
Putri Acalapati masih berbaring dalam dekapan tangan kekar Pangeran Lingga yang sejak semalam terus memeluknya seperti ini. Dua jam yang lalu mereka sudah bangun dan mandi, tapi kemudian Pangeran Lingga kembali menarik istrinya ke atas pembaringan.
"Apa kau tidak bosan terus seperti ini?" Putri Acalapati melepaskan diri dari pelukan sang suami, tetapi tidak berhasil. Karena tenaga seorang pria tetaplah lebih besar.
"Tidak." Jawaban cepat, singkat dan jelas.
Tetapi jawaban itu tentunya membuat hati seseorang kesal bukan main. Pangeran Lingga justru tersenyum melihat ekspresi kesal Acalapati.
"Aku ingin seperti ini dulu, biarkan aku memeluk mu sampai puas sebelum aku harus pergi beberapa hari. "
Acalapati tidak menjawab, tetapi hatinya sadang bertanya kemana Lingga akan pergi.
"Aku akan pergi ke Mahtaram,"
Pangeran Lingga masih enggan melepaskan istrinya dan tetap melingkarkan lengan kokohnya pada pinggang ramping Putri Acalapati.
"Kau benar-benar menghukum seseorang? " Tanya Acalapati karena terlalu malas menyebut nama Putri Arimbi.
"Jika kau bertanya soal Putri Arimbi, maka itu benar. "
"Kau tega menghukum calon istri mu?"
"Tidak perduli siapapun yang bersalah, tetap akan ku hukum. " tegas Lingga.
Sepertinya Pangeran Lingga memang tidak akan mau bangun cepat.
"Aku meminta maaf atas nama adikku, yang pernah dengan atau tanpa sengaja menyakiti hatimu dengan perkataan mereka. "
Sebenarnya Acalapati sudah lupa dengan semua hinaan dan cacian dari adik-adik Lingga, Acalapati juga tahu alasan Lingga meminta maaf untuk adik-adiknya. Lingga seperti itu karena merasa masih memiliki tanggung jawab untuk mengurus adik-adiknya. Lingga tetap kakak laki-laki yang the best menurut penilaian Acalapati.
Tidak biasanya Pangeran Lingga mengabaikan peliharaan nya yang teramat mengemaskan. Berbeda dengan Acalapati yang justru memelihara kucing besar alias harimau, Pangeran Lingga malah memelihara kucing betina jenis persia berambut panjang. Acalapati tidak tahu jika karakter mereka memang sangat berbeda, Jika Acalapati lebih senang peliharaan yang tidak biasa dan buas. Pangeran Lingga justru lebih memilih memelihara jenis kucing manja yang memerlukan perawatan khusus dan harus selalu berada di ruang ber AC supaya bulunya tidak rontok.
'Meong'
'Meong'
Mendengar suara Maty, Pangeran Lingga membuka pintu.
"Pus ... pus... " Pangeran Lingga memanggil kucingnya yang sangat mengemaskan, Maty juga langsung datang. Kucing pesek berpipi gembul itu langsung berputar-putar di kaki Lingga yang baru saja memanggilnya.
"Maaf aku melupakanmu." Pangeran Lingga terkekeh kecil.
Acalapati berdecak. "Peliharaan macam apa itu?" gunam nya.
"Selama aku pergi, aku menitipkan Maty padamu."
"Apa? "
__ADS_1
"Ingat jangan menyelinap kemana-mana sebelum aku kembali, musim penculikan anak yang suka berkeliaran. "
"Aku bukan anak kecil, " geram Acalapati.
"Kau hanya perlu mematuhi peraturan yang ku buat." Mode tak ingin di bantah di aktifkan.
Perdebatan akan tetap dimenangkan oleh Pangeran Lingga. Sebenarnya Pangeran Lingga menyadari sejak Istrinya terbangun dari koma sikap wanita itu banyak berubah.
Acalapati tidak mudah meledak-ledak seperti biasanya.
Tutur bahasa yang keluar dari bibirnya juga sedikit sopan meski masih menyebalkan.
Dan yang terpenting Acalapati tidak lagi membuat ulah seperti sebelum-sebelumnya.
Adapun semua orang membenci wanita itu karena sebab sikapnya sendiri menurut Lingga. Padahal sebenarnya tidak demikian.
Putri Acalapati begitu jengah mendengarkan aturan mengenai apa saja yang harus di lakukan Acalapati untuk merawat Maty. Aturan makan dan beberapa tips untuk menenangkan kenakalan kucing. Aturannya sangat banyak membuat Acalapati rasanya mau mencekek kucing pesek itu.
Makanan kucing itu banyak fariasinya, dan harus di takar sesuai kebutuhan.
Acalapati heran kenapa sekelas Pangeran Lingga memilih peliharaan merepotkan seperti ini.
"Aku tidak mau mengurus kucing mu! " tolak Acalapati terus terang.
"Suami dan istri itu satu, sudah seharusnya tanggung jawab ku menjadi tanggung jawab mu!"
"Dari mana kau bisa tahu standar muka kucing jelek? "
"Dari hidungnya yang pesek! " jawab Acalapati tak mau kalah.
Pangeran Lingga tergelak kecil. " Itu memang ciri khas kucing peaknose persia, dia memiliki bentuk hidung yang lebih pesek dari jenis lainnya. Aku membelinya dari negara Iran dan kucing ini adalah jenis kucing termahal di dunia."
Yang tidak diketahui oleh Acalapati adalah jenis kucing peaknose persia memiliki dua kriteria, yakni peaknose biasa dan peaknose ekstrem. Semakin pesek maka semakin mahal pula harganya.
Putri Acalapati tidak pernah menyangka, jika dia benar-benar di beri tanggung jawab merawat kucing oleh Pangeran Lingga.
Sepanjang lelaki itu pergi, mulut Acalapati tidak pernah berhenti menggerutu. Sampai Zur yang melihatnya merasa geli.
"Apa aku bisa pergi sekarang? " Tanya Acalapati pada Zur. Entah untuk keberapa kali.
"Tunggu hingga Maty tidur, Putri. " jawab Zur yang masih berupaya membuat Maty tidur.
Acalapati sedang gusar karena dia tidak bisa menjalankan rencananya untuk kembali keluar istana dengan penyamaran, sementara di luar gerbang sebenarnya ada seseorang yang sudah menunggu kemunculan Putri Acalapati untuk segera di lenyap kan.
Tujuh anak panah beracun sudah mengarah di bawah pohon bidara tempat biasanya Putri Acalapati menuruni bangunan Istana.
Satu jam
__ADS_1
Dua jam
Tiga jam
Orang yang dinantikan tak juga muncul.
Di dalam kamar Acalapati, tiba-tiba Maty berguling-guling tidak mau diam, membuat Acalapati kerepotan karena bingung. Dia terus mondar-mandir, memikirkan soal yang terjadi pada kucing kesayangan pria yang tak punya perasaan itu.
"Oh, apa dia keracunan? "
Buru-buru Acalapati menghubungi Lingga dengan panggilan video.
Lelaki itu juga langsung mengangkatnya, seolah sedang memegang ponsel di tangan.
"Maty sedang birahi minta kawin." Acalapati melotot mendengar ucapan Lingga.
"Aku tidak berbohong, Maty sedang masanya ingin kawin." Acalapati menghela napas dan langsung mematikan panggilannya merasa otak Lingga sedang konslet.
Acalapati di sibukkan dengan Maty yang justru terus mengeluarkan suara keras, rasanya dia ingin merebus kucing pesek itu kedalam kuali jika tidak kunjung diam. Acalapati benar-benar kehilangan banyak waktu karena Kucing pesek yang sayangnya sangat mengemaskan.
Di sebrang sana Pangeran Lingga tengah tersenyum saat melihat istrinya kembali menelpon.
"Aku benar-benar tidak bisa tidur gara-gara kucing pesek mu." adu Acalapati protes.
"Aku sudah meminta Restu mencarikan kucing jantan"
"Ya, mereka sudah tidur satu kandang, tetapi kenapa justru si pesek malah teriak-teriak? " wajah Acalapati terlihat sangat frustasi. Hal yang justru semakin membuat Pangeran Lingga rindu, ingin mengecup pipinya menenangkan.
"Kucing kawin memang heboh seperti itu, kau jangan khawatir. " hibur Lingga dari jauh.
"Aku sama sekali tidak khawatir, aku hanya sangat kesal."
Sekali lagi Acalapati mematikan panggilannya. Tetapi tak lama berselang dia menghubungi Lingga lagi.
Kali ini Acalapati mengigit bibir bawahnya. Sebelum menanyakan sesuatu.
"Kenapa si pesek tampak seperti kesakitan? "
Pangeran Lingga hampir menyemburkan tawa, tapi mati-matian di tahan, dia tidak mau merusak momen yang baru saja terjalin.
"Tidak apa-apa, tunggu saja setelah itu Maty akan berguling-guling keenakan, proses pertama memang sedikit menyakitkan, tidak hanya untuk kucing, tetapi semua makhluk yang berjenis perempuan, sama halnya yang waktu kamu dan aku pertama kali melakukan....
Tut
Tut
Tut
__ADS_1
Akhirnya begitu ponselnya kembali mati, Pangeran Lingga tak mampu membendung tawanya. Bahkan kedua sudut mata lelaki itu sampai berair.