, Pangeran Lingga kaget mendengar Arimbi berani melanggar peraturan nya.
" Seret keluar wanita itu hingga depan gerbang. Pastikan dia tidak muncul sampai satu bulan kedepan. "Perintah Lingga pada Zur dan beberapa pengawalnya.
Di depan matanya Putri Arimbi di seret oleh ajudan istana, tetapi sama sekali tidak menimbulkan rasa kasihan di hati Pangeran Lingga maupun Restu.
Saat melewati Pangeran Lingga. Putri Arimbi terus memohon tetapi tidak di tanggapi olehnya.
"Tunggu!!"
Senyum manis terbit di bibir Putri Arimbi. Lingga tidak akan pernah tega padanya. Lingga akan menjadi pahlawan untuk nya.
Lingga melangkahkan kakinya mendekati Putri Arimbi yang sudah menunggunya dengan harapan. Harapan yeng melambung hingga angkasa.
"Ku tegaskan sekali lagi padamu! Jangan pernah dekati Restu untuk membujuk ku mengubah apapun. Restu tidak akan pernah mengkhianati kepercayaan yang telah ku berikan." gertak Pangeran Lingga yang sukses membuat Acalapati memutar bola matanya.
Lelaki itu benar-benar bodoh! Kesal Putri Acalapati menghina Pangeran Lingga, menguruk ya di dalam hati.
Diam-diam Acalapati punya ide.
Wanita terkutuk itu! Acalapati mengerakkan gigi.
"Ehemm. Jangan seperti itu Pangeran. Kita bisa bicarakan ini baik-baik." muka naif Acalapati membuat Lingga dan Restu bingung. "Lepaskan dia, kita akan minum teh bersama."
"Tidak!"
Penolakan itu tidak hanya keluar dari bibir Pangeran Lingga tetapi juga dari bibir Restu.
Wajah Acalapati memelas. "Biar bagaimanapun, dia adalah saudara dekat Pangeran, dia juga akan segera menggantikan posisi saya sebagai Istri Anda Pangeran."
Pangeran Lingga mengeram dalam hati. Ucapannya dahulu menjadi bom untuk kehidupan nya kedepan.
"Mari kita menikmati secangkir teh. Bibi, buatkan Teh terbaik." Acalapati memandang Zur yang buru-buru mengangguk patuh.
__ADS_1
Zur segera keluar untuk menyiapkan apa yang diminta oleh Acalapati.
Setelahnya mereka duduk berhadapan. Acalapati duduk di samping Pangeran Lingga, Putri Arimbi duduk di samping Restu.
Zur membawa yang diminta oleh Acalapati beberapa saat kemudian.
Teko itu masih mengeluarkan asap yang mengepul. Acalapati membuka tutup teko dan menghirup aroma teh yang khas.
"Aku akan menambahkan saffron, saffron terpercaya bisa memperbaiki suasana hati. Apa ada yang keberatan, atau alergi dengan saffron?" Acalapati tampak antusias."Kita butuh minuman yang bisa menenangkan pikiran."
Ketiganya menggeleng, membuat Acalapati segera menambahkan saffron di teko teh.
Sangat banyak manfaat saffron bagi kesehatan, tak terkecuali bagi ibu hamil. Sayangnya rempah yang berasal dari bunga crocus sativus tidak boleh di konsumsi dengan dosis berlebihan untuk Ibu hamil. Saffron bersifat stimulan bagi rahim, sehingga memicu kontraksi dan penyebab keguguran atau persalinan prematur. Dan orang timur sangat faham hal itu.
Melihat Acalapati memasukkan se genggam Saffron kedalam teko, membuat mata Arimbi terbelalak.
Dia benar-benar tidak bisa minum teh itu. Bukan hanya takut karena saffron bersifat stimulan, tetapi juga karena kandungannya dinyatakan dokter sangat lemah.
Acalapati sendiri yang menuangkan teh itu ke cangkir dan menyajikannya untuk ketiga orang lainnya. Trik jitu.
"Apa kau tidak meminumnya karena aku yang menyiapkannya?" tanya Acalapati menyindir, tapi dengan raut wajah sendu.
Pangeran Lingga dan Restu menatap ke arah Arimbi.
Arimbi mengepalkan tinjunya lebih erat.
"Tidak, aku akan meminumnya."
Senyum Acalapati melebar. Dia melihat betapa gemetarnya Arimbi dan jejak terhina melintas di matanya.
Dia adalah Putri kerajaan. Keberuntungan selalu memihak padanya. Tidak perduli banyak orang yang membencinya, kebaikannya hanya Tuhan saja yang tahu.
Arimbi adalah wanita licik yang harus segera di singkirkan.
__ADS_1
Saat ini Arimbi merasakan tatapan mata yang menghujaninya semakin kuat. Karenanya dia tidak bisa lagi mengelak. Dia ingin meraih tangan Restu untuk memberi kode, sayangnya tangan Restu justru berada di atas meja keduanya untuk menggenggam cangkirnya.
'Kena kau!' Acalapati terus mengamati wajah Arimbi, menikmati wajah yang penuh keraguan. Arimbi pasti merasa tersiksa.
Acalapati merasa puas, dia mulai menghitung mundur, Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam ..
Acalapati tidak hanya terkenal kejam, tapi juga memiliki tabiat yang buruk, dia angkuh, sombong dan lagi ratu tega. Bagi Acalapati membunuh orang seperti Arimbi tudaklah susah. Tapi kematian terlalu mudah untuk penghianat dan pembunuh keji sepertinya.
Melihat Arimbi yang tidak bisa berkutik, dan menyerah pada keadaan tentu saja membuat Acalapati merasa senang.
Di hitungan ke enam. Acalapati membuka suaranya.
"Hanya wanita hamil yang tidak boleh meminum teh ini, karena tadi aku terlalu banyak menambahkan saffron, tapi kurasa tidak harus khawatir, Putri Arimbi masih gadis, Pangeran dan Restu, juga butuh manfaat saffron, sayang aku hanya berani meminum beberapa teguk karena aku takut jika ..."
"Apa kau sedang hamil? Pangeran Lingga buru-buru meletakkan cangkir tehnya, untuk menggenggam tangan sang istri. " Jangan meminumnya, hanya wanita kejam yang tega menyakiti darah dagingnya sendiri, aku membenci wanita seperti itu."
Uhuk!!
Arimbi tersendak, di susul oleh Restu.
Akhirnya yang di tunggu Acalapati sedari tadi terwujud juga.
Kesempatan untuk menjelaskan posisinya di hati Lingga hadapan Arimbi sukses.
Kesempatan untuk membuat Arimbi terasa tertampar karena keegoisannya pun berhasil.
Kini Acalapati melirik ke arah Restu yang menatapnya sendu. Seolah merasa sakit yang teramat mendapati tangganya di genggam erat oleh Lingga.
'Kena kau.'
Dari tindakan Lingga saja sudah menjelaskan seberapa mereka dekat. Kepanikan Lingga turut menjelaskan jika mereka tidak hanya terikat pernikahan, tetapi juga hubungan antara suami istri yang erat. Bahkan mendambakan kehadiran seorang anak.
'Oh, sungguh Acalapati mulai merasa senang karena setelah ini dia akan segera membongkar kebusukan Arimbi dan juga Restu.
__ADS_1
Hari ini rekamannya memang tidak banyak mengungkapkan bukti. Tetapi setidaknya hari ini dia bisa menikmati siksaan yang dirasakan oleh Arimbi.
Masih ada hari esok. Dan Acalapati akan melakukan yang lebih baik lagi.