
Putri Acalapati bangun seorang diri, Pangeran Lingga sudah tidak ada, kamar mandi yang berada di kamar juga terbuka.
Tetapi tidak mau ambil pusing Acalapati memilih mendudukkan dirinya, kakinya belum sempat menyentuh lantai saat pintu kamar terbuka.
Lingga masuk dengan membawa alas shalat di tangannya.
"Mau kemana?" Lingga buru-buru menghampiri istrinya.
Acalapati hanya melirik sekilas. "Sudah seharusnya jika suami bertanya di jawab." tegas Lingga.
Acalapati hanya berdecak, sama sekali tidak menanggapi ucapan Lingga.
"Aku bisa menghukum mu jika aku mau. Tinggal di istana harus mematuhi aturan istana." Keras kepala Lingga mulai muncul, ada rasa kesal ketika Acalapati terus mengacuhkannya.
"Pangeran, tidak bisakah kau kembali ke kamarmu sendiri?"
"Tidak," Lingga menolak, sedikit tersinggung Acalapati berani mengusirnya.
"Jangan seperti pengecut Pangeran, ini hanya permintaan sepele." Acalapati terseyum remeh untuk mengejek pria tampan di hadapannya.
"Ini istanaku, aku yang membuat peraturan."
Setelah Pangeran Lingga menyentuhnya dimana-mana sebenarnya Putri Acalapati sedang takut untuk terus berada di dekat suaminya, lama kelamaan dia jadi seperti istri yang sedang cemburu kerap kali mendengar jika Pangeran Lingga sedang bersama Putri Arimbi, mengingat bahwa Pangeran Lingga mencintai wanita itu menimbulkan denyut nyeri di hati Acalapati.
Acalapati jadi tidak rela jika apa yang dilakukan oleh Pangeran Lingga terhadapnya juga dilakukan dengan Putri Arimbi.
Pangeran Lingga menyentuh dahi Acalapati, mengelus lembut sambil tersenyum tipis.
"Haruskah aku mengungsikan mu di tempat terpencil agar kau patuh?"
Mendengar ucapan Pangeran Lingga tengkuk Acalapati merinding.
"Kau dan aku tidak seharusnya sedekat ini." bantah Acalapati tidak terima.
"Oh ya? Apa setelah apa yang ku ambil dari mu, aku harus mengambilnya dari wanita lain? Apa kumbang mu ini boleh menghisap sari dari bunga yang lain di luar sana?"
Gleg! Ludah terasa pahit.
Kenapa hati Acalapati terasa sakit, saat Lingga terus terang mengatakan tentang apa yang sudah di renggut dari Acalapati. Sebuah kehormatan yang sebenarnya memang seharusnya wanita serahkan pada suaminya. Dan Acalapati sudah memberikannya pada Lingga, apa setelah lingga mendapatkan sarinya pria itu harus menghisap sari yang lain?
Selepas Pangeran Lingga pergi, Zur masuk dengan nampan yang berisi makanan.
Zur melihat tangan Acalapati yang tertutup perban. Dia sama sekali tidak menyangka jika luka Acalapati separah itu.
__ADS_1
Zur mengucapkan kata maaf nya, dan mengatakan bahwa dia diminta oleh Pangeran Lingga membantu Acalapati mandi.
Meski sudah beberapa kali melihat wajah Putri Acalapati tanpa penutup, tetap saja setiap kali melihatnya decak kekaguman itu tak bisa Zur sembunyikan, bagaimana bisa ada pahatan seindah itu, Allah maha pengasih dan penyayang.
Zur sudah mengganti perban Acalapati, dia meringis melihat betapa parah luka itu. Anehnya meskipun begitu, raut wajah Acalapati tidak menunjukkan rasa sakit sama sekali saat dia membantu mengoles obat dan kembali memakaikan perban.
"Aku ingin pergi ke pasar, bisa kau mengantarkan ku?"
Tidak ada pilihan lain, Acalapati tidak bisa terus diam di kamar, dia harus segera membantu Pangeran Lingga mendapatkan banyak dukungan dari rakyat.
"Baiklah Putri, saya akan meminta pengawal menyiapkan kendaraan."
"Kita tidak akan keluar dengan identitas asli, kita akan menyamar sebagai rakyat biasa."
"Sepertinya itu akan sulit, kita tidak bisa keluar tanpa izin dari Pangeran." Cemas langsung melingkupi hati Zur.
"Apa yang harus kita lakukan?" Acalapati minta pendapat Zur. Dia harus mulai percaya pada Zur, Acalapati butuh bantuan saat ini dan dia melihat ketulusan di mata Zur.
"Kita ijin saja pada Pangeran."
"Tidak." Acalapati menolak. "Pangeran Lingga tidak boleh tau jika kita keluar dari istana."
Acalapati benar-benar tidak mau Lingga sampai tau jika dia berupaya membantunya menenangkan hati rakyat. Jika saja Lingga tidak meragukannya mungkin itu baik, akan tetapi anggapan Lingga selama ini terlalu buruk untuknya. Acalapati tidak mau Lingga menyangka dia hanya sok baik.
"Bisa, Beri aku pakaian pelayanan." ucap Acalapati.
"Tidak, itu bahaya." Zur mengeleng. "Ada hukuman berat jika ada yang berani menyusup keluar istana tanpa izin."
Zur memang tidak tau sepintar apa Acalapati dalam menyelinap dan menyamar.
"Kita belum mencobanya, cari satu pelayan yang kau percayai dan kita bisa pergi."
"Tidak Putri, Saya takut ketahuan." Zur terus memohon agar Acalapati menghentikan niat konyolnya untuk keluar istana.
Zur memang tidak pernah tau seberapa penting peran Acalapati untuk rakyat.
"Pangeran Lingga masih di lingkungan istana."
"Kita akan pergi setelah dia pergi."
"Pangeran Lingga akan memeriksa Anda ketika pulang."
"Bibi bisa meminta pelayan lain untuk berbohong." Acalapati tidak kehabisan akal. "Pinta pelayanan lain memberi tahu Pangeran jika aku sedang berada di istana wanita untuk saling mengenal, bukankah sejak lama dia menginginkan aku agar berkenalan dengan penghuni istana wanita."
__ADS_1
"Saya benar-benar takut." Melihat Acalapati yang tak mau di hentikan, Zur terpaksa menurut.
Acalapati dan Zur menyusun rencana untuk bisa menyelinap keluar istana. Mereka berdua memakai pakaian pelayanan. Dengan cadar di wajah mereka, sama sekali tidak membuat orang-orang curiga, di tambah dengan Acalapati yang pandai menyesuaikan diri.
Setelah keluar dari lingkungan istana dengan aman, dari sana Zur baru mengetahui sisi lain seorang Acalapati.
Melihat cara Acalapati berbaur dengan orang biasa tanpa risih membuat Zur berdecak kagum.
"Apa Anda tidak risi mendekati rakyat seperti ini?"
"Aku adalah milik mereka, dan mereka tanggung jawab ku. " Jawaban Acalapati semakin membuat Zur terkagum-kagum.
Dalam diam Zur, semakin terpana melihat Acalapati yang dengan sigap memperlihatkan hati alaminya kepada rakyat tanpa jijik. Zur tersenyum bahagia mengetahui menantu Yang Mulya Permaisuri begitu istimewa.
"Dia calon Ratu terbaik yang dibutuhkan rakyat. " Batin Zur.
"Kita tidak bisa sedekat ini jika hanya duduk di rumah Bibi, lihatlah mereka sangat miskin. Sementara, para pejabat sudah menikmati semua uang mereka dari membayar pajak dengan berfoya-foya." Bisik Acalapati setelah kembali dengan susu di tangannya.
"Biar saya bawa Putri, tangan Anda terluka. " Zur segera mengambil alih susu yang baru saja Acalapati beli dari pasar tradisional yang sangat kumuh.
"Anda sudah lama tidak berkunjung," Tiba-tiba seorang wanita tua memakai tongkat menghampiri Acalapati dan Zur.
Zur kaget ada yang mengenal Acalapati. Rasanya sangat aneh.
"Maaf nenek, aku terluka." Acalapati menyingkap tudungnya yang menjuntai hingga lutut memperlihatkan tangannya yang di perban.
"Oh, Ya Allah, anak kami terluka." Tiba-tiba Nenek itu berteriak. Zur benar-benar terkejut karena setelahnya ada kerumunan orang mengelilingi mereka.
"Subhanallah."
"Ya, Allah."
Semua orang mendekati Acalapati, dan mengucapkan kebahagiaan mereka bisa melihatnya lagi.
Zur benar-benar tidak menyangka bisa melihat hal seperti ini, ternyata Acalapati adalah bidadari sesungguhnya, dia tidak hanya cantik tapi sangat baik. Dari kejadian ini juga Zur tau jika sudah banyak yang dilakukan oleh Acalapati atas nama kerajaan Jaguar.
"Doa terbaik untuk Pangeran Lingga, semoga beliau selalu dilimpahkan rejeki, sehat, diberikan keturunan yang sholeh, sholehah, panjang umur, sehat selalu, semoga istana Jaguar semakin maju dan terus berjaya. " Setelah amplop terbagi merata lantunan dosa terdengar dengan sangat khusyuk.
Zur menitihkan air mata, Merasa benar-benar malu pernah membenci Putri Acalapati.
Mereka kembali ke istana setelah hampir empat jam berada di sekitar masyarakat miskin.
"Bibi, apapun yang Bibi ketahui hari ini jangan ada yang tahu, ini rahasia kita berdua. "
__ADS_1
Senyum di bibir Zur meredup seketika.