
"Kau sedang mengoda Pangeran Lingga agar terus di kamar mu?" Putri Arimbi menuduh tanpa alasan. Seolah dia mengibarkan bendera perang secara terang-terangan untuk istri sah sang Pangeran.
"Apa urusan mu?" Putri Acalapati juga bukan wanita yang mudah di tindas, harusnya Putri Arimbi mencari lawan yang sepadan, sosok Acalapati terlalu tenang dan karakternya sangat kuat.
"Ingat! Jangan terlalu percaya diri, karena Pangeran Lingga akan tetap memilih wanita se keyakinan untuk melahirkan penerusnya." ujar Arimbi bengis, penuh kebencian.
"Apa anda berniat menawarkan rahim anda untuk di isi benih Pangeran Lingga?" Sudut bibir Putri Acalapati terangkat sebelah. Memperolok wanita yang masih memiliki hubungan sepupu dengan suaminya.
"Kau menantang ku?" Putri Arimbi tetap tidak mau kalah, seketika wajahnya memerah murka. Dia benar-benar seperti tertantang untuk membuat Lingga bertekuk lutut di bawah kendalinya.
"Anda bisa menyimpulkan sendiri." jawab Putri Acalapati santai.
"Kemana Pangeran Lingga?"
"Dia terlelap karena kelelahan."
Putri Arimbi tidak dapat menahan luapan emosinya, Arimbi menampar wajahnya sendiri dengan keras, menimbulkan suara yang cukup memilukan.
"Pangeran ..." teriaknya memilukan. Air mata nya sudah berjatuhan, karena sebenarnya tamparannya itu benar-benar keras dan menimbulkan rasa perih.
Pangeran Lingga tidak segera datang mendengar jeritan Arimbi, karena sebenarnya lelaki itu sedang buru-buru ke kamar mandi saat mendengar suara pintu yang di ketuk dan sang istri memilih pergi.
Putri Acalapati hanya berdiri santai, melihat drama yang diperankan oleh Putri Arimbi.
Setelah Pangeran Lingga datang menghampiri,
Putri Arimbi menangis keras, menyingkap cadar yang ia kenakan untuk memperlihatkan pipi mulusnya yang tampak memar.
"Putri Acalapati menampar wajah hamba karena marah, Pangeran."
Acalapati berdecih, dan tetap menyaksikan drama yang membosankan ini. Acalapati menyembunyikan tangannya ke belakang punggung, dan itu di lihat oleh Lingga.
Pipi kiri Arimbi terlihat merah dan sedikit memar, sepertinya menerima pukulan cukup kuat.
__ADS_1
"Apa Putri Acalapati memukul mu dengan tangan kanannya?" tanya Lingga, menatap tajam kearah Acalapati yang melotot.
Arimbi terlihat berpikir, dia lupa Acalapati sempat di kabarkan terluka, tapi bagian mana dia tidak tahu.
"Hiks, Pangeran, ini sangat sakit." Arimbi terlihat ingin mengecoh agar tak di desak menjawab pertanyaan Lingga sebelumnya.
"Aku akan memberi mu keadilan, tidak perduli walau istri ku sendiri yang melukai mu, dia pantas mendapatkan hukuman."
"Drama!!" cibir Acalapati berjalan masuk kedalam kamar meninggalkan keduanya.
"Aku belum memintamu pergi Putri, masalah ini harus diadili." seru Lingga.
"Tinggal cek kamera pengintai semua beres, lalu anda bisa menghukum orang yang memukul Putri Arimbi dengan hukuman seberat-beratnya, atau jika perlu hukum pancung saja." Meskipun tetap melanjutkan langkahnya Putri Acalapati masih sempat menyahuti.
Mendengar ucapan Putri Acalapati, wajah Arimbi mendadak putih pucat.
Gleg! ludahnya berubah pahit seketika.
"Pa-pangeran, Sa-saya tidak apa-apa, ini hanya luka kecil." gugup Putri Arimbi.
Putri Arimbi ketakutan melihat tatapan Pangeran Lingga yang begitu dingin dan menusuk.
"Ternyata kamu tidak mengenal diriku dengan baik Putri Arimbi, karena jika kau benar-benar mengenalku, kau tak akan pernah mengarang cerita dusta seperti ini." tegas Pangeran Lingga.
Putri Arimbi kehabisan kata-kata. Arimbi diadili secara kontan.
"Jangan muncul di hadapanku selama satu bulan penuh, itu menjadi hukuman mu karena berani berdusta, dan jangan menginjakkan kaki mu di istana Jaguar selama satu bulan penuh, itu sebagai hukuman karena berani memfitnah Istri putra mahkota. Jadikan ini sebagai pelajaran, jika suatu hari nanti kau melakukannya lagi, aku tidak akan bisa mengampuni mu."
Putri Arimbi meninggalkan tempat itu dengan perasaan kesal dan kecewa karena tidak berhasil menjebak Putri Acalapati malah justru dia yang mendapat hukuman. Dilarang datang ke istana itu hukuman yang sangat berat untuk nya, apalagi Lingga juga tidak ingin melihatnya dalam waktu sebulan penuh, itu sangat menyedihkan.
Saat Pangeran Lingga kembali masuk kedalam kamar, dia sudah tidak menemukan Istrinya dimanapun. Lingga memeriksa keseluruhan ruangan dan benar-benar tidak dapat menemukannya, siapa sangka saat Lingga hendak mengintip jendela, dia dikagetkan dengan bayangan tepat berada di belakangnya.
"Astagfirullah," pekiknya.
__ADS_1
Pangeran Lingga mengelus dada, meredam debaran jantungnya karena terlalu kaget.
"Kau dari mana?"
"Sandhya savanam." jawab Putri Acalapati.
Pangeran Lingga lupa mereka memiliki kepercayaan yang berbeda, jika Islam dalam sehari semalam ada lima waktu beribadah magrib, isya, subuh, zuhur dan asar.
Maka Hindu hanya tiga waktu, Sembahyang Tri Sandhya dilakukan pagi, siang dan sore hari.adalah jam 6.00 pagi (pratah savanam), jam 12.00 tengah hari (madyana savanam) dan jam 6.00 senja sore hari (sandhya savanam). Meskipun tahu perbedaan mereka nyatanya Pangeran Lingga tidak masalah jika Putri Acalapati akan menjadi Ibu dari anak-anaknya.
Karena beda keyakinan ini yang membuat keduanya sulit untuk berbaur, ada batas tak kasat mata yang terus menghalangi, namun kini tidak ada lagi yang perlu Pangeran Lingga khawatirkan, istrinya terbukti wanita penyayang dan berhati lembut. Untuk keyakinannya Pangeran Lingga tidak bisa memaksa Acalapati untuk memeluk agamanya, karena jika sampai demikian itu sudah termasuk penindasan.
"Aku menemukan Al Qur'an di laci, boleh aku membacanya?" tanya Putri Acalapati.
"Kau bisa membaca Al Qur'an?"
"Aku merasa bisa, tapi tidak tau juga, aku merasa pernah menjalani hidup layaknya seorang wanita muslim, tapi, aku tidak tahu, apa itu benar."
Kadang ada hal yang membuat konsentrasi Putri Acalapati hilang saat sembahyang yaitu bayangan kala seseorang memakai alat sholat dan merasa bahwa itu dirinya, bahkan seakan dia bisa dengan mudah merapatkan niat shalat itu dengan bibirnya.
Tinggal di lingkungan muslim jelas sangat berbeda dengan tinggal dilingkungan istana Acalapati, di sini wanita wajib berhijab, bahkan semua wanita di haruskan memakai cadar, terlebih mereka yang masih gadis atau keturunan bangsawan.
Dulu semua terasa asing dan sangat aneh untuk di jalani, tapi semakin lama Acalapati bisa merasakan ketentraman tinggal bersama mereka yang berbeda keyakinan dengannya.
Pangeran Lingga melihat istrinya yang membuka Al-Qur'an di awali dari surat Al-fatihah membuatnya takjub.
"Aku sama sekali belum pernah memegang kitab suci sepanjang hidup ku, tetapi aku merasa pernah menyelesaikan membacanya dari juz satu sampai Juz tiga puluh, dari surah satu sampai surah ke seratus empat belas, dari surat Al-fatihah sampai An-Nas."
Putri Acalapati bicara dengan Pangeran Lingga yang terheran-heran.
"Aku juga merasa selalu membasuh wajahku dengan air yang orang muslim sebut sebagai wudhu sebelum melakukan shalat."
"Dari mana kamu tahu semua itu?" Pangeran Lingga masih terkagum-kagum.
__ADS_1
"Aku tidak tahu." Namun, jawaban Acalapati membuat Pangeran Lingga bingung.